;
Tags

Otomotif

( 408 )

Pabrik Mobil Mulai Bangkit

Ayutyas 07 Jun 2020 Republika, 04 Jun 2020

Industri otomotif mulai berproduksi kembali setelah sebulan lebih menghentikan pabrik. Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia memaksa sejumlah industri otomotif melakukan penangguhan produksi. Namun, kini, beberapa pabrikan sudah mulai kembali melakukan kegiatan operasional secara bertahap.

Salah satu pabrikan yang sudah melakukan kegiatan produksi adalah Suzuki. 4W Marketing Director PT Suzuki Indomobil Sales (SIS), Donny Saputra, mengatakan, pada tahap awal, produksi dilakukan untuk memenuhi pasar ekspor. Saat ini SIS belum mematok target produksi dan lebih menekankan pada evaluasi demi memastikan bahwa proses produksi yang dilakukan dapat berjalan dengan baik dan aman. 

President Director PT Suzuki Indomobil Motor/PT Suzuki Indomobil Sales, Seiji Itayama, menjelaskan, pada tahap awal Suzuki memang mengurangi volume produksi dan secara bertahap akan melakukan evaluasi agar volumenya bisa ditingkatkan.

Toyota pun melakukan langkah yang sama. Direktur Administrasi, Korporasi dan Hubungan Eksternal PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Bob Azam mengatakan, fasilitas produksi Toyota akan mulai beroperasi pada 5 Juni 2020 dan dilakukan dengan protokol kesehatan yang ketat.

Sementara itu, Honda belum juga melakukan reaktivasi. Business Innovation and Sales & Marketing Director PT Honda Prospect Motor, Yusak Billy, menjelaskan, Honda masih belum melakukan proses produksi. Namun, ia tetap optimistis karena ia yakin penerapan new normal nantinya akan mampu membuat kebutuhan kendaraan kembali meningkat.

Pandemi telah mempengaruhi biaya produksi mobil. Mengingat, kondisi yang ada saat ini telah berdampak pada proses produksi serta rantai pasokan. Hal ini pun terpaksa membuat PT Mitsubishi Motos Krama Yudha Sales Indonesia (MM KSI) melakukan kenaikan harga kendaraan. Head of Sales & Marketing Group MMKSI, Imam Choeru Cahya mengatakan, penyesuaian harga mulai diberlakukan pada Juni 2020.

Business Innovation and Sales & Marketing Director PT Honda Prospect Motor, Yusak Billy mengatakan, hingga saat ini Honda belum melakukan penyesuaian harga yang berkaitan dengan dampak dari Covid-19. Hal senada disampaikan oleh 4W Marketing Director PT Suzuki Indomobil Sales, Donny Saputra yang mengatakan bahwa Suzuki tidak melakukan penyesuaian harga pada bulan Juni.

Ekspor Jadi Penyelamat

Ayutyas 07 Jun 2020 Kompas, 4 Juni 2020

Badai pandemi Covid-19 juga menghantam sektor industri otomotif. Pada saat sektor ini berusaha merangkak naik di tengah penurunan penjualan dalam dua tahun terakhir, pandemi membuat penjualan terpuruk. Ajang pameran otomotif Indonesia International Motor Show 2020 yang sedianya digelar awal April dibatalkan. Adapun, Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2020 diundur dari Agustus ke Oktober-November. Padahal, ajang semacam ini dapat mendongkrak penjualan. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) memprediksi pasar otomotif 2020 akan anjlok 50 persen dibandingkan dengan 2019.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita yakin industri otomotif masih jadi andalan ekspor nasional kendati dalam situasi pandemi Covid-19. Pada akhir 2019, ekspor industri otomotif meningkat 2,2 persen secara tahunan menjadi 6,3 miliar dollar AS. Agus menyebutkan, ada sejumlah pesanan produk otomotif Indonesia dari negara lain dan rencana pengiriman dimulai bulan depan. Hal ini mengindikasikan pasar ekspor produk otomotif nasional masih bergeliat.

