Pasar Modal
( 326 )Ada 34 Emiten Bersiap Right Issue
Rencana emiten untuk menggalang dana di pasar modal masih semarak. Bursa Efek Indonesia (BEI) mengatakan, per 21 Februari 2022, terdapat 34 perusahaan yang berencana menambah modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue. Dana yang terkumpul diperkirakan mencapai Rp 12,94 triliun.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna merinci, terdapat perusahaan badan usaha milik negara (BUMN) yang merencanakan untuk melakukan aksi korporasi ini. Sementara itu, sampai dengan tanggal 21 Februari 2022, sudah ada empat perusahaan tercatat yang telah menggelar rights issue dengan total dana yang berhasil dihimpun Rp 7,81 triliun.
Pasar Modal, Emiten Properti Yakin Kinerja Membaik
Perpanjangan program pemerintah untuk memangkas PPN hingga Juni 2022 memberikan keuntungan bagi pengembang perumahan. Sementara itu, kemungkinan BI menaikkan suku bunga acuan belum akan cepat memicu kenaikan bunga kredit. Pengembang kawasan Kota Delta Mas, PT Puradelta Lestari Tbk, mencatatkan pra-penjualan Rp 1,76 triliun pada 2021 atau 88 % target pra-penjualan Rp 2 triliun. Permintaan lahan industri masih tinggi, hususnya permintaan dari sektor data center, kata Direktur dan Sekretaris Perusahaan Puradelta Tondy Suwanto kepada BEI, Jumat (4/2). Tondy optimistis beberapa transaksi jual beli lahan industri yang tertunda pada 2021 akan diselesaikan pada 2022.
Pengembang lain, PT Agung Podomoro Tbk, mencatatkan pra-penjualan Rp 2,7 triliun pada 2021, lebih tinggi dari target tahun lalu Rp 2 triliun. Sekretaris Perusahaan Agung Podomoro Justini Omas berkata, ”Kami bersyukur, di tengah berbagai tantangan ekonomi 2021, kepercayaan konsumen terhadap produk properti APLN (Podomoro) meningkat. Kami berhasil mengoptimalkan dan memanfaatkan insentif pajak pemerintah tahun 2021 agar penjualan terus meningkat”. CEO PT Lippo Karawaci Tbk John Riady juga menyatakan, ada beberapa faktor yang menopang kinerja sektor properti. Pemulihan ekonomi nasional yang sudah terasa sejak akhir tahun lalu akan mendukung kinerja sektor properti. Kenaikan harga komoditas, seperti kelapa sawit dan batubara, akan memacu sektor lain. (Yoga)
Tantangan Pasar Modal 2022
Ada beberapa tantangan pasar modal pada 2022. Pertama, biasanya perusahaan lebih suka mengajukan kredit ke bank daripada di pasar modal, namun, kini pasar modal menjadi opsi yang menarik dalam penggalangan dana. Jumlah dana sebagai hasil penerbitan saham melonjak 862,30 % dari Rp 26,34 triliun per Desember 2020 menjadi Rp 253,47 triliun per November 2021, yang menjadi tantangan penting industri pasar modal melanjutkan kinerja unggulnya. Kedua, saham yang menjadi penopang utama kinerja pasar modal di 2021 adalah saham bank digital dan sektor teknologi, yang menunjukkan, bank tidak hanya dituntut mampu melakukan adaptasi, tetapi juga inovasi dan transformasi digital untuk menjalankan fungsi intermediasi keuangan. Ketiga, menurut data BEI, jumlah investor melejit 87,66 % dari 3,81 juta Desember 2020 menjadi 7,15 juta November 2021, 80 % dari generasi Y atau milenial (lahir 1981-1995) dan generasi Z (1996-2010). Mereka investor ritel (individu), bukan korporasi. Keempat, pada dasarnya investor ritel belum menguasai seluk-beluk saham dan hanya ikut-ikutan dalam bermain saham sehingga bisa jadi akan jadi pecundang. Mereka perlu memahami analisis fundamental sebelum investasi saham.
