;
Tags

Investasi Asing

( 262 )

Dua Perusahaan Rintisan Inovator dari Indonesia Dapat Suntikan Dana

KT3 16 Apr 2024 Kompas

Dua perusahaan rintisan atau start up dari Indonesia mendapat suntikan dana sebesar 250.000 dollar Singapura atau Rp 2,9 miliar di ajang Konferensi Filantropi Asia atau Philanthropy Asia Summit 2024 di Singapura, Senin (15/4). Keduanya dianggap sebagai inovator di bidang iklim dan alam karena telah berinovasi dalam pengelolaan limbah. Mereka adalah, Mycotech Lab (MYCL) dan Sampangan. MYCL adalah perusahaan bioteknologi bersertifikat B Corp, yang membuat produk dari limbah tanaman pertanian yang diikat dengan miselium jamur. Bahan serbaguna itu untuk berbagai keperuan, mulai dari alas kaki hingga interior otomotif dan bahan bangunan. Adapun Sampangan menyediakan produk karbon negatif melalui teknologi karbonisasi dengan mengubah semua jenis sampah yang tidak disortir menjadi bahan baku serbaguna dan berkelanjutan.

Total ada lima perusahaan rintisan yang mendapat suntikan dana. Tiga lainnya, Circ yang berbasis di AS, GRST di Hong Kong, dan MAYANI di Filipina. ”Program amplifier yang berlangsung selama setahun ini bertujuan membina start up yang berdampak menjadi layak secara komersial dan memberikan dampak positif di Asia,” kata Chief Executive Officer (CEO) Center for Impact Investing and Practices (CIIP) Dawn Chan. Menurut Chan, program ini menerima 139 pengajuan dari 35 negara. Temanya beragam, seperti energi dan listrik, pangan berkelanjutan dan konservasi lahan, konservasi lautan, serta sirkularitas dan limbah. Semuanya mencerminkan minat yang signifikan terhadap dampak pasar serta keinginan pendiri dan inovator untuk mengatasi tantangan iklim juga alam di Asia. (Yoga) 

Investasi Jadi Tantangan

KT3 05 Apr 2024 Kompas

Masa depan perekonomian Indonesia selama satu tahun ke depan masih dibayangi ketidakpastian di tengah proses transisi pemerintahan baru. Arah kebijakan ekonomi yang belum terbaca serta tingkat utang  pemerintah yang semakin besar dikhawatirkan bisa mengikis rasa percaya investor untuk menanamkan modal di Indonesia. Berdasarkan Laporan East Asia and the Pacific Economics Update April 2024 ”Firm Foundations of Growth” oleh Bank Dunia, mayoritas negara di kawasan Asia Pasifik menghadapi tantangan serupa.

Meski tumbuh stabil, pertumbuhan ekonomi negara-negara di kawasan masih jauh dari potensi yang sesungguhnya. Pertumbuhan yang melambat di Indonesia dan negara-negara lain di kawasan terjadi karena laju investasi yang lebih rendah dibandingkan level prapandemi. Bank Dunia menduga investasi yang melambat itu disebabkan oleh level utang pemerintah dan swasta yang semakin tinggi serta ketidakpastian politik dan arah kebijakan baru oleh rezim mendatang.

Laporan itu menyebutkan, setiap kenaikan utang sebesar 10 % poin akan menurunkan laju pertumbuhan investasi sebesar 1,1 % poin. ”Utang pemerintah yang tinggi akan membatasi ruang fiskal negara, menghambat investasi publik, bahkan bisa semakin menghambat masuknya investasi swasta,” kata Kepala Ekonom Kawasan Asia Timur dan Pasifik di Bank Dunia Aaditya Mattoo, dalam konferensi pers daring, Kamis (4/4). (Yoga)

Risiko Monopoli di Balik Rencana Investasi Asing Masuk Budi Daya Lobster

KT1 01 Apr 2024 Tempo

Pemerintah semakin serius menyiapkan rencana budi daya benih bening lobster (BBL). Salah satunya adalah menjalin kerja sama dengan Vietnam. Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengatakan sudah lima investor Vietnam yang siap mengembangkan budi daya lobster di Indonesia. Implementasi kerja sama budi daya telah dilakukan lewat pertemuan bilateral dengan petinggi pemerintahan. Trenggono mengatakan sudah ada nota kesepahaman tentang pengembangan benih bening lobster, ujarnya saat melakukan pertemuan bilateral dengan Wakil Menteri Pertanian dan Pengembangan Perdesaan Vietnam Phung Duc Tien di Nha Trang, 22 Maret 2024. Menurut Trenggono, Vietnam memiliki etos kerja dan mata rantai industri budi daya lobster yang bagus. Karena itu, ia meminta Vietnam berinvestasi.

