Pasar Modal
( 326 )Cuan Terus dari Anggota Kompas 100
Indeks saham Kompas100 bergerak positif sepanjang tahun 2023 ini. Sejumlah saham penghuni Kompas100 juga mencetak
return
cukup tinggi.
Sepanjang tahun 2023, saham PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) menjadi saham Kompas 100 yang memberi imbal hasil tertinggi, sebesar 129,14%. Disusul PT Barito Pacific Tbk (BRPT) sebesar 87,16% dan PT Jasa Marga Tbk (JSMR) dengan
return
64,23%.
Direktur Utama Kiwoom Sekuritas Indonesia, Chang-kun Shin mengatakan, sentimen utama dari kenaikan saham-saham tersebut berasal dari kinerja fundamental yang masih kuat. "Misalnya saham TPIA, rugi bersih TPIA terus menyusut, seiring dengan normalisasi harga minyak mentah," kata Shin, Jumat (22/12).
Sementara itu, saham BRPT disokong oleh kinerja PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang sampai di sembilan bulan pertama 2023 juga masih mencetak pertumbuhan laba dua digit.
Sedangkan PT Ace Hardware Tbk (ACES) ditopang SSSG yang tumbuh 10% yoy per September 2023, sehingga laba bersih ikut naik 38% secara tahunan. Lalu, saham ISAT didorong oleh kenaikan
average revenue per user
(ARPU) sebesar 2,5% yoy menjadi Rp 34.700 yang mendorong pertumbuhan pendapatan sebesar 8,5%.
Shin mengatakan, prospek bursa saham tahun depan akan didorong oleh pelonggaran kebijakan moneter bank sentral. Menurutnya, emiten penghuni Kompas100 pun dapat memanfaatkan momentum untuk kembali melakukan ekspansi bisnis, terutama untuk sektor telekomunikasi dan ritel yang dinilai masih akan punya prospek cerah.
CEO Edvisor Profina Visindo Praska Putrantyo juga sepakat, prospek Indeks kompas100 di tahun depan masih positif sejalan dengan
outlook
kebijakan moneter tahun depan. Indeks ini juga ditopang oleh saham-saham dari sektor keuangan dengan porsi lebih dari 40% serta saham-saham sektor barang baku dan barang konsumen primer yang masing-masing punya porsi lebih dari 10%. Sebagai alternatif acuan investasi, Kompas100 masih menarik untuk dipertimbangkan, selain LQ45 atau IDX80, karena komposisi konstituen yang terdiversifikasi ke dalam 11 sektor.
Menurut Praska, ada sejumlah saham Kompas100 yang menarik untuk dipertimbangkan akumulasi beli atau
buy on weakness.
saham-saham tersebut di antaranya ASII, ADRO, INDF, GGRM, BDMN, PNBN, BSDE, TKIM, ERAA, SMDR, MPMX, dan ABMM.
Prospek Cerah Pasar Modal 2024
Di pengujung tahun 2023, pasar modal Indonesia mampu
menunjukkan ketahanannya di tengah badai ketidakpastian ekonomi dan politik.
Banyak negara menderita inflasi tinggi karena gangguan rantai pasok dan
geopolitik negara-negara pemasok energi di tengah perang Ukraina-Rusia. AS
mengalami kenaikan inflasi hingga 9,1 % pada Juni 2022. Kenaikan inflasi
dikendalikan dengan terus menaikkan suku bunga acuan, yang perlahan menurunkan
inflasi menjadi 3,1 % pada November 2023. Namun, situasi itu membuat banyak negara,
termasuk Indonesia, harus ikut menaikkan tingkat suku bunga sehingga masyarakat
menahan belanjanya. Sejak Agustus 2022 hingga Oktober 2023, Indonesia menaikkan
suku bunga acuan 250 basis poin dari 3,5 % menjadi 6 %. Konflik geopolitik dan
ketidakpastian ekonomi global juga melemahkan nilai tukar rupiah terhadap
dollar AS. Sejak triwulan akhir 2022 hingga 2023, kurs rupiah berada di kisaran
Rp 15.000-Rp 15.800.