Kelima, pasar modal harus terus melakukan sosialisasi dan edukasi terutama ke generasi Y dan Z. Literasi investasi juga penting untuk menepis laju investasi bodong alias abal-abal, baik melalui koperasi, MLM, aset kripto, maupun pegawai bank yang mengaku sebagai pejabat bank. Keenam, sebagian besar bank digital di Indonesia butuh tambahan modal menjadi minimal Rp 3 triliun pada akhir 2022 guna memenuhi aturan OJK No 12/POJK.03/2020. Ketujuh, langkah untuk menambah modal inti itu akan mendorong laju konsolidasi perbankan melalui merger dan akuisisi. Investor asing memiliki kesempatan menguasai mayoritas saham bank papan bawah. Kedelapan, OJK menegaskan, bank digital dan bukan bank digital tak ada bedanya, kecuali pada model bisnis. Artinya, bank digital juga harus mengucurkan kredit lebih deras. Kesembilan, lahirnya dua indeks berbasis lingkungan, sosial, dan tata kelola, yakni Indeks ESG Sector Leaders IDX Kehati dan Indeks ESG Quality 45, simbol prospek saham hijau di pasar modal 2022. Kesepuluh, selain melakukan sosialisasi dan edukasi, OJK juga wajib mengantisipasi berbagai risiko kejahatan. (Yoga)
Waskita Beton Gagal Bayar Bunga Obligasi
PT Pemeringkat Efek Indonesia menurunkan peringkat obligasi yang diterbitkan PT Waskita Beton Precast Tbk (WBP) dari ”idBBB” menjadi ”idD” atau gagal bayar, seiring putusan pengadilan 25 Januari 2022 yang menetapkan WBP dalam status penundaan kewajiban pembayaran utang sampai 11 Maret 2022. Terkait itu, Bursa Efek Indonesia menghentikan perdagangan efek WBP di seluruh pasar pada Senin (31/1/2022). (Yoga)
Pasar Modal Dorong Pemulihan Ekonomi
Kinerja Pasar Modal Indonesia selama 2021 stabil dan membaik, tercermin dari stabilitas pasar, aktivitas perdagangan, jumlah penghimpunan dana, dan jumlah investor ritel yang mencapai rekor tertinggi. Penutupan perdagangan BEI dilakukan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto (30/12) mengatakan, ”Pendalaman pasar terjadi dengan peningkatan jumlah investor baru terutama investor ritel di pasar modal serta penambahan jumlah perusahaan yang melakukan IPO”,.Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan, selama dua tahun, pasar modal Indonesia menorehkan berbagai pencapaian yang menjadi bekal pendorong pemulihan ekonomi. (Yoga)
Pasar Modal Global Menuju Normal, Indonesia Berpotensi Akseleratif
Pada 2022 pasar modal Indonesia berpotensi alami fase akseleratif, tapi merebaknya galur Omicron turut menentukan arah angin. Diperkirakan pertumbuhan ekonomi global 2022 bergerak ke arah normal, yang lebih rendah dari 2021, tapi lebih tinggi dari rerata jangka panjangnya, kata Katarina Setiawan, Chief Economist and Investment Strategist Manulife Investment Management. Indonesia berpotensi alami akselerasi pertumbuhan ekonomi menuju fase ekspansi pada 2022. Momentum pembukaan kembali ekonomi meningkat ketika pandemi gelombang 3 mereda dan cakupan vaksinasi mencapai 70 % populasi pada triwulan pertama 2022. Indonesia unggul demografi warga usia muda, yang menguntungkan juga percepat aktivitas ekonomi normal, terutama bila mitigasi pandemi berjalan efektif melalui vaksinasi secara masif dan merata. Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Emma A Fauni mengatakan, tahun 2021 menjadi tahun yang menggembirakan bagi pasar penawaran saham perdana (IPO). Di saat jumlah perusahaan yang menawarkan saham perdana tumbuh moderat, dari 51 jadi 53 perusahaan secara tahunan, pendapatan dari IPO mencapai Rp 60,5 triliun, merupakan total dana IPO tahunan terbesar selama 10 tahun terakhir, sejalan aktivitas IPO global yang meningkat 60 % dari volume dan pendapatan. (Yoga)
Jumlah Investor Pasar Modal Melesat Berkat Inovasi Teknologi
Semakin banyak orang Indonesia yang melek investasi. Jumlah investor pasar modal meningkat 89,58% menjadi 7,3 juta single investor dentification (SID) sepanjang tahun ini sampai dengan 17 Desember 2021. Jumlah tersebut merupakan SID gabungan yang terdiri dari investor saham, surat utang, reksadana, surat berharga negara (SBN) dan jenis efek lain yang tercatat di KSEI. Jika dirinci, jumlah investor yang memiliki aset saham meningkat 101,19% menjadi 3,41 juta. Sedang jumlah investor yang memiliki reksadana melesat 111,29% jadi 6,71 juta. Investor yang memiliki aset SBN naik 31,96% jadi 607.000. Direktur Utama KSEI Uriep Budhi Prasetyo mengatakan, yang menarik, dari total 7,3 juta investor, sebesar 99,5% merupakan investor ritel. "Investor ritel ini banyak didominasi oleh dua generasi, yakni generasi milennial dan generasi Z," kata Uriep di Jakarta Selatan, Kamis (23/12).
