;
Tags

Otomotif

( 406 )

Pandemi Pukul Industri Otomotif Indonesia

Ayutyas 22 Jul 2020 Kompas

Selama satu semester tahun ini, penjualan kendaraan roda empat yang baru cenderung menurun. Data gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukan, penjualan mobil dari pabrikan ke dealer (wholesales) sepanjang enam bulan pertama tahun 2020 berjumlah 260.933 unit, atau turun 46 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, yakni 483.648 unit. Adapun penjualan dari dealer ke konsumen (ritel) hanya 290.597 unit atau turun 42,1 persen dari 501.708 unit pada 2019.

Pandemi memaksa agen pemegang merek (APM) mobil menekan produksi karena permintaan yang lesu. Penurunan penjualan mobil di Indonesia tahun ini diperkirakan 40 persen. Secara global, penjualan mobil tahun 2020 di seluruh dunia hanya akan mencapai 71,9juta unit. Pemulihan untuk pembelian mobil baru membutuhkan waktu yang diperkirakan cukup lama. Hal ini sangat ditentukan oleh daya beli masyarakat dan penyaluran kredit dari perbankan untuk sektor ini. Kunci pemulihan terletak pada kelompok masyarakat kelas menengah yang menjadi penggerak konsumsi. Kelompok inilah yang akan menggerakan perekonomian karena kontribusi konsumsi dari kelompok ini bertumbuh dari 21 persen pada 2002 menjadi sekarang mencapai hampir separuh dari konsumsi rumah tangga di Indonesia.

Menanti Pembeli Otomotif Pulih Lagi

Benny1284 15 Jul 2020 Kontan

Penjualan kendaraan secara ritel PT Astra Indonesia Tbk mulai membaik di penghujung semester satu tahun ini. Penjualan ritel roda empat naik 68% secara month on month pada Juni 2020. Namun, secara kumulatif , penjualan mobil ritel di semester I tahun ini masih turun 40% secara year on year.

Menurut Analis Indo Premier Sekuritas, sebagian pabrik sudah mulai Kembali beroperasi dan berproduksi. Tapi produksi masih untuk kebutuhan ekspor. Permintaan dari domestic masih rendah. Diharapkan perbaikan bertahap mulai ada di bulan ini. Alasannya, ekonomi sudah mulai berjalan dan adanya kebijakan baru dari multifinance yang meringankan pembayaran uang muka menjadi 10%-15% pada bulan ini.


Relaksasi PSBB Dorong Penjualan ASII

Ayutyas 10 Jul 2020 Kontan, 9 Juli 2020

Relaksasi pembatasan sosial berskala besar (PSBB) menjadi katalis bagi PT Astra International Tbk (ASII) bagi penjualan otomotif mulai membaik Juni 2020 demikian harapan Head of Investor Relations Astra International Tira Ardianti. Meski begitu, Tira memprediksi tahun ini, pasar mobil akan turun sekitar 40% hingga 45%. Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil Grup Astra yang biasanya menguasai hampir separuh pasar mobil nasional, kini menyusut mencapai 31% dari sebelumnya berada di level 48% pada April lalu sedangkan pada bulan Mei tahun lalu menguasai 54%. Namun, kalau dihitung sejak awal tahun pangsa pasar Astra sebetulnya masih meningkat. Pada periode januari-Mei 2020, Astra menjual total 134.649 unit mobil, tidak termasuk LCGC atau setara 54.2% total penjualan mobil domestic.

Djony Bunarto Tjondro, Presiden Direktur Astra International menjelaskan bahwa bisnis kendaraan bermotor merupakan lini yang langsung terkena dampak Covid-19. Segmen unit kendaraan bermotor roda dua dan roda empat menyumbang sekitar 40% hingga 50% terhadap total pendapatan ASII. Sampal Mei 2020, Djony memaparkan bahwa penjualan kendaraan bermotor masih lesu. Catatan Djony, penjualan kendaraan bermotor hanya 17.000 secara retail namun pada bulan Juni cukup baik. Seiring dengan itu, kata Djony, Astra juga sudah menerapkan sejumlah strategi guna memastikan keberlangsungan usaha. Salah satunya dengan disiplin dalam mengelola finansial. Misalnya merevisi alokasi belanja modal untuk tahun ini menjadi Rp 11 triliun dari semula mencapai Rp 25 triliun dengan prioritas belanja modal di sektor otomotif, alat berat, dan infrastruktur.

