Investasi lainnya
( 1334 )INA Jajaki Sejumlah Proyek Energi Pertamina
JAKARTA – Indonesia Investment Authority (INA)
menjajaki potensi kemitraan strategis investasi pada
sebagian proyek energi milik PT Pertamina (Persero).
Proyek-proyek yang akan mendapat kucuran dana
tersebut dibutuhkan untuk mewujudkan ketahanan
energi dan menggerakkan ekonomi nasional.
Hal itu ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerahasiaan (non-disclosure agreement/NDA) oleh Direktur
Utama Pertamina Nicke Widyawati
dan Ketua Dewan Direktur INA Ridha
Wirakusumah, Rabu (19/5). Perjanjian
ini sebagai dasar untuk mengeksplorasi
lebih detail potensi kerja sama diantaranya keduanya.
Beberapa proyek yang dapat didanai
INA, mengacu dokumen Pertamina,
yakni Proyek Kilang Tuban, perbaikan
dan peningkatan kapasitas (upgrading)
Kilang Dumai, Plaju, Cilacap, Balikpapan, dan Balongan, serta pembangunan
tanki bahan bakar minyak (BBM) dan
gas minyak cair (liquefied petroleum
gas/LPG) di Indonesia Timur. Selain
itu, proyek energi bersih seperti
Proyek Gasifikasi Batu bara Tanjung
Enim, Kilang Hijau Plaju dan Green
Diesel Kilang Cilacap, serta Katalis
Merah Putih juga dapat didanai INA.
Nicke mengungkapkan, Holding
Pertamina akan fokus menggarap
bisnis perusahaan ke depan, termasuk
terkait transisi energi dari fosil ke
energi terbarukan yang pasti terjadi.
Pada saat yang sama, perseroan akan
memperkuat bisnis yang ada. Kebutuhan pendanaan untuk strategi tersebut
cukup besar.
Pjs Senior Vice President Corporate
Communications & Investor Relations
Pertamina Fajriyah Usman mengatakan, investasi yang dilakukan Pertamina bertujuan untuk meningkatkan produksi dan cadangan migas. Langkah ini
akan berdampak pada pengurangan impor minyak nasional dan mendukung
visi pemerintah dalam mewujudkan
ketahanan energi nasional sesuai dengan Grand Strategy Energi Nasional.
“Keseluruhan investasi Pertamina,
terbuka untuk kerja sama dengan INA.
Kami menyambut baik peluang ini
agar bisa terlaksana dan berdampak
positif bagi semua pihak,” tambahnya.
Sebelumnya, Direktur Keuangan
Pertamina Emma Sri Martini sempat
menuturkan, kebutuhan investasi US$
92 miliar akan dibiayai pendanaan
internal 38% dan eksternal 62%. Pendanaan eksternal dibutuhkan agar
keuangan perseroan tidak terlalu
tertekan. Kemudian untuk menjaga
rasio utang, porsi pendanaan berupa
ekuitas akan lebih besar.
(Oleh - HR1)
Kinerja Investasi Daerah, Komitmen Asing Mulai Terwujud
Komitmen investasi asing di sejumlah daerah mulai terwujud ditandai dengan pembangunan fisik pabrik. Provinsi Nusa Tenggara Barat mulai dibangun pabrik bata plastik senilai US$2,5 juta dan Provinsi Jawa Tengah terus meningkatkan kinerja investasi dengan menjajaki investor dari Korea Selatan.
Provinsi Nusa Tenggara Barat berencana membangun pabrik bata plastik atau ecobrick di lahan seluas 20 hektare di kawasan Science and Techno Park (Stipark) Banyumulek, Lombok Barat. Pabrik bata dari bahan plastik tersebut dibangun oleh investor BlockSolutions asal Finlandia bersama Circular Ekonomi dengan nilai investasi US$2,5 juta. Dua investor yang akan mendanai pembangunan pabrik bata plastik merupakan kolaborasi antara investor bata dan lingkungan. Perwakilan investor Duncan Ward menyatakan berkomitmen untuk membangun pabrik di NTB dengan ketentuan yang diberikan oleh pemerintah daerah setempat seperti ketentuan bahan baku, kesiapan transfer teknologi dari investor kepada masyarakat NTB.
“Investor berkomitmen melakukan transfer pengetahuan dan teknologi pembuatan bata plastik,” ujarnya, Rabu (19/5). Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian Provinsi NTB Nuryanti menjelaskan pemerintah akan berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk penyediaan bahan baku sampah plastik yang akan digunakan untuk membuat bata plastik. Wakil Gubernur BTB Sitti Rohmi Djalillah menjelaskan pembangunan pabrik bata plastik selain berdimensi bisnis harus memperhatikan penggunaan lingkungan terutama jenis plastik yang digunakan.
(Oleh - HR1)Akhir Bulan Ini Kepastian Kerja Sama Freeport-Tsingshan
Akhir bulan ini menjadi penentuan kepastian kerja sama PT Freeport
Indonesia dengan Tsingshan Steel terkait
pembangunan fasilitas pemurnian (smelter)
mineral tembaga. Perusahaan asal Tiongkok
itu menawarkan model kerja sama yang
menggiurkan di mana Freeport cukup menanggung 25% kebutuhan investasi.
