Investasi lainnya
( 1334 )Pandemi dan Simpanan
Lesunya permintaan barang dan jasa oleh konsumen selama pandemi Covid-19 membuat korporasi-korporasi selaku produsen mengurangi belanja modalnya (capital expenditure). Mereka menurunkan produksi sehingga kapasitas terpasang tak terpakai maksimal.
Dengan kondisi ini, sudah barang tentu, korporasi juga akan mengerem rencana-rencana ekspansinya. Korporasi yang masih memiliki cadangan dana memilih mendiamkan uangnya ketimbang membelanjakan untuk investasi. Dampaknya, dana menganggur korporasi meningkat tajam selama pandemi. Kondisi ini tecermin dari melonjaknya nilai simpanan pada kelompok rekening bank dengan nominal di atas Rp 5 miliar, yang notabene dimiliki korporasi-korporasi skala menengah dan besar.
Berdasarkan data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), total simpanan pada rekening dengan nominal simpanan di atas Rp 5 miliar per akhir Februari 2021 mencapai Rp 3.282,5 triliun, meningkat 13,2 persen dibandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan simpanan kelompok rekening ini jauh lebih cepat ketimbang simpanan kelompok rekening lainnya.
Sejumlah upaya telah dilakukan otoritas dan industri pada sektor keuangan untuk mendorong tingkat konsumsi masyarakat dan menggairahkan kembali bisnis korporasi. Di samping kebijakan makro berupa program restrukturisasi kredit oleh OJK dan injeksi likuiditas ke pasar oleh Bank Indonesia, sejumlah kebijakan mikro juga diberikan seperti keringanan uang muka kredit properti dan kendaraan bermotor.
Perbankan juga terus menurunkan suku bunga kreditnya seiring penurunan suku bunga acuan BI7DRR Rate. Per Februari 2021, rata-rata suku bunga kredit investasi telah menyentuh level 8,77 persen, sedangkan bunga kredit modal kerja sebesar 9,17 persen. Sejak BI7DRR diluncurkan sebagai suku bunga acuan pada Agustus 2016, hingga kini penurunan bunga kredit telah mencapai kisaran 253–277 basis poin, jauh lebih besar dibandingkan dengan total penurunan BI7DRR itu, yakni 150 basis poin.
Investasi di KEK Sei Mangke Mulai Meningkat
Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) sebagai pengelola Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei mencatat tahun ini investasi sektor pertanian di kawasan tersebut mengalami tren peningkatan yang signifikan dibanding tahun sebelumnya ditandai dengan meningkatnya jumlah investor asing dan domestik.
Berdasarkan siaran pers yang diterima di Jakarta, Senin, PTPN III mencatat pelaku bisnis atau investor potensial mulai membidik serta berinvestasi di sektor kelapa sawit dan karet, sehingga menjadi awal baru bagi kawasan industri tersebut menjadi target kontribusi investasi yang jauh lebih signifikan.
Direktur Utama Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) M. Abdul Ghani yang belum lama ini berkunjung ke KEK Sei Mangkei mengatakan, perhatian investor itu menunjukkan kebangkitan KEK Sei Mangkei sebagai Kawasan industri strategis terdepan dalam pelayanan dan diharapkan berkontribusi terhadap peningkatan penanaman modal asing atau Foreign Direct Investment (FDI) di Indonesia.
Dengan adanya dukungan pemerintah khususnya Kementerian Investasi bersama dengan stakeholders yang ada, mimpi KEK Sei Mangkei yang diidamkan sebagai lokasi investasi pelaku industri prioritas segera terwujud.
LPI Segera Teken MoU Investasi ke BUMN Karya Rp 60 Triliun
JAKARTA – Lembaga Pengelola Investasi (LPI)
atau Indonesia Investment Authority (INA) berencana
segera menandatangani nota kesepahaman
(memorandum of understanding/MoU) dengan
sejumlah BUMN karya terkait dengan penyertaan
modal atau investasi senilai Rp 50-60 triliun oleh
sovereign wealth fund (SWF) milik pemerintah RI
tersebut.
