Perbankan
( 2293 )Simpanan Nominal Kecil dan Jumbo Konstraksi
Simpanan nasabah di perbankan mengalami penurunan dari akhir tahun lalu. Penurunan terjadi pada kelompok nominal Rp 200 juta ke bawah dan simpanan nominal Rp 5 miliar ke atas.
Berdasarkan data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), total simpanan di perbankan mencapai Rp 8.087 triliun per Juni 2023, turun 1,4% dari akhir tahun lalu. Namun, secara tahunan, jumlah simpanan masih naik 5,3%.
Herman Suheru, Direktur Group Riset LPS, mengatakan, penurunan simpanan nasabah bukan lantas berarti ekonomi sedang tidak baik. "Terdapat beberapa penyebab. Salah satunya karena kondisi pandemi telah usai. Sebelumnya banyak nasabah menyimpan uangnya di bank, tapi kini mereka kembali konsumtif," jelas Herman pada KONTAN, belum lama ini.
Herman menjelaskan, mayoritas simpanan dengan nominal di atas Rp 5 miliar di perbankan berasal dari korporasi. Porsinya lebih dari 60%. Penurunan simpanan Rp 5 miliar ke atas menunjukkan korporasi kembali aktif ekspansi usaha dengan memakai dana simpanan di bank.
Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan menambahkan, simpanan nasabah turun juga karena pergerakan ekonomi yang belum kuat, sehingga dana simpanan tergerus. Apalagi, harga komoditas, sebagai salah satu penopang ekonomi dalam negeri, mengalami penurunan harga.
Selain itu, menurut Trioksa, terjadi peralihan simpanan bank ke instrumen investasi non bank yang memberi imbal hasil lebih besar, seperti obligasi dan reksadana. Sedangkan sentimen tahun politik menurutnya belum ada kaitan dengan penurunan simpanan nasabah di bank.
Senada, pengamat ekonomi dan pasar modal Budi Frensidy menyampaikan, simpanan nasabah tajir yang menurun sangat mungkin karena mereka memindahkan dananya ke instrumen investasi lain yang memberikan imbal hasil lebih tinggi.
Hampir Rp 2.000 Triliun Kredit Nganggur Di Bank
JAKARTA,ID-Dalam kurun waktu lima bulan pertama tahun ini, fasilitas kredit yang belum ditarik (undisbursed/UL) debitur di bank hampir tembus Rp2.000 triliun, tepatnya Rp1.996,5 triliun. Angka ini tumbuh tinggi 17,6% dibandingkan posisi Mei 2022 yang sebesar Rp1.697,8 triliun. Hingga Mei 2023, statistik Perbankan Indonesia (SPI) yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan dari sisi permodalan, kelompok bank berdasarkan modal inti (KBMI) 3 menjadi bank dengan jumlah kredit menganggur terbesar, yakni senilai Rp753,2 triliun, tumbuh 8,1% (yoy) per Mei 2023. bahkan, nilai tersebut lebih tinggi dari kredit menganggur di KBMI 4 atau bank kelas kakap yang senilai Rp744,94 triliun, naik 16,3% (yoy). Dari data OJK, kredit yang digulirkan industri perbankan per Mei 2023 sebesar Rp 6.557,08 triliun, tumbuh 9,39% dibandingkan Rp6.012,36 triliun pada periode sama tahun sebelumnya. Dengan kredit yang tumbuh tinggi, menunjukkan dunia usaha yang mulai ekspansi, selain itu sektor riil juga kembali meminta fasilitas kreditnya di bank meskipun belum ditarik. Meski demikian, UL merupakan fasilitas yang akan ditarik debitur ketika sudah ada permintaan di sektor riil. (Yetede)
SIASAT CUAN BANK BUMN
Soal mencetak cuan, performa bank-bank milik negara memang masih mumpuni. Buktinya, hingga semester I/2023, bank-bank pelat merah sukses mencatatkan pertumbuhan laba.PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI), dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) kompak mencatatkan pertumbuhan laba secara tahunan (year-on-year/YoY). Secara nominal, BRI memimpin sedangkan secara bobot pertumbuhan, Bank Mandiri berada di urutan pertama.Demikian pula jika melihat kinerja intermediasi. Penyaluran kredit oleh Himpunan Bank Negara (Himbara) pun tergolong baik lantaran sanggup tumbuh 8,58% YoY, mengikuti tren industri perbankan yang tumbuh 7,76%.