Maximilianus Nico Demus, Direktur Asosiasi Riset dan Investasi Pilarmas Investindo menilal, penjualan otomotif ASI pada semester Ii tahun ini berpotensi bisa membalk seiring dengan pelonggaran pembatasan sosial berskala besar. Meski begitu, kata Nico, Kinerja Astra bakal maksimal bila penyebaran Covid-19 dalam negeri bisa dikendalikan sayangnya sampai saat ini masih terus merangkak nalk. Meski bisnis utama ASII babak belur akibat Covid-19. Nico melihat Astra International memiliki diversifikasi usaha yang kuat apalagi kondisi finansial mempunyai ketahanan likuiditas cukup baik. la merekomendasikan pelaku pasar untuk membeli (buy) saham ASII dengan target harga Rp 5050. Pada akhir perdagangan Rabu (8/7), harga saham ASII menguat 1.66% ke level Rp 4910 per saham.

Produsen Kendaraan Gencarkan Penjualan Online

Ayutyas 30 Jun 2020 Tempo, 18 Jun 2020

Agen pemegang merek (APM) kendaraan bermotor kian gencar menjalankan pemasaran secara online setelah angka penjualan turun signifikan. Business Inovation, Sales, and Marketing Director PT Honda Prospect Motor (HPM), Yusak Billy, mengatakan perubahan pola belanja konsumen ke platform digital mulai dirasakan sektor otomotif.

Menurut Yusak, HPM kini memasarkan 25 persen kendaraan secara online, naik dari akhir tahun lalu yang masih di bawah 5 persen. HPM pun memperkuat kanal penjualan korporat dan milik dealer. Tak cuma itu, kata Yusak, HPM berupaya memperluas jaringan, bekerja sama dengan situs e-commerce. Penjualan mobil kian menurun sejak awal tahun. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat penjualan dari pabrik ke dealer (wholesale) pada Mei lalu hanya 3.551 unit, anjlok 95,7 persen dari Mei 2019 yang mencapai 84.109 unit.

Yusak mengatakan anjloknya penjualan berkaitan dengan libur Ramadan-Idul Fitri, pembatasan sosial berskala besar (PSBB), dan lesunya daya beli. Marketing Communication PT Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI), Puti Annisa Moeloek, mengatakan penjualan Isuzu pada Januari-Mei anjlok hingga 27,9 persen dibanding periode sama tahun lalu. Karena sebagian besar produk Isuzu menyasar kebutuhan komersial, kata dia, penjualan sangat dipengaruhi oleh lesunya aktivitas ekonomi. Saat ini IAMI meningkatkan layanan purnajual (aftersales service). 

Direktur Administrasi, Korporasi, dan Hubungan Eksternal PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia, Bob Azam, mengatakan anjloknya penjualan mobil pada Mei lalu berkaitan dengan PSBB di beberapa daerah. Salah satu jalan yang tengah didorong adalah digitalisasi dalam strategi penjualan.

Deputy Marketing Director Hyundai Mobil Indonesia, Hendrik Wiradjaja, mengatakan anjloknya penjualan dari berbagai jaringan juga disebabkan oleh turunnya permintaan ekspor dari negara-negara Asia lainnya.

Pasar Mobil Listrik Bertumbuh

Ayutyas 28 Jun 2020 Tempo, 17 Jun 2020

Meski 2019 menjadi tahun yang sulit bagi industri otomotif dunia, penjualan mobil listrik terus bertumbuh. 

Menurut Global EV Outlook, penjualan mobil listrik naik 2,1 juta unit tahun lalu. Ini membuat stok global menjadi 7,2 juta unit. 

Cina merupakan pasar kendaraan listrik terbesar, diikuti Eropa dan Amerika Serikat.

Menyelamatkan Industri Otomotif

Ayutyas 20 Jun 2020 Bisnis Indonesia, 18 Jun 2020

Industri otomotif adalah salah satu sektor yang sangat sensitif terhadap perubahan. Jika diibaratkan tubuh manusia, sektor ini serupa dengan seorang penderita alergi yang cenderung mudah reaktif terhadap gangguan kecil. 

