Otomotif
( 408 )Transaksi IIMS Tembus Rp 1 Triliun
JAKARTA – Transaksi pameran
otomotif Indonesia International Motor Show (IIMS Hybrid 2021) telah
menembus Rp 1 triliun sejak dibuka
pada 15 April di JIExpo Kemayoran,
Jakarta. Hingga ditutup pada Sabtu
(24/4), transaksi IIMS Hybrid 2021
mencapai Rp 1.000.120.000.000.
“Kami berharap, melalui IIMS
Hybrid 2021 ini dapat menjadi pintu
rezeki untuk kegiatan otomotif dan
industri MICE lainnya,” kata Presiden Direktur Dyandra Promosindo
Hendra Noor Saleh, Minggu (25/4).
Dia menuturkan bahwa penyelenggaraan acara pameran otomotif dan
MICE (Meetings, Incentives, Conferencing & Exhibitions) pertama di
masa pandemi tersebut dapat menjadi
semangat baru untuk event internasional lain di Indonesia.
IIMS Hybrid 2021 menjadi pameran
pertama yang diselenggarakan secara langsung setelah penyebaran
pandemi Covid-19. Presiden Joko
Widodo (Jokowi) yang membuka
pameran secara resmi berharap,
pameran ini dapat mempercepat kebangkitan industri otomotif setelah
diterpa pandemi Covid-19. Dia juga
berharap, industri otomotif dapat
mempekerjakan lebih banyak tenaga
kerja.
“Keinginan saya agar bisa mempekerjakan lebih banyak lagi tenaga kerja
dan juga ikut menggerakkan industri
UMKM dan juga segera bisa menaikkan ekspor kita ke negara-negara lain
ke pasar global,” kata Jokowi
(Oleh - HR1)
Ekspor Mobil Produksi Lokal Diperluas
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendukung sektor otomotif untuk meningkatkan daya saing dan produktivitasnya. Dari hasil pertemuan di Jepang, beberapa prinsipal otomotif menyatakan komitmennya untuk memperluas pasar ekspor kendaraan yang diproduksi di Indonesia. Kemenperin mencatat, selama ini Indonesia telah diguyur investasi sebesar Rp 97.3 dari empat prinsipal otomotif raksasa asal Jepang, yakni Toyota (Rp 63 triliun). Honda (Rp 6,2 triliun), Suzuki (Rp 21 triliun), dan Mitsubishi (Rp 7,1 triliun).
Sampai tahun 2024, Toyota akan memperluas pasar ekspornya sebanyak 100 negara, kemudian Honda (31 negara), Suzuki (100 negara), dan Mitsubishi (39 negara). Perluasan pasar ekspor ini seiring dengan peningkatan kapasitas produksi. Total penyerapan tenaga kerja dari investasi empat prinsipal ini bakal mencapai 9.000 orang.
Banjir Insentif di Otomotif
Industri otomotif merupakan salah satu sektor andalan yang berkontribusi besar terhadap perekonomian nasional. Jutaan tenaga kerja terlibat pada bidang usaha ini. Ratusan triliunan rupiah investasi telah digelontorkan produsen lokal dan multinasional di Tanah Air. Namun, pandemi Covid-19 turut menghantam bidang usaha ini. Sepanjang tahun lalu penjualan merosot tajam, karyawan pun banyak yang dirumahkan. Guna menolong kinerja, pemerintah memberikan insentif sebagaimana termuat dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No.20/PMK.010/2021. Regulasi tersebut mengatur kebijakan insentif penurunan tarif Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) untuk kendaraan bermotor berkapasitas sampai dengan 1.500 cc kategori sedan dan 4x2, serta memiliki kandungan lokal minimal sebesar 70% dengan mengacu kepada Keputusan Menteri Perindustrian Nomor 169 Tahun 2021.
Besarnya PPnBM Kendaraan Bermotor ditanggung oleh pemerintah diberikan secara bertahap, yaitu 100% untuk Maret—Mei 2021, sebesar 50% untuk periode Juni—Agustus 2021 dan 25% pada September—Desember 2021. Tak cukup itu, pekan ini Presiden Joko Widodo juga secara khusus meminta Kementerian Perindustrian mengkaji kemungkinan perluasan dan pendalaman program relaksasi PPnBM ditanggung pemerintah untuk kendaraan bermotor berkapasitas di atas 1.500 cc dengan kandungan lokal di atas 50%. Dari data Asean Automotive Federation (AAF), penjualan mobil di Tanah Air merosot paling dalam. Thailand yang selama ini menjadi 'rival,' sepanjang tahun lalu mampu menahan penurunan penjualan di kisaran 21% menjadi 792.142 unit. Bahkan Malaysia hanya turun 14% dengan total penjualan hampir menyamai yaitu 522.537 unit.
