;
Tags

Perbankan

( 2327 )

Kejar Target Penyaluran KUR Jelang Akhir Tahun

HR1 27 Oct 2023 Kontan
Realisasi penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) hingga September 2023 masih jauh dari target. Kementerian Keuangan melaporkan realisasinya Rp 177,5 triliun. Artinya, capaian itu baru 59,7% dari kuota KUR yang ditetapkan pemerintah tahun ini, yakni Rp 297 triliun. Menteri Keuangan telah mendorong agar perbankan mempercepat penyaluran sisa kuota KUR Rp 119,5 triliun tersebut. Di sisi lain, pemerintah akan kembali menebar insentif bantuan sosial (bansos) sebesar Rp 12,39 triliun tahun 2023 dan 2024 dalam berbagai program. Salah satunya lewat KUR. Direktur Bisnis Mikro BRI Supari mengungkapkan, penyaluran KUR BRI sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini mencapai Rp 107,84 triliun. Realisasi ini baru 55,45% dari jatah KUR yang diberikan pemerintah ke BRI, yaitu Rp 194,4 triliun. Sebelumnya, Sekretaris Perusahaan BRI Agustya Hendy Bernadi mengatakan, untuk memacu KUR, BRI menyasar segmen ultra mikro dan menangkap potensi segmen tersebut melalui sinergi dengan Pegadaian dan PMN. Sementara itu, BNI telah menyalurkan KUR Rp 14,7 triliun hingga Oktober 2023. Capaian ini melampaui jatah dari pemerintah tahun ini, yakni Rp 13,9 triliun. GM Divisi Bisnis Usaha Kecil BNI Sunarna Eka Nugraha menjelaskan, pihaknya menerapkan pendekatan value chain, akuisisi nasabah potensial dan penerapan digitalisasi pengajuan kredit sebagai strategi menyalurkan KUR. Bank Sumsel Babel (BSB) telah menyalurkan KUR senilai Rp 1,7 triliun hingga 26 Oktober. Kuota KUR yang diterima bank ini untuk 2023 adalah Rp 2,4 triliun. Nilai itu setara 70,83% dari kuota yang diperolehnya. Direktur Bisnis BSB Antonius Prabowo Argo bilang, pihaknya tetap berkomitmen merealisasikan kuota tersebut.

Masih Tetap Mekar Meski Sedikit Melambat

HR1 26 Oct 2023 Kontan (H)
Dua dari jajaran bank besar sudah merilis kinerja kuartal III-2023, yakni Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dan Bank Central Asia (BBCA). Hasilnya masih menggembirakan dengan laba bersih tumbuh dua digit selama sembilan bulan.Jika diadu, BRI tampil sebagai pencetak laba tertinggi. Tapi dari sisi pertumbuhan, baik laba bersih maupun pendapatan, BCA pemenangnya. BRI melaporkan laba tahun berjalan yang diatribusikan ke entitas induk per September Rp 43,9 triliun, tumbuh 12,4% secara tahunan. Perinciannya, Rp 15,5 triliun diperoleh di kuartal I, lalu Rp 13,9 triliun di triwulan kedua dan Rp 14,5 triliun pada kuartal III. Sedangkan BCA meraup laba bersih Rp 36,4 triliun, tumbuh 25,8% secara tahunan. Sebesar Rp 11,5 triliun didapat di kuartal pertama, Rp 12,7 triliun di triwulan II, lalu Rp 12,2 triliun di kuartal III. Bila dicermati, laba bersih kuartalan BCA di kuartal III lebih rendah dari laba di kuartal II. Sedang laba BRI di kuartal III lebih rendah dari laba di kuartal I, kendati menguat dari laba kuartal II. Dari sisi margin, BRI menang. Net interest margin (NIM) BRI 8,05%. Ini sejalan dengan fokus bisnis pada usaha mikro, kecil dan menengah yang memiliki yield lebih tinggi. Tahun ini, BRI menargetkan NIM 7,7%-7,9%. NIM BCA ada di level 5,5%, naik dari 5,1% di September 2022. Untuk ekspansi, BRI dan BCA sama-sama kuat. Kredit keduanya tumbuh melampaui target yang dipatok tahun ini. Kredit BRI tumbuh 12,5% dan BCA meningkat 12,3%. Keduanya sama-sama menargetkan pertumbuhan 10%-12%. Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nicodemus melihat BCA dan BRI punya pangsa pasar yang berbeda. BRI fokus di UMKM dengan risiko lebih tinggi. Sedang BCA fokus di segmen lain, meski ikut menggarap UMKM. "Fokus utama BCA bagaimana menjaga kualitas aset," ucapnya. Berbeda, Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori Fajar Dwi Alfian belum merekomendasikan kedua saham meski fundamentalnya oke. Alasannya, valuasi BBCA dan BBRI sudah mahal. Hitungan dia, harga wajar BBRI saat ini Rp 4.800. Kemarin, BBRI ditutup di Rp 5.175.

