Otomotif
( 408 )Akselerasi Pemulihan Penjualan, Otomotif Butuh Terobosan Baru
Akselerasi pemulihan sektor otomotif Tanah Air pada tahun ini masih menantang, tercermin dari target penjualan kendaraan roda empat yang sangat konservatif. Perlu adanya terobosan baru agar industri ini benar-benar pulih, paling tidak bisa menyamai bahkan melebihi penjualan sebelum pandemi Covid-19. Pada 2022, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) memproyeksikan penjualan mobil baru sebanyak 900.000 unit. Artinya, hanya meningkat tipis (4,2%) dibandingkan dengan tahun sebelumnya 863.359 unit. “Proyeksi penjualan 2022 adalah 900.000 unit,” ujar Ketua I Gaikindo Jongkie Sugiarto seperti dikutip Antara, Sabtu (8/1). Menurut dia, target penjualan 900.000 unit mobil baru pada 2022 dipandang realistis, mengingat laju roda perekonomian mulai kembali bergerak meskipun daya beli masyarakat belum kembali secara utuh. Terlebih, target penjualan mobil baru sebanyak 750.000 unit pada 2021 berhasil terlampaui.
Tantangan Menekan Harga Kendaraan Listrik
Kendaraan listrik di Indonesia masih mahal, mobil listrik Rp 600 juta-Rp 800 juta per unit, daya beli mayoritas masyarakat Rp 250 juta-Rp 300 juta per unit. Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Pandjaitan dalam webinar ”Investment of Electric Vehicle in Indonesia” oleh Intelligent Transport System (ITS) Indonesia (17/11/21) mengakui, mahalnya kendaraan listrik jadi tantangan, insentif siap diberi supaya harganya terjangkau. Seperti mobil Wuling, harga jualnya Rp 150 juta per unit, bisa jadi mobil rakyat dan dibangun di sini, bahan bakunya dari kita, kata Luhut. Biaya tertinggi produksi mobil listrik terletak pada baterai. Karenanya, sejak 2019 Hyundai, berkomitmen dirikan pabrik kendaraan listrik di Indonesia, perakitan juga manufakturnya. Pabrik sudah selesai dan akan produksi mobil model sport utility (SUV), multipurpose vehichle (MPV), dan mobil listrik dengan kapasitas produksi 250.000 unit per tahun. Direktur Pemasaran PT Hyundai Motors Indonesia Erwin Djajadiputro berkata, untuk fokus produksi baterai, Hyundai Motor Group bersama LG Energy Solution akan bangun pabrik mulai 2023, yang produksi baterai cell 10 GWh per tahun untuk konsumsi 150.000 kendaraan listrik. Dirut Indonesia Battery Corporation (IBC) Toto Nugroho mengakui, banyak tahapan untuk memanfaatkan hasil pertambahan sebagai bahan baku baterai, bijih nikel diubah jadi battery chemical dan cell component, lalu proses katoda dan anoda. Dengan menambah konten nikel, densitas energi baterai naik dan harganya turun. Pasca pemakaian 8-9 tahun perlu investasi industri daur ulang baterai. (Yoga)
Emiten Komponen Otomotif Kian Menderu
Sejumlah emiten komponen otomotif optimistis bisa meraih pertumbuhan kinerja pada tahun depan. Hal ini tak lepas dari kondisi ekonomi yang berangsur pulih dari tekanan pandemi Covid-19. PT Astra Otoparts Tbk (AUTO) berharap pendapatan tahun depan akan lebih tinggi ketimbang realisasi tahun ini. Direktur AUTO Wanny Wijaya mengatakan, pemulihan kinerja AUTO telah terlihat dari tingginya tingkat utilisasi hingga kuartal III-2021 yang mencapai 80%-90%.
Mesin Penjualan Otomotif Kembali Berderum
Industri otomotif nasional mulai terlihat bangkit di pengujung tahun 2021. Ajang pameran otomotif, plus guyuran insentif PPnBM ikut memompa penjualan mobil di kuartal terakhir tahun ini. Salah satu pabrikan yang merajai pameran adalah Toyota. PT Toyota Astra Motor (TAM) mencatat penjualan mobil di GIIAS 2021 mencapai 3.818 unit. Direktur Pemasaran TAM, Anton Jimmy Suwandi menilai, industri otomotif mulai bangkit. Hal ini tidak hanya mengacu angka penjualan, tetapi juga antusiasme masyarakat yang datang ke pameran.