Selain menjaga pasar kendaraan berbahan bakar minyak, pemerintah saat ini juga tengah mengkaji regulasi terkait dengan kendaraan listrik berbasis baterai. Dalam pemaparan di hadapan Komisi XI DPR RI pada Senin (15/3), Menteri Keuangan Sri Mulyani menyampaikan usulan perubahan kelompok/skema barang kena pajak untuk kendaraan bermotor yang dikenai pajak penjualan atas barang mewah. Pemerintah berencana menghapus PPnBM untuk kendaraan berbasis baterai dengan nilai investasi minimal Rp5 triliun. Tujuannya adalah menarik investor agar mempercepat pengurangan emisi karbon. Di sisi lain, pemerintah berencana menaikkan pajak kendaraan hybrid. Niat pemerintah menciptakan lingkungan yang sehat bagi masyarakat patut kita dukung tetapi keinginan tersebut juga harus diikuti dengan langkah nyata dengan menyiapkan ekosistem, infrastruktur, dan pengelolaan limbah baterainya.
(Oleh - HR1)
RI Perkuat basis Ekspor Otomotif
Pemerintah intens menjajaki investasi dari perusahaan otomotif besar asal Jepang untuk menguatkan posisi Indonesia sebagai basis produksi dan ekspor otomotif. Penjajakan investasi itu diharapkan dapat mendorong kembali kinerja ekspor otomotif Indonesia yang sempat melemah akibat pandemi Covid-19.
Dalam kunjungannya selama dua hari ke Tokyo, Jepang, pada 10-11 Maret 2021, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita bertemu dengan sejumlah perwakilan perusahaan otomotif raksasa asal Jepang, seperti Mazda, Honda, Toyota, Mitsubishi, dan Suzuki.
Dalam konferensi pers secara virtual dari Jepang, Kamis (11/3/2021), Agus Gumiwang mengatakan, meski berlangsung cukup alot, Honda memberi komitmen untuk melanjutkan investasinya di Indonesia sebesar Rp 5,2 triliun sampai 2024.
Agus mengatakan, komitmen Honda untuk membangun pabrik di Indonesia terkait pula dengan pengembangan model kendaraan baru serta perluasan negara tujuan ekspor. Terkait dengan itu, Honda juga akan memindahkan pabriknya dari India ke Indonesia untuk mengembangkan produksi kendaraan listrik.
Komitmen menambah negara tujuan ekspor juga menjadi inti negosiasi pemerintah dengan Toyota. Agus mengatakan, Toyota berencana menambah investasinya sebesar 2 miliar dollar AS atau Rp 28 triliun di Indonesia hingga 2024 dengan kapasitas 250.000 unit per tahun.
Selain Honda dan Toyota, pemerintah juga intens melobi Mazda, yang selama ini belum pernah berinvestasi di Indonesia, untuk membuka pabrik pertamanya. Keputusan investasi dari Mazda baru akan diambil pada Mei 2021 saat jadwal kunjungan pemerintah yang berikutnya ke Jepang.
Obral Diskon PPnBM Kendaraan Mulai Disoal
Insentif diskon pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) mobil baru mulai memacu pro kontra. Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengumumkan, pemerintah akan memberikan insentif diskon PPnBM mobil untuk mobil sedan 4x2 kurang dari 1.500 cc selama sembilan bulan.
Insentif berlaku tiga tahap. Pertama, 1 Maret-1 Juni 2021 dengan diskon PPnBM 100%. Kedua, potongan PPnBM 50% pada 2 Juni-1 September 2021. Ketiga, diskon PPnBM 30% 2 September-1 Desember 2021. Targetnya, ini bisa bisa mendongkrak penjualan mobil jelang Lebaran Mei 2021.
Taufiek Bawazier, Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kemperin bilang, kenaikan produksi mobil mendorong industri ban, kaca, baja, elektronik dan tekstil. “Local purchase material dan jasa di dalam negeri dan populasi share market mendekati 40% dari data empiris,” kata dia ke KONTAN, Senin (15/2).
Namun, Ekonom Senior Institute for Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati menilai, efek insentif fiskal terhadap pertumbuhan ekonomi akan minim lantaran kontribusi sektor otomotif terhadap produk domestik bruto (PDB) kecil.
