Pasar Modal
( 326 )Terganjal Perlambatan Ekonomi
Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia diperkirakan masih sulit naik di tengah tekanan perekonomian global. Ekonom PT Bank Permata Tbk, Josua Pardede, mengatakan, pergerakan indeks sudah lesu sejak akhir 2022 lalu. “Meskipun sempat menguat, hanya tipis,” ujarnya kepada Tempo, kemarin. IHSG pernah mencapai level 7.071,44 pada 31 Maret 2022 atau akhir kuartal pertama tahun lalu, kemudian bergerak fluktuatif dan terhenti di level 7.000 di ujung kuartal III 2022. Sejak itu, IHSG tak banyak bergerak dari kisaran 6.800. Menurut Josua, pelemahan beberapa sektor penunjang kinerja indeks menjadi pemicu tren mendatar tersebut. Saham sektor pertambangan, dia mencontohkan, sedang melemah seiring dengan normalisasi harga komoditas.
Harga batu bara merosot dari US$ 400 per ton pada akhir 2022 menjadi US$ 209 per ton saat ini. Angka permintaannya pun tak setinggi tahun lalu. "Harga mulai normal karena ekspektasi pertambangan terhadap perlambatan ekonomi," kata Josua. Direktur Investa Saham Mandiri, Hans Kwee, menyebutkan, saham sektor perbankan yang termasuk andalan IHSG turut tertekan diterpa kabar tingginya margin bunga bersih (net interest margin/NIM). Persoalan tingginya rasio yang dipakai bank untuk pengukuran profitabilitas itu disentil oleh Presiden Jokowi karena memberatkan debitor. “Saham perbankan sempat goyang juga,” tutur Hans. (Yetede)
GERBANG IPO EMITEN ASING
Bursa Efek Indonesia menggulirkan kajian untuk membuka peluang bagi perusahaan asing yang beroperasi di Indonesia bisa go public di Tanah Air. Meski berpotensi memeriahkan aksi initial public offering (IPO) dan mendongkrak pamor pasar modal Indonesia secara global, wacana itu dikhawatirkan dapat berimbas terhadap arus keluar modal asing. Saat ini, total perusahaan tercatat di pasar saham sudah mencapai 836 emiten. Jumlah itu termasuk 11 emiten pendatang baru yang listing di BEI sepanjang tahun berjalan 2023. Seluruhnya merupakan badan hukum Perseroan Terbatas (PT) seperti yang dipersyaratkan oleh regulator pasar modal Indonesia. Merujuk Roadmap Pasar Modal Indonesia 2023—2027, jumlah perusahaan tercatat baik saham maupun efek bersifat utang dan sukuk (EBUS) ditargetkan OJK meningkat menjadi 1.100 perusahaan. BEI melaporkan terdapat 38 perusahaan yang berada dalam antrean atau pipeline IPO per 1 Februari 2023 yang didominasi oleh calon emiten dari sektor konsumer dan teknologi. Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan potensi dana yang dihimpun dari 38 perusahaan tersebut mencapai Rp48,4 triliun.
Saat dihubungi Bisnis, Deputi Komisioner Pengawas Emiten, Transaksi Efek, dan Pemeriksaan Khusus OJK Djustini Septiana mengatakan secara khusus pihaknya belum mengetahui kajian tersebut. “Nanti kalau BEI lapor ke OJK, baru kami bisa mengerti maksud dan arahnya,” ujarnya. Sementara itu, Guru Besar Finansial dan Pasar Modal Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Budi Frensidy mengatakan pencatatan saham perusahaan asing pada umumnya dijumpai di bursa luar negeri, terutama di negara dengan pasar keuangan yang dalam dengan perputaran dana investasi yang besar. Pencatatan perusahaan asing juga dinilai Budi bisa mendorong peningkatan rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) yang ditargetkan mencapai Rp25 triliun. Pengamat Pasar Modal Rivan Kurniawan, Jumat (3/2), menilai pasar modal Indonesia akan lebih besar lagi apabila perusahaan asing melantai di BEI. Menurutnya, hal tersebut dapat membuat gairah investor makin meningkat untuk memarkirkan uang di pasar modal, termasuk investor asing.