Selama Pandemi, Investor Milenial di Pasar Modal Meroket 73%
Investor pasar modal dari kalangan generasi milenial tercatat mengalami pertumbuhan. Salah satunya di Mandiri Sekuritas yang mencatat pertumbuhan nasabah ritel 73%. Direktur Mandiri Sekuritas Theodora VN Manik mengungkapkan pertumbuhan nasabah ritel ini karena perkembangan digital yang sangat masif. Karena pandemi Covid-19 yang mengubah gaya hidup masyarakat menjadi lebih digital. Pertumbuhan nasabah 73% yoy, dan pertumbuhan dari investor milenial dan gen z 91%, Transaksi online naik 235%, transaksi harian 220%.
Kenaikan nasabah ritel ini karena likuiditas yang terbilang besar di market, Apalagi suku bunga deposito juga terus menurun sehingga para investor membutuhkan hasil investasi yang baik. Makanya dana mengalir ke pasar saham dan obligasi.
Pada Semester I 2021 pendapatan usaha Mandiri Sekuritas mencapai Rp 465 miliar naik 61% dibandingkan periode yang sama tahun 2020. Laba bersih per 30 Juni 2021 tercatat Rp 94 miliar meningkat signifikan 201% dibandingkan periode 2020.
Secara total imbal hasil, Investasi di pasar obligasi pada Kuartal II 2021 sebesar +3,4%, menghapus imbal hasil negatif di Kuartal I 2021 yang tercatat 2,4%, sehingga secara year-to-date pasar obligasi mencatatkan +1%, yang berarti melanjutkan tren kinerja yang baik.
Marak Transaksi Mencurigakan, Pasar Modal Di Pusaran Korupsi
Bisnis - Terkuaknya tiga kasus korupsi yang menyeret nama puluhan perusahaan sekuritas maupun manajer investasi memperkuat dugaan masih maraknya transaksi mencurigakan di lingkungan pasar modal. Sejak lama, transaksi gelap di sektor finansial, terutama perbankan dan pasar modal, memang sudah menjadi sorotan. Tingkat kerawanan ini bahkan naik berkali-kali lipat pada masa pandemi Covid-19.
Pertumbuhan transaksi gelap itu merupakan yang tertinggi dari semua jenis kejahatan yang diindentifikasi oleh lembaga intelijen keuangan PPATK. Adapun, ketiga skandal korupsi yang membuat pasar modal kembali disorot adalah terkait dengan kasus korupsi Asuransi Jiwasraya, kasus dugaan korupsi dana investasi PT Asabri, hingga yang terakhir adalah kasus dugaan korupsi pengelolaan keuangan dan dana investasi BPJS Ketenagakerjaan (TK). Terungkapnya perkara korupsi tersebut sejalan dengan tren melonjaknya laporan transaksi keuangan mencurigakan (LTKM) di pasar modal.
