Tantangan Pasar Modal 2022
Ada beberapa tantangan pasar modal pada 2022. Pertama, biasanya perusahaan lebih suka mengajukan kredit ke bank daripada di pasar modal, namun, kini pasar modal menjadi opsi yang menarik dalam penggalangan dana. Jumlah dana sebagai hasil penerbitan saham melonjak 862,30 % dari Rp 26,34 triliun per Desember 2020 menjadi Rp 253,47 triliun per November 2021, yang menjadi tantangan penting industri pasar modal melanjutkan kinerja unggulnya. Kedua, saham yang menjadi penopang utama kinerja pasar modal di 2021 adalah saham bank digital dan sektor teknologi, yang menunjukkan, bank tidak hanya dituntut mampu melakukan adaptasi, tetapi juga inovasi dan transformasi digital untuk menjalankan fungsi intermediasi keuangan. Ketiga, menurut data BEI, jumlah investor melejit 87,66 % dari 3,81 juta Desember 2020 menjadi 7,15 juta November 2021, 80 % dari generasi Y atau milenial (lahir 1981-1995) dan generasi Z (1996-2010). Mereka investor ritel (individu), bukan korporasi. Keempat, pada dasarnya investor ritel belum menguasai seluk-beluk saham dan hanya ikut-ikutan dalam bermain saham sehingga bisa jadi akan jadi pecundang. Mereka perlu memahami analisis fundamental sebelum investasi saham.
Kelima, pasar modal harus terus melakukan sosialisasi dan edukasi terutama ke generasi Y dan Z. Literasi investasi juga penting untuk menepis laju investasi bodong alias abal-abal, baik melalui koperasi, MLM, aset kripto, maupun pegawai bank yang mengaku sebagai pejabat bank. Keenam, sebagian besar bank digital di Indonesia butuh tambahan modal menjadi minimal Rp 3 triliun pada akhir 2022 guna memenuhi aturan OJK No 12/POJK.03/2020. Ketujuh, langkah untuk menambah modal inti itu akan mendorong laju konsolidasi perbankan melalui merger dan akuisisi. Investor asing memiliki kesempatan menguasai mayoritas saham bank papan bawah. Kedelapan, OJK menegaskan, bank digital dan bukan bank digital tak ada bedanya, kecuali pada model bisnis. Artinya, bank digital juga harus mengucurkan kredit lebih deras. Kesembilan, lahirnya dua indeks berbasis lingkungan, sosial, dan tata kelola, yakni Indeks ESG Sector Leaders IDX Kehati dan Indeks ESG Quality 45, simbol prospek saham hijau di pasar modal 2022. Kesepuluh, selain melakukan sosialisasi dan edukasi, OJK juga wajib mengantisipasi berbagai risiko kejahatan. (Yoga)
Tags :
#Pasar ModalPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023