Kredit Tumbuh 12,53%, BRI Semakin Kuat, Selama 9 Bulan Cetak Laba Rp44,21 Triliun

HR1 26 Oct 2023 Bisnis Indonesia (H)

Di tengah tantangan dan ketidakpastian perekonomian global karena meningkatnya tensi geopolitik dunia, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. berhasil menjaga kinerja keuangan yang impresif hingga akhir kuartal III/2023.Keberhasilan BRI Group menjaga kinerja positif ditunjuk kan dari aset secara konsolidasian meningkat 9,93% year-on-year(YoY) menjadi Rp1.851,97 triliun. Pertumbuhan aset juga diiringi perolehan laba dalam 9 bulan mencapai Rp44,21 triliun atau tumbuh 12,47% YoY.Direktur Utama BRI Sunarso mengungkapkan penopang kinerja positif BRI di antaranya penyaluran kredit yang tumbuh double digit; penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) dan dana murah yang juga tumbuh double digit; kualitas kredit yang terjaga; serta fee based income yang porsinya terus meningkat terhadap keseluruhan pendapatan BRI. Seluruh segmen kredit BRI tumbuh positif. Khusus penyaluran kredit UMKM tumbuh 11,01% dari semula Rp935,86 triliun pada kuartal III/2022 menjadi Rp1.038,90 triliun pada kuartal III/2023 sehingga porsi kredit UMKM BRI terhadap total kredit mencapai 83,06%. Sunarso menjelaskan keberhasilan BRI dalam menyalurkan kredit juga diiringi dengan penguatan aspek Environmental, Social & Governance (ESG) secara komprehensif dalam kegiatan bisnis perseroan. Kredit ESG BRI hingga akhir kuartal III/2023 tumbuh 11,89% men jadi Rp750,91 triliun sehingga porsinya mencapai 66,1% dari total portofolio kredit. Keberhasilan BRI menyalurkan kredit juga diimbangi oleh manajemen risiko yang baik. BRI berhasil menurunkan Loan at Risk(LAR) menjadi sebesar 13,80% hingga akhir kuartal III/2023 atau membaik dibandingkan dengan September 2022 sebesar 18,68%. Dari sisi penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) BRI mencatatkan sebesar Rp1.290,29 triliun atau tumbuh 13,21% YoY. Penopang utama DPK BRI masih bersumber dari dana murah (CASA) dengan porsi 63,64% atau sebesar Rp821,14 triliun.