Direktur Administrasi, Korporasi, dan Hubungan Eksternal PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Bob Azam mengatakan, Pukulan terasa pada triwulan II, turun 50 persen secara tahunan dan Triwulan III dan IV bergantung pada penanganan Covid-19 dan stimulus di setiap negara, tidak hanya Indonesia. Bob menambahkan, berdasarkan berbagai asumsi, pihaknya menyiapkan diri jika krisis molor hingga akhir tahun depan. Kesiapan itu diperlukan karena TMMIN juga menggarap pasar ekspor. Menurut Bob, sekitar 50 persen produk TMMIN mengisi pasar ekspor.

Kebutuhan mengisi pasar ekspor bisa jadi penyelamat pada saat permintaan dalam negeri merosot tajam. Pada pertengahan April 2020, TMMIN sempat mengaktifkan pabrik dua pekan setelah berhenti dua pekan untuk mengisi ekspor karena permintaan ekspor masih ada. Tuntutan ekspor juga membuat PT Suzuki Indomobil Motor mengaktifkan pabrik di Jakarta dan Bekasi sejak 26 Mei 2020 kendati PSBB belum resmi dicabut sebagaiaman dilansir Seiji Itayama, President Director PT Suzuki Indomobil Motor/PT Suzuki Indomobil Sales.

Wakil Presiden Direktur PT Toyota Astra Motor (TAM) Henry Tanoto tak menampik kondisi industri otomotif menghadapi permintaan pasar yang melemah akibat pandemi Covid-19. Kondisi ini terlihat dari penjualan yang mulai merosot sejak akhir Maret, berlanjut pada April dan Mei. Namun, Henry optimistis kondisi akan membaik pada paruh kedua tahun ini.

Donny Saputra, Direktur Pemasaran Roda 4 PT Suzuki Indomobil Sales, menuturkan penjualan Suzuki melorot baik untuk pasar ekspor maupun pasar dalam negeri. Namun, dalam kondisi berat itu, salah satu model Suzuki, yaitu Suzuki APV, justru membukukan peningkatan penjualan. Alasannya, mobil itu banyak dijadikan ambulans dalam pandemi Covid-19. Sementara, Prianto, HR & GA Director PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Indonesia (MMKI), mengatakan, hingga kini masih memantau situasi terkini untuk kembali memulai aktivitas produksi Mitsubishi di pabrik di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Dia menambahkan, Mitsubishi akan memproduksi kendaraan sesuai permintaan, termasuk untuk ekspor.


Ekspor Mobil Anjlok

Ayutyas 06 Jun 2020 Investor Daily, 2 Juni 2020

Ekspor mobil pada bulan April 2020 anjlok hingga 57% menjadi US$ 282,8 juta dibanding bulan Maret 2020 yang sebesar US$ 656,2 juta. Pandemi Covid-19 yang terjadi di hampir semua negara dan penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) membuat nilai ekspor mobil turun tajam pada bulan April kemarin. Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Yohannes Nangoi mengatakan, meski industri otomotif diberi keleluasaan untuk tetap berproduksi di tengah pandemi Covid-19 dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat, tetap tidak bisa berjalan optimal. Hal ini dikarenakan memang pasar otomotif di negara tujuan ekspor sedang turun, selain itu juga dampak dari penerapan PSBB di dalam negeri yang membuat beberapa pabrik terpaksa tutup, sehingga mempengaruhi pasokan ekspor. Keterbatasan komponen impor dan produksi komponen dalam negeri karena PSBB juga turut memberikan kontribusi.

Secara keseluruhan, impor mobil sepanjang Januari-April 2020 turun 18,06% dibanding periode sama tahun lalu. Nangoi mengaku, kebijakan beberapa negara yang berencana melonggarkan aturan karantina wilayah (lockdown) dikhawatirkan semakin menekan ekspor otomotif Indonesia. Pasalnya, potensi pasar otomotif Indonesia di luar negeri bisa diisi oleh negara-negara produsen otomotif seperti Vietnam, Thailand, ataupun Malaysia yang berencana melonggarkan aturan lockdownnya. Sementara, kasus Covid-19 di Indonesia masih belum terlihat adanya tanda-tanda pemulihan.

