Pasar Modal
( 326 )Saham Bata Belum Masuk Kualifikasi ”Delisting” Pasca penutupan Pabrik
Memburuknya kinerja keuangan yang membuat PT Sepatu Bata Tbk harus menghentikan operasi pabriknya menjadi sentiment negatif bagi saham perseroan. Namun, Bursa Efek Indonesia (BEI) belum melihat potensi pembatalan pencatatan atau delisting bagi emiten tersebut. Harga saham emiten dengan kode BATA pada Selasa (7/5) tercatat Rp 79 per lembar, merosot tajam hingga 15 % dari harga Rp 95 per lembar pada Jumat (3/5), bersamaan dengan hari pengumuman penghentian aktivitas pabrik mereka di Purwakarta, Jabar.
Saham Bata juga mendapat notasi khusus dengan kategori L, karena perusahaan belum menyampaikan laporan keuangan terbaru setelah laporan kinerja 2023. Pada laporan tahun lalu mereka membukukan kenaikan kerugian komprehensif setidaknya tiga tahun terakhir, dari Rp 51,04 miliar pada 2021 menjadi Rp 188,41 miliar pada 2023. Dari sisi pendapatan penjualan neto, pada 2023 perusahaan mencatat penurunan 5 % menjadi Rp 609,6 miliar dari Rp 643,45 miliar pada 2022. Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna menilai, dengan kondisi tersebut, Bata tidak berpotensi dicoret dari bursa.
Mengacu Peraturan Bursa Nomor I-N tentang Pembatalan Pencatatan (Delisting) dan Pencatatan Kembali (Relisting), saham suatu emiten bisa dikeluarkan karena adanya keputusan bursa, yang menyangkut tiga alasan, yakni perusahaan tercatat mengalami kondisi yang secara signifikan berpengaruh negatif terhadap kelangsungan usahanya, baik secara finansial maupun hukum, dan tidak menunjukkan indikasi pemulihan yang memadai. Kedua, perusahaan tercatat tidak memenuhi persyaratan pencatatan di bursa. Ketiga, saham telah mengalami suspensi efek, baik di pasar reguler maupun tunai dan/atau seluruh pasar paling kurang 24 bulan terakhir. (Yoga)
Arus Modal Keluar Tetap Perlu Diwaspadai
Investor telah menarik dana dari dalam negeri dalam jumlah banyak sebulan terakhir. Aksi itu perlu diwaspadai dengan menimbang melemahnya ekonomi dalam negeri dan tren suku bunga tinggi dalam waktu lama. Data Bloomberg per 24 April 2024 menunjukkan arus dana keluar atau capital outflow sepanjang bulan April mencapai Rp 32,4 triliun. Ini menggambarkan total dana yang keluar dari dalam negeri ke luar negeri, baik dari investasi langsung maupun secara tidak langsung. Nilai ini hampir dua kali lipat dibandingkan dengan arus kas keluar pada Maret 2024 sebesar Rp 18,6 triliun. BRI Danareksa Sekuritas, dalam laporan analisisnya pada Senin (29/4) memaparkan, arus keluar itu terjadi di pasar saham.
Sebulan terakhir, arus kas asing yang keluar tercatat mencapai Rp 16 triliun dengan arus kas asing sepanjang minggu keempat April sebesar Rp 4,8 triliun. ”Ini mengakibatkan penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 0,7 persen dalam sepekan sampai perdagangan akhir pekan lalu,” kata mereka. Seperti diketahui, IHSG pada pekan lalu sempat turun ke titik terendah dalam setahun terakhir hingga 7.036 pada penutupan perdagangan, Jumat (26/4), yang dipicu aksi penjualan saham oleh investor asing hingga Rp 2 triliun. Dari instrumen investasi pendapatan tetap, data Kemenkeu per 25 April 2024 mengungkapkan bahwa arus keluar investor asing pada obligasi pemerintah atau surat berharga negara (SBN) berjumlah Rp 16,8 triliun dalam sebulan terakhir.
Dirjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu Suminto, dalam konferensi pers APBN Kita edisi April, di Jakarta, Jumat (26/4) menjelaskan, arus kas keluar ini terjadi karena faktor global, antara lain geopolitik serta kebijakan bank sentral AS yang menahan suku bunga tinggi untuk waktu yang lebih lama. Penguatan dollar karena kondisi ekonomi dan proyeksi kebijakan suku bunga di AS membuat imbal hasil obligasi Treasury AS bertenor 10 tahun naik menjadi 4,67 % per 26 April dari sebelumnya di 4,62 %. Namun, arus kas masuk (inflow) mulai terlihat dalam pekan lalu, setelah BI menaikkan suku bunga menjadi 6,25 % dari 6 % pada pertengahan pecan lalu. Imbal hasil obligasi Pemerintah Indonesia tenor 10 tahun meningkat sebesar 15 bps menjadi 7,18 %. (Yoga)
SENTIMEN PASAR MODAL : MEMETIK CUAN KEPASTIAN POLITIK
Pengaruh sentimen politik terhadap pasar saham kian meredup setelah Mahkamah Konstitusi membacakan putusan sengketa Pilpres 2024. Momentum kepastian politik itu dapat dimanfaatkan investor untuk meracik ulang portofolio dengan membidik saham-saham yang terafiliasi atau berpotensi cuan dari arah kebijakan pemenang pemilu.
Community & Retail Equity Analyst Lead Indo Premier Sekuritas Angga Septianus mengatakan data survei menunjukkan investor domestik maupun asing memprediksi bahwa pasangan calon Prabowo-Gibran akan menang dalam pemilihan presiden (Pilpres) 2024. Prediksi sejak sebelum pesta politik itu masih sama hingga saat ini. Alhasil, keputusan MK yang menolak gugatan sengketa pemilu telah sesuai dengan ekspektasi pasar. Dengan begitu, dampaknya akan sangat minim terhadap emiten-emiten yang terafiliasi oleh paslon nomor urut 02 tersebut karena harganya sudah pricedin di pasar saham. Meski begitu, investor dinilai tetap dapat mencermati saham-saham terkait dengan penghiliran mineral logam yang menjadi salah satu kebijakan kunci Prabowo-Gibran. Beberapa saham di sektor tersebut a.l. MDKA, MBMA dan TINS.
Seirama, Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi berpendapat putusan MK memberikan sentimen pendorong terhadap emiten yang terafiliasi Prabowo-Gibran. Meski demikian, dampaknya diperkirakan hanya bersifat jangka pendek. “Ketidakpastian global di tengah tensi geopolitik yang masih tinggi dan suku bunga masih berada pada level tinggi masih akan menjadi penghambat laju pergerakan emiten, terlebih emiten terafiliasi yang masuk dalam kategori saham cyclical,” jelas Audi kepada Bisnis. Menurutnya, saham terafiliasi Prabowo-Gibran seperti ADRO dan ADMR milik taipan Garibaldi Thohir menarik untuk dicermati.
Di luar sentimen politik, Audi juga menekankan faktor ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang dinilai masih akan membuat ketidakpastian global meningkat. Akibatnya, investor akan cenderung mencari aset investasi yang berisiko rendah.
Di luar sentimen politik, Audi juga menekankan faktor ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang dinilai masih akan membuat ketidakpastian global meningkat. Akibatnya, investor akan cenderung mencari aset investasi yang berisiko rendah.
Yang perlu dicatat, lanjutnya, IHSG masih dibayangi fl uktuasi harga komoditas, seperti emas dan minyak mentah, yang tersulut oleh konflik Timur Tengah. Teguh menambahkan faktor nilai tukar rupiah melemah juga dapat menguntungkan bagi emiten-emiten tambang yang berbasis ekspor.
Sejalan dengan stabilitas politik dan transisi pemerintahan yang kondusif di dalam negeri, IHSG dinilai dapat menguat menuju level 7.300—7.400 pada akhir tahun ini. Analis Sinarmas Sekuritas Isfhan Helmy meyebut kinerja pasar saham masih memiliki peluang menguat sehingga momen saat ini bisa digunakan untuk mencari saham dengan kinerja fundamental kokoh pada harga diskon.
Dalam risetnya, analis Ciptadana Sekuritas Arief Budiman menyoroti dampak negatif pelemahan rupiah terhadap kinerja emiten. Sektor berbasis komodias diproyeksi meraih untung dari pendapatan ekspor, seperti PTBA, HRUM, ADMR, ADRO, ITMG, UNTR, INCO, dan MDKA.
