Pasar Modal
( 326 )Enam Emiten BUMN Siap Rights Issue
Sebanyak enam emiten BUMN berencana melakukan aksi korporasi menerbitkan saham baru melalui skema hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau right issue pada semester kedua 2022. Keenam BUMN itu adalah PT Semen Indonesia Tbk (SMGR), PT Waskita Kerja Tbk (WSKT), PT Adhi Karya Tbk (ADHI), Pt Garuda Indonesia Tbk (GIA), PT Krakatau Steel Tbk (KRASI), dan PT Tabungan Negara Tbk (BBTN). Selain rencana Right Issue tersebut, Kementerian BUMN Mengusulkan penyertaan modal negara (PMN) kepada 10 BUMN sebesar Rp73,26 triliun untuk RAPBN Tahun Anggaran 2023. PMN tersebut terdiri atas PMN tunai sebesar Rp 69,82 triliun dan PMN non tunai Rp3,44 triliun. PT Hutama Karya (Perser) akan menerima PMN palang besar, yakni Rp30,56 triliun. "Jadi PT Semen Baruraja Tbk memang suatu perusahaan masih di luar Holdings. Semen Indonesia, dan kami sepakat untuk di-inject ke Semen Indonesia dan sedang berjalan proses, Proses melalui proses Right Issue seperti kita menyuntikkan PMN dan penggadaian ke BBRI," kata Kartika dalam rapat kerja dengan Komisi IV DPR RI, Selasa (7/6). (Yetede)
Lulusan SMA Dominasi Investor Ritel Pasar Modal
Jumlah investor ritel di pasar modal terus bertambah. Hingga akhir April 2022, jumlah investor ritel mencapai 8,6 juta, naik 15,11 % dibandingkan akhir 2021. Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menunjukkan, kelompok terbesar investor ritel adalah lulusan setingkat SMA. Jika dilihat dari latar belakang pendidikan, investor dari kelompok ini, yakni lulusan SMA, mencapai 60,57 % total investor. Aset kelompok investor ini mencapai Rp 160,69 triliun berupa saham dan Rp 38,08 triliun berupa reksa dana.
Sementara investor yang merupakan lulusan strata 1 (S-1) mencapai 29,42 %. Walaupun dari segi jumlah kelompok investor berlatar belakang S-1 lebih sedikit dibandingkan investor yang lulusan SMA, aset kelompok ini merupakan yang terbesar, yakni mencapai Rp 427,5 triliun dalam bentuk saham dan Rp 106,4 triliun berupa reksa dana. ”Sinyal ini menunjukkan pasar modal bukan lagi menjadi pilihan investasi bagi kalangan tertentu, tetapi merupakan pilihan masyarakat Indonesia,” kata Dirut KSEI Uriep Budhi Prasetyo, Jumat (3/6). Para investor tersebut berinvestasi pada sektor finansial dan infrastruktur. (Yoga)
PKPU Anak Usaha Kelar, WSKT Siap Gelar Rights Issue
PT Waskita Karya Tbk (WSKT) akan melakukan penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue pada semester II-2022. Manajemen WSKT menargetkan aksi korporasi ini dapat terlaksana Juli 2022. SVP Corporate Secretary WKST Novianto Ari Nugroho menyampaikan, rights issue akan dieksekusi setelah emiten ini menuntaskan proses penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) anak usahanya, PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP). "PKPU ini menjadi semacam salah satu syarat untuk bisa melaksanakan rights issue," ucap Novianto, Rabu (25/5). Rights issue ini memberi tambahan dana segar bagi WSKT. Pemerintah juga telah menyetujui rencana penyertaan modal negara (PMN) sebesar Rp 3 triliun.
Pasar Lesu, Bankir Siapkan Right Issue
Pasar modal semakin semarak dengan aksi Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) alias rights issue di sektor perbankan. Aksi korporasi tersebut untuk memenuhi ketentuan modal inti minimal perbankan sebesar Rp 3 triliun pada akhir tahun ini. Beberapa bank yang akan menggelar rights issue tahun ini seperti Bank Aladin, Bank Bisnis, Bank Neo Commerce dan Bank Ina. Namun, Senior Investment Analyst Infovesta Utama, Edbert Suryajaya menilai, prospek rights issue tersebut harus memperhatikan sentimen pasar yang berkembang.
Oleh karena itu, kesuksesan rights issue bergantung pada pemilihan waktu yang tepat. Namun aksi korporasi ini diperkirakan tidak akan semeriah tahun-tahun sebelumnya, terutama dari bank digital.
Namun tidak menutup kemungkinan euforia akan kembali jika bank bisa mencari momentum tepat. Ke depan, saham-saham bank yang memiliki fundamental solid dan laba stabil bisa tetap mempertahankan minat investor. Dengan demikian saham- saham tersebut lebih dilirik investor. Apalagi, bagi perbankan yang valuasinya juga masih murah. Sementara emiten-emiten yang dari kondisi belum oke, meski prospek tumbuh akan lebih tertinggal. Terlebih, kenaikan suku bunga akan mempersulit akses terhadap modal baru. Sebab perusahaan yang sudah profit masih bisa mengandalkan pendanaan internal.