Industri otomotif, lanjut Nangoi, berharap pemerintah memberikan insentif agar kendaraan yang diproduksi lebih laku dijual. Salah satu upaya untuk menggairahkan kembali penjualan mobil, Gaikindo mengundur pameran Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) di BSD-City ke bulan Oktober-November mendatang dengan pertimbangan, kasus Covid-19 sudah mulai menurun dan menyesuaikan dengan kebijakan pemerintah. Hal senada juga diutarakan Ketua III Gaikindo Rizwan Alamsjah bahwa pameran GIIAS 2020 The Series di Surabaya dan Jakarta akan tetap berlangsung di tahun 2020 sementara GIIAS Makassar dan GIIAS Medan akan dilaksanakan kembali pada tahun 2021. Kehadiran GIIAS The Series di tahun yang sangat berat ini, lanjut dia, adalah bukti konsistensi dan upaya industri otomotif untuk terus bergerak maju bagi masyarakat Indonesia.

TAM Rasakan Dampak Krismon 1998 Lebih Berat

Ayutyas 16 May 2020 Republika, 14 May 2020

Wabah Covid-19 yang melanda Indonesia sangat berpengaruh terhadap sektor otomotif, termasuk pemimpin pasar otomotif nasional, PT Toyota Astra Motor (TAM). 

Direktur Marketing TAM, Anton Jimmy Suwandi mengakui terjadi penurunan penjualan selama pandemi dan diterapkannya pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Penjualan saat ini termasuk yang paling tertekan setelah krisis moneter (krismon) yang melanda negeri ini di 1998. Menurut Anton krismon 1998 termasuk yang paling berat bagi industri otomotif nasional. Selain nilai tukar yang anjlok, suka bunga perbankan saat itu sempat menyentuh angka 40 persen setahun.Dengan suku bunga setinggi itu, konsumen tidak akan mampu membeli kendaraan melalui kredit. Saat ini masyarakat takut keluar rumah, mereka enggan mengunjungi showroom, pameran-pameran mobil pun tidak mungkin lagi dilaksanakan, hal ini juga disebabkan penerapan PSBB.

TAM pun mempertimbangkan merevisi target penjualan tahun 2020, karena diberlakukannya PSBB, dan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang melambat. Anton menyatakan, belum bisa menyebutkan secara konkrit revisi target penjualan tahun ini. Dia menilai dampak virus korona terhadap penjualan mobil baru terlihat pada pertengahan Maret, dan saat ini belum dapat melihat perkembangan situasi ke depan.


Otomotif Global Bersiap untuk Pulih

Ayutyas 02 May 2020 Republika, 30 April 2020

Pandemi Covid-19 di beberapa belahan dunia berangsur mulai reda. Sejumlah aktivitas bisnis pun perlahan kembali normal, termasuk di antaranya industri otomotif. Dilansir dari Car Advicepada Selasa (28/4), sejumlah jenama yang mulai mengaktifkan kembali fasilitas produksinya, adalah Volkswagen, Renault, Toyota, Jaguar Land Rover, dan Mercedes-Benz. 

Dari semua brand itu, pabrikan per tama yang memastikan untuk kembali beroperasi adalah Volkswagen (VW). Pabrikan Jerman ini resmi membuka kembali pabriknya pada 20 April di Zickau, Jerman dan Bratislava, Slovakia. Selain itu, hampir semua fasiltias produksi VW di Cina juga telah kembali beroperasi.

Sementara itu, Mercedes Benz juga tengah bersiap untuk kembali membuka tiga fasilitas produksi di Jerman. Kemudian, jenama Toyota pun telah kembali membuka pabrik di Prancis yang digunakan untuk memproduksi Yaris. Namun, pada tahap awal, Toyota masih memangkas kapasitas produksinya, demi tetap menjaga kesehatan dan keselamatan para pegawai.

