Menyelamatkan Industri Otomotif
Industri otomotif adalah salah satu sektor yang sangat sensitif terhadap perubahan. Jika diibaratkan tubuh manusia, sektor ini serupa dengan seorang penderita alergi yang cenderung mudah reaktif terhadap gangguan kecil.
Sejumlah prinsipal global masih gencar melakukan inovasi dan rekayasa teknologi, tetapi dalam lingkup yang serba terbatas. Ini akibat dana riset dan pengembangan yang dialokasikan para prinsipal juga kian ramping.
Sektor otomotif, yang masuk dalam kelompok industri unggulan nasional selama berdasawarsa, ini padahal selalu menjadi andalan baik untuk menyedot tambahan investasi, ekspor, tenaga kerja, maupun pengembangan teknologi. Namun, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) membeberkan bahwa realisasi penjualan ritel otomotif pada Mei 2020 sudah terperosok ke level terdalam, dengan angka penurunan mencapai 82% dibandingkan dengan bulan yang sama tahun lalu (year-onyear/y-o-y).
Pada saat yang sama, penjualan mobil dari pabrikan ke dealer pada bulan tersebut terjun bebas 95,77% (y-o-y) menjadi hanya tersisa 3.551 unit.
Pabrikan melihat penurunan pasar yang sangat masif diakibatkan dampak penerapan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang meluas ke sejumlah daerah. Kondisi ini menghambat saluran dan rantai distribusi produk dan komponen mengingat banyak dealer, showroom, dan bengkel ditutup.
Langkah rasional pabrikan selanjutnya adalah melakukan efisiensi di semua lini bisnis seperti belanja barang, litbang, upah, dan menyusutkan jumlah pekerja.
PT Nissan Motor Indonesia (NMI) pun dengan terpaksa menutup fasilitas pabriknya pada akhir Mei 2020. Perusahaan hanya akan berkonsentrasi penuh di pabrik Thailand sebagai basis produksi tunggal untuk pasar Asia Tenggara.
Masuknya fase kebangkitan ekonomi (reopening economy) harus segera direspons pemerintah mengerahkan segenap tenaga. Respons ini bisa dalam bentuk pemberian stimulus seperti memberikan insentif penggunaan listrik dan gas untuk operasional dan relaksasi pajak yang jelas.
Pemberian diskon harga mobil ke konsumen hanya akan menjadi gimik jangka pendek. Setelah produk dibeli, konsumen tetap dihadapkan pada beban pajak kendaraan yang tinggi. Itulah sebabnya diskon harga mobil bukan menjadi solusi jangka panjang.
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023