Ketua Umum Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Dani Setiawan mengatakan kondisi pembudi daya lobster domestik saat ini masih stagnan karena teknologi budi daya masih sederhana. Ia menilai pembudi daya rakyat belum mengalami lompatan pengetahuan dan dukungan konkret dari pemerintah. Dani menilai keberadaan investasi asing di sektor ini akan menyebabkan praktik monopoli. Sebab, pembudi daya lokal akan kalah bersaing dengan pemodal besar. Jika salah pengelolaan, akan menimbulkan kerugian bagi Indonesia, karena kemiskinan dan ketimpangan di wilayah pesisir akan bertambah. Selain itu, ia beranggapan transfer teknologi dari Vietnam sulit terjadi. Karena pemerintah Vietnam tentu tidak mau budi daya lobster di negara mereka kalah bersaing dengan Indonesia. (Yetede)

BI Catat Capital Outflow Rp 1,36 Triliun

KT1 30 Mar 2024 investor Daily

BI melaporkan aliran modal asing keluar bersih (capital outflow) di pasar keuangan domestik mencapai Rp 1,36 triliun dalam periode 25-27 Maret 2024. Dalam keterangan tertulis Kamis (28/3) Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono menjelaskan, nilai modal tersebut berasal dari aliran modal asing masuk bersih di pasar Surat Berharga Negara (SBN) Rp 0,97 triliun dan modal asing keluar di pasar saham dan Sekuritas Rupiah BI (SRBI) masing-masing sebesar Rp 1,59 triliun dan Rp 0,74 triliun. (Yetede)

Menghalau ”Hantu-hantu” Investasi Mangkrak

KT3 20 Mar 2024 Kompas

Pemerintahan Jokowi hampir berakhir. Namun, rezim ini masih memiliki ”utang” penyelesaian ”investasi mangkrak” senilai ratusan triliun rupiah. Investasi mangkrak adalah investasi yang batal terealisasi. Total nilai investasi mangkrak dari periode pertama ke periode kedua pemerintahan Jokowi adalah Rp 708 triliun. Bahlil Lahadalia pertama kali mengungkapnya saat menjabat Menteri Investasi/Kepala BKPM pada 2019. Sebagian investasi itu mandek karena tidak ditindaklanjuti pemerintah. Sebagian lagi karena adanya ketidakpastian regulasi di pusat dan daerah serta tumpang-tindih perizinan. Akibatnya, investor yang sudah berkomitmen menanamkan modalnya di Indonesia memindahkan proyeknya ke negara lain.

Bahlil saat itu mengibaratkan persoalan investasi mangkrak ini seperti ”hantu” alias dapat dirasakan, tetapi tidak bisa dipegang dan disentuh. ”Banyak ’hantu’ di lapangan Ada hantu-hantu berdasi yang mengganggu investasi. Ini hanya dapat diselesaikan oleh orang-orang yang pernah menjadi bagian dari kelompok itu,” kata Bahlil saat itu. Seiring berjalannya waktu, BKPM sudah merampungkan sebagian investasi mangkrak itu. Selama periode kedua Jokowi, ada 78,9 % atau Rp 558,7 triliun rencana proyek investasi (dari total Rp 708 triliun) yang dapat direalisasikan dan dikebut di masa pandemi Covid-19. Tapi, masih ada rencana investasi senilai Rp 149,3 triliun yang belum terealisasi, kata Bahlil dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (18/3).