Perbankan Paling Banyak Terbitkan Surat Utang

KT3 26 Oct 2023 Kompas
Hingga akhir September 2023, PT Pemeringkat Efek Indonesia atau Pefindo menerima mandat pemeringkatan surat utang senilai Rp 49,54 triliun. ”Mandat terbesar berasal dari sektor perbankan dengan nilai rencana penerbitan sebesar Rp 12,9 triliun yang berasal dari empat perusahaan, perbankan” kata Kepala Divisi Pemeringkatan Nonjasa Keuangan I Pefindo Niken Indriarsih di Jakarta, Rabu (25/10/2023). (Yoga)

Likuiditas Mengetat, Perbankan Optimistis Target Kredit Tetap Tercapai

KT3 26 Oct 2023 Kompas

Kenaikan suku bunga acuan berpotensi mengakibatkan pengetatan likuiditas industri perbankan. Meski demikian, sejumlah bank besar optimistis penyaluran kredit dapat terus bertumbuh hingga akhir tahun didukung permodalan yang kuat. Sebelumnya, BI mengumumkan kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 6 % karena ketidakpastian global yang terus meningkat hingga mengakibatkan nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu terakhir terdepresiasi mendekati Rp 16.000 per dollar AS. Dirut BRI Sunarso mengatakan, keputusan BI untuk menaikkan suku bunga acuan tersebut akan berdampak pada pengetatan likuiditas perbankan. Meski begitu, sampai saat ini kinerja BRI masih positif yang ditunjukkan dengan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK), likuiditas yang memadai, dan permodalan yang kuat.

”Pertumbuhan DPK BRI hingga kuartal III-2023 tercatat 13,21 persen secara tahunan menjadi Rp 1.290,29 triliun. Jumlahnya jauh di atas pertumbuhan DPK industri perbankan yang pada Agustus 2023 tercatat 6,24 % secara tahunan. Kemudian, LDR (loan to deposit ratio) BRI terjaga di level 87,76 %, jauh di atas ketentuan regulator,” katanya dalamkonferensi pers Pemaparan Kinerja BRI Kuartal III-2023 secara virtual, Rabu (25/10). Di sisi lain, rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) BRI tercatat sebesar 27,48 %. Dengan likuiditas yang memadai dan permodalan yang kuat tersebut, Sunarso optimistis BRI mampu mengantisipasi berbagai risiko dalam tiga bulan ke depan sekaligus mendorong pertumbuhan BRI melalui penyediaan jasa layanan keuangan serta pembiayaan dan pemberdayaan UMKM. (Yoga)

Kredit Tumbuh 12,35%, BRI Semakin Kuat, Selama 9 Bulan Cetak Laba Rp 44,21 Triliun

KT1 26 Oct 2023 Investor Daily (H)
JAKARTA,ID-Ditengah tantangan dan ketidakpastian perekonomian global karena meningkatnya tensi  geopolitik dunia. PT.Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk berhasil menjaga kinerja keuangan yang impresif hingga akhir Kuartal III 2023. Keberhasiannya BRI Group menjaga kinerja positif  tersebut ditunjukkan  dari asset yang secara konsolidasi meningkat  9,93% year on year (yoy) menjadi Rp1.851,97 triliun.  Pertumbuhan aset tersebut  juga diiringi dengan perolehan laba dalam 9 bulan yang mencapai sebesar Rp 44,21 triliun atau tumbuh 12,4% yoy. Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Utama BRI  Sunarso dalam pemaparan Kinerja keuangan BRI Triwulan III 2023 pada Rabu (25/10). Sunarso mengungkapkan  bahwa kontributor utama  penopang kinerja positif BRI tersebut  diantaranya adalah  penyaluran kredit yang  tumbuh double digit, kualitas kredit yang juga terjaga, serta proporsi fee-based income yang porsinya terus meningkat terhadap keseluruhan pendapatan BRI. (Yetede)

WASWAS BUNGA TINGGI

HR1 24 Oct 2023 Bisnis Indonesia (H)