AKSI KORPORASI : BERBURU MODAL KERJA VIA IPO
Aksi penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) menjadi jalur yang ditempuh oleh sejumlah calon emiten untuk mendulang modal kerja dan belanja modal dari pasar modal. Opsi itu ditempuh di tengah tren kenaikan suku bunga acuan yang berimbas terhadap bunga kredit perbankan. Saat ini, ada 10 calon emiten yang tercatat di dalam sistem e-IPO yang dikembangkan oleh PT Bursa Efek Indonesia. Dua di antaranya telah merampungkan proses IPO, yakni PT Hassana Boga Sejahtera Tbk. (NAYZ) dan PT Aviana Sinar Abadi Tbk. (IRSX).Dari jumlah tersebut, lima perusahaan sudah masuk tahap penawaran umum sedangkan empat calon emiten masih menjalankan proses bookbuilding atau penawaran awal.PT Pertamina Geothermal Tbk. (PGEO) menjadi calon emiten yang membidik nilai IPO terbesar di antara antrean go public pada awal Februari 2023. Anak usaha PT Pertamina (Persero) itu berpotensi meraih dana segar Rp8,45 triliun-Rp9,78 triliun dengan melepas maksimal 10,35 miliar saham pada rentang harga penawaran Rp820-Rp945 per saham. Secara garis besar, mayoritas calon emiten bakal menggunakan sebagian dana hasil IPO untuk modal kerja dan belanja modal. Selain itu, dana IPO juga digunakan calon emiten untuk membiayai kembali fasilitas pinjaman. PT Solusi Kemasan Digital Tbk. (PACK), misalnya, akan menggunakan 79% dana IPO untuk modal kerja dengan perincian sekitar 19% untuk pemasaran dan promosi, serta 60% untuk keperluan modal kerja seperti bahan baku produksi.
Direktur Utama PT Solusi Kemasan Digital TBK. (PACK) Denny Winoto mengatakan prospek bisnis di industri kemasan fleksibel digital tercatat mengalami pertumbuhan.
Senada, calon emiten pendatang baru produsen sarung tangan lateks PT Haloni Jane Tbk. (HALO) membidik dana IPO hingga Rp113 miliar. Dalam prospektus yang dikutip Jumat (3/2), manajemen Haloni Jane mengungkapkan 100% hasil IPO akan dipergunakan untuk modal kerja.
Strategi serupa ditempuh perusahaan perancang IoT dan smart card PT Pelita Teknologi Global Tbk. (CHIP) yang menawarkan saham perdana pada level harga Rp160 per saham dan berpotensi meraih dana maksimal Rp32 miliar.Dalam prospektusnya, CHIP berencana menggunakan dana hasil IPO untuk modal kerja, yaitu untuk biaya operasional seperti gaji, biaya angkut, biaya kantor, biaya penjualan, biaya sewa, dan lainnya.
OJK Tetapkan Peta Jalan Pasar Moda
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia meluncurkan peta jalan yang menjadi panduan pengembangan pasar modal pada 2023-2027. ”Peluncuran peta jalan ini merupakan upaya untuk menghadapi tantangan sekaligus mencermati peluang pasar modal ke depan,” kata Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Inarno Djajadi di Jakarta, Selasa (31/1). (Yoga)
AMBISI BESAR PASAR MODAL
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) punya target ambisius untuk menggenjot pasar modal. Bermodal pertumbuhan pesat pasar modal dalam 5 tahun terakhir, Roadmap Pasar Modal Indonesia 2023-2027 pun menyertakan sejumlah target tinggi. Contohnya adalah kapitalisasi pasar yang dipatok tembus Rp15.000 triliun. Angka itu setara dengan 70% dari produk domestik bruto (PDB) Indonesia yang diproyeksi International Monetary Fund (IMF) menyentuh Rp29.386 triliun pada 2027. Untuk mencapai target itu, kapitalisasi pasar saham harus meningkat Rp5.575 triliun dari posisi Rp9.425 triliun pada posisi Selasa (31/1). Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Inarno Djajadi mengatakan peta jalan tersebut merupakan respons atas berbagai tantangan dan peluang pengembangan industri serta implementasi Undang-undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK). Lima tahun ke depan, lanjutnya, misi yang akan diemban ialah mewujudkan pasar modal Indonesia yang dalam, likuid, berdaya saing, terpercaya, serta tumbuh dan berkelanjutan. Selain kapitalisasi pasar, jumlah perusahaan tercatat baik saham maupun efek bersifat utang dan sukuk (EBUS) ditargetkan OJK meningkat menjadi 1.100 perusahaan. Menurut data BEI total emiten yang sahamnya tercatat sudah mencapai 835 perusahaan, termasuk tambahan 10 emiten baru yang listing pada Januari 2023. Di sisi demand, OJK menargetkan jumlah investor pasar modal tumbuh dari 10,31 juta single investor identification (SID) pada akhir 2022 menjadi lebih dari 20 juta investor. Adapun, dalam periode 2018—2022, jumlah investor pasar modal melejit dari 1,62 juta menjadi 10,31 juta SID.