Menurut Kepala Center of Trade, Investment, and Industry di Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Andry Satrio Nugroho, guna menghindari investasi menjadi mangkrak, pemerintah perlu tahu apa yang menjadi kebutuhan investor. Ia mengusulkan pemerintah melakukan ”intelijen investasi” untuk memetakan investor-investor yang bisa masuk ke Indonesia berikut kebutuhannya. ”Misalnya, mereka butuh lebih banyak insentif fiskal atau non-fiskal, atau jaminan pasokan listrik yang besar. Dari situ kita bisa mencegah mereka berpindah atau membangun fasilitas produksi di negara lain,” ujarnya. Intelijen investasi juga bisa memetakan alasan mengapa rencana investasi senilai Rp 149,3 triliun sampai sekarang masih mangkrak. (Yoga) 

Asing Masuk Rp 21 Triliun di Pertengahan Maret

HR1 18 Mar 2024 Kontan
Bank Indonesia (BI) mencatat, arus modal asing masih masuk ke pasar keuangan dalam negeri pada pertengahan Maret tahun ini. Berdasarkan data transaksi 13-14 Maret 2024, nonresiden di pasar keuangan domestik tercatat beli neto (net buy) sebesar Rp 21,72 triliun. Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono memerinci, jumlah tersebut terdiri dari beli neto di pasar surat berharga negara (SBN) sebesar Rp 12,44 triliun, beli neto di pasar saham sebesar Rp 8,91 triliun dan beli neto di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sebesar Rp 0,37 triliun. Sementara nilai tukar rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) pada tanggal 14 Maret 2024 berada di level Rp 15.582 per dolar Amerika Serikat (AS) melemah dari 15 Maret 2024 di level Rp 15.576 per dolar AS. Namun level itu lebih tinggi dari posisi 8 Maret 2024 yang berada di level Rp 15.603 per dolar AS. Dari catatan BI pula, sejak awal tahun hingga 14 Maret 2024, nonresiden tercatat beli neto sebesar Rp 20,18 triliun. Perinciannya, beli neto di pasar saham sebesar Rp 19,68 triliun dan beli neto di SRBI Rp 23,84 triliun. Namun, jual neto di pasar SBN sebesar Rp,23,34 triliun.

Investasi dari Australia Tumbuh 4% di Tahun 2023

HR1 07 Mar 2024 Kontan
Investasi langsung yang mengalir dari Australia meningkat sepanjang tahun 2023. Dalam basis tahunan, foreign direct investment (FDI) dari Australia tumbuh 4% menjadi US$ 545,2 juta. Secara total, Australia berada di peringkat 10 dari 168 negara yang berinvestasi di Indonesia dan kontribusinya mencakup 1,1% dari total FDI. Adapun jumlah proyek yang terlibat meningkat signifikan, yaitu melonjak 200,6%. Dalam rangka kunjungan kerja ke Australia, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bertemu dengan para pelaku usaha Indonesia dan Australia dalam acara Dialog dan Resepsi Bisnis. Di hadapan pelaku usaha Indonesia dan Australia, Airlangga juga menekankan kembali visi perekonomian Indonesia 2045 sebagai negara berpendapatan tinggi dalam 20 tahun ke depan. Airlangga bilang, penguatan integrasi ekonomi lintas batas memainkan peran penting dalam strategi pertumbuhan. Untuk itu, Indonesia membuka diskusi aksesi dengan  Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), mempercepat kesepakatan dengan Uni Eropa serta terlibat aktif pada Indo Pacific Economic Framework for Prosperity (IPEF).

Australia Luncurkan Investasi Rp 20,4 Triliun bagi Asia Tenggara

KT3 06 Mar 2024 Kompas (H)

Pemerintah Australia meluncurkan pendanaan investasi senilai 2 miliar dollar Australia atau Rp 20,4 triliun untuk meningkatkan investasi di Asia Tenggara. Pendanaan itu merupakan bagian dari serangkaian inisiatif ekonomi yang diumumkan pada KTT Khusus ASEAN-Australia 2024 di Melbourne, Australia, Selasa (5/3). ”Pemerintahan yang saya pimpin telah mengambil keputusan yang jelas. Melebihi kawasan lain, Asia Tenggara adalah masa depan Australia,” kata PM Australia Anthony Albanese pada Forum 100 CEO Australia dan Asia Tenggara. Australia terus memperluas hubungan ekonomi dengan beragam mitra dagang selain mitra dagang utama mereka, China. Langkah itu diambil menyusul berbagai perselisihan dengan Beijing. Kawasan ASEAN, dengan pertumbuhan penduduk yang cepat, dipandang sebagai kekuatan ekonomi yang terus berkembang. Dengan banyaknya cadangan mineral penting dan kebutuhan tinggi pada listrik, Asia Tenggara bakal memegang peran utama dalam upaya global mendorong penggunaan energi bersih.

