Pasar Modal
( 326 )Terganjal Pemulihan Ekonomi AS
Kantongi Laba Rp 48,66 Triliun BCA Incar NIM 5,5%
Paruh Kedua 2024 Investasi Akan Melesat
Tiga Perusahaan Bidik IBST, Nilai Akuisisi Rp 11,4 Triliun
KINERJA PASAR MODAL : PAPARAN KENCANG SENTIMEN PEMILU
Emiten di sejumlah sektor mulai mendapat sorotan khusus dari para investor menjelang pemungutan suara Pemilihan Umum 2024 yang akan dilaksanakan pada 14 Februari 2024. Pesta demokrasi 5 tahunan itu dianggap bisa memberikan dampak positif untuk sektor tertentu di tengah ketidakpastian ekonomi global. Setelah berhasil bergerak optimistis pada awal 2024 dengan menyentuh rekor di level 7.359,76 pada Kamis (4/1), pelaku pasar mulai memetakan kembali portofolionya jelang pemungutan suara, sehingga IHSG ditutup berbalik melemah ke level 7.227,82 pada perdagangan kemarin. Alhasil, IHSG kini justru berada di zona merah, turun 0,62% secara year-to-date (YtD), dan anjlok 1,79% dari level rekornya. Sentimen Pemilu 2024 memang bukan satu-satunya faktor di balik pelemahan IHSG, tetapi tetap menjadi salah satu penggerak utama. Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan pasar akan melihat perkembangan pemilu. Meski demikian, kata dia, pasar juga akan tetap memperhatikan sentimen eksternal, seperti penerapan pivot policy oleh The Fed. Senada, Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi mengatakan siapapun yang presiden terpilih nantinya akan menjadi sentimen positif untuk pasar jika pemilu berlangsung kondusif. Sebab, pasar akan melihat secara jelas arah kebijakan dari presiden terpilih. Akhir-akhir ini, kata dia, pelaku pasar cukup lekat mengamati agenda politik yang disampaikan para capres dan cawapres dalam debat. Beberapa isu yang diangkat dalam debat turut menjadi sentimen yang menghangatkan pasar. Dalam debat terakhir antarcawapres, isu transisi energi berupa pengembangan energi baru terbarukan (EBT) mengemuka. Sejumlah emiten yang berfokus di sektor itu pun menjadi sorotan pasar. Usai debat, selama 2 hari berturut-turut saham PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) menguat, yakni 4,90% dan 4,21%. Sementara itu, saham PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO) stagnan pada hari pertama, lalu menguat 0,40% di hari berikutnya. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan, sentimen yang dibawa oleh para calon akan memengaruhi saham-saham terkait. Dalam perkembangan terpisah, pasar juga menyoroti sikap Garibaldi ‘Boy’ Thohir, pemilik Grup Adaro, yang mengeklaim sepertiga penyumbang ekonomi Indonesia bersiap untuk memenangkan pasangan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka pada pemilu kali ini. Akan tetapi, belakangan Grup Adaro dan Grup Djarum membantah klaim tersebut. “Yang klaim itu Pak Boy . Kami tidak deklarasi,” kata Corporate Communication Manager Djarum Budi Darmawan. Hal sama disampaikan oleh Head of Corporate Communication Adaro Energy Indonesia Febriati Nadira. Menurutnya, aspirasi tersebut pendapat pribadi Boy Thohir sebagai warga negara, bukan mewakili Adaro Energy. Head of Retail Research Sinarmas Sekuritas Ike Widiawati berpendapat, di tengah gejolak pasar yang ditimbulkan oleh dinamika politik, investor dapat mencermati beberapa strategi investasi.