Direktur Utama LPI Ridha Wirakusumah menargetkan, penandatanganan MoU bisa dilakukan dalam
rentang waktu sebulan ke depan.
Kendati begitu, ia tidak merinci
perusahaan-perusahaan yang bakal
terlibat dalam kerja sama tersebut.
Namun, ia sempat memberikan
contoh, investasi akan dilakukan
melalui pembelian tol yang nilainya
berpotensi untuk ditingkatkan.
"Mudah-mudahan dalam waktu
tidak lama lagi, kami juga akan ada
sedikit pengumuman yang sifatnya
mungkin MoU dengan beberapa
perusahaan (BUMN) karyanya, yang
tentunya mudah-mudahan bisa membantu makin kinclong perusahaan
karya majunya," ujar Ridha dalam sebuah percakapan dengan Juru Bicara
Kementerian BUMN Arya Sinulingga
secara virtual, Jumat (30/4).
Butuh US$ 450 Miliar
Ridha juga mengatakan, Indonesia
memiliki kebutuhan investasi untuk
pembangunan proyek infrastruktur
yang sangat besar, yaitu mencapai US$
450 miliar. Sementara anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN)
hanya dapat memenuhi kebutuhan
tersebut setengahnya, yaitu sekitar
US$ 200 miliar.
Oleh karena itu, kata dia, untuk
memenuhi sisa kebutuhan investasi
proyek infrastruktur peran LPI akan
dioptimalkan. “Sisanya itu masih
belum kelihatan bagaimana cara
membiayainya. Dari situ, mudahmudahan kami bisa coba membantu
(melalui INA)," ucap dia.
Lebih lanjut, ia mengatakan, penjajakan investasi yang masuk masih
terus dilakukan. Kendati demikian
ia belum bisa memberikan target
berapa yang bisa nilai investasi yang
bisa didapatkan.
(Oleh - HR1)
Kemenperin Siapkan Aturan Pengawasan Investasi
JAKARTA – Kementerian Perindustrian
(Kemenperin) tengah menyusun aturan tentang
pengawasan dan pengendalian (wasdal) investasi
di sektor manufaktur nasional. Wasdal ini akan
mengeliminasi calon investor yang beritikad buruk
dengan mencari keuntungan besar sesaat dan
merusak iklim investasi di dalam negeri.
“Pengawasan adalah suatu keniscayaan bagi kegiatan usaha. Hasil
dari wasdal adalah bahan analisis
untuk mewujudkan kebijakan yang
pro-investasi, pro-tenaga kerja, dan
pro-pertumbuhan. Wasdal akan memberikan output terkait data profiling
sektor industri, sehingga pemerintah
dapat merilis kebijakan-kebijakan
yang pro-investasi,” kata Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan
Akses Industri Internasional (KPAII)
Kementerian Perindustrian, Eko SA
Cahyanto dalam keterangan resmi,
akhir pekan lalu.
Eko mengungkapkan, sejalan dengan upaya meningkatkan investasi
dan pertumbuhan ekonomi, diperlukan
kebijakan untuk memberikan kepastian
berusaha, kepastian hukum, dan penciptakan iklim usaha yang memberi rasa
aman dan kondusif untuk melakukan
kegiatan usaha. “Kunci untuk melakukan
hal tersebut justru ada di pengawasan
dan pengendalian,” ujar dia.
Guna mencapai sasaran tersebut, lanjut dia, Kemenperin sedang merancang
Peraturan Menteri Perindustrian
tentang Pedoman Pengawasan dan Pengendalian Usaha Industri dan Usaha
Kawasan Industri. “Kepastian output
adalah profil industri yang menjadi
salah satu data untuk menyusun kebijakan dan pemberian fasilitasi,” ujar Eko.