Belum lagi dengan dampak ketidakpastian ekonomi global yang masih membayangi aktivitas bisnis. Situasi itu juga dapat berimbas pada pengetatan likuiditas perbankan.Walaupun begitu, optimisme bank-bank BUMN rupanya masih tinggi. Direktur Utama BRI Sunarso tidak menampik beragam tantangan tersebut. Namun, dia optimistis BRI sanggup mencapai target penyaluran kredit tahun ini.
Menurutnya, BRI masih mendapatkan rapor hijau pada paruh pertama berkat kinerja kredit mikro, dana murah, dan efi siensi. Demikian pula dengan kualitas aset yang terjaga, serta proporsi fee-based income yang tumbuh konsisten.
Sepanjang paruh pertama 2023, rasio kredit terhadap simpanan (loan-to-deposit ratio/LDR) BRI mencapai 87,83% dan ditargetkan dapat mencapai level optimal, yaitu 90%-95%.
Senada, Corporate Secretary Bank Mandiri Rudi As Aturridha mengatakan perusahaan masih menanti pengaturan lebih lanjut hapus buku kredit macet UMKM menjelang berakhirnya restrukturisasi kredit pada Maret 2024.
Kendati demikian, menurut Rudi, sejumlah tantangan itu tak menyurutkan optimisme perusahaan untuk mencapai target penyaluran kredit sebesar 10%-12% pada tahun ini.
Terkait kinerja pada paruh kedua, BNI juga masih melihat potensi akselerasi penyaluran kredit. Perusahaan menutup semester I/2023 dengan penyaluran kredit Rp650,77 triliun, tumbuh 4,89% Yo Y. Direktur Utama BNI Royke Tumilaar sebelumnya mengatakan penyaluran kredit yang tumbuh baik pada semester I/2023 akan diakselerasi pada semester II/2023.
Sementara itu, kalangan pengamat ekonomi menilai kinerja bank BUMN masih dibayangi risiko. Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira khawatir laba bank BUMN tahun ini bekal lesu karena tekanan likuiditas maupun utang jumbo BUMN Karya yang disebut OJK mencapai Rp46,21 triliun.
Kredit Mikro Tumbuh 11,41%, BRI Makin Tangguh, Cetak Laba Rp29,56 Triliun
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. berhasil menjaga kinerja positif hingga akhir triwulan II/2023. Keberhasilan BRI mengorkestrasi strategi yang dijalankan perseroan tercermin dari kinerja yang sehat dan berkelanjutan, hal tersebut tercermin dari aset yang meningkat 9,21% year-on-year (YoY) menjadi Rp1.805,15 triliun sehingga BRI berhasil mencetak laba konsolidasian senilai Rp29,56 triliun atau tumbuh 18,83% secara YoY.Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Utama BRI Sunarso pada pemaparan kinerja keuangan BRI triwulan I/ 2023 pada Rabu (30/8). Sunarso mengungkapkan bahwa faktor utama penopang kinerja BRI di antaranya adalah pertumbuhan kredit mikro dan CASA yang mencapai doubledigit, kualitas aset terjaga, rasio efisiensi yang membaik, proporsi fee-based income yang terus tumbuh konsisten, serta semakin solidnya kinerja perusahaan anak yang tergabung dalam BRI Group.
Dari sisi penyaluran kredit, hingga akhir triwulan II/2023, BRI berhasil menyalurkan kredit dan pembiayaan senilai Rp1.202,13 triliun dengan penopang utama pertumbuhan yakni pada segmen mikro yang tumbuh 11,41% YoY menjadi Rp577,94 triliun. Dengan demikian, porsi kredit mikro telah mencapai 48,08% terhadap total penyaluran kredit BRI.
Khusus untuk perkembangan Holding Ultra Mikro (UMi), hingga akhir triwulan I/2023 Holding UMi telah berhasil meng integrasikan lebih dari 36 juta nasabah pinjaman dan 162 juta nasabah simpanan mikro dengan didukung 1.013 unit kantor colocation SENYUM (Sentra Layanan Ultra Mikro).
Sementara itu, dari sisi penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK), BRI mencatatkan total DPK senilai Rp1.245,12 triliun. Penopang utama pertumbuhan DPK BRI bersumber pada dana murah (CASA) yang tercatat tumbuh 10,13% yoy menjadi Rp815,42 triliun. Porsi CASA (Giro dan Tabungan) BRI pun terus meningkat, dari semulai 65,12% pada triwulan II/2022 menjadi 65,49% pada triwulan II/2023.
