;
Tags

Investasi lainnya

( 1334 )

INA Jajaki Sejumlah Proyek Energi Pertamina

Ayutyas 21 May 2021 Investor Daily, 21 Mei 2021

JAKARTA – Indonesia Investment Authority (INA) menjajaki potensi kemitraan strategis investasi pada sebagian proyek energi milik PT Pertamina (Persero). Proyek-proyek yang akan mendapat kucuran dana tersebut dibutuhkan untuk mewujudkan ketahanan energi dan menggerakkan ekonomi nasional. Hal itu ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerahasiaan (non-disclosure agreement/NDA) oleh Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati dan Ketua Dewan Direktur INA Ridha Wirakusumah, Rabu (19/5). Perjanjian ini sebagai dasar untuk mengeksplorasi lebih detail potensi kerja sama diantaranya keduanya. Beberapa proyek yang dapat didanai INA, mengacu dokumen Pertamina, yakni Proyek Kilang Tuban, perbaikan dan peningkatan kapasitas (upgrading) Kilang Dumai, Plaju, Cilacap, Balikpapan, dan Balongan, serta pembangunan tanki bahan bakar minyak (BBM) dan gas minyak cair (liquefied petroleum gas/LPG) di Indonesia Timur. Selain itu, proyek energi bersih seperti Proyek Gasifikasi Batu bara Tanjung Enim, Kilang Hijau Plaju dan Green Diesel Kilang Cilacap, serta Katalis Merah Putih juga dapat didanai INA. Nicke mengungkapkan, Holding Pertamina akan fokus menggarap bisnis perusahaan ke depan, termasuk terkait transisi energi dari fosil ke energi terbarukan yang pasti terjadi. Pada saat yang sama, perseroan akan memperkuat bisnis yang ada. Kebutuhan pendanaan untuk strategi tersebut cukup besar.

Pjs Senior Vice President Corporate Communications & Investor Relations Pertamina Fajriyah Usman mengatakan, investasi yang dilakukan Pertamina bertujuan untuk meningkatkan produksi dan cadangan migas. Langkah ini akan berdampak pada pengurangan impor minyak nasional dan mendukung visi pemerintah dalam mewujudkan ketahanan energi nasional sesuai dengan Grand Strategy Energi Nasional. “Keseluruhan investasi Pertamina, terbuka untuk kerja sama dengan INA. Kami menyambut baik peluang ini agar bisa terlaksana dan berdampak positif bagi semua pihak,” tambahnya. Sebelumnya, Direktur Keuangan Pertamina Emma Sri Martini sempat menuturkan, kebutuhan investasi US$ 92 miliar akan dibiayai pendanaan internal 38% dan eksternal 62%. Pendanaan eksternal dibutuhkan agar keuangan perseroan tidak terlalu tertekan. Kemudian untuk menjaga rasio utang, porsi pendanaan berupa ekuitas akan lebih besar.

(Oleh - HR1)


Kinerja Investasi Daerah, Komitmen Asing Mulai Terwujud

Ayutyas 20 May 2021 Bisnis Indonesia

Komitmen investasi asing di sejumlah daerah mulai terwujud ditandai dengan pembangunan fisik pabrik. Provinsi Nusa Tenggara Barat mulai dibangun pabrik bata plastik senilai US$2,5 juta dan Provinsi Jawa Tengah terus meningkatkan kinerja investasi dengan menjajaki investor dari Korea Selatan. 

Provinsi Nusa Tenggara Barat berencana membangun pabrik bata plastik atau ecobrick di lahan seluas 20 hektare di kawasan Science and Techno Park (Stipark) Banyumulek, Lombok Barat. Pabrik bata dari bahan plastik tersebut dibangun oleh investor BlockSolutions asal Finlandia bersama Circular Ekonomi dengan nilai investasi US$2,5 juta. Dua investor yang akan mendanai pembangunan pabrik bata plastik merupakan kolaborasi antara investor bata dan lingkungan. Perwakilan investor Duncan Ward menyatakan berkomitmen untuk membangun pabrik di NTB dengan ketentuan yang diberikan oleh pemerintah daerah setempat seperti ketentuan bahan baku, kesiapan transfer teknologi dari investor kepada masyarakat NTB.