Dunia usaha wajib siaga, menyusul makin kuatnya sinyal penerapan kebijakan suku bunga acuan tinggi yang cukup lama dari Bank Indonesia (BI) demi menjaga stabilitas sistem keuangan.Maklum, dunia sedang tidak baik-baik saja seiring dengan dinamika geopolitik di Timur Tengah yang kembali melahirkan kecemasan terutama dalam konteks krisis pangan dan energi, serta infl asi.Bank sentral negara maju pun telah ancang-ancang mengetatkan bunga acuan sehingga mendorong capital outfl ow dari pasar berkembang, termasuk Indonesia. Inilah yang kemudian mendasari BI untuk mengekor tren tersebut, utamanya untuk menjaga gerak rupiah.Apalagi, survei yang dilakukan Bloomberg terhadap para ekonom dunia pun mencatat bahwa kebijakan fiskal dan moneter diproyeksikan bertentangan karena ekspektasi tingkat suku bunga acuan tinggi dan bertahan cukup lama, sehingga berisiko menahan laju ekonomi.Di sisi lain, tidak sedikit pula ekspektasi bahwa bank sentral akan banyak memanfaatkan instrumen Quantitative Easing (QE) seperti penyuntikan likuiditas, sehingga penanganan infl asi tidak mengancam pertumbuhan ekonomi.Otoritas moneter pun tidak secara tersurat akan menetapkan kebijakan suku bunga tinggi. Akan tetapi secara tersirat, indikasi menuju BI 7-Day Reverse Repo Rate yang lebih tinggi amat kentara. Deputi Gubernur BI Juda Agung, tak memungkiri higher for longer telah menjadi fenomena. Hal itu dipicu ketegangan geopolitik yang menyebabkan berlanjutnya kenaikan harga pangan dan energi, sehingga memicu lesatan infl asi.Situasi itu pula yang melandasi BI pada tahun ini menaikkan suku bunga acuan untuk pertama kalinya sejak Januari. Inovasi di sisi kebijakan moneter, imbuhnya, akan terus dilakukan untuk memperdalam pasar keuangan dan meningkatkan efektivitas dari upaya pengendalian moneter. Menteri Keuangan sekaligus Ketua KSSK Sri Mulyani Indrawati, mengatakan tekanan pada rupiah disebabkan oleh kebijakan Amerika Serikat (AS), yakni suku bunga Federal Reserve (The Fed) dan kenaikan imbal hasil obligasi.Tak pelak, pada perdagangan kemarin, Senin (23/10), rupiah ditutup melemah 0,38% atau 61 poin ke level Rp15.933 per dolar AS, sekaligus menjadi yang terdalam di kawasan Asia. Sementara itu, kalangan pelaku usaha memandang apabila BI mengikuti fenomena higher for longer, maka beban over headusaha naik lebih tinggi.Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W. Kamdani, mengatakan kenaikan suku bunga idealnya menjadi instrumen ‘last resort’ untuk menciptakan stabilitas nilai tukar.