Siapkan Rp500 Miliar, Matahari Department Store Lanjutkan Buyback
PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) berencana melanjutkan program pembelian kembali (buyback) saham perseroan melalui program Pembelian Kembali Saham II Tahun 2022. "Pembelian Kembali Saham II 2022 akan dilaksanakan terhitung pada tanggal 3 Juni 2022. Jumlah biaya yang akan dikeluarkan untuk pelaksanaan Pembelian Kembali Saham 2022 adalah maksimal Rp 500 miliar, termasuk biaya perantara pedagang efek dan biaya lainnya sehubungan dengan Pembelian Kembali Saham II 2022," kata Sekretaris Perusahaan LPPF Miranti Hadisusilo dalam keterbukaan informasi BEI dikutip Selasa (10/5/2022). Lebih lanjut perseroan akan membatasi harga maksimal Pembelian Saham I 2022 sebesar Rp7.950 per saham. Pembelian Kembali Saham II 2022 akan dilakukan melalui bursa atau di luar bursa dengan memperhatikan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. (Yetede)
Magnet Kuat IPO Pasar Modal
Tensi geopolitik yang membayangi aksi korporasi global ternyata tak mengendurkan niat sejumlah perusahaan di Tanah Air untuk go public. Sejumlah kalangan menilai pasar modal Indonesia memang masih punya magnet kuat untuk menarik korporasi lantaran kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG) yang kian ciamik. Demikian pula dengan pertumbuhan signifikan jumlah investor di pasar modal Indonesia yang turut menjadi daya tarik. Menurut Bursa Efek Indonesia (BEI), sejauh ini terdapat 35 perusahaan yang berencana menggelar penawaran perdana saham alias initial public offering (IPO). Berdasarkan skala aset, dari jumlah tersebut, sebanyak enam perusahaan tercatat memiliki aset di bawah Rp50 Miliar. Sebanyak 13 perusahaan lainnya beraset antara Rp50 miliar-Rp250 miliar, kemudian 16 perusahaan lagi memiliki aset di atas Rp250 miliar.
Jika terealisasi, aksi korporasi itu akan melanjutkan tren positif di BEI di mana sejak awal tahun sampai 20 April 2022, sudah ada 17 emiten go public. Salah satunya adalah PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) yang mencatatkan sahamnya di BEI pada 11 April lalu dan meraup dana tak kurang dari Rp13,7 triliun. Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia, I Gede Nyoman Yetna mengatakan pasar modal masih mampu menarik perusahaan yang ingin go public lantaran kinerja saham yang baik. IHSG terus menunjukkan pertumbuhan, bahkan hingga 20 April 2022 telah menyentuh angka 7.227,36. “Indikator lainnya yang mendukung adalah tren investor di pasar modal Indonesia yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir,” ujarnya, Kamis (21/4).
Generasi Z di Pasar Modal
Data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia dan BEI mencatat, hingga akhir triwulan I-2022 jumlah investor pasar modal 8,3 juta orang, naik 12,13 % dari 7,29 juta orang akhir Desember 2021. Selama Desember 2020-Desember 2021, jumlah investor melonjak 91,34 % dari 3,81 juta orang menjadi 7,29 juta orang. Investor pemula dari generasi milenial / Y (lahir 1981-1995) dan Z (lahir 1996-2012) mendominasi, menyumbang 80 % total populasi di pasar modal. Ini bukan hanya tren Indonesia dengan struktur demografi mudanya, melainkan juga tren global. Kehadiran Gen Y dan Z menjadi kekuatan yang terus bertumbuh, mendorong bursa ke new frontiers. Studi di sejumlah negara menunjukkan separuh Gen Y dan Z menginvestasikan uang dengan motivasi utama mandiri secara finansial. Bursa saham menjadi salah satu pilihan.
Karakteristik Gen Y dan Z, menurut Jean Case, CEO For What It’s Worth, adalah mereka memiliki kekuatan ekonomi lebih besar, menghasilkan lebih banyak, menabung lebih banyak, berinvestasi lebih awal dan pada tingkat yang lebih tinggi daripada generasi sebelumnya. Di Indonesia, lonjakan jumlah investor diikuti kinerja bursa yang impresif, tecermin dari IHSG dan kapitalisasi pasar. Sepanjang 2021, nilai perdagangan, frekuensi transaksi, dan volume transaksi naik 45,7 %, 91,3 %, dan 81 %. Selain meningkatnya kesadaran berinvestasi dan kekuatan modal Gen Y dan Z; situasi pandemi, rendahnya suku bunga (yang membuat menaruh uang di bank tak lagi menarik), munculnya platform pialang online, dan perdagangan tanpa komisi membuat investasi di bursa lebih mudah diakses dari sebelumnya, juga ikut memicu lonjakan investor. (Yoga)
Generasi Z Dominasi Investor Pasar Modal
Hingga akhir triwulan I-2022, PT Kustodian Sentral Efek Indonesia atau KSEI mencatat jumlah investor pasar modal mencapai 8,3 juta investor, naik 12,13 % dari akhir Desember 2021. Jika dilihat dari sebaran usia, investor pemula yang berasal dari generasi Z, yakni generasi yang lahir tahun 1996 hingga 2012, merupakan populasi terbesar di pasar modal dengan porsi 80 %. Kedatangan anak-anak muda ini membuat perusahaan sekuritas berlomba memberikan berbagai kemudahan kepada investor.