“Investor berkomitmen melakukan transfer pengetahuan dan teknologi pembuatan bata plastik,” ujarnya, Rabu (19/5). Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian Provinsi NTB Nuryanti menjelaskan pemerintah akan berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk penyediaan bahan baku sampah plastik yang akan digunakan untuk membuat bata plastik. Wakil Gubernur BTB Sitti Rohmi Djalillah menjelaskan pembangunan pabrik bata plastik selain berdimensi bisnis harus memperhatikan penggunaan lingkungan terutama jenis plastik yang digunakan.

(Oleh - HR1)

Akhir Bulan Ini Kepastian Kerja Sama Freeport-Tsingshan

Ayutyas 17 May 2021 Investor Daily, 17 Mei 2021

Akhir bulan ini menjadi penentuan kepastian kerja sama PT Freeport Indonesia dengan Tsingshan Steel terkait pembangunan fasilitas pemurnian (smelter) mineral tembaga. Perusahaan asal Tiongkok itu menawarkan model kerja sama yang menggiurkan di mana Freeport cukup menanggung 25% kebutuhan investasi.

Hanya saja, belum ada kesepakatan terkait kerja sama ini. Freeport masih melakukan kajian mendalam lantaran membutuhkan kepastian kerangka waktu pembangunan smelter yang harus rampung paling lambat Juni 2023 atau dalam dua tahun ke depan. Freeport berkejaran dengan waktu seiring dengan amanat Undang-Undang Pertambangan Mineral dan Batu Bara yang melarang ekspor mineral mentah dan mineral olahan di Juni 2023 nanti. Direktur Utama MIND ID Orias Petrus Moedak mengatakan, kerja sama dengan Tsingshan masih terus dimatangkan. Namun dia menegaskan, batas waktu paling lambat akhir bulan ini harus ada kepastian. Bila tercapai kesepakatan maka Juni nanti proses pembangunan bisa dimulai sehingga smelter rampung bertepatan dengan kebijakan ekspor mineral.

Tsingshan bakal membangun smelter di Halmahera, Maluku Utara. Adapun total investasi mencapai US$ 2,5 miliar untuk smelter berkapasitas 2,4 juta ton konsentrat tembaga. Lokasi smelter tersebut berbeda dengan proyek yang sedang digarap Freeport saat ini di kawasan industri Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE) Gresik, Jawa Timur. “Semuanya kami lakukan out standing, kalaupun missed di Tsingshan kan masih bisa di JIIPE, kami lanjutkan saja di JIIPE,” kata Orias

Presiden Direktur Freeport Indonesia Tony Wenas mengungkapkan, progres pembangunan di JIIPE telah menyelesaikan pematangan lahan (land clearing) dan pilling test. Kini proses pembangunan smelter segera memasuki tahap konstruksi. Adapun investasi smelter dengan kapasitas 1,7 juta ton konsentrat tembaga itu mencapai US$3 miliar. Tony pun mengungkapkan, Freeport masih melakukan pembicaraan dengan Tsingshan Steel terkait kerja sama pembangunan smelter. Bila tercapai kesepakatan dengan Tsingshan maka Freeport tak melanjutkan pembangunan smelter di JIIPE. Nantinya Freeport bakal memasok konsentrat ke smelter yang berlokasi di Halmahera tersebut.

(Oleh - HR1)

Telkomsel Tambah Investasi di Gojek US$ 300 Juta

Ayutyas 11 May 2021 Investor Daily, 11 Mei 2021

JAKARTA – Anak usaha PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT Telekomunikasi Seluler (Telkomsel) kembali menyuntikkan investasi ke Gojek senilai US$ 300 juta atau sekitar Rp 4,2 triliun. Dengan pendanaan ini, Telkomsel sudah menyuntikkan dana sebesar US$ 450 juta atau sekitar Rp 6,3 triliun ke Gojek. Sebelumnya, pada November 2020, Telkomsel menginvestasikan dananya di Gojek US$ 150 juta, atau sekitar Rp 2,1 triliun ke Gojek. Dua perusahaan dengan sumber daya teknologi besar di Indonesia ini terus memperkuat kolaborasi untuk kemajuan ekosistem digital yang inklusif dan berkelanjutan di Tanah Air.

