Perbankan
( 2327 )Kejar Target Penyaluran KUR Jelang Akhir Tahun
Masih Tetap Mekar Meski Sedikit Melambat
Kredit Tumbuh 12,53%, BRI Semakin Kuat, Selama 9 Bulan Cetak Laba Rp44,21 Triliun
Di tengah tantangan dan ketidakpastian perekonomian global karena meningkatnya tensi geopolitik dunia, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. berhasil menjaga kinerja keuangan yang impresif hingga akhir kuartal III/2023.Keberhasilan BRI Group menjaga kinerja positif ditunjuk kan dari aset secara konsolidasian meningkat 9,93% year-on-year(YoY) menjadi Rp1.851,97 triliun. Pertumbuhan aset juga diiringi perolehan laba dalam 9 bulan mencapai Rp44,21 triliun atau tumbuh 12,47% YoY.Direktur Utama BRI Sunarso mengungkapkan penopang kinerja positif BRI di antaranya penyaluran kredit yang tumbuh double digit; penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) dan dana murah yang juga tumbuh double digit; kualitas kredit yang terjaga; serta fee based income yang porsinya terus meningkat terhadap keseluruhan pendapatan BRI.
Seluruh segmen kredit BRI tumbuh positif. Khusus penyaluran kredit UMKM tumbuh 11,01% dari semula Rp935,86 triliun pada kuartal III/2022 menjadi Rp1.038,90 triliun pada kuartal III/2023 sehingga porsi kredit UMKM BRI terhadap total kredit mencapai 83,06%.
Sunarso menjelaskan keberhasilan BRI dalam menyalurkan kredit juga diiringi dengan penguatan aspek Environmental, Social & Governance (ESG) secara komprehensif dalam kegiatan bisnis perseroan. Kredit ESG BRI hingga akhir kuartal III/2023 tumbuh 11,89% men jadi Rp750,91 triliun sehingga porsinya mencapai 66,1% dari total portofolio kredit.
Keberhasilan BRI menyalurkan kredit juga diimbangi oleh manajemen risiko yang baik. BRI berhasil menurunkan Loan at Risk(LAR) menjadi sebesar 13,80% hingga akhir kuartal III/2023 atau membaik dibandingkan dengan September 2022 sebesar 18,68%.
Dari sisi penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) BRI mencatatkan sebesar Rp1.290,29 triliun atau tumbuh 13,21% YoY. Penopang utama DPK BRI masih bersumber dari dana murah (CASA) dengan porsi 63,64% atau sebesar Rp821,14 triliun.
Perbankan Paling Banyak Terbitkan Surat Utang
Likuiditas Mengetat, Perbankan Optimistis Target Kredit Tetap Tercapai
Kenaikan suku bunga acuan
berpotensi mengakibatkan pengetatan likuiditas industri perbankan. Meski
demikian, sejumlah bank besar optimistis penyaluran kredit dapat terus bertumbuh
hingga akhir tahun didukung permodalan yang kuat. Sebelumnya, BI mengumumkan kenaikan
suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 6 % karena ketidakpastian global
yang terus meningkat hingga mengakibatkan nilai tukar rupiah dalam beberapa
waktu terakhir terdepresiasi mendekati Rp 16.000 per dollar AS. Dirut BRI Sunarso
mengatakan, keputusan BI untuk menaikkan suku bunga acuan tersebut akan
berdampak pada pengetatan likuiditas perbankan. Meski begitu, sampai saat ini
kinerja BRI masih positif yang ditunjukkan dengan pertumbuhan dana pihak ketiga
(DPK), likuiditas yang memadai, dan permodalan yang kuat.