Emiten Komponen Otomotif, Kinerja Menderu
Sejumlah emiten produsen komponen terimbas positif dari kinerja cemerlang sektor otomotif. Kinerja hingga akhir tahun pun diperkirakan makin mentereng.
Emiten suku cadang PT Astra Otoparts Tbk. (AUTO) juga mencatatkan kinerja cemerlang hingga kuartal III/2021. Emiten berkode AUTO ini bakal merambah pengembangan manufaktur suku cadang kendaraan listrik mulai tahun depan. “Kami terikat dengan non disclosure agreement dengan partner dan calon partner. Jadi tak bisa ekspos detil. Namun, kami di kondisi menyiapkan proses diversifikasi dan inovasi, baik terkait kendaraan elektrifikasi dan segmen baru itu kesehatan,” tutur Presiden Direktur AUTO Hamdhani Dzulkarnaen Salim.Saat ini, fokus AUTO pada produksi komponen untuk internal combustion engine sambil menyiapkan segala sesuatunya dalam menyambut era kendaraan listrik. Head of Equity Trading MNC Sekuritas Medan Frankie Wijoyo Prasetio menilai dari laporan keuangan kuartal III/2021 ini, rata-rata emiten komponen otomotif mencatatkan pertumbuhan kinerja. “Yang membuat sektor komponen otomotif ini lebih gemilang adalah seluruhnya juga mencatat pertumbuhan laba bersih,” ujarnya kepada Bisnis. Frankie menambahkan perbaikan ekonomi ikut juga mendongkrak daya beli masyarakat. Wal-hasil, kinerja emiten komponen otomotif bakal maksimal sampai penghujung tahun ini.
Industri Otomotif, ISI Usul Diskon Pajak Hingga 2024
Institute of Startegi Initiative mengusulkan diskon pajak penjualan atas barang mewah dirancang untuk jangka menengah setidaknya hingga 2024. Direktur Institute of Strategic Initiative (ISI) Lucky Djani mengatakan hal ini terutama untuk menjaga keberlanjutan dampak pengganda pada industri komponen otomotif. Dengan pertumbuhan permintaan dari pabrikan, imbuhnya, industri komponen membutuhkan waktu untuk investasi meningkatkan kapasitas produksi sehingga nilai keekonomiannya tercapai. "Misalnya pemberian PPnBM DTP (Barang Mewah Ditanggung Pemerintah) sampai 2024 sehingga para pelaku usaha, pabrik-pabrik komponen bisa menyesuaikan," katanya dalam webinar, Kamis (23/9).
Ketua 1 Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie Sugiarto mengusulkan perlakuan kembali PPnBM pada awal tahun depan dilakukan secara bertahap guna menjaga permintaan. Bila kebijakan itu tidak diterapkan, menurutnya, akan terjadi demand shock karena adanya kenaikan harga mobil. Menurutnya, volume permintaan dan penjualan perlu dijaga untuk membuka keran investasi dan mengembangkan industri turunan otomatif dalam negeri. Berdasarkan catatan ISI, insentif PPnBM memberikan dampak peningkatan permintaan disektor industri sebesar Rp29 triliun. Porsi permintaan terbesar terjadi di industri kendaraan bermotor, trailer dan semi trailer mencapai 26 triliun, industri karet barang dari karet dan plastik sebesar Rp736 miliar, dan industri peralatan listrik sebesar Rp609 miliar. (yetede)
Konversi Sepeda Motor Harus Penuhi Keekonomian
Menurut Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform Fabby Tumiwa, sepeda motor listrik, baik konversi maupun pembelian baru, mesti mengikuti selera konsumen. "Sayangnya, konversi ke sepeda motor listrik belum ekonomis," ujarnya saat dihubungi, Minggu. Biaya konversi ke sepeda motor listrik berkisar Rp 15 juta - Rp 20 juta per unit, sedangkan harga sepeda motor berbasis BBM yang baru juga berada di rentang yang sama. Sepeda motor berbasis BBM bekas sekitar Rp 8 juta - Rp 15juta per unit, tergantung tipe dan usia penggunaan. Dengan demikian, pilihan konversi ke sepeda motor listrik menjadi kurang menarik. Di saat yang bersamaan, lanjut Fabby, pemerintah perlu meningkatkan minat pasar pada kendaraan listrik. Pemerintah bersama dengan perusahaan tersebut juga mesti merumuskan skema pembiayaan konversi sepeda motor bagi mitranya.
