APBN
( 470 )MANUVER MONETER JAGA BUNGA
Langkah pemerintah menambah anggaran subsidi energi dan menambah alokasi perlindungan sosial melalui APBN Perubahan 2022, diharapkan dapat menjaga daya tahan konsumsi di tengah ancaman kenaikan inflasi. Alhasil, sejalan dengan ekspektasi inflasi yang terkendali, Bank Indonesia pun memiliki keleluasaan untuk menetapkan kebijakan moneter yang pro pada pertumbuhan ekonomi, dan bukan berpihak pada indeks harga konsumen (IHK) sebagaimana menjadi tren otoritas moneter di banyak negara. Apalagi, BI hingga saat ini masih melonggarkan kebijakan moneter, terutama tingkat suku bunga acuan BI-7 Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) yang parkir di posisi 3,5% sejak Februari tahun lalu. Dunia usaha pun merespons antusias peluang BI menjaga suku bunga tetap rendah. Ketua Bidang Kajian Akuntansi dan Perpajakan Asosiasi Emiten Indonesia Ajib Hamdani mengatakan pelaku usaha masih membutuhkan likuiditas yang terus berputar maksimal di masyarakat.
Sinyal kepada otoritas moneter untuk tetap bertahan dengan kebijakan yang pro pada pertumbuhan juga disampaikan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Menurutnya, ada dua faktor utama yang berisiko mengganjal laju pemulihan, yakni inflasi dan tingkat suku bunga yang tinggi. Oleh sebab itu, pemerintah berkomitmen menjaga tingkat inflasi sehingga suku bunga tetap ramah dunia usaha.
Dua Opsi Perubahan Postur APBN Tahun 2022
DPR bersiap menyambut rencana pemerintah untuk mengubah postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2022. Perubahan ini perlu dilakukan lantaran semua asumsi makro ekonomi telah mengalami perubahan termasuk penerimaan negara melesat naik imbas kenaikan harga komoditas global.
Menurut Anggota Komisi XI DPR RI Muhammad Misbakhun menilai perubahan postur APBN bisa dilakukan karena dinamika makro ekonomi yang terjadi di dalam negeri maupun luar negeri. Di sisi lain pandemi Covid-19 reda. Misbakhun menyebut setidaknya ada dua opsi yang bisa dilakukan pemerintah untuk merombak APBN 2022. Opsi pertama, melalui mekanisme APBN Perubahan atau APBN-P. Opsi kedua, mengubah APBN 2022 melalui Peraturan Presiden (Perpres).
APBN Berbalik Surplus Rp 10,3 Triliun
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2022 membukukan surplus Rp 10,3 triliun atau setara 0,06% dari produk domestik bruto (PDB) selama kuartal I tahun ini, dibandingkan periode sama tahun lalu defisit Rp143,7 triliun. Per Maret 2021, defisit APBN mencapai 0,85% dari PDB. Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani pendapatan negara hingga akhir Maret 2022 mencapai Rp501,0 triliun atau tumbuh 32,1% year on year (yoy) dari periode sama tahun lalu Rp379,4 triliun. "Pendapatan negara yang tumbuh kuat 32,1% tidak hanya kerana faktor komoditas atau windfall, namun juga didorong oleh pemulihan ekonomi yang cukup solid dan merata," kata Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN Kita, Rabu. (20/4). Sementara itu, dia menyatakan, realisasi belanja negara mencapai Rp 490,6 triliun, namun 10,3%. Adapun tingkatan penyaluran transfer ke daerah dan dana desa tumbuh 2% dan menjadi Rp176,5 triliun. (Yetede)
Serapan Anggaran Jelang Akhir Tahun Sisakan Masalah
Belanja pemerintah dalam APBN sejak 2017 hingga 2021 tumbuh rata-rata 8,59 % per tahun. Dalam kurun tersebut, realisasi belanja rata-rata di atas 90 % target. Namun, ada masalah berupa kerap terlambatnya realisasi belanja barang dan belanja modal. Pada tahun anggaran 2021, pemerintah mencatatkan realisasi anggaran belanja sebesar Rp 2.786,37 triliun. Peningkatan belanja dipicu penanganan pandemi Covid-19 sejak awal 2020. ”Peningkatan realisasi belanja didorong juga oleh program PEN (pemulihan ekonomi nasional) untuk melindungi ekonomi dari keterpurukan akibat pandemi,” ujar Dirjen Perbendaharaan Kemenkeu Hadiyanto dalam rakornas pelaksanaan anggaran tahun 2022, Selasa (12/4). Kendati ada peningkatan realisasi belanja, imbuh Hadiyanto, tantangan kinerja anggaran belanja negara yang datang dari keterlambatan realisasi belanja barang dan belanja modal. Realisasi belanja modal 2021 mencapai 97,9 %. Dalam realisasi hingga Oktober 2021, capaiannya 48,1 %. Dengan demikian, sisa belanja 49,8 % baru dieksekusi pada November dan Desember di 2021.