Nissan pun mulai melakukan persiapan untuk mengaktifkan kembali fasilitas produksi di Inggris. Sejumlah fasilitas yang berada di Amerika Serikat (AS) saat ini belum dapat dibuka lantaran masih adanya pembatasan aktivitas. Beberapa pabrikan yang masih menangguhkan produksi di AS, di antaranya adalah Honda, Toyota, Hyundai, dan Nissan.

Meski demikian, pemerintah AS memberikan izin bagi General Motors dan Ford untuk membuka fasilitas produksinya karena tengah berkontribusi dalam pembuatan ventilator untuk para pasien korona.

Tak heran, selama pendemi, diler berhenti beroperasi dan masyarakat pun lebih fokus pada kesehatan dan keperluan pokok yang lebih urgen. Kondisi ini pun membuat penjualan mobil anjlok di awal 2020.

Pandemi yang terjadi di Indonesia telah memaksa Daihatsu melakukan penutupan sementara pada fasilitas produksinya. Senior Executive Director ADM, Erlan Krisnaring, mengatakan, pembukaan kembali fasilitas produksi diawali dengan melatih karyawan pabrik sehingga proses produksi ADM akan dilakukan sesuai dengan protokol pencegahan Covid-19.

Setelah seluruh persiapan dipastikan sesuai dengan protokol Covid-19, ADM akan mempertimbangkan untuk memulai kembali produksi. Namun, pada tahap awal, produksi di- lakukan guna memenuhi permintaan pasar ekspor saja.

Korona Menghentikan Mesin Bisnis Industri Otomotif

Ayutyas 12 Apr 2020 Kontan, 9 April 2020

Dampak pandemi corona (Covid-19) ke sektor otomotif tak main-main. Sejumlah agen pemegang merek (APM) menghentikan operasional dan mengurangi jam produksi.
Bukan hanya demi mengikuti anjuran pencegahan virus oleh pemerintah, langkah para APM mengacu pada proyeksi permintaan pasar yang bakal gembos di sepanjang tahun ini. Beberapa pihak menyampaikan pendapat tentang situasi saat ini:

  1. PT Astra Daihatsu Motor (ADM) mengalami penyusutan penjualan 20% pada Maret 2020 ketimbang Februari 2020 dan diperkirakan bulan April akan lebih turun lebih dalam lagi sebagaimana disampaikan Amelia Tjandra, Direktur Marketing Astra Daihatsu Motor
  2. PT Isuzu Astra Motor IndonesiaI (AMI) berencana merevisi target penjualan pada 2020 dan memperkirakan puncak penurunan akan terjadi pada April – Mei 2020 seperti dilansir Ernando Demily, Presiden Direktur IAMI
  3. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) merevisi proyeksi volume penjualan mobil nasional menjadi 600.000 unit dari sebelumnya sebanyak 1,05 juta unit melalui Ketua I Gaikindo Jongkie Sugiarto
  4. PT Toyota Astra Motor (TAM) pun siap menurunkan target penjualan dengan mengacu pada target revisi (Gaikindo), hal ini berdasarkan keterangan Henry Tanoto, Vice President TAM.
  5. PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), melalui Direktur Administrasi, Korporasi dan Hubungan Eksternal, Bob Azam, mengatakan arus kas berpeluang menipis. Dia lebih lanjut mengusulkan, pemerintah dapat memberikan stimulus berupa diskon pajak.