Investasi manufaktur mencapai Rp
88,3 triliun kuartal I-2021, melejit 38%
dibanding periode sama tahun lalu
Rp 64 triliun. Investasi manufaktur
berkontribusi 40,2% terhadap total
nilai penanaman modal nasional pada
periode itu Rp 219,7 triliun.
Berdasarkan data Badan Koordinasi
Penanaman Modal (BKPM), penanaman modal dalam negeri (PMDN)
pada periode itu mencapai mencapai
Rp 23 triliun, sedangkan penanaman
modal asing (PMA) Rp 65,3 triliun,
naik dari masing-masing Rp 19,8 triliun
dan PMA Rp 44,2 triliun pada kuartal
I tahun lalu.
(Oleh - HR1)
Mata Uang Kripto Masih Paling Cuan
Bitcoin menorehkan performa paling baik di antara berbagai instrumen investasi di empat bulan pertama tahun ini. Harga bitcoin naik 99,13% secara year to date (ytd) hingga April.
Selain bitcoin, mata uang kripto lain juga mencetak kenaikan harga luar biasa selama empat bulan pertama tahun ini. Dogecoin misalnya, naik hingga 7.111%.
Mata uang kripto memang mendapat banyak sentimen di empat bulan pertama tahun ini. Selain ada aksi pompom dari sejumlah pesohor, termasuk Elon Musk, investor kripto merespons positif masuknya dana institusi ke mata uang kripto dan rencana pembentukan exchange traded fund berbasis duit kripto.
Gabriel memprediksi harga bitcoin mampu menembus US$ 100 per BTC jika rencana pembentukan ETF bitcoin disetujui tahun ini. "Persentase kemungkinan ETF bitcoin disetujui oleh SEC sangat tinggi di tahun ini, " kata dia.
Gula-Gula Insentif Pajak Ditebar bagi Mitra INA
Pemerintah terus memberi karpet merah bagi investor asing. Investor yang jadi mitra kerja Lembaga Pengelola Investasi (LPI) yang dijuluki Indonesia Investment Authoriy (INA), mereka akan mendapat pemanis berupa tarif pajak yang lebih rendah dari biasanya. Kebijakan insentif fiskal tersebut tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 49 Tahun 2021 tentang Perlakuan Perpajakan atas Transaksi yang Melibatkan Lembaga Pengelola Investasi dan/atau Entitas yang Dimilikinya. Beleid ini berlaku per tanggal 2 Februari 2021.
Beleid yang sudah ditekan Presiden Joko Widodo 2 Februari 2021 itu, mengatur ketentuan perpajakan untuk para mitra kerja atau investor dari LPI. Mulai dari investor, manajer investasi, BUMN, serta lembaga pemeritah dan entitas lain yang terlibat. Misalnya khusus investor asing yang menjadi mitra LPI, ada dua skema pengenaan pajak bagi investor tersebut yang merupakan subjek pajak luar negeri (SPLN).
Pertama, investor asing bisa dikecualikan dari objek pajak sepanjang penghasilan yang didapat dari LPI, misalnya berupa dividen, diinvestasikan kembali di Indonesia. Pembebasan pajak tersebut berlangsung hingga tiga tahun sejak investor menerima penghasilan tersebut.
Kedua, bila si investor mengambil untung (taking profit) dari penghasilan investasinya bersama LPI, seperti mengambil dividen, maka investor tersebut akan terkena pajak penghasilan (PPh) Final dengan tarif 7,5%. Tarif tersebut sesuai dengan tarif yang diatur dalam persetujuan penghindaran pajak berganda (P3B).
Tarif PPh Final tersebut juga lebih rendah dibandingkan rata-rata tarif pajak bunga dan dividen dalam P3B. Sebagai contoh, tarif P3B untuk pembagian dividen dari Indonesia kepada Singapura, Jepang, Amerika Serikat berkisar 10% hingga 15%. Hingga kini, Indonesia telah menjalin kerjasama tax treaty itu dengan 71 yurisdiksi.