Rilis Kinerja Emiten Jadi Katalis
Menurut CEO Yugen Bertumbuh Sekuritas Wiliam Surya, Sabtu (28/1) rilis kinerja beberapa emiten pada tahun 2022 akan turut membayangi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga beberapa waktu mendatang. Beberapa emiten sudah melaporkan kinerjanya, seperti PT Bank Central Asia Tbk yang mendapatkan laba Rp 40 triliun sepanjang 2022. IHSG akan bergerak mengikuti perkembangan pertumbuhan kinerja keuangan emiten. (Yoga)
Sentimen Positif Angkat Indeks Menembus 7.000
JAKARTA, ID - Setelah absen tiga tahun, January effect akan terjadi tahun ini. Para pelaku pasar optimistis, dalam dua hari terakhir Januari 2023, indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) akan menguat 1,5% dibanding penutupan akhir tahun lalu, 6.850,6. Penguatan indeks —yang sudah terjadi sejak pekan lalu— didorong oleh sentimen positif, dalam maupun luar negeri, di antaranya pertumbuhan ekonomi AS 2022 yang di atas prediksi dan membaiknya kinerja emiten. Hingga penutupan perdagangan di BEI pekan lalu, Jumat (27/01/2023), indeks, ytd, naik 0,71%. anuaryeffect masih berpeluang. Syaratnya, IHSG break di atas 6.955. Masih ada sisa dua hari lagi, tanggal 30 dan 31 Januari. Kenaikan 100 poin kan wajar. Indeks juga bisa melaju ke 7.000-7.125 hingga pekan ini,” kata pengamat pasar modal Wahyu Tri Laksono kepada Investor Daily, Sabtu (28/01/2023). January effect akan terjadi untuk pertama kalinya sejak pandemi Covid-19 mendera negeri ini, Maret 2020. (Yetede)
Kelinci di Pasar Saham
Pada Tahun Kelinci Air ini, pergerakan pasar saham secara umum diperkirakan akan lebih tenang ketimbang pergerakan di tahun Macan lalu. Bahkan, Menkeu Sri Mulyani mengatakan, tahun 2022 adalah tahun yang brutal karena ada banyak sekali asset yang menguap. Analis CLSA Hong Kong, Justin Chan dan Stella Liu, mengatakan, hampir semua shio akan menjalani tahun yang tenang sepanjang Tahun Kelinci ini. Hanya, shio Ayam tampaknya harus bersiap menghadapi hari-hari yang melelahkan. Setiap tahun sejak 1992, CLSA Sekuritas Hong Kong mengeluarkan CLSA Feng Shui Index yang memperkirakan pergerakan pasar saham Hong Kong berdasarkan fengsui, ilmu China kuno yang memadukan energi agar manusia dapat hidup selaras dengan alam. Tentu saja, ini adalah laporan lucu-lucuan dan laporan ini bukanlah merupakan sebuah laporan riset berdasarkan tradisi kuno. Otoritas pasar modal China rajin memperingatkan sekuritas-sekuritas yang mengeluarkan analisis berdasarkan fengsui. Surat peringatan dari regulator dalam beberapa tahun belakangan mereka terima setelah mengeluarkan strategi investasi berdasarkan fengsui.