”Pertumbuhan DPK BRI
hingga kuartal III-2023 tercatat 13,21 persen secara tahunan menjadi Rp
1.290,29 triliun. Jumlahnya jauh di atas pertumbuhan DPK industri perbankan
yang pada Agustus 2023 tercatat 6,24 % secara tahunan. Kemudian, LDR (loan to
deposit ratio) BRI terjaga di level 87,76 %, jauh di atas ketentuan regulator,”
katanya dalamkonferensi pers Pemaparan Kinerja BRI Kuartal III-2023 secara
virtual, Rabu (25/10). Di sisi lain, rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR)
BRI tercatat sebesar 27,48 %. Dengan likuiditas yang memadai dan permodalan
yang kuat tersebut, Sunarso optimistis BRI mampu mengantisipasi berbagai risiko
dalam tiga bulan ke depan sekaligus mendorong pertumbuhan BRI melalui
penyediaan jasa layanan keuangan serta pembiayaan dan pemberdayaan UMKM. (Yoga)
Kredit Tumbuh 12,35%, BRI Semakin Kuat, Selama 9 Bulan Cetak Laba Rp 44,21 Triliun
WASWAS BUNGA TINGGI
Dunia usaha wajib siaga, menyusul makin kuatnya sinyal penerapan kebijakan suku bunga acuan tinggi yang cukup lama dari Bank Indonesia (BI) demi menjaga stabilitas sistem keuangan.Maklum, dunia sedang tidak baik-baik saja seiring dengan dinamika geopolitik di Timur Tengah yang kembali melahirkan kecemasan terutama dalam konteks krisis pangan dan energi, serta infl asi.Bank sentral negara maju pun telah ancang-ancang mengetatkan bunga acuan sehingga mendorong capital outfl ow dari pasar berkembang, termasuk Indonesia. Inilah yang kemudian mendasari BI untuk mengekor tren tersebut, utamanya untuk menjaga gerak rupiah.Apalagi, survei yang dilakukan Bloomberg terhadap para ekonom dunia pun mencatat bahwa kebijakan fiskal dan moneter diproyeksikan bertentangan karena ekspektasi tingkat suku bunga acuan tinggi dan bertahan cukup lama, sehingga berisiko menahan laju ekonomi.Di sisi lain, tidak sedikit pula ekspektasi bahwa bank sentral akan banyak memanfaatkan instrumen Quantitative Easing (QE) seperti penyuntikan likuiditas, sehingga penanganan infl asi tidak mengancam pertumbuhan ekonomi.Otoritas moneter pun tidak secara tersurat akan menetapkan kebijakan suku bunga tinggi. Akan tetapi secara tersirat, indikasi menuju BI 7-Day Reverse Repo Rate yang lebih tinggi amat kentara.
Deputi Gubernur BI Juda Agung, tak memungkiri higher for longer telah menjadi fenomena. Hal itu dipicu ketegangan geopolitik yang menyebabkan berlanjutnya kenaikan harga pangan dan energi, sehingga memicu lesatan infl asi.Situasi itu pula yang melandasi BI pada tahun ini menaikkan suku bunga acuan untuk pertama kalinya sejak Januari. Inovasi di sisi kebijakan moneter, imbuhnya, akan terus dilakukan untuk memperdalam pasar keuangan dan meningkatkan efektivitas dari upaya pengendalian moneter.
Menteri Keuangan sekaligus Ketua KSSK Sri Mulyani Indrawati, mengatakan tekanan pada rupiah disebabkan oleh kebijakan Amerika Serikat (AS), yakni suku bunga Federal Reserve (The Fed) dan kenaikan imbal hasil obligasi.Tak pelak, pada perdagangan kemarin, Senin (23/10), rupiah ditutup melemah 0,38% atau 61 poin ke level Rp15.933 per dolar AS, sekaligus menjadi yang terdalam di kawasan Asia.
Sementara itu, kalangan pelaku usaha memandang apabila BI mengikuti fenomena higher for longer, maka beban over headusaha naik lebih tinggi.Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W. Kamdani, mengatakan kenaikan suku bunga idealnya menjadi instrumen ‘last resort’ untuk menciptakan stabilitas nilai tukar.