Direktur Pelaksanaan Anggaran Direktorat Jenderal Perbendaharaan Kemenkeu Tri Budhianto menambahkan, realisasi belanja barang berupa perjalanan dinas dan belanja bantuan pemerintah yang tidak tersebar merata menjadi salah satu penyebab penumpukan anggaran belanja di akhir tahun. Sementara dari aspek belanja modal, penumpukan kerap terjadi karena tidak kunjung terealisasinya anggaran belanja untuk peralatan dan mesin. Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad menegaskan, lambatnya realisasi anggaran belanja negara melemahkan sumbangsih APBN terhadap perekonomian nasional. (Yoga)
APBN Disiapkan untuk Topang Daya Beli Rakyat
APBN awal tahun ini akan kembali bekerja keras untuk meredam dampak negatif kenaikan harga bahan pokok. Pemerintah memanfaatkan APBN sebagai instrumen untuk memastikan inflasi tidak mengganggu daya beli masyarakat yang tengah beranjak pulih dari pandemi Covid-19. Dirjen Anggaran Kemenkeu Isa Rachmatarwata dalam konferensi pers APBN Kita secara virtual, Senin (28/3) mengatakan, pemerintah memastikan APBN akan meredam dampak inflasi global yang merembet pada kenaikan harga pangan dan energy, APBN bisa dimanfaatkan untuk penebalan program perlindungan sosial ataupun peningkatan subsidi energi dan non-energi. Hingga 28 Februari 2022, realisasi anggaran perlindungan sosial Rp 49 triliun atau tumbuh 24,1 % dibandingkan realisasi periode yang sama tahun sebelumnya, yang didorong oleh realisasi subsidi energi untuk BBM, elpiji 3 kg, serta listrik Rp 21,7 triliun. Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu Febrio N Kacaribu mengatakan, berdasarkan perhitungannya, inflasi sepanjang tahun ini akan tetap dalam target pemerintah dalam rentang 2-4 %. Kalkulasi ini sudah termasuk dalam perhitungan kenaikan harga dan kenaikan PPN dari 10 % menjadi 11 %. (Yoga)
APBN, Saldo Lebih Dipakai untuk Kurangi Utang
Dalam rapat dengar pendapatan dengan Komisi XI DPR, Dirjen Perbendaharaan Kemenkeu Hadiyanto (21/3) mengatakan, saldo anggaran lebih (SAL) APBN 2022 akan dioptimalkan untuk mengurangi pembiayaan tahun anggaran 2023. Strategi ini menopang upaya pemerintah mengejar target konsolidasi fiskal berupa defisit APBN di bawah 3% PDB. Dari sisi penerimaan, lanjutnya, adanya UU Harmonisasi Peraturan Perpajakan akan meningkatkan basis pajak, juga kenaikan tarif PPN dari 10 % menjadi 11 %, tarif PPh wajib pajak dengan penghasilan kena pajak di atas Rp 5 miliar akan dikenai tarif 35 % dari sebelumnya 30 %.
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eisha M Rachbini, mengatakan, defisit APBN tahun ini berpotensi melebar karena lonjakan harga minyak mentah dunia, yang mempersempit ruang SAL atau silpa di akhir tahun. Eisha memperkirakan kenaikan harga minyak mentah tiap 1 USD per barel meningkatkan anggaran subsidi LPG Rp 1,47 triliun, subsidi minyak tanah Rp 49 miliar, kompensasi kepada Pertamina Rp 2,65 triliun, dan subsidi listrik Rp 295 miliar. Di sisi pendapatan negara, kemungkinan pajak dan PNBP hanya naik Rp 800 miliar dan Rp 2,2 triliun sehingga defisit tetap berpotensi melebar. (Yoga)
Menjaga APBN dari Lonjakan ICP
Konflik antara Rusia dan Ukraina telah mendorong kenaikan tren harga minyak dunia yang berisiko pada bertambahnya beban APBN 2022. Peperangan dua negara satu rumpun yang sudah memasuki pekan kedua itu kian memperlihatkan dampak nyata faktor risiko yang perlu mendapat perhatian lebih. Pada akhir perdagangan pekan lalu, harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Mei melonjak hingga US$7,57 atau 6,85% menjadi US$118,03 per barel. Adapun, harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate untuk pengiriman April beranjak naik US$7,36 atau 6,84% menjadi US$115,03 per barel. Kenaikan harga minyak dunia tersebut ikut menyeret lonjakan harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) yang dapat menyebabkan harga keekonomian BBM meningkat. Pada akhirnya, beban subsidi dan kompensasi BBM dalam APBN akan ikut bertambah.