Insentif Pajak dan BBNKB Kendaraan Listrik hingga 90 Persen
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mendukung penggalakan penggunaan mobil listrik dan juga motor listrik di Jawa Timur. Bahkan Pemprov Jatim sudah memberikan keringanan pajak dan bea balik nama kendaraan bermotor (BBNKB) hingga 90 persen. Sesuai dengan Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Jatim, insentif pajak dan BBM yang diberikan kepada mobil listrik mencapai 90 persen dari dasar tarif normal. Sehingga pajak hanya di pungut 10 persen dari pajak yang seharusnya. Tarif pajak mobil listrik sendiri sebesar 1.5 persen dari dasar pengenaan. Sementara tarif BBN sebesar 10 persen dari dasar tarif.
Ekspor Mobil Anjlok 66%
Ekpor mobil sepanjang 2020 turun 66,18% menjadi 285.207 unit dibanding tahun sebelumnya 843.429 unit. Penurunan ekspor mobil terjadi baik dalam bentuk utuh (CBU) maupun terurai (CKD). Berdasarkan data GAIKINDO, ekspor mobil CBU pada 2020 mencapai 232.175 unit, turun 30,1% dibandingkan tahun 2019 yang sebesar 332.004 unit. Ekspor mobil dalam bentuk CBU dilakukan oleh sembilan produsen. Ekspor CBU didominasi oleh Daihatsu yang mencapai 91.472 unit atau 39,4% dari total. Sementara itu, ekspor mobil dalam bentuk CKD anjlok hingga 89,6% pada tahun 2020 menjadi tinggal 53.032 unit dibanding tahun sebelumnya yang sebanyak 511.425 unit.
Ekspor komponen juga menurun 22,9% pada 2020 menjadi 61.177.323 pieces dibanding tahun sebelumnya 79.300.676 unit. Ekspor komponen otomotif ini dilakukan oleh Toyota, Honda, Hino, dan Suzuki. Tidak hanya Ekspor, impor mobil juga mengalami penurunan hingga 53,5% pada tahun 2020 menjadi 34.353 unit dibanding tahun 2019 yang sebanyak 73.879 unit. Kemendag tengah menyiapkan argumentasi pendukung sanggahan (submisi) keberatan untuk membebaskan mobil Indonesia dari bea masuk tindakan pengamanan sementara (BMTPS) atau safeguard yang dibuat oleh pemerintah Filipina. Produk yang dikenakan safeguard oleh otoritas FIlipina adalah mobil penumpang dan kendaraan niaga ringan (LCV). Pengenaan safeguard tersebut akan efektif berlaku lima belas hari sejak tanggal penetapan. Pengenaan safeguard tersebut bakal berlaku selama 200 hari.
Industri kendaraan bermotor merupakan salah satu yang didorong pengembangannya di Tanah Air. Hal ini karena industri tersebut menunjukkan pertumbuhan signifikan yang juga mendukung perekonomian nasional. Perkembangan otomotif Indonesia tersebut, menunjukkan tren yang menggembirakan. Menperin mengungkapkan, ada dua faktor yang akan membuat investasi di sektor otomotif semakin bertambah. Selain itu, industri otomotif global memiliki Global Value Chain yang tinggi, sehingga perbedaan harga antarnegara relatif rendah. Dalam hal ini, Indonesia diuntungkan karena telah mampu mengekspor produk otomotif ke lebih dari 80 negara dengan rata-rata 200.000 unit per tahun.
Otomotif dan Makanan Kuasai Kawasan Industri
Kawasan industri diperkirakan akan terus bangkit, meski dalam kondisi pandemi Covid-19. Pada 2020 pasar otomotif masih menguasai 34% kawasan industri di Jabodetabek, disusul oleh perusahaan makanan (food). Industri makanan juga terus bangkit dan hampir menguasai kawasan industri sebesar 22%. Sementara itu, penjualan lahan setiap kuartal 2020 hanya dikontribusikan oleh maksimal tujuh kawasan menandakan aktifitas yang masih lesu. Meski masih melemah, tetapi masih ada pembukaan lahan baru selama 2020 dengan total lahan seluas 153 hektare (ha).
Pada 2021, kawasan industri akan menjadi sektor pertama yang bangkit, karena potensinya yang besar yang sewaktu-waktu bisa muncul saat ekonomi membaik. Hal tersebut ditopang oleh pertumbuhan yang berkaitan dengan IT dan teknologi. Semakin terbatasnya cadangan lahan kawasan industri di wilayah Jabodetabek, membuat pengembangan kawasan industri ke depan berpotensi meluas ke koridor timur Jabodetabek seperti Karawang, Purwakarta, dan selanjutnya ke Subang, sejalan dengan pembangunan fasilitas pendukung.