Aliran Dana Asing Akan Memperkuat IHSG
Aliran dana asing ke Indonesia yang meningkat seminggu terakhir menunjukkan sentimen positif pasar di tengah ketidakpastian ekonomi global. Fenomena ini akan membuat kinerja Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG menguat beberapa bulan ke depan dan menaikkan penjualan surat utang negara. Data BI menunjukkan, aliran modal asing masuk bersih di pasar keuangan domestik mencapai Rp 7,66 triliun pada 15-18 Januari 2024. Hal ini dibaca analis pasar modal sebagai sentiment positif pasar pada awal 2024. Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Dimas Krisna Ramadhani, Senin (22/1) mencatat, sepekan terakhir, investor asing membeli produk investasi di pasar reguler sebesar Rp 537 miliar, bahkan dalam sebulan terakhir telah mencapai Rp 9,19 triliun.
”Kenaikan harga saham blue chip seperti bank-bank besar dapat terjadi seiring dengan akumulasi pembelian yang dilakukan oleh investor asing. Jika aliran dana asing masih akan terjadi hingga beberapa waktu ke depan, kita bisa mengharapkan kenaikan IHSG dapat terjadi lagi dan membentuk level tertinggi barunya ke depan,” tuturnya. Dua pekan terakhir, pergerakan IHSG cenderung datar di posisi 7.200-7.250 setelah sempat memecahkan rekor di level 7.323,58 pada perdagangan perdana 2024, Selasa (2/1). Pada Senin (22/1), IHSG ditutup menguat 20,52 poin atau 0,28 ke level 7.247. (Yoga)
Mengukur Prospek Saham Manufaktur
Memburu Anggota Baru Keping Biru Pilihan
Tak lama lagi, Bursa Efek Indonesia (BEI) bakal mengocok ulang susunan sejumlah indeks konstituen, termasuk indeks terlikuid LQ45. Sesuai jadwal, para penghuni baru Indeks LQ45 akan diumumkan pada akhir Januari mendatang. Ada beberapa saham yang digadang-gadang berpeluang besar menjadi penghuni baru LQ45. Beberapa di antaranya adalah saham pendatang baru PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN). Belakangan ini saham-saham tersebut mencuri perhatian lantaran berperan besar menggerakkan arah bursa saham. CEO Edvisor Profina Visindo Praska Putrantyo mengatakan, BREN dan AMMN berpeluang masuk ke indeks LQ45 dan IDX30 karena likuiditasnya yang tinggi. "Likuiditas AMMN dan BREN di atas Rp 100 miliar per hari, rasio free float juga relatif besar di atas 10%, serta kapitalisasi pasar besar di atas Rp 500 triliun," katanya kepada KONTAN, kemarin. Di samping itu, Praska menyebut prospek bisnis AMMN dan BREN dalam jangka panjang masih didukung oleh kinerja fundamental kuat dari pos pendapatan dan laba. Hal ini akan menambah daya tarik bagi investor. Selain kedua nama pendatang baru itu, Praska menilai saham PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) dan PT Jasa Marga Tbk (JSMR) juga memiliki potensi besar untuk masuk ke indeks LQ45. Kedua saham ini juga telah memenuhi kriteria sebagai penghuni LQ45.