Adapun langkah maupun rencana yang di ambil beberapa APM antara lain:

  1. PT Honda Prospect Motor (HPM) akan menutup operasional pabrik di Karawang, Jawa Barat, berkapasitas produksi 200.000 unit per tahun selama dua minggu mulai 13 April 2020, dilansir dari Yusak Billy, Marketing Director HPM
  2. Wuling Motors sudah menyetop pabrik di Cikarang, Jawa Barat, berkapasitas produksi 120.000 unit per tahun. sejak 6 April hingga 19 April. Dilansir dari Brian Gomgom, Media Relations Supervisor Wuling Motors
  3. PT Astra Daihatsu Motor (ADM) memangkas jam operasional pabrik Astra Daihatsu yang menyebabkan pabrik berkapasitas produksi 530.000 unit per tahun ini diproyeksi turun produksinya lebih dari 40%
  4. PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), berkapasitas produksi 320.000 unit per tahun. kini hanya bekerja 35% dari waktu kerja secara umum dan tak menutup kemungkinan ke depan mereka menutup sementara operasional pabrik

Industri Otomotif Banting Setir Buat Ventilator

Ayutyas 09 Apr 2020 Republika, 6 April 2020

Saat ini, sejumlah rumah sakit rujukan Covid-19 mem butuhkan tambahan alat bantu pernapasan (ventilator) seiring dengan bertambahnya jumlah penderita. Ventilator ini dibutuhkan pasien untuk menghindari terjadinya gagal napas. Dalam keterangan pers yang diterima Republika, Ahad (5/4). Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan (IMATAP) Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Putu Juli Ardika, menyampaikan pihaknya sedang mendorong industri otomotif di dalam negeri untuk memproduksi ventilator yang dibutuhkan dalam penanganan pandemi Covid-19 di Tanah Air.

Ditengah penurunan penjualan ritel kendaraan, produsen otomotif sedang menindak lanjuti kerjasama dengan industri komponen dan lembaga pendidikan dan penelitian dalam melakukan reverse engineering dalam pengembangan prototipe ventilator. Berdasarkan data Gaikindo, penjualan periode Januari hingga Februari 2020 hanya mencapai 158 ribu unit (turun 6,2%) dibandingkan periode yang sama tahun lalu yakni 169 ribu unit. Hal ini sebagaimana disampaikan Ketua Umum Gaikindo Yohannes Nangoi dan Ketua Bidang Komersial Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) Sigit Kumala ditempat terpisah, melalui asosiasi, masing – masing pihak menyatakan berupaya mendorong anggotanya serta meminta dukungan dari pemerintah untuk menyediakan mitra usaha yang kompeten dalam proses produksi ini kedepannya. Mitra usaha diharapkan dapat menentukan standar bahan baku, menjabarkan blueprint teknis pembuatan ventilator, alih teknologi, sampai memodifikasi fasilitas perakitan otomotif yang ada saat ini agar industri dapat membantu merakit alat-alat yang dibutuhkan.

Pemerintah Sodorkan Sejumlah Kemudahan untuk Industri Otomotif

Ayutyas 09 Apr 2020 Tempo, 9 April 2020

Kementerian Perindustrian berencana memberikan sejumlah stimulus tambahan kepada industri otomotif untuk meredam dampak lesunya pasar akibat penyebaran Covid-19. Kemudian pemerintah berencana memberikan pelonggaran tarif dasar listrik, air, hingga gas. Aturan pembayaran tarif sertifikat registrasi uji tipe (SRUT) sedang dipertimbangkan untuk dilonggarkan.

Direktur Marketing ADM, Amelia Tjandra, Marketing Communication Department Head PT Isuzu Astra Motor Indonesia, Puti Annisa, dan Direktur Eksekutif Core Indonesia, Mohammad Faisal bersamaan menyatakan bahwa adanya penurunan angka penjualan dan tengah mengkaji pemangkasan target penjualan 2020.