Direktur Utama Telkomsel Setyanto Hantoro mengatakan, investasi lanjutan dari Telkomsel menjadi penegas akan kesamaan visi dari kedua perusahaan yang samasama lahir dan berkembang untuk menjawab masalah nyata di tengah masyarakat melalui inovasi digital dan teknologi, dengan semangat untuk melayani dan memajukan negeri.

Co-CEO Gojek Group Andre Soelistyo mengatakan, Gojek bangga berkesempatan untuk dapat memperkuat momentum kemitraan strategis bersama Telkomsel sebagai pemimpin pasar telekomunikasi di Indonesia. Pendanaan lanjutan Telkomsel itu jelas akan mengoptimalkan sumber daya dan keahlian teknologi dari masing-masing perusahaan untuk berinovasi dan memperluas manfaat ekonomi digital bagi lebih banyak konsumen, mitra driver, dan pelaku UMKM di selur uh wilayah Indonesia

IPO Gojek 

Sementara itu, Gojek juga mengaku tengah fokus pada pertumbuhan bisnisnya untuk mendukung rencana IPO dan listing di bursa saham. “Fokus Gojek saat ini adalah memastikan pertumbuhan dan keberlanjutan bisnis secara jangka panjang, dan kami selalu terbuka dengan berbagai opsi untuk mendukung hal tersebut,” ujar Chief Corporate Affairs Gojek Nila Marita kepada Investor Daily

Berpengaruh Positif 

Analis PT Binaartha Sekuritas M Nafan Aji menjelaskan, investasi Telkom di beberapa startup dan unicorn bisa berpengaruh positif terhadap kinerja Telkom secara keseluruhan.

Sementara itu, mantan dirut BEI yang juga pengamat pasar modal Hasan Zein Mahmud berpendapat, ada tiga beban yang dipikul oleh TLKM dan harus disiasati bila ingin tetap berada di depan. Pertama, kewajiban community development sebagai BUMN. “Saya tak punya data, tapi menurut perkiraan saya, tugas melebarkan jaringan ke desa-desa, penyediaan internet untuk pendidikan, dan semacam itu, merupakan pos rugi,” ujar dia. Kedua, pacuan teknologi. Perusahaan pertama yang mampu meluncurkan teknologi 5G punya peluang besar untuk berada di depan, sebagai market leader. “Teknologi 3G, apalagi 2G, adalah teknologi ketinggalan dengan konsekuensi biaya tinggi. Harus segera migrasi. Harus segera migrasi,” sarannya. Ketiga, struktur organisasi TLKM Group yang sangat gemuk, lebar dan panjang. Karena itu, dibutuhkan restrukturisasi yang mendasar agar organisasi lebih lincah, lebih efisien, lebih fokus pada bisnis inti dan penunjangnya

(Oleh - HR1)

Pendanaan StartUp, Iklim Investasi Kian Kondusif

Ayutyas 11 May 2021 Bisnis Indonesia

Bisnis, JAKARTA — Iklim investasi perusahaan rintisan diproyeksikan makin baik pada kuartal III/2021 seiring dengan meningkatnya kepercayaan diri dari para pemodal untuk menyuntikkan dananya.

Ketua Umum Asosiasi Startup Teknologi Indonesia (Atsindo) Handito Joewono mengatakan investasi besar yang terjadi pada salah satu perusahaan rintisan (startup) akan merangsang investasi sejenis di ekosistem tersebut.

Adapun, yang terbaru adalah investasi PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) senilai US$300 juta kepada PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (Gojek). Adapun total investasinya sejak November 2020 telah mencapai US$450 juta.

Selain itu, minat startup untuk segera melantai di bursa untuk meraih pendanaan pun akan makin kuat seiring dengan adanya sentimen dari rencana penawaran umum perdana perusahaan hasil merger Gojek-Tokopedia.

