Migas
( 497 )Produksi OPEC+ dan Ekonomi China Goyang Harga Minyak
Harga minyak jatuh ke level terendah sejak akhir tahun lalu. Penurunan harga minyak kali ini adalah perlambatan ekonomi.
Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) kontrak pengiriman Januari 2023 berada di US$ 70,5 per barel pada Senin (12/12) pukul 18.45 WIB. Ini merupakan level harga minyak terendah dalam sejak Desember 2021.
Analis DCFX Futures Lukman mengatakan Produksi OPEC+ dan Ekonomi China Goyang Harga Minyak , harga minyak dunia turun akibat sentimen penurunan permintaan, karena perlambatan ekonomi global. Pelonggaran kebijakan lockdown Covid-19 di China juga dikhawatirkan akan meledakkan jumlah kasus dan justru kembali menjadi full lockdown.
Kecuali permintaan dari China meningkat atau OPEC kembali memangkas produksi, harga minyak masih akan terus tertekan tahun depan.
Mengungkit Investasi Hulu Migas
Optimisme terus menggelora di sektor minyak dan gas bumi Indonesia. Di tengah melandainya investasi hulu migas, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi atau SKK Migas memastikan bahwa realisasi investasi hulu migas pada 2022 tetap memperlihatkan performa positif. Kendati realisasi investasi hulu migas pada pengujung 2022 diproyeksikan berada di kisaran US$12,1 miliar, atau lebih rendah dari target awal sebesar US$13,2 miliar, tetapi angka tersebut masih lebih tinggi dibandingkan dengan 2021. Berdasarkan data SKK Migas, investasi hulu migas pada 2021 berada di angka US$10,9 miliar.
Upaya investor menahan investasi ini bertujuan menjaga posisi keamanan kas dari ancaman krisis global. Dana yang diperoleh KKKS digunakan untuk membayar utang ke investor. Kendati investasi hulu migas masih dinilai positif tetapi masih banyak pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan.
Pertamina Jamin Pasokan LPG dan BBM Aman Untuk Nataru
JAKARTA, ID - PT Pertamina Patra Niaga menjamin pasokan LPG dan bahan bakar minyak (BBM) untuk kebutuhan Natal 2022 dan tahun baru 2023 (Nataru) dalam kondisi aman. Pertamina juga menyiagakan ratusan personel serta infrastruktur seperti terminal BBM dan LPG, hingga SPBU. Kondisi ketahanan stok LPG cukup untuk 16,67 hari dengan jumlah 28.188 metrikton per hari. Sementara untuk kerosene atau minyak tanah, tersedia 79,27 hari atau 1.354 KL per hari, Pertalite tahan selama 16,92 hari dengan konsumsi 84.720 kilo liter (KL) per hari, Pertamax 42,14 hari dengan konsumsi 12.801 KL per hari, dan Pertamax Turbo 51,15 hari dengan 749,1 KL per hari. Lalu solar atau bio 20,85 hari. Dexlite, karena itu campuran, jadi sekitar 1,99 hari. Dex 59,43 hari, dan avtur 30,32 hari,” papar Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution dalam Rapat Dengar Perndapat dengan Komisi VI DPR RI di Jakarta, Rabu (7/12). “Kami prediksi akan ada peningkatan LPG sebanyak 2,5%, kerosene 0,8%, Pertalite 4,5%, Pertamax 2,9%, Pertamax Turbo 18%,” katanya. (Yetede)
CAPAIAN LIFTING NASIONAL : Teknologi Dorong Produksi Migas
Pengembangan industri hulu minyak dan gas bumi atau migas membutuhkan implementasi teknologi terkini untuk mengoptimalkan potensi di dalam negeri yang belakangan banyak ada di laut dalam.Wakil Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Nanang Abdul Manaf mengatakan, teknologi menjadi kunci dalam meningkatkan produksi migas nasional.Menurutnya, teknologi akan memegang peranan yang penting bagaimana bisa memonetisasi gas marginal di area remote yang bisa dikembangkan secara komersial.
Presiden Direktur Pertamina EP Wisnu Hindadari mengatakan bahwa, pihaknya telah menerapkan integrated monitoring system (IMS) sebagai salah satu bentuk implementasi transformasi digitalisasi di industri hulu migas.
