Menghalau ”Hantu-hantu” Investasi Mangkrak
Pemerintahan Jokowi hampir berakhir. Namun, rezim ini masih
memiliki ”utang” penyelesaian ”investasi mangkrak” senilai ratusan triliun
rupiah. Investasi mangkrak adalah investasi yang batal terealisasi. Total nilai
investasi mangkrak dari periode pertama ke periode kedua pemerintahan Jokowi adalah
Rp 708 triliun. Bahlil Lahadalia pertama kali mengungkapnya saat menjabat Menteri
Investasi/Kepala BKPM pada 2019. Sebagian investasi itu mandek karena tidak
ditindaklanjuti pemerintah. Sebagian lagi karena adanya ketidakpastian regulasi
di pusat dan daerah serta tumpang-tindih perizinan. Akibatnya, investor yang sudah
berkomitmen menanamkan modalnya di Indonesia memindahkan proyeknya ke negara lain.
Bahlil saat itu mengibaratkan persoalan investasi mangkrak
ini seperti ”hantu” alias dapat dirasakan, tetapi tidak bisa dipegang dan
disentuh. ”Banyak ’hantu’ di lapangan Ada hantu-hantu berdasi yang mengganggu
investasi. Ini hanya dapat diselesaikan oleh orang-orang yang pernah menjadi
bagian dari kelompok itu,” kata Bahlil saat itu. Seiring berjalannya waktu, BKPM
sudah merampungkan sebagian investasi mangkrak itu. Selama periode kedua
Jokowi, ada 78,9 % atau Rp 558,7 triliun rencana proyek investasi (dari total Rp
708 triliun) yang dapat direalisasikan dan dikebut di masa pandemi Covid-19. Tapi,
masih ada rencana investasi senilai Rp 149,3 triliun yang belum terealisasi, kata
Bahlil dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (18/3).
Menurut Kepala Center of Trade, Investment, and Industry di
Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Andry Satrio
Nugroho, guna menghindari investasi menjadi mangkrak, pemerintah perlu tahu apa
yang menjadi kebutuhan investor. Ia mengusulkan pemerintah melakukan ”intelijen
investasi” untuk memetakan investor-investor yang bisa masuk ke Indonesia
berikut kebutuhannya. ”Misalnya, mereka butuh lebih banyak insentif fiskal atau
non-fiskal, atau jaminan pasokan listrik yang besar. Dari situ kita bisa
mencegah mereka berpindah atau membangun fasilitas produksi di negara lain,” ujarnya.
Intelijen investasi juga bisa memetakan alasan mengapa rencana investasi
senilai Rp 149,3 triliun sampai sekarang masih mangkrak. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023