Sejumlah prinsipal global masih gencar melakukan inovasi dan rekayasa teknologi, tetapi dalam lingkup yang serba terbatas. Ini akibat dana riset dan pengembangan yang dialokasikan para prinsipal juga kian ramping. 

Sektor otomotif, yang masuk dalam kelompok industri unggulan nasional selama berdasawarsa, ini padahal selalu menjadi andalan baik untuk menyedot tambahan investasi, ekspor, tenaga kerja, maupun pengembangan teknologi. Namun, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) membeberkan bahwa realisasi penjualan ritel otomotif pada Mei 2020 sudah terperosok ke level terdalam, dengan angka penurunan mencapai 82% dibandingkan dengan bulan yang sama tahun lalu (year-onyear/y-o-y). 

Pada saat yang sama, penjualan mobil dari pabrikan ke dealer pada bulan tersebut terjun bebas 95,77% (y-o-y) menjadi hanya tersisa 3.551 unit. 

Pabrikan melihat penurunan pasar yang sangat masif diakibatkan dampak penerapan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang meluas ke sejumlah daerah. Kondisi ini menghambat saluran dan rantai distribusi produk dan komponen mengingat banyak dealer, showroom, dan bengkel ditutup. 

Langkah rasional pabrikan selanjutnya adalah melakukan efisiensi di semua lini bisnis seperti belanja barang, litbang, upah, dan menyusutkan jumlah pekerja. 

PT Nissan Motor Indonesia (NMI) pun dengan terpaksa menutup fasilitas pabriknya pada akhir Mei 2020. Perusahaan hanya akan berkonsentrasi penuh di pabrik Thailand sebagai basis produksi tunggal untuk pasar Asia Tenggara. 

Masuknya fase kebangkitan ekonomi (reopening economy) harus segera direspons pemerintah mengerahkan segenap tenaga. Respons ini bisa dalam bentuk pemberian stimulus seperti memberikan insentif penggunaan listrik dan gas untuk operasional dan relaksasi pajak yang jelas.

Pemberian diskon harga mobil ke konsumen hanya akan menjadi gimik jangka pendek. Setelah produk dibeli, konsumen tetap dihadapkan pada beban pajak kendaraan yang tinggi. Itulah sebabnya diskon harga mobil bukan menjadi solusi jangka panjang.

Mobil Terjual Saat PSBB April

Ayutyas 14 Jun 2020 Kompas, 29 Mei 2020

Pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang berlaku mulai 10 April 2020 di DKI Jakarta memberikan dampak signifikan pada angka penjualan mobil. Diler dan pabrik mobil tidak diizinkan beroperasi selama masa pandemi, tetapi transaksi pembelian dapat disiasati secara daring. Total penjualan mobil pada April 2020 hanya sekitar 10 persen dari total penjualan mobil pada bulan sebelumnya. Angka ini sudah mencakup jumlah mobil yang dijual secara ritel, ekspor, dan impor. Layanan purnajual pun dilakukan di tempat tinggal konsumen. Penjualan mobil selama April 2020 hanya mencapai 7,871 unit atau 9,34% dari penjualan pada bulan yang sama di tahun sebelumnya sebanyak 84,529 unit dengan Mobil bermerek dari Jepang mendominasi pasar.


Tahun Ini, Pasar Mobil Bakal Macet

Ayutyas 14 Jun 2020 Kontan, 27 Mei 2020

Laju industri mobil semakin tersendat. Bahkan, penjualan mobil nasional menurun secara ekstrem sejak kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) bergulir. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat, volume penjualan pada April lalu hanya mencapai 7.871 unit. Angka itu merosot hingga 90% dari 84.056 unit terjual di bulan yang sama tahun sebelumnya. Meski saat ini dengan relaksasi PSBB industri otomotif masih pesimistis hal tersebut langsung berdampak positif bagi pasar karena tidak serta merta meningkatkan daya beli masyarakat. Gaikindo memproyeksikan volume penjualan mobil penurunan 43% pada semester ini. Marketing Director PT Astra Daihatsu Motor, Amelia Tjandra, bahkan memperkirakan pasar otomotif kembali anjlok lebh tajam di bulan Mei. Dia memprediksikan pasar mobil baru kembali terungkit sedikit pada Juni 2020.