Selain investor asing, menurut Wakil Ketua Komite Tetap Bidang Perpajakan Kamar Dagang dastri (Kadin) Indonesia Herman Juwono beleid ini juga memberi keuntungan bagi investor domestik. Lantaran untuk subjek pajak dalam negeri (SPDN) dikecualikan sebagai objek pajak. Alias bebas pajak saat mendapatkan keuntungan dari LPI. Tinggal nanti aturan turunannya jangan dipersulit. " saran Herman saat dihubungi KONTAN Kamis (29/4).
E-Sport, Jalur Ampuh Sasar Konsumen
E-sport sudah tidak bisa dilihat hanya sekadar permainan anak-anak. Ini adalah industri triliunan rupiah dan diyakini menjadi medium ampuh untuk menyentuh kelompok konsumen melek internet Indonesia.
Hal ini tampaknya diyakini oleh Wakil Presiden Direktur BCA Armand Hartono. Ia menilai, melakukan pemasaran melalui industri e-sport sudah tidak bisa dihindari. Hal ini karena demografi Indonesia tergolong muda. Sekitar 70 persen nasabah BCA pun berusia di bawah 40 tahun.
BCA, misalnya, sudah terlibat dalam sejumlah kejuaraan e-sport nasional, seperti Piala Presiden E-sport edisi 2019 dan 2020. Menurut Armand, ada sejumlah dampak positif yang signifikan dengan terlibat sebagai sponsor di turnamen e-sport.
Lalu, pembelian voucer gim telah menjadi jumlah transaksi terbesar di fitur Lifestyle dalam aplikasi BCA Mobile, melebihi jumlah transaksi untuk pembelian tiket perjalanan.
Country Head Garena Indonesia Hans Saleh mengatakan, masih ada ruang yang sangat besar untuk tumbuh.
Hans mengatakan, setidaknya ada dua pintu masuk besar yang dapat dimanfaatkan oleh perusahaan untuk berpromosi di industri e-sport.
Pertama, menjadi sponsor dalam turnamen e-sport. Menurut dia, ini adalah jalur yang lebih mudah. Eksposur dari turnamen e-sport saat ini tumbuh cepat sekali.
Berdasarkan datanya, jumlah view sebuah turnamen yang digelar oleh Garena tumbuh dari 20 juta pada 2020 menjadi 40 juta pada 2021.
Kedua adalah dengan sistem co-branding. Perusahaan yang ingin berinvestasi dapat masuk ke dalam gim tersebut, baik dalam bentuk desain karakter maupun sebuah item atau barang.Skema
berinvestasi di industri e-sport juga bisa dilakukan dengan cara mensponsori
tim ataupun pemain. Perusahaan dapat menyentuh konsumen potensial melalui
pemain dan tim e-sport yang digandrungi oleh kaum muda Indonesia saat ini.
Investasi Manufaktur Melejit 38%
JAKARTA – Investasi manufaktur mencapai Rp
88,3 triliun kuartal I-2021, melejit 38% dibanding
periode sama tahun lalu Rp 64 triliun. Investasi
manufaktur berkontribusi 40,2% terhadap total
nilai penanaman modal nasional pada periode itu
Rp 219,7 triliun.
Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM),
penanaman modal dalam negeri
(PMDN) pada periode itu mencapai
mencapai Rp 23 triliun, sedangkan
penanaman modal asing (PMA) Rp
65,3 triliun, naik dari masing-masing
Rp 19,8 triliun dan PMA Rp 44,2 triliun pada kuartal I tahun lalu.
“Selama ini, investasi sektor industri berdampak pada peningkatan
penyerapan tenaga kerja lokal, menggerakkan sektor industri kecil, dan
memacu ekspor ke pasar global. Oleh
karena itu, Kementerian Perindustrian
(Kemenperin) berkomitmen menjaga
aktivitas sektor industri agar tetap bisa
berproduksi,” ujar Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang
Kartasasmita di Jakarta, Selasa (27/4).