”Dengan senang saya mengumumkan keputusan kami untuk mendirikan Fasilitas Pembiayaan Investasi Asia Tenggara senilai 2 miliar dollar (Australia), yang dikelola oleh Pembiayaan Ekspor Australia,” lanjutnya. Menurut Albanese, pendanaan ini menunjukkan nilai tambah yang dapat diberikan Australia kepada ASEAN. Pembiayaan ini dimaksudkan untuk meningkatkan perdagangan dan investasi Australia di Asia Tenggara, terutama untuk transisi energi ramah lingkungan dan pembangunan infrastruktur. Program pendanaan tersebut kelanjutan dari bantuan teknis infrastruktur untuk ASEAN, khususnya Program Kemitraan untuk Infrastruktur. Dalam program itu, Australia memberikan tambahan dana 140 juta dollar Australia. Pendanaan tersebut dimulai tahun 2021, untuk mendukung upaya ASEAN meningkatkan pembangunan infrastruktur. Beberapa infrastruktur yang telah dibangun dengan dana tersebut, meliputi jalan raya, infrastruktur transisi energi ramah lingkungan, dan telekomunikasi. (Yoga)

Ekonomi Masih Dibayangi Ketidakpastian Politik

KT3 17 Feb 2024 Kompas

Kendati pemilihan umum sudah berakhir, iklim investasi sepanjang semester I tahun 2024 ini diperkirakan masih lesu. Investor masih bersikap wait and see, menunggu hasil akhir penghi-tungan suara serta adanya potensi sanggahan hasil pemilu di Mahkamah Konstitusi. Ekonomi global yang masih tak tentu ikut pula menambah ketidakpastian. Berdasarkan hasil hitung cepat Litbang Kompas per Jumat (16/2) pukul 13.08, Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka unggul dengan perolehan suara 58,45 %, disusul Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar di 25,23 % dan Ganjar Pranowo-Mahfud MD sebesar 16,32 %. Data sampel yang masuk sudah 99,7 %. Sementara, berdasarkan hasil hitung akhir (real count) oleh KPU, per Jumat pukul 14.00 WIB, Prabowo-Gibran memperoleh suara 57 %, Anies-Muhaimin 24,98 %, dan Ganjar-Mahfud 18,03 %.

Data sampel yang masuk sudah 54,91 % dari total 823.236 tempat pemungutan suara (TPS). Meski demikian, ketidakpastian masih menyelimuti seusai ditemukannya kesalahan penghitungan suara di sejumlah TPS. Ada perbedaan jumlah suara antara formulir C Hasil Plano dan angka yang terbaca di Sistem Informasi Rekapitulasi (Sirekap). Menyusul temuan itu, legitimasi pemilu mulai dipertanyakan. Dua kandidat pasangan calon lain pun berencana menggugat hasil pemilu ke MK dan Bawaslu. Melihat situasi politik terkini yang belum stabil itu, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai, arus investasi riil pada awal tahun 2024 kemungkinan besar belum akan kembali pulih seperti semula, khususnya dari investor asing.

”Investor asing masih akan wait and see sesuai dengan karakteristik mereka yang cenderung sangat melihat regulasi. Mereka akan memilih melihat hasil resmi, yakni hasil real count KPU, dan apakah ada sanggahan terhadap hasil pemilu di MK,” kata Josua saat dihubungi di Jakarta, Jumat. Stabilitas politik di dalam negeri dinilai belum cukup aman untuk menarik investor sepanjang semester I-2024. Hal itu akan berdampak pada arah pertumbuhan ekonomi di awal tahun ini mengingat investasi adalah motor utama pertumbuhan ekonomi RI setelah konsumsi rumah tangga. (Yoga) 

Keajaiban China Berakhir, Bagaimana Nasib RI?

