;

Terganjal Perlambatan Ekonomi

Terganjal Perlambatan Ekonomi

Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia diperkirakan masih sulit naik di tengah tekanan perekonomian global. Ekonom PT Bank Permata Tbk, Josua Pardede, mengatakan, pergerakan indeks sudah lesu sejak akhir 2022 lalu. “Meskipun sempat menguat, hanya tipis,” ujarnya kepada Tempo, kemarin. IHSG pernah mencapai level 7.071,44 pada 31 Maret 2022 atau akhir kuartal pertama tahun lalu, kemudian bergerak fluktuatif dan terhenti di level 7.000 di ujung kuartal III 2022. Sejak itu, IHSG tak banyak bergerak dari kisaran 6.800. Menurut Josua, pelemahan beberapa sektor penunjang kinerja indeks menjadi pemicu tren mendatar tersebut. Saham sektor pertambangan, dia mencontohkan, sedang melemah seiring dengan normalisasi harga komoditas.

Harga batu bara merosot dari US$ 400 per ton pada akhir 2022 menjadi US$ 209 per ton saat ini. Angka permintaannya pun tak setinggi tahun lalu. "Harga mulai normal karena ekspektasi pertambangan terhadap perlambatan ekonomi," kata Josua. Direktur Investa Saham Mandiri, Hans Kwee, menyebutkan, saham sektor perbankan yang termasuk andalan IHSG turut tertekan diterpa kabar tingginya margin bunga bersih (net interest margin/NIM). Persoalan tingginya rasio yang dipakai bank untuk pengukuran profitabilitas itu disentil oleh Presiden Jokowi karena memberatkan debitor. “Saham perbankan sempat goyang juga,” tutur Hans. (Yetede)


Download Aplikasi Labirin :