Namun, paparan dari CLSA ini sangat dinantikan para investor. Kelinci air akan membawa elemen api yang membawa keberuntungan untuk Indeks Hang Seng, tetapi kekurangan elemen metal. Perjalanan Indeks Hang Seng tahun ini akan bergerak dengan sedikit gejolak, tetapi para investor diingatkan harus bersiap menghadapi penurunan di pasar saham Hong Kong pada Maret setelah terjadi kenaikan di awal tahun. Pasar akan kembali menguat sebelum musim panas tiba dan akan turun lagi pada Agustus dan Oktober. Karena Kelinci Air ini membawa elemen api, industri terkait api, seperti gas, mode, dan teknologi akan bertumbuh baik. Sementara industri yang terkait tanah, seperti property juga terkait air, seperti travel dan transportasi, akan berjuang keras melewati Tahun Kelinci. Industri terkait kayu seperti kesehatan, pendidikan, dan pertanian akan bertumbuh cukup baik. Metal merupakan penerima manfaat utama dari kehadiran si Kelinci ini. Apakah perhitungan ini akan terbukti? Kita lihat saja nanti…. (Yoga)
Indeks Diperkirakan Bergejolak di Semester I
Pada perdagangan Kamis (5/1) IHSG turun 2,3 % menjadi 6.653.Tekanan jual melanda 518 saham, termasuk saham berkapitalisasi besar. Hanya ada 90 saham yang naik pada perdagangan hari ini. Head of Research RHB Sekuritas Indonesia Andrey Wijaya memperkirakan, pada semester pertama tahun ini IHSG akan bergejolak cukup tinggi. Namun, dia optimistis bahwa pada akhir 2023, indeks akan dapat melaju hingga 7.450. ”Volatilitas indeks dipengaruhi oleh pelemahan kurs rupiah dan kekhawatiran terhadap resesi global yang masih menghantui pada triwulan I-2023,” kata Andrey. Head of Institusional Equities RHB Sekuritas Indonesia Michael Setjoadi mengatakan, para investor harus memantau faktor-faktor yang memengaruhi volatilitas pasar.
Faktor itu, misalnya, ekspektasi perlambatan ekonomi Indonesia sebesar 4,1 % secara tahunan pada tahun ini. Selain itu, ada faktor potensi penurunan harga komoditas global, khususnya batubara, kenaikan inflasi yang mencapai 4,5 % yang didorong kenaikan harga BBM, serta kenaikan suku bunga bank sentral AS (The Fed) menjadi 5-5,25 % pada 2023 dari 4,25-4,5 % pada 2022. Sejumlah faktor itu, kata Michael, dapat menyebabkan keluarnya dana asing dan menambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Meski demikian, dia juga optimistis indeks dapat menguat pada semester kedua seiring dengan membaiknya perekonomian makro yang dipicu tingkat konsumsi dan kenaikan upah minimum serta pertumbuhan sektor perbankan, komoditas metal, dan konsumer. (Yoga)
Kinerja Positif Jadi Pijakan
Kinerja pasar modal Indonesia selama tahun 2022 menunjukkan catatan positif, tecermin dari sejumlah indikator, seperti stabilitas pasar, aktivitas perdagangan, jumlah penghimpunan dana, dan jumlah investor ritel di BEI. Pencapaian tersebut menjadi pijakan untuk menyongsong 2023 dengan optimisme tinggi. ”IHSG menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah dan melampaui angka sebelum pandemi. Selain itu, inflasi sampai November juga masih terkendali meski ada peningkatan. Aktivitas pasar modal cukup bergairah sepanjang tahun ini,” kata Wapres Ma’ruf Amin saat menutup perdagangan di BEI tahun 2022, Jumat (30/12).
Dengan pencapaian-pencapaian positif tersebut, Wapres berharap pasar modal Indonesia terus bertumbuh tahun depan. Diharapkan juga, lebih banyak lagi perusahaan yang akan go public, termasuk perusahaan berskala usaha kecil dan menengah. Wapres juga menaruh harapan besar agar penawaran efek melalui urun dana berbasis teknologi informasi semakin marak. ”Beberapa capaian kinerja positif di pasar modal diharapkan menjadi pijakan bagi pelaku pasar untuk menatap optimisme perekonomian di tahun 2023 seraya tetap menjaga kewaspadaan dan kehati-hatian,” kata Wapres. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Krisis Ukraina Meluber Menjadi ”Perang Energi”
10 Mar 2022