KT3 17 Feb 2024 Kompas

Era keajaiban China yang ditandai pertumbuhan ekonomi tinggi diperkirakan segera berakhir. China bakal memasuki era steady-state economy. Indonesia perlu mewaspadai dampak sekaligus menangkap peluang ekonomi dari kondisi itu. Pertumbuhan ekonominya sempat melejit menjadi 8,45 % pada 2021 seusai terpuruk minus 2,24 % pada 2020. Namun, anjlok menjadi 2,99 % pada 2022 dan hanyatumbuh 5,2 % pada 2023. Setelahnya, Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan pertumbuhan ekonomi China bakal terus merosot dari 4,6 % pada 2024 menjadi 3,38 % pada 2028. Harga barang dan jasa di tingkat konsumen dan produsen juga mengalami deflasi terburuk. Hal itu merupakan cerminan pelemahan daya beli masyarakat, sekaligus tertahannya geliat industri domestik China. Pada Januari 2024, China mengalami deflasi 0,8 % secara tahunan. Harga barang dan jasa di tingkat produsen juga deflasi 2,5 % secara tahunan.

Indeks Harga Produsen (IHP) tersebut masih melanjutkan tren deflasi selama 16 bulan berturut-turut sejak Oktober 2022. Yiping Huang, Guru Besar Bidang Pembangunan Universitas Peking, dalam artikelnya, ”Has the Chinese Economy Hit The Wall?” mengupas keresahan tersebut. ”Apakah keajaiban ekonomi Tiongkok sudah berakhir? Jawabannya mungkin, ya, karena tidak ada keajaiban yang bertahan selamanya,” tulisnya dalam artikel yang dimuat dalam East Asia Forum, 10 Oktober 2023. Ia menjelaskan, pendapatan yang lebih tinggi dan biaya tenaga kerja yang lebih tinggi, serta kondisi eksternal yang memburuk dan populasi yang menua, semuanya merupakan hambatan jangka panjang yang serius terhadap tingginya pertumbuhan. Perang dagang dengan AS, pandemi Covid-19, dan krisis properti semakin memperkuat tantangan perlambatan ekonomi China.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W Kamdani, Jumat (16/2) juga berpendapat sama. Dengan PDB per kapita lebih dari 12.000 USD, ekonomi China sudah berada di ambang batas negara berpendapatan tinggi. Jadi cukup sulit bagi China untuk memiliki tingkat pertumbuhan tinggi seperti 10-15 tahun terakhir. Ekonomi China yang tumbuh 5,2 % pada 2023 saja sebetulnya sudah fantastis. Hal itu lantaran sejumlah negara yang memiliki PDB per kapita yang setara, seperti Brasil, hanya tumbuh 3,4 % pada 2023. Menurut Shinta, perlambatan pertumbuhan ekonomi China perlu dilihat sebagai pertumbuhan yang ”new normal”. Apalagi, sejak muncul tren diversifikasi rantai pasok nilai global China, perang dagang dengan AS dan penuaan penduduk, kinerja ekonomi China sudah tidak seperti sebelumnya.

China merupakan mitra dagang terbesar dan investor utama Indonesia. Kontribusi ekspor ke China pada 2023 dan Januari 2024 terhadap total ekspor Indonesia sebesar 25,09 % dan 23,09 %. Penanaman modal asing (PMA) China di Indonesia sejak 2018 hingga 2022 tumbuh dari 2,37 miliar USD menjadi 8,22 miliar USD. Per triwulan III-2023, PMA tersebut sebesar 1,8 miliar USD. Menurut Shinta, berakhirnya pertumbuhan ekonomi tinggi China itu bisa berdampak buruk sekaligus baik bagi Indonesia. Dampak negatifnya, ekspor Indonesia ke China berpotensi turun, sedangkan impor dari China berpotensi naik lantaran harga produknya semakin murah. Deflasi yang terjadi di China pada Januari 2024 turut memicu penurunan kinerja ekspor Indonesia. BPS mencatat, kinerja ekspor Indonesia ke China pada Januari 2024 hanya 4,57 miliar USD atau turun 20,73 % secara bulanan dan 12,92 % secara tahunan. Kondisi ekonomi China tersebut bisa menjadi peluang bagi investasi Indonesia, terutama di sektor industri manufaktur, yang hanya terjadi bila Indonesia  memiliki iklim usaha yang kompetitif di kawasan dan meningkatkan partisipasi dalam rantai pasok nilai global. (Yoga)