Adapun, Cento Ventures menyatakan bahwa pendanaan ke startup Asia Tenggara turun 3,5% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi US$8,2 miliar pada 2020. Pada semester I/2020, pendanaan ke startup Asia Tenggara masih senilai US$5,9 miliar, lalu turun pada semester II/2020 menjadi US$ 2,3 miliar.

Adapun, jumlah kesepakatan investasi sepanjang tahun lalu tercatat sebanyak 645, turun dibandingkan 2019 yang mencapai 704.

Namun, dari sisi nilai, Indonesia masih mendominasi dengan berkontribusi 70% terhadap total pendanaan, disusul Singapura 14%, Malaysia 5%, Thailand 5%, Vietnam 4%, dan Filipina 2%.

Besarnya nilai investasi yang diperoleh perusahaan rintisan Indonesia ditopang oleh startup jumbo, di mana hampir setengah dari dana yang terkumpul masuk ke kantong para unikorn seperti Grab, Gojek, Bukalapak, dan Traveloka.

Sebelumnya, Handito juga mengatakan pendanaan startup turut ditentukan oleh penanganan pandemi Covid-19. Menurutnya, Indonesia menjadi salah satu negara dengan program vaksinasi terbaik sehingga kayak untuk dilirik para pemodal.

AMBISI MENJADI UNICORN

Sementara itu, agresifnya pemain perusahaan rintisan untuk menjadi unikorn selanjutnya di Tanah Air dinilai turut menjadi sentimen positif untuk meningkatkan minat pemodal dalam menyuntikan dananya.

Bendahara Asosiasi Modal Ventura Seluruh Indonesia (Amvesindo) Edward Ismawan Chamdani menilai selain bergairahnya pemain startup untuk memiliki nilai valuasi US$1 miliar, para unikorn yang melirik lantai bursa juga memberikan optimisme bagi pemodal.

Di sisi lain, Kementerian Komunikasi dan Informatika melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020—2024 menargetkan hadirnya tiga unikorn pada 2024. Tambahan tersebut diharapkan mulai terealisasi pada tahun depan.

Rencana tersebut menjelaskan bahwa pada tahun ini diharapkan startup digital aktif yang terbentuk berjumlah 35. Adapun, untuk jumlah startup pada 2022, 2023, dan 2024 masing-masing target yang diharapkan berjumlah 70, 110, dan 150.


(Oleh - HR1)

Tiga Perusahaan Dana Pensiun Memilih Pensiun Dini

Sajili 10 May 2021 Kontan

Jumlah pemain dana pensiun terus berkurang sejak beberapa tahun terakhir. Namun kondisi tersebut tidak terlalu berpengaruh terhadap kinerja industri yang masih mencatatkan pertumbuhan investasi. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) baru saja membubarkan tiga penyelenggaran dana pensiun. Yaitu Dana Pensiun Unggul Indah Cahaya, Dana Pensiun Pegawasi RS Budi Kemuliaan dan Dana Pensiun Pfizer Indonesia. Pembubaran itu pada periode April - Mei 2021.

Deputi Komisioner Pengawas Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) OJK, Anggar Budhi Nuraini mengatakan, pembubaran tersebut sudah sesuai dengan Keputusan Dewan Komisioner. "Pembubaran dilakukan atas permohonan pendiri dana pensiun untuk efisiensi dan efektifitas penyelenggaraan program pensiun, " kata Anggar, dalam keterangan resmi, pekan lalu. Setelah pembubaran tersebut, tim likuidasi akan melakukan proses likuidasi sesuai ketentuan Peraturan OJK Nomor 9/POJK.05/2014 tentang Pembubaran dan Likuidasi Dana Pensiun. "OJK mengimbau kepada peserta dana pensiun untuk tetap tenang karena dana mereka akan dialihkan ke Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) dengan memenuhi ketentuan yang berlaku.

Merujuk data OJK, sampai dengan Maret 2021 terdapat 214 pemain dana pensiun. Jumlah itu memang terus berkurang dibandingkan Maret tahun sebelumnya yang mencapai 219 pelaku usaha di bisnis dana pensiun.