Penyederhanaan pembukaan rekening dinilai turut berdampak pada penambahan tersebut. ”Hingga saat ini ada 34 perusahaan efek yang dapat melakukan pembukaan rekening secara online,” kata Dirut KSEI Uriep Budhi Prasetyo, Kamis (14/4). Dengan pembukaan rekening sekuritas daring, para investor hanya perlu mengisi formulir serta mengunggah salinan KTP dan NPWP. Kerja sama dengan instansi kependudukan dan catatan sipil membuat verifikasi data KTP dapat dilakukan dengan cepat. Proses ini jauh lebih cepat dibandingkan dengan cara konvensional. Data KSEI menunjukkan, para investor muda itu berminat pada sektor perbankan, barang konsumer, dan industri dasar. (Yoga)
Pasar Modal, GoTo Menargetkan Raup Rp 15,2 Triliun dari IPO
Perusahaan teknologi digital PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GoTo) menargetkan menghimpun pendanaan Rp 15,2 triliun melalui penawaran umum saham perdana (IPO) di BEI. Seluruh dana hasil penawaran, setelah dikurangi biaya emisi, akan digunakan GoTo untuk modal kerja perusahaan dan anak perusahaan. Mengutip Prospektus IPO GoTo, dana dari hasil IPO akan digunakan untuk sejumlah pengembangan yang tidak terbatas pada akuisisi pelanggan, meliputi penjualan dan pemasaran, inovasi produk/teknologi baru, dan operasional.
Pencatatan saham perdana akan dilakukan di BEI, 4 April 2022. GoTo mematok harga saham perdana sebesar Rp 316-Rp 346 per lembar saham. GoTo menunjuk PT Indo Premier Sekuritas, PT Mandiri Sekuritas, dan PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk sebagai penjamin pelaksana emisi efek. Untuk keperluan IPO ini, GoTo menggunakan laporan keuangan per akhir September 2021. Kerugian bersih GoTo Rp 11,58 triliun, naik dari periode sama 2020 sebesar Rp 10,43 triliun. Total asetnya Rp 158,17 triliun. Rugi per saham GoTo Rp 197, menurut laporan keuangan 2021 hingga September, lebih baik ketimbang periode sama tahun sebelumnya yang membukukan kerugian Rp 365 per saham. Walau masih merugi, CEO GoTo Andre Sulistyo (15/3), optimistis dapat meningkatkan nilai transaksi bruto. Pendapatan GoTo per September 2021 sebesar Rp 3,4 triliun, naik dari Rp 2,34 triliun per September 2020. (Yoga)
Gairah Investor Muda
Investor berusia muda mendominasi dengan porsi 60,2 % investor di pasar modal 2021 dengan 7,5 juta identitas (single investor identification/SID). Dominasi investor muda ini mulai terjadi sejak 2020, dengan jumlah 54,93 % total investor pasar modal. Kehadiran investor muda mendongkrak pertumbuhan jumlah investor pasar modal yang naik 93 % pada 2021. Meroketnya jumlah investor muda dipicu oleh perkembangan teknologi dan digitalisasi. Hal ini mendorong hadirnya berbagai inovasi keuangan yang mempermudah investor untuk mengakses layanan jasa keuangan. Dengan bermodalkan ponsel pintar, anak muda sudah bisa langsung terjun menjadi investor melalui berbagai aplikasi inovasi keuangan digital.
Pandemi Covid-19 membuat orang lebih banyak di rumah, dan digitalisasi makin terakselarasi sehingga kaum muda yang notabene telah terpapar digital sejak kecil (digital natives) makin leluasa memanfaatkan layanan keuangan digital termasuk layanan pasar modal. Faktor lainnya adalah meningkatnya tabungan kelas menengah atas selama pandemi, karena pengeluaran leisure, seperti wisata dan kongkow menurun drastis selama pandemi. Anak muda keluarga golongan menengah atas akhirnya memanfaatkan likuiditas untuk berinvestasi. Anak muda yang kerjanya mapan menggunakan tabungan sendiri untuk berinvestasi di pasar modal. Anak muda yang belum memiliki penghasilan sendiri atau masih bersekolah biasanya akan meminta uang kepada orangtuanya. Karena digunakan untuk berinvestasi, faktanya banyak orangtua yang mendukung tanpa berpikir panjang soal risikonya. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Instruksi Pusat Untuk Rencana Penambangan
21 Feb 2022 -
Separuh Investor Tak Wajib Bayar Bea Meterai
22 Feb 2022 -
Menakar Prospek Usaha Sang Sultan Andara
22 Feb 2022