Bertabur Insentif, Bank Harus Memacu Kredit

HR1 23 Oct 2023 Kontan
Perbankan tak punya alasan lagi untuk tidak memacu penyaluran kredit. Apalagi, menjadikan kenaikan bunga acuan Bank Indonesia (BI) 25 bps sebagai kilah bahwa likuiditas mengetat. Walau bunga acuan naik, namun BI kembali membanjiri likuiditas perbankan dengan melonggarkan penyangga likuiditas makroprudensial (PLM). Untuk bank konvensional, PLM diturunkan dari 6% jadi 5% dengan fleksibilitas repo 5%. PLM bank syariah turun dari 4,5% jadi 3,5% dengan fleksibilitas repo 3,5%. PLM merupakan cadangan likuiditas minimum dalam rupiah yang wajib disimpan bank umum dalam bentuk surat berharga rupiah. Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, insentif PLM berpotensi menambah likuiditas Rp 81 triliun. Pelonggaran PLM ini akan berlaku mulai 1 Desember 2023. “Tapi, janji, lo, para bankir, insentif ini untuk menyalurkan kredit, jangan ditaruh lagi di SBN,” ujar Perry, pekan lalu. Sementara insentif KLM baru dimanfaatkan bank umum sebesar Rp 28,79 triliun. Alhasil, kata Perry, masih ada Rp 20 triliun lagi yang bisa dimanfaatkan. Likuiditas perbankan memang tak selonggar tahun lalu, tapi masih di level cukup aman. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat loan to deposit ratio (LDR) per Agustus 83,38% dan rasio alat likuid terhadap DPK 26,49%. EVP Corporate Communication BCA Hera F. Haryn optimistis insentif yang diberikan regulator berdampak positif bagi pertumbuhan kredit. “Kami akan berkoordinasi dengan pemangku kepentingan terkait implementasi insentif ini,” ujarnya. Sementara itu, Direktur Bisnis Bank Jtrust Indonesia Widjaja Hendra menyebut, pengetatan likuiditas perbankan kemungkinan tak terelakkan meski ada insentif. Kenaikan bunga acuan menurutnya akan mendorong bank berlomba menaikkan bunga dana. LDR Bank Jtrust per Juni 2023 tercatat 74,22%. Direktur Treasury Bank CIMB Niaga John Simon berpandangan, likuiditas industri masih memadai, tapi tidak sama kondisinya di semua bank. Adapun likuiditas CIMB Niaga masih aman dengan rasio LDR sekitar 85%. Di sisi lain, perseroan juga punya surat utang pemerintah yang dapat direpokan.

CEO UOB Indonesia: Akuisisi Citibank Rampung Tahun Ini

KT1 23 Oct 2023 Tempo
MEMASUKI tahun ketiganya sebagai Direktur Utama PT Bank UOB Indonesia, Hendra Gunawan mengemban tugas khusus: penyelesaian proses akuisisi lini bisnis konsumer Citibank Indonesia. Aksi korporasi ini bagian dari langkah UOB Group yang mengambil alih bisnis konsumer Citi di Indonesia, Malaysia, Thailand, serta Vietnam dengan total nilai US$ 690 juta. Sekitar 5.000 nasabah bank dan pegawai bakal bermigrasi ke UOB setelah prosesnya rampung. 

Proses akuisisi perusahaan yang berasal dari Amerika Serikat itu berjalan sejak awal 2022. Hendra menuturkan Indonesia menjadi negara terakhir yang merampungkannya. "Kami akan selesaikan semuanya di kuartal empat ini," kata dia kepada Tempo dan sejumlah wartawan dalam sesi wawancara terbatas di Jakarta, Senin, 9 Oktober lalu. 

Selain bicara mengenai proses akuisisi tersebut, Hendra membagikan rencananya menggaet lebih banyak nasabah serta strategi OUB Indonesia di tengah maraknya layanan pay later dan desakan pembiayaan untuk energi bersih. Berikut penggalan wawancara dengan Hendra Gunawan. (Yetede)

Penyaluran Kredit Baru Terindikasi Meningkat

KT3 21 Oct 2023 Kompas
Hasil Survei Perbankan yang dilakukan oleh BI menunjukkan bahwa penyaluran kredit baru pada triwulan III-2023 terindikasi meningkat. Hal tersebut tecermin dari saldo bersih tertimbang (SBT) penyaluran kredit baru sebesar 95,4 %, lebih tinggi dibandingkan 94,0 % pada triwulan sebelumnya. Peningkatan tersebut terjadi pada hampir seluruh jenis kredit. Pada triwulan IV-2023, penyaluran kredit baru diprakirakan melanjutkan tren peningkatan dengan SBT prakiraan penyaluran kredit baru sebesar 96,4 %. Standar penyaluran kredit pada triwulan IV-2023 diprakirakan sedikit lebih ketat dibandingkan periode sebelumnya. Demikian disampaikan Kepala Departemen Komunikasi BI, Erwin Haryono, Jumat (20/10). (Yoga)

Pilihan Editor