OPEC+ Mempertahankan Produksi Minyak Dua Juta BPH
LONDON, ID – OPEC+, yang terdiri dari Organisasi Negara Pengekspor Minyak Bumi (OPEC) dan sekutunya termasuk Rusia, menyatakan setuju mempertahankan target produksi minyaknya sebesar 2 juta barel per hari (bph) dalam pertemuan yang berlangsung pada Minggu (4/12/2022). Keputusan diambil menyusul kondisi pasar minyak yang sedang berupaya menilai dampak dari perlambatan ekonomi Republik Rakyat Tiongkok (RRT) terkait permintaan, dan pembatasa harga oleh kelompok G7 terhadap pasokan minyak Rusia. OPEC+ berpendapat bahwa pihaknya telah memangkas produksi karena prospek ekonomi yang lebih lemah. Apalagi harga minyak telah menurun sejak Oktober akibat perlambatan pertumbuhan di Tiongkok dan global, serta suku bunga yang lebih tinggi turut mendorong spekulasi pasar bahwa kelompok tersebut dapat memangkas produksi lagi. (Yetede)
Dwi Soetjipto Diprediksi Kembali Pimpin SKK Migas
JAKARTA, ID – Dwi Soetjipto diprediksi akan kembali memimpin Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas). Sedianya, masa tugas mantan dirut Pertamina ini berakhir pada 30 November kemarin, setelah menjabat selama 4 tahun di SKK Migas. Saat ini pemerintah masih memproses perihal tersebut. Menteri ESDM Arifin Tasrif tidak menyangkal atau mengiyakan adanya perpanjangan masa jabatan Dwi Soejipto sebagai Kepala SKK Migas. “Masih dalam proses. Kepastiannya segera,” kata Arifin di Jakarta, Jumat (2/12). Ketika ditegaskan kembali apakah akan ada perpanjangan masa jabatan, Arifin pun hanya tersenyum. Menurut beberapa sumber, kemungkinan besar Dwi masih dipercaya untuk memimpin SKK Migas. Pasalnya, meski masa jabatan telah berakhir pada 30 November, hingga kini pemerintah belum menunjuk penggantinya. Selain itu, tidak ada nama-nama kandidat yang beredar menjelang pergantian, bahkan hingga saat ini. (Yetede)
JALAN TERJAL INVESTASI HULU MIGAS
Di tengah upaya pemerintah mendongkrak investasi hulu migas seperti kegiatan pencarian sumber cadangan baru, sejumlah tantangan masih mengadang. Para investor mengharapkan adanya konsistensi kebijakan hulu migas dan fleksibilitas kontrak bagi hasil guna mengatrol realisasi investasi. Peristiwa hengkangnya sejumlah investor global di beberapa blok migas seperti Shell di Blok Masela pada 2020, Chevron di Indonesian Deepwater Development (IDD) pada 2019, dan ExxonMobil di Blok East Natuna pada 2017, harus menjadi perhatian serius pemangku kepentingan migas. Padahal, potensi produksi pada blok-blok migas tersebut cukup besar. Apalagi gairah investor migas menambah guyuran modal masih belum pudar. Hal ini terlihat dari realisasi investasi hulu migas Indonesia yang mencapai US$9,2 miliar per Oktober 2022. Angka ini merupakan 70% dari target US$12,1 miliar. Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) bahkan cukup optimistis ihwal pencapaian realisasi investasi hulu migas pada tahun ini, khususnya terkait kegiatan eksplorasi.
Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas Mohammad Kemal melihat perkembangan positif dari sisi eksplorasi pada tahun ini. Pihaknya memproyeksikan sampai akhir tahun ini, realisasi pengeboran sumur eksplorasi akan mencapai 35 sumur.