Di sepanjang semester pertama tahun ini, Daihatsu menargetkan bisa menjaga pangsa pasar ritel di level 17%. Pada April 2020, Daihatsu bertengger di posisi kedua pasar mobil nasional sebanyak 1.330 unit. Namun volume penjualan itu turun hingga 91% dibandingkan penjualan di bulan yang sama tahun lalu sebanyak 16.126 unit. Selain faktor PSBB, Direktur Pemasaran PT Toyota Astra Motor, Anton Jimmi Suwandi, menilai permintaan mobil bergantung pada beberapa hal, mulai dari perekonomian nasional hingga kemudahan pengajuan kredit kendaraan bermotor.

Oleh karena itu, Toyota saat ini fokus menjaga perolehan pangsa pasar, alih-alih mengejar pertumbuhan volume penjualan. "Target kami adalah posisi nomor satu dengan market share yang cukup baik di atas 31%," ujar dia. Selama empat bulan pertama tahun ini, Toyota berhasil mengamankan pangsa pasar dengan volume penjualan 77.419 unit. Namun dibandingkan periode yang sama tahun lalu, volume penjualan tersebut menyusut 27%. Langkah senada akan diterapkan PT Honda Prospect Motor (HPM) dengan mempertahankan pangsa pasar di sepanjang tahun ini. Sampai April 2020, Honda mencatatkan volume penjualan 37.401 unit, turun 7,6% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya 40.476 unit. Direktur Marketing HPM, Yusak Billy, berharap pasar di semester kedua lebih bergairah seiring relaksasi PSBB. Sementara itu Presiden Direktur PT Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI), Ernando Demily, menyoroti beberapa hal yang mempengaruhi pasar otomotif, khususnya kedisiplinan penanganan wabah serta eksekusi stimulus ekonomi dari pemerintah. Soal target penjualan, Isuzu tak mematok angka muluk-muluk selain mencoba menyamai pangsa pasar tahun lalu.

Pabrik Mobil Mulai Bangkit

Ayutyas 07 Jun 2020 Republika, 04 Jun 2020

Industri otomotif mulai berproduksi kembali setelah sebulan lebih menghentikan pabrik. Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia memaksa sejumlah industri otomotif melakukan penangguhan produksi. Namun, kini, beberapa pabrikan sudah mulai kembali melakukan kegiatan operasional secara bertahap.

Salah satu pabrikan yang sudah melakukan kegiatan produksi adalah Suzuki. 4W Marketing Director PT Suzuki Indomobil Sales (SIS), Donny Saputra, mengatakan, pada tahap awal, produksi dilakukan untuk memenuhi pasar ekspor. Saat ini SIS belum mematok target produksi dan lebih menekankan pada evaluasi demi memastikan bahwa proses produksi yang dilakukan dapat berjalan dengan baik dan aman. 

President Director PT Suzuki Indomobil Motor/PT Suzuki Indomobil Sales, Seiji Itayama, menjelaskan, pada tahap awal Suzuki memang mengurangi volume produksi dan secara bertahap akan melakukan evaluasi agar volumenya bisa ditingkatkan.

Toyota pun melakukan langkah yang sama. Direktur Administrasi, Korporasi dan Hubungan Eksternal PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Bob Azam mengatakan, fasilitas produksi Toyota akan mulai beroperasi pada 5 Juni 2020 dan dilakukan dengan protokol kesehatan yang ketat.

Sementara itu, Honda belum juga melakukan reaktivasi. Business Innovation and Sales & Marketing Director PT Honda Prospect Motor, Yusak Billy, menjelaskan, Honda masih belum melakukan proses produksi. Namun, ia tetap optimistis karena ia yakin penerapan new normal nantinya akan mampu membuat kebutuhan kendaraan kembali meningkat.

Pandemi telah mempengaruhi biaya produksi mobil. Mengingat, kondisi yang ada saat ini telah berdampak pada proses produksi serta rantai pasokan. Hal ini pun terpaksa membuat PT Mitsubishi Motos Krama Yudha Sales Indonesia (MM KSI) melakukan kenaikan harga kendaraan. Head of Sales & Marketing Group MMKSI, Imam Choeru Cahya mengatakan, penyesuaian harga mulai diberlakukan pada Juni 2020.