Kredit Mikro Tumbuh 11,41%, BRI Makin Tangguh, Cetak Laba Rp29,56 Triliun
JAKARTA,ID-PT bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk berhasil menjaga kinerja positif hingga triwulan II-2023. Keberhasilan BRI mengorkestrasi startegi yang dijalankan perseroan tercermin dari kinerja yang sehat dan berkelanjutan, hal tersebut tercermin dari aset yang meningkat 9,21% year on year (yoy) menjadi Rp1.805,15 triliun sehingga BRI berhasil mencetak laba konsolidarian senilai Rp29,56 triliun atau tumbuh 18,83% secara yoy. Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Utama BRI Sunarso pada Pemaparan Kinerja Keuangan BRI Triwulan II-2023 pada rabu (30/8). Sunarso mengungkapkan bahwa faktor utama penopang kinerja BRI diantaranya adalah pertumbuhan kredit makro dan CASA yang mencapai double digit, kualitas aset terjaga, rasio efisiensi yang membaik proporsi fee-based income yang terus tumbuh konsisten, serta semakin solidnya kinerja perusahan anak yang tergabung dalam BRI group. (Yetede)
Leasing Masih Andalkan Bank
Kebijakan Bank Indonesia (BI) kembali menahan suku bunga acuan di level 5,75% untuk periode Agustus 2023, menjadi angin segar bagi industri
multifinance
Tanah Air. Maklum, saat ini sumber pendanaan
multifinance
mayoritas dari perbankan atau dari penerbitan obligasi.
Ambil contoh PT CIMB Niaga Auto Finance (CNAF). Presiden Direktur CNAF Ristiawan Suherman mengatakan, dukungan terbesar pendanaan dari bank berasal dari induk usaha, yakni PT CIMB Niaga Tbk (BNGA), baik pembiayaan bersama (
joint financing
) dan
executing loan.
Selain dari induk usaha, saat ini sudah ada sekitar 20 bank yang telah bekerjasama dengan CNAF dalam memberikan pendanaan, baik konvensional maupun syariah.
Berbeda, PT BNI Multifinance, yang mengaku seluruh sumber pendanaan berasal dari bank. Antara lain, dari induk usaha, yakni PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) dan sejumlah bank kreditur lainnya. "Bunganya berkisar 6% sampai 8% per bulan. Posisi pendanaan dari bank per Juni 2023 sebesar Rp 1,3 triliun," ujar Legendariah Rasuanto,
Chief Financial Officer
BNI Multifinance.
Sementara itu, Adira Dinamika Multi Finance Tbk (Adira Finance) menerapkan diversifikasi sumber pendanaan untuk meminimalisir risiko. Direktur Keuangan Adira Finance Sylvanus Gani Mendrofa bilang, hampir 50% pendanaan dari induk perusahaan, yakni Bank Danamon.
BI Catat Modal Asing Keluar Rp 4,51 T
JAKARTA,ID- Bank Indonesia (BI) mencatat aliran modal asing yang keluar dari pasar keuangan domestik sebesar Rp 4,51 triliun pada periode 21-24 Agustus 2023. Dalam keterangan tertulis, akhir pekan lalu, Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono menjelaskan, nilai tersebut terdiri atas modal asing keluar dari pasar Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp2,31 triliun dan modal asing keluar dari pasar saham senilai Rp2,2 triliun. Degan perkembangan tersebut, jelas dia, maka modal asing bersih yang masuk Indonesia sejak 1 Januari hingga 24 agustus 2023 adalah senilai Rp85,83 triliun di pasar SBN dan Rp0,63 triliun di pasar saham. Data Bank Indonesia juga menunjukkan, premi resiko investasi atau premi credit defaut swaps (CDS) Indonesia lima tahun sebesar 84,21 basis poin (bps) per 24 Agustus 2023, turun jika dibandingkan data 18 Agustus 2023 yang tercatat sebesar 89,52 bps. Di sisi lain, nilai tukar rupiah melemah pada Jumat (25/08/2023) padi di level 15.265 per dolar AS dari sebelumnya Rp15.240 per dolar AS pada penutupan perdagangan Kamis. (Yetede)
Pertumbuhan Kredit Berpotensi Melejit Lagi
Pertumbuhan kredit perbankan nasional mulai bergairah. Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan, pertumbuhan kredit perbankan hingga Juli 2023 mencapai 8,54% secara tahunan.