ICP ini menjadi salah satu indikator penting dalam menentukan besaran penerimaan yang berasal dari minyak dan gas serta alokasi subsidi energi. Pergerakan ICP mengikuti arah perkembangan harga minyak mentah dunia secara umum, terutama jenis Brent. Dampak serangan Rusia atas Ukraina ini memang sama sekali belum masuk dalam perhitungan pemerintah dan DPR ketika menyusun APBN 2022. Berdasarkan data Kementerian ESDM, angka sementara ICP bulan Februari 2022 per tanggal 24 atau saat Rusia pertama kali menyerang Ukraina tercatat sebesar US$95,45 per barel. Angka ICP ini jauh melampaui asumsi untuk tahun ini yang dipatok dalam APBN sebesar US$63 per barel. Dengan tren harga minyak yang terus meningkat, realisasi ICP juga akan mengikuti yang berarti beban APBN akan terus naik.
Januari, APBN Surplus Hingga Rp 28,9 Triliun
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan, Januari 2022, APBN mengalami surplus hingga Rp 28,9 triliun atau 0,16% terhadap produk domestik bruto (PDB). Capaian ini menunjukkan kondisi perekonomian yang jauh lebih baik dibandingkan Januari 2021. Dijelaskannya, pendaptan negara tercatat naik 54,9% (yoy) dari Januari tahun lalu yang sebesar Rp100,7 triliun, serta 8,5% dari target Rp 1.846,1 triliun. Kenaikan pendapatan lantaran melonjaknya penerimaan perpajakan yang mencapai Rp 134 triliun atau naik 65,6% dari periode yang sama tahun lalu Rp 81 triliun, dan setara 8,9% dari target Rp 1.510 triliun. Di sisi lain, lanjut Sri Mulyani , realisasi belanja negara yang sebesar Rp 127,2 triliun, tercatat turun 13% (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp 146,2 triliun. "Dari sisi belanja memang dibandingkan penyerapan tahun lalu atau jumlahnya lebih kecil karena tahun lalu kita melakukan belanja pada awal tahun yang sangat besar," jelasnya. (Yetede)
APBN Kembali Nikmati Berkah Harga Komoditas
Harga minyak mentah terus menanjak. Hal ini membawa angin segar bagi keuangan negara. Anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) berpotensi meraup surplus ekstra (windfall). Asal tahu, pada Jumat (11/2), harga minyak mentah berjangka jenis Brent untuk kontrak pengiriman April 2022 melonjak US$ 3,03 atau 3,3% dan ditutup di level US$ 94,44 per barel. Sementara, harga minyak mentah berjangka jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Maret 2022 juga naik US$ 3,22 atau 3,6% dan ditutup ke US$ 93,10 per barel. Otomatis, APBN 2022 akan menikmati windfall dari dua komoditas ini. Sebab, pemerintah mematok target rata-rata Indonesia Crude Pride (ICP) tahun 2022 sebesar US$ 63 per barel. Berdasarkan analisis sensitivitas APBN 2022 terhadap perubahan asumsi dasar ekonomi makro, setiap ICP naik sebesar US$ 1 per barel, penerimaan negara akan meningkat sebesar Rp 3 triliun.
Anggaran, Lima Persen untuk Dana Cadangan Covid
Pemerintah mengatur pengalokasian 5 % anggaran belanja kementerian/lembaga (K/L) sebagai dana cadangan penanggulangan pandemi Covid-19 tahun 2022, yang disebut automatic adjustment. APBN tahun anggaran 2022 menetapkan pagu belanja K/L Rp 945,8 triliun. Dengan mekanisme automatic adjustment, terdapat dana Rp 47,29 triliun dari belanja K/L yang akan digunakan untuk cadangan penanganan Covid-19. Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu Febrio Kacaribu mengatakan, tujuan kebijakan penganggaran tersebut guna merespons secara cepat dampak pandemi, tanpa mengganggu program yang ditetapkan K/L tahun ini. Tambahan alokasi ini sekaligus menopang kinerja APBN 2022 untuk penanganan pandemi Covid-19. Febrio menjelaskan, selain mengantisipasi risiko penyebaran Covid-19 varian Omicron, APBN juga perlu mengantisipasi berbagai risiko eksternal, seperti tekanan inflasi tinggi, percepatan tapering off di AS, dan potensi dampak isu geopolitik yang tengah terjadi.Wakil Direktur Eksekutif Indef Eko Listiyanto mengingatkan bahwa APBN 2022 tetap perlu fleksibel dalam menghadapi risiko perkembangan Covid-19 varian Omicron. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Sistem Pangan Harus Berbasis Keberagaman Lokal
31 Dec 2021 -
Perkebunan Sawit Rakyat Tumbuh Berkelanjutan
31 Dec 2021 -
Transformasi Sistem Pangan
31 Dec 2021 -
Mengembangkan EBT harus Utamakan Komponen Lokal
30 Dec 2021