Business Innovation and Sales & Marketing Director PT Honda Prospect Motor, Yusak Billy mengatakan, hingga saat ini Honda belum melakukan penyesuaian harga yang berkaitan dengan dampak dari Covid-19. Hal senada disampaikan oleh 4W Marketing Director PT Suzuki Indomobil Sales, Donny Saputra yang mengatakan bahwa Suzuki tidak melakukan penyesuaian harga pada bulan Juni.

Ekspor Jadi Penyelamat

Ayutyas 07 Jun 2020 Kompas, 4 Juni 2020

Badai pandemi Covid-19 juga menghantam sektor industri otomotif. Pada saat sektor ini berusaha merangkak naik di tengah penurunan penjualan dalam dua tahun terakhir, pandemi membuat penjualan terpuruk. Ajang pameran otomotif Indonesia International Motor Show 2020 yang sedianya digelar awal April dibatalkan. Adapun, Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2020 diundur dari Agustus ke Oktober-November. Padahal, ajang semacam ini dapat mendongkrak penjualan. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) memprediksi pasar otomotif 2020 akan anjlok 50 persen dibandingkan dengan 2019.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita yakin industri otomotif masih jadi andalan ekspor nasional kendati dalam situasi pandemi Covid-19. Pada akhir 2019, ekspor industri otomotif meningkat 2,2 persen secara tahunan menjadi 6,3 miliar dollar AS. Agus menyebutkan, ada sejumlah pesanan produk otomotif Indonesia dari negara lain dan rencana pengiriman dimulai bulan depan. Hal ini mengindikasikan pasar ekspor produk otomotif nasional masih bergeliat.

Direktur Administrasi, Korporasi, dan Hubungan Eksternal PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Bob Azam mengatakan, Pukulan terasa pada triwulan II, turun 50 persen secara tahunan dan Triwulan III dan IV bergantung pada penanganan Covid-19 dan stimulus di setiap negara, tidak hanya Indonesia. Bob menambahkan, berdasarkan berbagai asumsi, pihaknya menyiapkan diri jika krisis molor hingga akhir tahun depan. Kesiapan itu diperlukan karena TMMIN juga menggarap pasar ekspor. Menurut Bob, sekitar 50 persen produk TMMIN mengisi pasar ekspor.

Kebutuhan mengisi pasar ekspor bisa jadi penyelamat pada saat permintaan dalam negeri merosot tajam. Pada pertengahan April 2020, TMMIN sempat mengaktifkan pabrik dua pekan setelah berhenti dua pekan untuk mengisi ekspor karena permintaan ekspor masih ada. Tuntutan ekspor juga membuat PT Suzuki Indomobil Motor mengaktifkan pabrik di Jakarta dan Bekasi sejak 26 Mei 2020 kendati PSBB belum resmi dicabut sebagaiaman dilansir Seiji Itayama, President Director PT Suzuki Indomobil Motor/PT Suzuki Indomobil Sales.

Wakil Presiden Direktur PT Toyota Astra Motor (TAM) Henry Tanoto tak menampik kondisi industri otomotif menghadapi permintaan pasar yang melemah akibat pandemi Covid-19. Kondisi ini terlihat dari penjualan yang mulai merosot sejak akhir Maret, berlanjut pada April dan Mei. Namun, Henry optimistis kondisi akan membaik pada paruh kedua tahun ini.

Donny Saputra, Direktur Pemasaran Roda 4 PT Suzuki Indomobil Sales, menuturkan penjualan Suzuki melorot baik untuk pasar ekspor maupun pasar dalam negeri. Namun, dalam kondisi berat itu, salah satu model Suzuki, yaitu Suzuki APV, justru membukukan peningkatan penjualan. Alasannya, mobil itu banyak dijadikan ambulans dalam pandemi Covid-19. Sementara, Prianto, HR & GA Director PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Indonesia (MMKI), mengatakan, hingga kini masih memantau situasi terkini untuk kembali memulai aktivitas produksi Mitsubishi di pabrik di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Dia menambahkan, Mitsubishi akan memproduksi kendaraan sesuai permintaan, termasuk untuk ekspor.