Direktur Eksekutif Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI), Bambang Sri Muljadi mengatakan berkurangnya jumlah pemain dana pensiun disebabkan beberapa faktor. Namun sebagian besar karena pendiri kesulitan keuangan menambah iuran peserta. Mereka juga rata-rata adalah pemain kecil. "Ke depan, dana pensiun semakin berkurang khususnya dari program manfaat pastu. Selain bubar, ada beberapa dana pensiun yang akan konversi ke program iuran pasti, " ungkap Bambang.

Walaupun berkurang, namun imbal hasil investasi (Rol) industri dana pensiun terus tumbuh. Secara industri, dana pensiun mencatatkan Rol sebesar 1,63% per Maret 2021. Nilai itu naik dari Maret 2020 senilai 1,52%. Dengan realisasi itu, ia memperkirakan strategi investasi dana pensiun akan tetap konservatif pada tahun ini. Investasi mereka akan lebih berorientasi pada liabilitas untuk menghindari risiko mismatch dengan likuiditas. "Artinya, komposisi investasi dana pensiun tidak banyak perubahan, " lanjutnya.

Social Bella Raih Pendanaan Rp 818 Miliar

Ayutyas 06 May 2021 Investor Daily, 6 Mei 2021

JAKARTA – Sociall Bella, start-up teknologi kecantikan (beauty-tech), mengumumkan pendanaan terbarunya senilai Rp 818 miliar dari empat investor yang dipimpin oleh L Catterton, perusahaan investasi dan pengelola dana (private equity firm) yang berpusat di Amerika Serikat. Indies Capital, bersama dua pemegang saham Social Bella sebelumnya, East Ventures dan Jungle Ventures, juga turut berpartisipasi pada pendanaan di putaran kali ini. Pendanaan L Catterton ke Social Bella merupakan investasi pertamanya di Indonesia. Sementara itu, bagi Social Bella, selain menunjukkan potensi industri ritel kecantikan di Indonesia yang begitu besar di Indonesia, pendanaan ini juga membuktikan kapabilitas serta kepemimpinan perusahaan yang solid di industrinya. President dan Co-founder Social Bella Christopher Madiam mengatakan, tahun 2020 merupakan tahun yang sulit. Akibat pandemi, kesehatan dan mobilitas masyarakat sangat terdampak.

Principal L Catterton and Investment Lead for Southeast Asia Yock Siong Tee mengungkapkan, penetrasi industri kecantikan dan perawatan diri di kawasan Asia Tenggara terus berkembang pesat dengan pemain yang inovatif. Lewat brand Sociolla, Social Bella menjadi salah satu contoh yang menyediakan lebih banyak pilihan, produkproduk premium, dan terus meningkatkan jangkauannya, baik secara online maupun offline terhadap konsumennya. “Inovasi-inovasi yang dilakukan oleh Sociolla mampu memuaskan, baik konsumen serta brand principal secara seimbang,” tutur Yock Siong Tee.

(Oleh - HR1)

Telkom Ikut Danai Fintech Cermati

Ayutyas 06 May 2021 Investor Daily, 6 Mei 2021

JAKARTA – PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) melalui anak usahanya, MDI Ventures, turut berpartisipasi dalam pendanaan Seri C untuk Cermati pada April 2021. Pendanaan tersebut akan digunakan untuk mendukung pengembangan tim dan produk Cermati.

CEO MDI Ventures Donald Wihardja menjelaskan, dengan dukungan TelkomGroup sebagai salah satu investor utama, Cermati akan memperluas distribusi produk mereka melalui jaringan luas yang dimiliki oleh TelkomGroup serta perusahaan-perusahaan dan BUMN lainnya. “Kami turut mendukung Cermati dalam menawarkan produk-produk micro insurance dan micro lending supaya bisa berperan penting terhadap inklusi keuangan Indonesia,” ujar Donald dalam keterangan resmi, Rabu (5/5). Di lain pihak, Managing Partner Centauri Fund Kenneth Li menjelaskan, bersama MDI Ventures, KB Financial Group juga ikut ambil bagian dalam investasi Cermati melalui KBMDI Centauri Fund. Dipilihnya Cermati karena KB-MDI Centauri Fund melihat perusahaan ini potensi pertumbuhan yang masih sangat besar. Karena itu, dengan ekosistem yang dimiliki TelkomGroup dan KB Financial Group, pihaknya bisa membantu mengakselerasi penetrasi keuangan kepada segmen unbanked dan underbanked di Indonesia.