Situasi tersebut menjadi sentimen negatif bagi Indeks Harga
Saham Gabungan (IHSG) di pasar modal, yang menjadi indikator kinerja industri
dan perdagangan dalam negeri. Perbaikan pascapandemi yang terjadi tahun 2021
sampai 2022 harus tertahan di 2023. Rapor IHSG merah karena hanya naik turun di
level 6.500-6.900 sampai November 2023. Menghijau Namun, pada pengujung tahun
2023, IHSG melawan pukulan-pukulan tersebut dengan kembali menembus posisi 7.000.
Pada Jumat (22/12) IHSG ditutup menguat 0,39 % di posisi 7.237. Indeks harga 7
dari 11 sektor emiten yang tercatat di Bursa Efek Jakarta meningkat secara
moderat. Banyak analisis mengatakan, kebangkitan ini terkait faktor kunci,
yakni asumsi berhentinya tren kenaikan suku bunga lewat sinyal yang diberikan
AS melalui bank sentralnya, The Federal Reserve (The Fed). BI pun kemungkinan
mengikutinya dan diprediksi bakal menurunkan suku bunga acuan 50-75 basis poin
di semester kedua 2024. Equity analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Dimas
Krisna Ramadhani, mengungkapkan, ada beberapa faktor lain yang membuat pasar
modal mampu mempertahankan dirinya sehingga tidak terpuruk. Salah satunya
adalah tingkat inflasi Indonesia yang rendah. BI memproyeksikan inflasi tahunan
bisa terkendali di angka 3 plus minus 1 % pada 2023 dan 2,5 plus minus 1 % pada
2024. (Yoga)
Tahun Kejayaan Pasar Modal
SRBI Pikat Investor Masuk Pasar Keuangan Domestik
B-Universe dan BEI Kolaborasi Tingkatkan Pertumbuhan Investor Pasar Modal
OJK Gelar Sosialisasi Ketentuan Pasar Modal
Gen Z di Pasar Modal Indonesia
Dipicu masifnya edukasi dan transformasi digital, Gen Z jadi
kekuatan potensial dan mendominasi demografi investor individu di bursa saham
kita, beberapa tahun terakhir. Sebanyak 57,04 % dari total 11,54 juta investor
di pasar modal adalah Generasi (Gen) Z, dengan aset Rp 50,51 triliun per
Agustus 2023 (Kompas, 6/10). Porsi penguasaan aset Gen Z masih sangat kecil
dibandingkan investor berusia 60 tahun ke atas yang, meskipun jumlahnya hanya
2,88 %, menguasai Rp 896,44 triliun aset di pasar modal. Namun, tren dominasi
Gen Z ini menggembirakan karena kehadiran mereka menunjukkan ada kesadaran
tentang pentingnya berinvestasi sejak dini. Jika terus berlanjut, ini juga akan
menjadi penopang penting pertumbuhan dan stabilitas pasar modal dan
perekonomian nasional ke depan.