Para pelaku industri berharap permintaan dari perusahaan asing akan mulai pulih setelah dicabutnya pembatasan sosial skala besar (PSBB) di Jakarta dan distribusi vaksin Covid-19. Undang-undang Omnibus Law yang baru akan memberikan kemudahan bagi investor asing untuk mengembangkan usahanya di Indonesia yang diharapkan dapat meningkatkan permintaan industri baik untuk lahan industri maupun pergudangan.
Otomotif dan Makanan Kuasai Kawasan Industri
Kawasan industri diperkirakan akan terus bangkit, meski dalam kondisi pandemi Covid-19. Pada 2020 pasar otomotif masih menguasai 34% kawasan industri di Jabodetabek, disusul oleh perusahaan makanan (food). Industri makanan juga terus bangkit dan hampir menguasai kawasan industri sebesar 22%. Sementara itu, penjualan lahan setiap kuartal 2020 hanya dikontribusikan oleh maksimal tujuh kawasan menandakan aktifitas yang masih lesu. Meski masih melemah, tetapi masih ada pembukaan lahan baru selama 2020 dengan total lahan seluas 153 hektare (ha).
Pada 2021, kawasan industri akan menjadi sektor pertama yang bangkit, karena potensinya yang besar yang sewaktu-waktu bisa muncul saat ekonomi membaik. Hal tersebut ditopang oleh pertumbuhan yang berkaitan dengan IT dan teknologi. Semakin terbatasnya cadangan lahan kawasan industri di wilayah Jabodetabek, membuat pengembangan kawasan industri ke depan berpotensi meluas ke koridor timur Jabodetabek seperti Karawang, Purwakarta, dan selanjutnya ke Subang, sejalan dengan pembangunan fasilitas pendukung.
Para pelaku industri berharap permintaan dari perusahaan asing akan mulai pulih setelah dicabutnya pembatasan sosial skala besar (PSBB) di Jakarta dan distribusi vaksin Covid-19. Undang-undang Omnibus Law yang baru akan memberikan kemudahan bagi investor asing untuk mengembangkan usahanya di Indonesia yang diharapkan dapat meningkatkan permintaan industri baik untuk lahan industri maupun pergudangan.
Tren Mobilitas Di Tengah Pandemi, Mobil Pribadi Mampu Unjuk Gigi?
Meski Covid-19 telah meluluhlantakkan penjualan otomotif hampir sepanjang 2020, pandemi setidaknya telah mengubah prespektif masyarakat dalam memilih moda transportasi sehari-hari. Pandemi virus corona menyebabkan mobilitas pribadi lebih besar dan dengan demikian meningkatkan kepadatan lalu lintas. Kendaraan modern dengan perangkat lunak prediktif kini menjadi bagian penting dari solusi kebutuhan mobilitas orang. Selain mobil, sepeda juga semakin meningkat akibat pandemi virus corona.
Secara keseluruhan, mobil adalah bagian dari perjalanan harian bagi kebanyakan orang. Di AS, Jerman, dan Prancis, lebih dari stengah dari mereka yang disurvei mengaku menggunakan kendaraan setiap hari atau hampir setiap hari dan sekitar sepertiga melaporkan mengendarai mobil setidaknya sekali sepekan. Sebagai konsekuensi dan penyebaran global virus corona, kebiasaan mobilitas sehari-hari telah berubah secara siginifikan di seluruh dunia.
Industri otomotif perlu melakukan transformasi digital agar dapat memnuhi permintaan pelanggan yang diprediksi melonjak pada 2021. Melalui penerapan teknologi akan muncul kekuatan baru bagi industri otomotif, terutama dalam hal meningkatkan kualitas pelayanan dan interaksi dengan konsumen. Situasi penuh ketidakpastian akibat pandemi akan melambungkan jual beli mobil bekas. Pelaku industri juga harus menyesuaikan dengan kebutuhan konsumen dengan memberikan transaksi yang lebih aman.
Pilihan Editor
-
Volume Perdagangan Kripto Rp 859,4 Triliun
19 Feb 2022 -
Tiga Bisnis yang Dibutuhkan Dimasa Depan
02 Feb 2022 -
Perdagangan, Efek Kupu-kupu
18 Feb 2022 -
KKP Gencar Promosikan Kontrak Penangkapan Ikan
19 Feb 2022