Menurut Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia, penjualan kendaraan bermotor diperkirakan mengalami kontraksi hingga 50 persen akibat menurunnya permintaan dari dalam dan luar negeri. Target penjualan yang dipatok 1,05 juta unit dikurangi menjadi 600 ribu saja. Pemerintah memberikan sejumlah stimulus untuk membantu kinerja perusahaan, diantaranya:

  • Insentif Fiskal
  • Pelonggaran PPh Pasal 21, 22, dan 25 selama enam bulan.
  • Percepatan restitusi PPh selama enam bulan.
  • Pengurangan bea masuk impor.
  • Pembebasan bea masuk impor untuk 539 pos tarif dalam 27 kelompok sektor.
  • Insentif Non-Fiskal
  • Penyederhanaan atau pengurangan larangan terbatas ekspor dan impor untuk bahan baku.
  • Percepatan proses ekspor-impor untuk reputable trader
  • Penyederhanaan proses ekspor-impor melalui National Logistic Ecosystem.
  • Insentif Moneter

Industri Otomotif Akan Kurangi Produksi

leoputra 31 Mar 2020 Tempo, 31 Maret 2020

Wabah virus corona atauCovid-19 menyebabkan penjualan mobil anjlok. Pelaku industri otomotif punbersiap mengurangi produksi. Sales Director PT Honda Prospect Motor (HPM), Yusak Billy,mengatakan saat ini perusahaan terus menyesuaikan produksi dengan mengikuti permintaan pasar. Menurutt Yusak, HPM telah menyiapkan berbagai skenario, termasuk penghentian produksi sementara jika diperlukan.

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat penjualan mobil pada Januari sebanyak 80.424 unit dan Februari 79.573 unit. Volume penjualan lebih rendah ketimbang periode sama tahun lalu, yaitu 82.155 unit dan 81.809 unit. Direktur Administrasi, Korporasi, dan Hubungan Eksternal PT Toyota Manufacturing Indonesia (TMMIN), Bob Azzam, mengatakan pengurangan produksi dilakukan sesuai dengan kondisi pasar. Sejak pemerintah memberlakukan pembatasan interaksi sosial, kata Bob, TMMIN sudah meminta 75 persen karyawan untuk bekerja dari rumah. General Manager Sales PT Isuzu Astra Motor Indonesia, Andi Dwizatmoko, mengatakan penjualan kendaraan periode Januari-Februari menurun 4,1 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Penurunan ini, kata dia, terjadi akibat wabah COVID-19. Deputy Marketing Director PT Hyundai Mobil Indonesia, Hendrik Wiradjaja, mengatakan produksi Hyundai H-1 di pabrik perakitan di Bekasi masih berjalan. Namun pandemi COVID-19 membuat perusahaan harus membatasi jumlah tenaga kerjanya. Adapun penurunan penjualan terjadi karena terhambatnya pengiriman CBU dari Korea.


Sentimen COVID–19 Pabrik TOYOTA Bersiap Shutdown

tuankacan 30 Mar 2020 Bisnis Indonesia, 30 Maret 2020

Setelah memangkas produksi, Toyota berencana menghentikan sementara alias shutdown aktivitas pabriknya untuk mencegah penyebaran virus corona. Adapun, pabrikan lain masih beroperasi normal dengan menerapkan protokol keamanan bagi pekerjanya. Bila fasilitas produksi dihentikan sementara, semua pekerja bekerja dari rumah. Menurutnya, soal upah pegawai yang bekerja di rumah sudah diatur oleh perusahan. Sementara itu, Hino Motors memastikan akan menurunkan produksi sebagai bagian dari manajemen risiko dan respons terhadap pasar yang tertekan dampak COVID-19. Hino belum dapat memprediksi kemungkinan Hino melakukan langkah ekstrem seperti menangguhkan produksi sementara waktu. Di sisi lain, Honda menyatakan aktivitas produksi di pabriknya masih berjalan normal, kendati rencana aksi untuk menghadapi dampak COVID-19 telah disiapkan. Dari Honda, ada penurunan permintaan akibat pandemi COVID-19. Sedangkan Suzuki, sampai saat ini produksi di pabrik masih berjalan. Namun, Suzuki memberlakukan protokol ketat untuk semua aktivitas karyawan guna meminimalkan penyebaran virus corona karena kesehatan dan keselamatan karyawan menjadi prioritas.