Tak tinggal diam, PPATK ikut melacak harta milik tersangka kasus korupsi dana investasi Asabri. Lembaga intelijen keuangan juga membenarkan bahwa nilai harta atau aset yang telah disita oleh penyidik Kejagung sebesar Rp 18 triliun. PPATK pada keseluruhan proses penanganan setiap kejahatan ekonomi, diminta maupun tidak, tetap melakukan analisis dan pemeriksaan terhadap individu ataupun perusahan-perusahaan yang dianggap bermasalah, termasuk Asabri ini.
Sementara itu, terkait dengan kasus dugaan tindak pidana korupsi BPJS TK menemukan dugaan kerugian negara mencapai Rp 20 triliun. Tim penyidik Kejagung telah meminta Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menghitung kerugian negara yang timbul akibat dugaan tindak pidana korupsi BPJS TK itu. Kerugian negara dalam kasus BPJS TK bukanlah risiko bisnis. Kejaksaan Agung diminta mengusut tuntas kasus dugaan korupsi di BPJS Ketenagakerjaan tanpa tekanan apapun. Konfederasi serikat pekerja akan mengedepankan azas praduga tak bersalah terkait penyidikan kasus tersebut.
(Oleh - IDS)
Dividen Interim Segera Mengucur, Kekuatan Emiten Besar Terjaga
Musim pembagian dividen interim kuartal IV/2020 memang telah tiba. PT Astra International Tbk. ( ASII ), PT United Tractors Tbk. ( UNTR ), dan PT Astra Agro Lestari Tbk. ( AALI ) segera membayar dividen interim pada Oktober 2020. ASII memutuskan pembagian dividen interim total senilai Rp. 1,09 triliun atau Rp. 27 per lembar untuk kinerja tahun buku 2020. Adapun, perseroan membagi dividen interim dalam 5 tahun terakhir dengan nilai Rp. 57 per lembar pada 2019, Rp. 60 per lembar pada tahun 2018, Rp. 55 per lembar pada tahun 2017, Rp. 55 per lembar pada 2016, dan Rp. 64 per lembar pada 2015. Head of Investor Relations Astra International Tira Ardianti mengatakan posisi kas perseroan masih solid. Selain itu, neraca keuangan produsen otomotif itu juga kuat, sehingga dapat memberikan dividen interim tahun buku 2020 untuk pemegang saham. UNTR itu, akan membagikan dividen interim total senilai Rp. 637,85 miliar atau Rp. 171 per lembar. Sebanyak Rp. 379,50 miliar akan di setorkan kepada ASII selaku pemegang 59,50% saham perseroan dan sisanya diterima oleh masyarakat.
Selain Grup Astra, beberapa emiten juga konsisten membagikan dividen setiap tahunnya. Salah satunya PT Bank Central Asia Tbk. Emiten berkode saham BBCA itu konsisten membagi dividen interim pada 2015 – 2019 dengan nilai per lembar saham yakni Rp. 55 pada 2015, Rp. 70 pada 2016, Rp. 80 pada 2017, Rp. 85 pada 2018, dan Rp. 100 pada 2019. Menanggapi hal itu, Executive Vice President Secretariat & Corporate Communication BCA Hera F. Haryn mengatakan pada prinsipnya perseroan tetap berkomitmen memberikan nilai tambah kepada semua stakeholder. Pembagian dividen tetap masuk dalam rencana tahunan, namun sangat bergantung pada kondisi perseroan di masa pandemi Covid-19,”ujarnya kepada Bisnis, akhir pekan lalu.
Sementara itu, Direktur Keuangan dan SDM PT Jasa Armada Indonesia Tbk. Rizki Pribadi Hasan mengatakan kinerja perseroan masih berjalan baik dengan pendapatan yang meningkat seperti tecermin dari kinerja keuangan semester 1/2020. Menyoal pembagian dividen interim, emiten berkode saham IPCM itu menjaga kepentingan seluruh pemangku kepentingan, termasuk pemegang saham. Perseroan terus memantau perkembangan situasi serta melakukan penyesuaian yang diperlukan untuk menjaga kinerja secara umum.
Pilihan Editor
-
BI Masih Kaji Penerbitan Uang Digital
21 Feb 2022 -
Membabat Para Penentang
19 Feb 2022 -
Euforia Bank Digital Mendongkrak Kekayaan Taipan
21 Feb 2022