Nafan Aji Gusta, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas juga sepakat kalau BREN dan AMMN menjadi saham yang punya peluang paling kuat untuk masuk ke indeks LQ45. Kendati begitu, valuasi kedua saham ini sudah relatif tinggi. "BEI punya fasilitas fast track untuk saham-saham yang baru IPO. Ini semestinya bisa menjadi peluang BREN dan AMMN masuk dalam rebalancing LQ45 Januari ini," katanya.Kendati belum lama listing di bursa, saham BREN memberikan bobot 42,2% terhadap kenaikan IHSG sejak bulan Januari 2023 hingga saat ini. Hal ini pula yang membuat performa saham LQ45 tertinggal jauh dari IHSG. Sepanjang tahun 2023, pergerakan IHSG turut terdorong oleh harga BREN yang terus menguat sejak IPO. Alhasil, di akhir 2023, IHSG ditutup naik 6,2%. Sedangkan laju LQ45 hanya tumbuh 3,6% sepanjang tahun lalu. "Kalau BREN jadi masuk LQ45, pergerakan LQ45 bakal sejalan dengan IHSG. Disamping bobot, faktor free float juga menjadi pertimbangan utama," ujar Praska. Investment Consultant Reliance Sekuritas Reza Priyambada menambahkan, selain AMMN, BREN atau pun ADMR, saham PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) dan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), juga berpotensi masuk gerbong LQ45. Soal ADMR, Bukan pertama kali anak usaha ADRO itu digadang sebagai calon penghuni baru LQ45. Pada rebalancing Agustus 2023 lalu, sejumlah analis juga memperkirakan ADMR masuk ke indeks ini. Tapi, likuiditas AMDR masih kalah dengan PT Gudang Garam Tbk (GGRM) dan PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) yang akhirnya jadi penghuni baru LQ45 periode itu. Sedangkan saham yang berpeluang tercoret dari daftar LQ45 adalah PT Surya Citra Media Tbk (SCMA). Pasalnya, rata-rata transaksi harian SCMA relatif kecil dibanding peers lain yang tergabung sebagai konstituen LQ45 dalam enam bulan terakhir. Harga saham ini juga masih dalam tren bearish jangka panjang, disertai kinerja fundamental yang melambat. Pengamat Pasar Modal & Founder WH Project William Hartanto menyarankan sell on strength saham BREN jika terjadi penguatan terbatas. Sementara untuk AMMN, William merekomendasikan beli dengan target harga di Rp 8.000 hingga Rp 8.350 dalam jangka pendek.
Regulasi Buyback Abai Transparansi
Kinerja Emiten Sejumlah Sektor Masih Rapuh
Riset terbaru menunjukkan kinerja keuangan sebagian
perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia semakin rapuh. Kondisi ekonomi
global hingga kelemahan kultural dan hukum jadi tantangan bagi pemulihan usaha
pascapandemi Covid-19. Perusahaan jasa konsultansi strategi global Alvarez
& Marsal (A&M) menyimpulkan hal itu dari riset terhadap 360 perusahaan
tercatat atau 44 % dari 813 emiten di BEI, yang memiliki pendapatan tahunan
lebih dari 50 juta USD di 11 sektor industri. Penelitian mengukur kinerja
keuangan antara tahun 2019 dan Juni 2023. Managing Director A&M Indonesia
Alessandro Gazzini, memaparkan, kendati ada 56 % perusahaan yang mampu
mempertahankan status dan prospek sehatnya, perusahaan lainnya belum pulih
seperti kondisi sebelum Covid-19.
”Kecepatan pemulihan kesehatan perusahaan relatif lambat,
berujung pada bertambahnya sub kelompok perusahaan zombi,” ujarnya dalam
presentasi riset berjudul ”Indonesia A&M Distress Alert” di Jakarta, Kamis (18/1). Perusahaan zombi yang dimaksud
dikategorikan dalam tiga kondisi, yakni berstatus distressed atau mengalami
kesulitan pada neraca keuangan dan efisiensi operasional perusahaan, memiliki
ketahanan neraca kurang, serta yang memiliki neraca dan laba-rugi kurang.
Jumlah perusahaan berkondisi distressed pada tahun pertama pandemi pada 2020 sebanyak
19,4 %, pada 2022, jadi 15,3 % dan pada 12 bulan terakhir hingga Juni 2023
sebanyak 14,2 %. Perusahaan dengan ketahanan neraca kurang signifikan terus
menurun jumlahnya, dari sebanyak 28,6 % pada 2019 menjadi 18,6 % pada periode
hingga Juni 2023. (Yoga)
Pilihan Editor
-
ANCAMAN KRISIS : RI Pacu Diversifikasi Pangan
10 Aug 2022 -
Peran Kematian Ferdy Sambo dalam Kematian Yosua
10 Aug 2022 -
The Fed Hantui Pasar Global
26 Jul 2022 -
Transaksi QRIS Hampir Menembus Rp 9 Triliun
28 Jul 2022