Batas Harga Gas Eropa Terlalu Tinggi Bagi Sebagian Negara
ATHENA, ID - Beberapa negara anggota Uni Eropa (UE) dilaporkan tidak senang dengan batas harga gas alam yang diusulkan sebesar 275 euro per megawatt jam (Mwh). Pembatasan harga yang bertujuan untuk mencegah tagihan biaya setinggi langit bagi konsumen itu dinilai terlalu tinggi bagi sebagian negara. UE memperkenalkan pembatasan harga gas itu, walaupun sangat kontroversial, untuk mengatasi krisis energi akut menyusul invasi Rusia ke Ukraina sejak akhir Februari 2022. Para pemimpin dari 27 negara anggota UE sudah memberikan dukungan politik terhadap gagasan tersebut pada akhir Oktober 2022. Menyusul negosiasi selama beberapa bulan. Namun, beberapa negara menuntut perlindungan konkret sebelum menyetujui proposal tersebut. Sementara yang lain mengatakan batas harganya terlalu tinggi. “Batas harga pada tingkat yang diusulkan oleh komisi (Eropa) sebenarnya bukan batas harga,” ujar Kostas Skrekas, menteri lingkungan dan energi Yunani, kepada CNBC pada Selasa (22/11/2022) waktu setempat, beberapa jam setelah usulan harga batas atas itu ditetapkan oleh Komisi Eropa. Skrekas menjelaskan bahwa batasan harga 275 euro bukan lah batasan harga yang diharapkan. (Yetede)
TARGET NET ZERO EMISSION : INDUSTRI MIGAS PERLU DIVERSIFIKASI
Pemerintah meminta perusahaan hulu minyak dan gas bumi melakukan diversifikasi dalam operasionalnya agar bisa menyelaraskan kegiatannya dengan upaya transisi energi yang menargetkan net zero emission pada 2060. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memandang transisi energi dan upaya mengurangi emisi karbon menjadi tantangan besar yang harus dihadapi oleh perusahaan hulu minyak dan gas bumi atau migas. Menteri ESDM Arifin Tasrif mengatakan berdasarkan laporan Emission Gap yang dikeluarkan oleh United Nations Environment Programme (UNEP), total emisi pada 2021 mencapai 52,8 giga ton CO2. Dari jumlah tersebut, energi fosil, termasuk migas menyumbang sebesar 37,9 giga ton CO2 atau sekitar 72% dari keseluruhan emisi. Hal itu membuat sejumlah lembaga pendanaan global menghentikan pembiayaan untuk proyek eksplorasi dan eksploitasi migas baru, dan beralih mendanai proyek energi baru terbarukan (EBT). Untuk itu, lanjut dia, perusahaan migas harus melakukan diversifikasi operasi dengan memperbesar investasi di luar bisnis utamanya, terutama di sektor energi yang lebih hijau.
Dua Dekade, Blok Masela Seperti Menunggu Godot
Proyek Gas Abadi Blok Masela bak menunggu godot alias menunggu sesuatu yang tak jelas. Nasib proyek yang bergulir sejak lebih dari dua dekade, hingga kini masih kabur. Perebutan hak partisipasi (PI) atau saham Blok Masela justru tampak lebih dominan ketimbang kemajuan pengembangan blok gas jumbo itu. Sederet kontraktor migas kakap mulai bermunculan untuk meminang 35% PI Blok Masela milik Royal Dutch Shell. Selain Shell asal Belanda itu, kini Inpex Corporation tercatat sebagai pemilik 65% mayoritas PI Blok Masela.
Sejauh ini Pertamina, Medco Energi, Petronas dan ExxonMobil turut mengincar 35% PI blok migas yang berlokasi di Kepulauan Tanimbar, Maluku tersebut. Kabar terbaru, raksasa migas asal China, PetroChina Company Ltd, juga melirik Blok Masela. "PetroChina juga termasuk yang berminat," kata Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto di Nusa Dua Bali, Rabu (23/11).
Direktur eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan menilai,
plan of development
(POD) proyek Blok Masela berkali-kali diubah, dan memicu mundurnya Shell dari proyek Blok Masela. Blok Masela juga membutuhkan dana pengembangan yang besar. Kondisi ini menyebabkan Inpex kesulitan mencari mitra penggantinya.
Pilihan Editor
-
Sesat Pikir Ganti Rugi Korupsi
31 Jan 2022 -
Bahaya Pencucian Uang dari NFT
30 Jan 2022 -
Awasi Distribusi Pupuk
31 Jan 2022