Pada Rabu , Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif meluncurkan proyek percontohan "Konversi Sepeda Motor Mesin Penggerak BBM ke Motor Listrik" dalam rangka mempercepat program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai. Arifin menilai, konversi ke sepeda motor listrik dapat berdampak ganda dan menciptakan lapangan kerja.
Pelaksana Tugas Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian ESDM Dadan Kusdiana memperinci, proyek itu menyasar 108 unit sepeda motor di Kementerian ESDM yang memiliki nilai buku Rp 0 per Juni 2021. Menurut dia, Kementerian ESDM dapat membina bengkel skala UMKM yang belum memiliki alat dan fasilitas memadai untuk mengonversi sepeda motor berbasis BBM ke listrik. Peraturan Menteri Perhubungan No 65/2020 tentang Konversi Sepeda Motor Dengan Penggerak Motor Bakar Menjadi Sepeda Motor Listrik Berbasis Baterai menyatakan, persetujuan bengkel umum untuk melakukan konversi diberikan Kementerian Perhubungan. Untuk memenuhi target jumlah sepeda motor listrik pada 2030, Fabby menilai, konversi menjadi langkah yang relatif mudah ditempuh.
Industri Otomotif, Gaikindo Berharap Insentif PPnBM Diperpanjang
Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) berharap insentif pajak penjualan atas barang mewah atau PPnBM dapat diperpanjang hingga akhir 2021. Ketua Umum Giakindo Yohannes Nangoi mengatakan stimulus itu terbukti mampu menyelamatkan industri otomotif dari krisis pandemi Covid-19. "Harapan PPnBM (berlangsung) sampai akhir 2021 supaya industri otomotif pulih dengan tuntas,"ujarnya, Kamis (19/8). Namun, sebagai catatan, pertumbuhan tersebut belum mencerminkan kondisi normal karena sepanjang tahun lalu kinerja sektor otomotif tertekan oleh pandemi Covid-19 yang membuat aktivitas pabrik sempat terhenti.
Gaikindo mencatat produksi kendaraan bermotor roda empat atau lebih sepanjang Juli 2021 anjlok 25,1% secara bulanan atau menjadi 74,409 unit. Penurunan ini terjadi seiring dengan penerapan PPKM di Jawa dan Bali. "Di Bulan Agustus saya rasa juga belum bisa kembali ke angka yang diharapkan karena produksi juga masih kurang.
Direktur Institute Strategic Initiatives (ISI) Lucky Djani mengatakan relaksasi PPnBM hingga menjadi 0% bisa meningkatkan volume penjualan mobil, penyerapan tenaga kerja lebih tinggi dan pendapatan rumah tangga dan pendapatan negara serta membantu mempercepat pemuihan ekonomi nasional. Lucky mengatakan pendapatan tersebut lebih tinggi dari 2020 yang mencapai Rp3,3 trilliun. Namun, dia juga menyebutkan bahwa relaksasi PPnBM juga memiliki resiko berupa potensi penerimaan yang hilang. (YTD)
Mobil Tiongkok Kian Merangsek Pasar Indonesia
Para pabrikan otomotif dari China terus berdatangan di Indonesia. Kabar terbaru, Chery Automobile Co Ltd siap kembali masuk Indonesia pada tahun ini. Chery menjanjikan produk yang lebih segar dan canggih. "Dalam dua tahun ke depan, kami akan menghadirkan lima model baru di Indonesia, yakni SUV konvensional dan kendaraan energi baru," kata Qin Gang, Marketing Director of RHD Region.
Chery membocorkan salah salu model kendaraan yang akan masuk Indonesia adalah EQ1, mobil berbasis energi baru. EQ1 yang pertama kali meluncur pada 2017 memang menjadi satu model unggulan Chery. Model teranyar, EQ1 2021, diklaim memiliki spesiflkasi lebih canggih, seperti mulai menggunakan baterai, keamanan, efisiensi, tampilan, hingga performa. Qin enggan menyebutkan harga terbaru EQ 1. Namun saat peluncuran di China tahun 2017 lain, harga EQ1 berkisar US$ 7.240 hingga US$ 14.516 per unit setara Rp 105 juta hingga Rp 210 juta. "Chery juga akan membenamkan investasinya di Indonesia secara langsung dan membangun pabrik fasilitas produksi," ungkap Qin, tanpa menyebutkan nilai investasi tersebut.