Saham Emiten Emas Bersinar
Pasar Modal dan Kurs Rupiah Terjerembap
Meningkatnya ketegangan geopolitik antara Iran dan Israel
telah berdampak pada pasar keuangan dalam negeri. Pada perdagangan perdana
pascalibur Lebaran, Selasa (16/4) Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG terkoreksi
lebih dari 100 basis poin dan nilai tukar rupiah melanjutkan tren depresiasi. Tekanan
pelemahan di pasar keuangan ini diperkirakan masih akan terus berlanjut hingga
sepekan ke depan. Dari lantai bursa, IHSG pada perdagangan perdana pascalibur
Lebaran, Selasa, anjlok 1,68 %. Pada penutupan perdagangan, IHSG merosot
122,075 basis poin ke posisi 7.164,807 setelah pada pembukaan perdagangan
berada pada level 7.286. Mengutip kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate
(Jisdor), nilai tukar rupiah terhadap dollarAS pada perdagangan Selasa ditutup
pada level Rp 16.176. Rupiah melemah 303 basis poin atau 1,90 % dari perdagangan
terakhir sebelum libur Lebaran pada 5 April 2024 di level Rp 15.873. Selama 6
April-15 April tidak ada perdagangan Jisdor karena libur Lebaran.
Guru Besar Keuangan dan Pasar Modal UI Budi Frensidy menjelaskan,
terkoreksinya IHSG dipicu berbagai sentimen negative yang membuat arus modal
keluar dari lantai bursa. Ketegangan geopolitik antara Iran dan Israel menjadi
pemicu timbulnya berbagai kekhawatiran yang menciptakan sentiment negatif.
Dampaknya terhadap perekonomian Indonesia, menurut Budi, dipandang tidak
menguntungkan investor asing. Akhirnya, investor asing pun mencabut modalnya
dari lantai bursa untuk dialihkan ke aset yang punya risiko lebih kecil. Ia
memperkirakan, setidaknya sampai sepekan ke depan IHSG masih akan dalam zona
merah. IHSG diperkirakan bergerak di rentang 7.050-7.150 hingga sepekan ke
depan. Tekanan di lantai bursa, lanjut Budi, akan terus berlanjut selama belum
ada tanda-tanda meredanya konflik Iran dan Israel. (Yoga)
Jelang Libur Panjang Lebaran, IHSG Ditutup Menguat
IHSG ”Kebakaran” Jelang Libur Panjang Lebaran
Indeks Harga Saham Gabungan di awal April kembali melanjutkan
pelemahan sejak pekan lalu. Beragam sentimen dalam negeri, mulai dari sengketa
pemilu hingga aksi jual beli investor pasca pembagian dividen sejumlah saham
besar dan menjelang libur panjang Lebaran jadi katalisnya. Akhir perdagangan
bursa, Senin (1/4/2024), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami
kemerosotan 83,7 poin atau 1,15 % hingga 7.205 dibandingkan akhir perdagangan pekan
lalu, Kamis (28/3). Sepekan terakhir, IHSG tumbuh minus hingga 1,97 persen dari
sebelumnya yang bertahan di level 7.300. Pilarmas Investindo Sekuritas
menyampaikan, beberapa faktor internal membayangi pergerakan IHSG di awal April
ini.
Indeks IHSG, menurut mereka, tertekan perhatian pasar pada
sidang sengketa perselisihan hasil pemilihan umum (PHPU) Pilpres 2024 di MK. ”Saat
ini sudah pada agenda mendengarkan keterangan saksi dan ahli, di mana mencuat
beberapa nama menteri yang akan menjadi saksi,” kata mereka dalam laporan
analisis yang dipublikasikan kemarin. Pasar juga tengah mencermati laporan
ekonomi Indonesia, Maret 2024, yang rilis awal bulan ini. Seperti data Indeks Manajer
Pembelian atau Purchasing Managers' Index (PMI) yang dirilis S&P Global
yang naik menjadi 54,2 pada Maret 2024 dari 52,7 pada Februari. Berdasarkan
data BPS, secara tahunan, inflasi naik 3,05 % pada Maret. Analisis Phintraco Sekuritas
menilai, data ini melampaui ekspektasi pasar dari perkiraan sebesar 2,91 %.
Melencengnya perkiraan ini membuat IHSG terus “Kebakaran” atau melemah hingga sesi akhir perdagangan kemarin.