CEO dan Co-Founder Cermati.com Andhy Koesnandar menjelaskan, pihaknya mengapresiasi kerjasama dengan MDI Ventures yang memiliki keahlian dalam membangun perusahaan rintisan. Pihaknya berharap dapat memanfaatkan jaringan MDI yang kuat di lingkungan Telkom Group dan BUMN dapat meningkatkan kapabilitas produk dan aset kami. Investasi dan sinergi ini akan mempercepat visi Cermati dalam memanfaatkan teknologi untuk membantu mencapai inklusi keuangan.  Direktur Strategic Portfolio Telkom Budi Setyawan Wijaya mengatakan bahwa investasi di Cermati akan melengkapi ekosistem digital fintech yang tengah dikembangkan oleh MDI sebagai corporate venture capital Telkom Group. Ke depan, Budi berharap adanya kolaborasi antara anak perusahaan dan entitas unit bisnis Telkom Group dengan Cermati untuk melahirkan produk-produk digital yang inovatif, khususnya di sektor financial services

(Oleh - HR1)

RI Butuh Investasi Rp 5.931 T di 2022

Sajili 06 May 2021 Sinar Indonesia Baru

Indonesia membutuhkan suntikan investasi hingga Rp 5931,8 triliun di tahun 2022. Menurut Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa, investasi itu dibutuhkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Soal porsinya, Suharso menjabarkan pemerintah mengandalkan investasi dari kalangan swasta dan BUMN.

Pemerintah juga akan melakukan investasi dalam jumlah yang lebih kecil. Dalam paparannya disebutkan investasi yang akan dilakukan pemerintah hanya sekitar 7,5-8,4% atau sekitar Rp 439,4-497 triliun. Sementara itu investasi dari BUMN mencapai 8,5-9,7%, atau sejumlah Rp 503,1-577 triliun. Sementara itu, jumlah kebutuhan investasi dari pihak swasta yang dipaparkan Suharso senilai Rp 4.948,9-4.857,7 triliun atau sekitar 81,9-84% dari total kebutuhan investasi di tahun 2022.


Bappenas:2022, Butuh Investasi Rp 5.931 Triliun

Ayutyas 05 May 2021 Investor Daily, 5 Mei 2021

JAKARTA – Pemerintah meyakini, pemulihan ekonomi di 2022 semakin baik sejalan dengan target pertumbuhan ekonomi mencapai 5,8%. Untuk mencapai target tersebut dibutuhkan investasi sekitar Rp 5.891,4 triliun - Rp 5.931,8 triliun. "Pada 2022, investasi akan jadi aktor utama dorong laju pertumbuhan ekonomi," kata Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Suharso Monoarfa dalam pembukaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional (Musrenbangnas) secara virtual, Jakarta, Selasa (4/5). Secara rinci, komponen investasi dimaksud terdiri dari investasi pemerintah sekitar 7,5- 8,4% atau setara Rp 439,4 triliun – Rp 497 triliun dari total target investasi. Berikutnya, investasi BUMN Rp 503,1 triliun - Rp 577 triliun atau sekitar 8,5-9,7%. Serta, investasi swasta yang diharapkan mencapai sekitar Rp 4.948,9 triliun - Rp 4.857,7 triliun.

Lebih lanjut, ia meyakini Incremental Capital Output Ratio (ICOR) Indonesia akan menurun di 2022, seiring dengan pemulihan ekonomi. ICOR Indonesia diperkirakan meningkat menjadi 8,16 pada 2021 dari posisi 2019 yang tercatat sebesar 6,88. ICOR diperkirakakan kembali menurun ke level 6,24 pada 2022. Dengan harapan dapat mendorong investasi tahun depan. "ICOR 2022 diperkirakan lebih rendah, sehingga investasi dapat mendorong ekonomi secara lebih efisien,"tuturnya.

(Oleh - HR1)

Pilihan Editor