Menperin mengatakan, sektor makanan mengontribusi 9,9% terhadap total
investasi manufaktur senilai Rp 21,7
triliun dan logam dasar, barang logam,
bukan mesin dan peralatannya sebesar
Rp 27,9 triliun. Menperin mengapresiasi para pelaku industri yang masih
semangat berekspansi di Tanah Air,
meskipun diterjang pandemi Covid-19.
Kemenperin menargetkan investasi manufaktur mencapai Rp 323,56
triliun pada 2021, naik Rp 58,28 triliun
dari target 2020 sebesar Rp 265,28
triliun. Proyeksi serapan investasi
ini berdasarkan asumsi pandemi
Covid-19 yang terkendali dengan
adanya program vaksinasi.
Sasaran investasi yang tumbuh
positif tersebut, kata Menperin, juga
sejalan dengan pertumbuhan industri
pengolahan nonmigas yang diproyeksikan 3,95% pada 2021. “Investasi akan
menjadi faktor penggerak pertumbuhan sektor industri,” imbuh dia.
(Oleh - HR1)
Realisasi Investasi Naik, Ekonomi RI Mulai Bangkit
JAKARTA – Realisasi penanaman modal asing
(PMA) yang melonjak 14% secara tahunan (year
on year/yoy) menjadi Rp 111,7 triliun pada kuartal
I-2021 mengindikasikan perekonomian nasional
sedang bangkit sejalan dengan meningkatnya
kepercayaan internasional. Jika pemerintah
mampu mengoptimalkan UU Cipta Kerja dan
Lembaga Pengelola Investasi (LPI), target realisasi
investasi pada 2021 sebesar Rp 900 triliun
dipastikan tercapai, sehingga perekonomian
domestik tahun ini bisa tumbuh di atas 5%.
Berdasarkan data Badan
Koordinasi Penanaman Modal
(BKPM) yang diumumkan Senin
(26/4) kemarin, realisasi penanaman modal atau investasi langsung pada kuartal I-2021 mencapai
Rp 219,7 triliun, naik 4,3% (yoy).
Sedangkan dibanding kuartal IV2020 atau secara kuartalan (quarter
to quarter/qtq) tumbuh 2,3%.
Realisasi penanaman modal
kuartal I tahun ini dimotori PMA
yang mencapai Rp 111,7 triliun,
meningkat 14% (yoy) dan 0,6% (qtq).
Adapun realisasi penanaman modal
dalam negeri (PMDN) turun 4,2%
secara tahunan (yoy), namun naik
4,2% secara kuartalan (qtq).
Pada kuar tal I-2021 terjadi
pergeseran tren investasi. Jika pada
kuartal I-2020 PMDN lebih dominan
dengan realisasi Rp 112,7 triliun
dibanding PMA Rp 98 triliun, pada
kuartal I-2021 PMA kembali dominan, dengan realisasi Rp 117 triliun
berbanding PMDN Rp 108 triliun.
Berdasarkan sektor, realisasi PMA
kuartal I-2021 melanjutkan tren
investasi sepanjang tahun lalu yang
didominasi industri manufaktur.
Pada 2018 dan 2019, realisasi PMA
didominasi sektor jasa.
Optimistis Tercapai
Kepala BKPM, Bahlil Lahadalia
mengungkapkan, realisasi PMA
dan PMDN pada kuartal I-2021
sudah mencapai 25,66% dari target
investasi yang dipatok BKPM tahun
ini senilai Rp 856 triliun. Namun,
dibanding target baru pemeritah
sebesar Rp 900 triliun, realisasinya
mencapai 24,4%.