Selain Chery, dua brand mobil China yang kini mulai eksis di pasar Indonesia adalah Wuling dan DFSK. Bahkan penjualan Wuling, yang kini memiliki lebih dari 100 jaringan diler di Indonesia, terus menanjak melampaui sejumlah merek seperti Hyundai, Mazda dan Nissan. Selama Januari hingga Juni tahun ini, misalnya, Wuling mencatatkan penjualan wholesales 10.973 unit dengan pangsa pasar 2,8%. Wuling menempati posisi ketujuh merek mobil penumpang paling laris di Indonesia, melampaui Mazda, KIA, Hyundai dan Nissan. Automobile juga mencatatkan tren penjualan positif, meski tak sekencang laju Wuling.
Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia, Jongkie D Sugiarto mengungkapkan, Chery mernang sudah berkomunikasi dengan Gaikindo. "Kami menyambut baik merek apapun untuk masuk ke Indonesia," kala dia.
Pengamat Otomotif, Bebin Djuana menilal, otomotif China tidak mudah menguasai pasar. Dalam hal reputasi, pemain Jepang sudah memenangi hati konsumen Indonesia. Contohnya, produk Korea yang sudah dua dasawarsa mengaspal belum mendapatkan porsi memadai di pasar Tanah Air. Di sisi lain, pabrikan China mulai belajar bahwa konsumen Indonesia membutuhkan kepastian layanan after sales yang mumpuni.
Geliat dan Prospek Otomotif di Masa Pandemi
Bangkitnya industri otomotif nasional pada semester pertama tahun ini memberikan harapan dan angin segar bagi tumbuhnya ekonomi nasional. Januari hingga Juni 2021 ini, penjualan mobil dari pabrikan ke diler mencapai 393.469 unit atau naik 50,79 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, yakni 260.932 unit. Penjualan dari diler kepada konsumen pada semester pertama tahun ini berjumlah 387.873 unit atau meningkat 33,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2020, yakni 290.580 unit. Bukan hanya di dalam negeri, penjualan secara ekspor turut meningkat. Semester pertama tahun ini, ekspor mobil secara utuh tercatat 146.985 unit, naik jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yakni 105.229 unit. Sementara ekspor mobil secara terurai sebesar 52.816 unit.
Berbeda dengan tahun ini yang mulai tumbuh, pada tahun 2020 lalu, penjualan mobil turun drastis terimbas pandemi Covid19 yang diikuti sejumlah pembatasan. Unit pada 2019 menjadi 532.407 unit pada tahun 2020. Mulai pulihnya industri otomotif pada semester pertama tahun ini tak lepas dari kebijakan stimulus untuk sektor ini.
Data Kemenperin menunjukkan, terdapat 22 perusahaan yang bergerak dalam industri kendaraan bermotor roda empat atau lebih. Terdapat pula sekitar 1.550 perusahaan industri bahan baku dan komponen otomotif dalam negeri yang terdiri dari 550 perusahaan industri tier 1 serta 1.000 perusahaan industri tier 2 dan 3. Sektor ini menyumbangkan nilai investasi sebesar Rp 99,16 triliun dengan total kapasitas produksi mencapai 2,35 juta unit per tahun.
Sementara itu,terdapat 120 juta penduduk lain yang tergolong sebagai aspiring middle class atau kelas menengah harapan. Mereka ini adalah kelompok yang tak lagi miskin dan sedang beranjak menuju kondisi ekonomi yang lebih mapan. Kelas menengah dicirikan dengan perilaku konsumsinya yang cenderung berorientasi pa da pemenuhan kebutuhan sekunder, bahkan tersier. Dengan rasio kepemilikan kendaraan ber motor roda empat di Indonesia yang masih relatif rendah, yaitu 99 kendaraan per 1.
Pilihan Editor
-
Instruksi Pusat Untuk Rencana Penambangan
21 Feb 2022 -
Separuh Investor Tak Wajib Bayar Bea Meterai
22 Feb 2022 -
Menakar Prospek Usaha Sang Sultan Andara
22 Feb 2022