(Yoga)
IHSG Berpotensi Rebound Pekan Ini
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI)
berpotensi bergerak bervariatif dengan kecenderungan menguat (mixed to higher)
pada pekan terakhir perdagangan sebelum memasuki libur Lebaran 2024. Peluang
rebound IHSG cukup terbuka setelah melemah -0,83 % pada pekan lalu ke posisi
7.288.
“IHSG semestinya bisa mixed to higher dengan support
7.238-7.179 dan resistance 7.321-7.346,” kata Senior Investment
Information-Retail Business Mirae Asset Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta
Utama, Minggu (31/3). Nafan menyebut, banyak data ekonomi domestic dan global
yang rilis pekan ini, akan memengaruhi pergerakan IHSG, diantaranya PMI
Manufakturing, data inflasi dan lainnya. “Juga perkembangan sentimen terkait
dinamika the Fed ke depan dan kita juga menantikan US Nonfarm Payroll,” tutur dia.
(Yetede)
Sentimen The Fed dan BI Bayangi Pasar Modal
Head of Research Team PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia
Robertus Hardy menyampaikan, pekan ini investor masih akan menantikan keputusan
suku bunga oleh The Fed untuk merespons tren inflasi di AS. Keputusan itu akan
muncul dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang dijadwalkan
pada 19-20 Maret 2024. Hasil dari pertemuan itu juga akan menentukan arah kebijakan
BI dalam menetapkan suku bunga. BI juga akan mengadakan Rapat Dewan Gubernur
pada 19-20 Maret 2024.
”Meskipun (keputusan) kedua bank sentral diperkirakan tidak
berubah, investor perlu menyimak informasi yang tersirat pada pernyataan mengenai
arah kebijakan moneter ke depan,” kata Robertus dalam keterangannya pada Selasa
(19/3). Pesan senada disampaikan Community Lead Indo Premier Sekuritas (IPOT)
Angga Septianus. Hasil pertemuan bank sentral tersebut akan menentukan prospek
pasar ke depan kendati para ekonom memprediksi kebijakan suku bunga tidak akan
berubah dalam waktu dekat. (Yoga)
Saham Emiten Kakap Berjaya, IHSG Menguat
Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG sempat menembus rekor
tertinggi di posisi 7.435 pada Rabu (13/3). IHSG diprediksi masih dapat
mencetak rekor baru sepanjang Ramadhan karena faktor perekonomian eksternal
ataupun internal. IHSG naik 0,7 % pada waktu pembukaan perdagangan pukul 09.00
per Rabu dibanding posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya, Jumat (8/3). Hingga
penutupan perdagangan pada Rabu, IHSG tumbuh 0,53 % ke level 7.421. ”Hari ini
kenaikan memang didominasi saham-saham big cap (berkapitalisasi besar),” kata
Senior Economist Mirae Asset Sekuritas Rully Wisnubroto, saat dihubungi di
Jakarta, Rabu (13/3). Menghijaunya IHSG hari ini, menurut Rully, tidak spesifik
terjadi di sektor tertentu, tetapi ditopang saham-saham berkapitalisasi besar
tertentu. Mengutip platform RTI Business, kenaikan harga sampai penutupan bursa
hari ini dialami 208 emiten.
Adapun 334 emiten mengalami penurunan harga dan 233 emiten
lain stagnan harga sahamnya. Rully mencatat, beberapa saham berkapitalisasi
besar menunjang IHSG hari ini antara lain PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Telkom
Indonesia Persero Tbk (TLKM), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), dan PT Amman
Mineral Internasional Tbk (AMMN). Di luar ekspektasi, harga saham berkapitalisasi
besar, seperti PT GoTo Gojek Tokopedia (GO-TO) dan PT Bank Central Asia Tbk
(BBCA), justru turun. Penguatan saham-saham saat ini dipengaruhi sejumlah faktor.
Dari eksternal, ada pergerakan positif bursa saham global, Selasa (12/3). Ini
terutama terjadi pada pasar saham AS dengan S&P500 juga terus menunjukkan
tren positif. Ada pula faktor stabilnya nilai tukar rupiah terhadap USD yang
pada Rabu (13/4) cenderung menguat 0,4 % ke Rp 15.590. (Yoga)
Pilihan Editor
-
ANCAMAN KRISIS : RI Pacu Diversifikasi Pangan
10 Aug 2022