Menurut Bahlil, telah terjadi pemerataan investasi seiring masifnya
pembangunan infrastruktur dalam
lima tahun terakhir. Hal itu tercermin
pada realisasi investasi di Pulau Jawa
pada Januari-Maret 2021 sebesar Rp
105,3 triliun, turun 2,7% (yoy). Di pihak
lain, investasi di luar Jawa naik 11,7%
(yoy) menjadi Rp 114,4 triliun.
Pemerataan investasi antara Jawa
dan luar Jawa, kata Kepala BKPM,
sangat penting untuk menciptakan
pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dengan efek pengganda (multiplier effect) yang besar. “Pemerataan
pertumbuhan ekonomi di luar Jawa
sudah membaik. Ini tidak terlepas dari
apa yang dilakukan Presiden selama
lima tahun terakhir, yaitu membangun
infrastruktur secara masif,” tegas dia.
Bahlil Lahadalia menambahkan,
berdasarkan asal negara, peringkat
pertama PMA pada kuartal I-2021
ditempati Singapura senilai US$ 2,6
miliar, diikuti Tiongkok US$ 1,0 miliar, dan Korea Selatan US$ 900 juta.
Selanjutnya Hong Kong dengan nilai
investasi US$ 800 juta dan Swiss US$
500 juta.
Investasi Mangkrak
Bahlil Lahadalia mengemukakan,
BKPM juga berhasil menyelesaikan
investasi mangkrak senilai Rp 517,6
triliun pada kuartal I-2021. “Angka ini
setara 73% dari total investasi mangkrak yang mencapai Rp 708 triliun,”
tutur dia.
Kepala BKPM mengungkapkan,
investasi mangkrak yang telah dieksekusi berkontribusi terhadap
realisasi investasi kuartal I-2021. “Namun kontribusinya hanya sebagian.
Sebab eksekusi investasi mangkrak
tidak diselesaikan secara sekaligus,
melainkan per termin. Misalnya yang
diproses izin lahan terlebih dahulu,”
ucap dia.
Kepala BKPM mengatakan, dengan adanya OSS risk ased approach
(OSS RBA), proses penerbitan izin
usaha dapat lebih mudah dan cepat.
Prosesnya dilakukan berdasarkan
pengelompokkan usaha yang memiliki
risiko rendah, menengah, dan tinggi.
(Oleh - HR1)
Investasi Padat Modal Mulai Naik Kuartal I-2021
Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat: Realisasi investasi sepanjang kuartal l-2021 mencapai Rp 219,7 triliun, naik 4,3% year on year (yoy).
Kepala BKPM Bahlil Lahadalia mengatakan, realisasi investasi kuartal I-2021 mengklaim investasi menunjukkan pemulihan investasi terutama investor asing. "Aktivitas PMA sudah mulai normal dengan beradaptasi pada pandemi dan perkembangan dunia, " kata Bahlil saat Konferensi Pers Realisasi Investasi Kuartal I-2021, Senin (26/4).
Bahlil menyebut pembangunan pabrik mobil Hyundai di Deltamas, Cikarang, Bekasi yang menjadi pendorong investasi Korea Selatan. "Salah satunya karena pembangunan pabrik Hyundai, yang pada 2022 nanti di Maret-April mobil listrik bisa kita produksi, " ujar Bahlil.
Bahlil menyampaikan Hyundai memiliki nilai investasi sebesar sebesar USS 1,5 miliar atau sekitar Rp 21 triliun. Perkembangannya, hingga saat ini sudah terealisir Rp 13 triliun hingga Rp 14 triliun. Dengan kenaikan investasi Korea Selatan, negara KPop ini menjadi negara ketiga terbanyak berinvestasi di Indonesia setelah Singapura dan China.
Adapun realisasi investasi dari Singapura senilai US$ 2,6 miliar. Sedangkan di posisi kedua ada China dengan realisasi investasi sebanyak US$ 1 miliar di kuartal l-2021. Sementara keempat, Hong Kong sebesar USD 800 juta. Kelima, Swiss sebesar USS 500 juta.