Gen Z adalah generasi terbesar di Indonesia, menurut Sensus
Penduduk 2020, yakni 74,93 juta atau 27,94 % dari total penduduk. Generasi
kelahiran 1996-2012 ini telah atau segera memasuki usia produktif, dengan
potensi pendapatan yang juga terus meningkat beberapa tahun ke depan. Jumlah
dan potensi mereka yang besar membuat Gen Z jadi salah satu sasaran utama
program perluasan basis investor domestik dan pendalaman pasar finansial di dalam
negeri. Karakteristik Gen Z yang sangat digitally savvy dan unik juga membuat
kebutuhan investasi mereka berbeda dari generasi sebelumnya dan ini yang harus
bisa dibaca pihak otoritas. Dari sisi demand, penguatan basis investor domestik
dan pendalaman pasar selama ini dilakukan dengan meningkatkan jumlah investor
baru, terutama investor ritel. Dari sisi supply, dengan menambah jumlah
perusahaan atau emiten yang melakukan penawaran saham perdana (IPO) di pasar
modal. (Yoga)
Produk Reksa Dana Global Syariah Allianz
Laba Rp75 Triliun, Emiten BUMN Sokong Pasar Modal Indonesia
JAKARTA,ID-Kehadiran BUMN melalui 12 perusahaan tercatat (listed company), memiliki dampak dampak besar terhadap dinamika pasar modal Indonesia, baik dari sisi kinerja maupun pergerakan saham di lantai bursa. Kinerja BUMN yang moncer dengan perolehan laba bersih hingga Rp76,18 triliun pada semester I-2023, juga terinfeksi dari sahamnya yang masih menjanjikan potensi keuntungan hingga 35%. Berdasarkan catatan Invetsor daily, 12 emiten BUMN membukukan pendapatan Rp343,31 triliun pada paruh pertama tahun ini atau tumbuh 12,08% dibandingkan periode sama tahun yang lalu. Sementara laba bersihnya turun 40,26% menjadi Rp76,18 triliun dibanding sebelumnya Rp127,53 triliun. penurunan tersebut terutama dari perubahan laba bersih PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) dari untung Rp57,5 triliun menjadi rugi Rp1,17 triliun. "Untuk Garuda emang kasus khusus karena pada tahun lalu itu masuk dalam laba luar biasa sebagai dampak dari restrukturisasi utang. kalau kita kesampingkan dulu Garuda, laba BUMN masih tetap tumbuh," kata Head of Investment PT Reswara Gian Investa Adi Joe kepada Investor Daily, baru-baru ini. (Yetede)
MENGURAI ARAL PASAR MODAL
Genap 46 tahun pasar modal Indonesia diaktifkan kembali sejak 1977. Tak boleh terlena dengan sederet rekor positif yang telah dicapai, tumpukan pekerjaan rumah untuk meningkatkan kinerja pasar modal telah menanti di depan mata. Selain memacu inklusi pasar modal yang masih tergolong rendah, otoritas juga punya tugas untuk mengawal integritas pelaku pasar modal. Tren penurunan rata-rata nilai transaksi harian, dari Rp14,71 triliun pada 2022 menjadi Rp10,35 triliun saat ini, juga tak boleh luput dari perhatian. Demikian pula dengan inovasi regulasi yang dibutuhkan tak hanya untuk memompa kinerja, tetapi juga menguatkan jaring perlindungan konsumen. Faktanya, performa pasar modal saat ini memang sedang menanjak. Hal itu tecermin dari kinerja indeks acuan saham dan obligasi. Hingga Kamis (10/8), indeks harga saham gabungan (IHSG) menguat 0,62% year-to-date (YtD) dan parkir di level 6.893,27. Di pasar surat utang, Indonesia Composite Bond Index (ICBI) lebih bertenaga dengan kenaikan 7,11% sepanjang tahun berjalan 2023. Lebih terperinci, Bursa Efek Indonesia mencatat 63 emiten baru sudah merampungkan initial public offering (IPO) dengan akumulasi dana mencapai Rp49,15 triliun. Iman Rachman, Direktur Utama BEI, menyebut telah terdapat 887 perusahaan tercatat saham dan 29 perusahaan dalam pipeline IPO. Jumlah investor di pasar modal juga meningkat 11,15% YtD menjadi 11,46 juta single investor identification (SID) per Juli 2023. Jumlah itu didorong oleh pertumbuhan investor ritel yang naik 4 kali lipat dalam 5 tahun terakhir. Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar menegaskan integritas pasar modal harus terus ditingkatkan. OJK terus meningkatkan upaya-upaya pelindungan investor dan masyarakat. “Kata kuncinya adalah kita terus tingkatkan integritas." Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Irvan Susandy menambahkan ARB tahap II akan diterapkan mulai September 2023 sembari memperhatikan kondisi pasar saham. BEI juga menyatakan kesiapannya menjadi penyelenggara Bursa Karbon Indonesia.
Pilihan Editor
-
Membuat QRIS Semakin Perkasa
09 Aug 2022 -
Peran Kematian Ferdy Sambo dalam Kematian Yosua
10 Aug 2022 -
Salurkan Kredit, Bank Digital Mulai Unjuk Gigi
29 Jun 2022 -
Penerimaan Negara Terbantu Komoditas
14 Jun 2022