Pertumbuhan kredit tersebut memang masih di bawah target akhir tahun yang ditetapkan BI, yaitu 9%-11%. Tapi, BI sudah memasang target pertumbuhan kredit pada 2024 mencapai 10%-12%.
Gubernur BI Perry Warjiyo menuturkan, pertumbuhan kredit pada Juli lalu terutama didorong oleh penyaluran kredit di sektor jasa sosial, pertambangan dan jasa dunia usaha. "Selain itu, permintaannya tinggi sejalan dengan pertumbuhan ekonomi," ujar Perry, Kamis (24/8).
Deputi Gubernur BI Juda Agung menimpali, optimisme pertumbuhan kredit juga meningkat dari sisi pelaku perbankan. Ini terlihat dari revisi rencana bisnis bank (RBB).
Dus, kata Juda, perbankan masih optimistis memasang target pertumbuhan kredit di tahun ini "Likuiditas perbankan juga masih longgar, yang membuat bank lebih optimistis dan ada kemauan untuk menyalurkan kredit," ujarnya.
Presiden Direktur Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) Lani Darmawan mengatakan, bank ini masih melihat prospek penyaluran kredit di sisa tahun ini.
Jangan lagi Berharap Bunga Turun
JAKARTA,ID-Keputusan Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga acuan di level 5,75% dalam tujuh bulan beruntun mengindikasikan rezim bunga tinggi akan bertahan lebih lama. Masyarakat dan dunia usaha tak bisa lagi berharap suku bunga kredit turun dalam waktu dekat. Bahkan, ada tendensi suku bunga bakal naik lagi, alih-alih melandai. Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Kamis (24/09/2023), memutuskan untuk menahan BI 7-day Reserve Repo Rate (B17DRR) di level 5,57%. BI Juga menahan suku bunga Deposit Facilty dan Lending Facility masing-masing di posisi 5,00% dan 6,50%. Dengan demikian, Bank Sentral sudah delapan bulan memasuki BI-7DDR di level 5,75% atau sudah menahannya selama tujuh bulan berturut-turut naik 25 bps pada 19 Januari 2023 dari bulan sebelumnya 5,50%. BI menahan bunga acuan ditengah memudarnya spekulasi bahwa Bank Sentral AS The Federal Reserve digadang-gadang bakal menaikkan fed fun rate (FFR) sebanyak dua kali sampai penghujung 2023 dari posisi saat ini 5,25-5,50%. The Fed berpeluang menaikkan suku bunga setelah inflasi di negeri Paman Sam bulan lalu kembali naik menjadi 3,2% (yoy) dibanding bulan sebelumnya 3,0%. (Yetede)
Trilema Bank Indonesia
Bank Indonesia kemarin memutuskan menahan suku bunga acuan di level 5,75 persen. Keputusan BI ini masuk akal, meskipun ada kekhawatiran suku bunga Federal Reserve (The Fed) yang sudah mencapai 5,50 persen pada Juli lalu akan berpengaruh buruk terhadap pasar keuangan dalam negeri jika BI tidak ikut menaikkan suku bunga. Tugas bank sentral sejak amendemen Undang-Undang BI yang terakhir tidak lagi hanya menjaga inflasi, tapi juga pertumbuhan. Karena itu, kebijakan moneter, dalam hal ini suku bunga, merupakan instrumen yang tepat. Dengan kebijakan suku bunga yang tepat, BI bisa mengendalikan inflasi sekaligus menjaga perekonomian tetap tumbuhJuli lalu, inflasi Indonesia sebesar 3,08 persen (year-on-year). Angka ini termasuk bagus dibanding banyak negara lain. Inflasi Amerika Serikat pada periode yang sama, misalnya, mencapai 3,2 persen. BI berharap, dengan menahan suku bunga acuan, inflasi Indonesia akan terjaga pada kisaran yang telah ditentukan, yakni 3,0+1 persen. Suku bunga yang tetap juga diharapkan memberikan insentif bagi perekonomian yang sejauh ini cukup baik. Hingga Juni lalu, sudah tujuh kuartal berturut-turut ekonomi RI tumbuh di atas 5 persen. Ini lebih baik dari Cina yang merosot akibat menurunkan konsumsi dan kinerja properti, serta dari negara-negara Eropa yang belum terlepas dari dampak perang Rusia dan Ukraina. Tren pertumbuhan tersebut diharapkan bertahan hingga akhir tahun. (Yetede)