Hanya saja, belum ada kesepakatan terkait kerja sama ini.
Freeport masih melakukan kajian mendalam lantaran membutuhkan kepastian kerangka waktu pembangunan smelter yang
harus rampung paling lambat
Juni 2023 atau dalam dua tahun
ke depan. Freeport berkejaran
dengan waktu seiring dengan
amanat Undang-Undang Pertambangan Mineral dan Batu
Bara yang melarang ekspor
mineral mentah dan mineral
olahan di Juni 2023 nanti.
Direktur Utama MIND ID
Orias Petrus Moedak mengatakan, kerja sama dengan Tsingshan masih terus dimatangkan.
Namun dia menegaskan, batas
waktu paling lambat akhir bulan
ini harus ada kepastian. Bila
tercapai kesepakatan maka Juni nanti proses pembangunan
bisa dimulai sehingga smelter
rampung bertepatan dengan
kebijakan ekspor mineral.
Tsingshan bakal membangun
smelter di Halmahera, Maluku
Utara. Adapun total investasi
mencapai US$ 2,5 miliar untuk
smelter berkapasitas 2,4 juta ton
konsentrat tembaga.
Lokasi smelter tersebut berbeda dengan proyek yang sedang digarap Freeport saat ini di
kawasan industri Java Integrated
Industrial and Port Estate (JIIPE) Gresik, Jawa Timur.
“Semuanya kami lakukan
out standing, kalaupun missed
di Tsingshan kan masih bisa
di JIIPE, kami lanjutkan saja di
JIIPE,” kata Orias
Presiden Direktur Freeport Indonesia Tony Wenas mengungkapkan, progres pembangunan di JIIPE telah menyelesaikan pematangan lahan (land clearing) dan pilling test. Kini proses pembangunan smelter segera memasuki tahap konstruksi. Adapun investasi smelter dengan kapasitas 1,7 juta ton konsentrat tembaga itu mencapai US$3 miliar. Tony pun mengungkapkan, Freeport masih melakukan pembicaraan dengan Tsingshan Steel terkait kerja sama pembangunan smelter. Bila tercapai kesepakatan dengan Tsingshan maka Freeport tak melanjutkan pembangunan smelter di JIIPE. Nantinya Freeport bakal memasok konsentrat ke smelter yang berlokasi di Halmahera tersebut.
(Oleh - HR1)
Telkomsel Tambah Investasi di Gojek US$ 300 Juta
JAKARTA – Anak usaha PT
Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT
Telekomunikasi Seluler (Telkomsel) kembali menyuntikkan investasi ke Gojek senilai US$ 300 juta
atau sekitar Rp 4,2 triliun. Dengan
pendanaan ini, Telkomsel sudah
menyuntikkan dana sebesar US$
450 juta atau sekitar Rp 6,3 triliun
ke Gojek.
Sebelumnya, pada November
2020, Telkomsel menginvestasikan
dananya di Gojek US$ 150 juta,
atau sekitar Rp 2,1 triliun ke Gojek.
Dua perusahaan dengan sumber
daya teknologi besar di Indonesia
ini terus memperkuat kolaborasi
untuk kemajuan ekosistem digital
yang inklusif dan berkelanjutan di
Tanah Air.
Direktur Utama Telkomsel
Setyanto Hantoro mengatakan,
investasi lanjutan dari Telkomsel
menjadi penegas akan kesamaan visi
dari kedua perusahaan yang samasama lahir dan berkembang untuk
menjawab masalah nyata di tengah
masyarakat melalui inovasi digital
dan teknologi, dengan semangat
untuk melayani dan memajukan
negeri.
Co-CEO Gojek Group Andre
Soelistyo mengatakan, Gojek
bangga berkesempatan untuk
dapat memperkuat momentum
kemitraan strategis bersama
Telkomsel sebagai pemimpin
pasar telekomunikasi di Indonesia.
Pendanaan lanjutan Telkomsel
itu jelas akan mengoptimalkan
sumber daya dan keahlian teknologi dari masing-masing perusahaan untuk berinovasi dan
memperluas manfaat ekonomi
digital bagi lebih banyak konsumen, mitra driver, dan pelaku
UMKM di selur uh wilayah
Indonesia
IPO Gojek
Sementara itu, Gojek juga
mengaku tengah fokus pada pertumbuhan bisnisnya untuk mendukung rencana IPO dan listing
di bursa saham. “Fokus Gojek
saat ini adalah memastikan
pertumbuhan dan keberlanjutan
bisnis secara jangka panjang,
dan kami selalu terbuka dengan
berbagai opsi untuk mendukung
hal tersebut,” ujar Chief Corporate Affairs Gojek Nila Marita
kepada Investor Daily
Berpengaruh Positif
Analis PT Binaartha Sekuritas
M Nafan Aji menjelaskan, investasi Telkom di beberapa startup
dan unicorn bisa berpengaruh
positif terhadap kinerja Telkom
secara keseluruhan.
Sementara itu, mantan dirut
BEI yang juga pengamat pasar
modal Hasan Zein Mahmud berpendapat, ada tiga beban yang
dipikul oleh TLKM dan harus
disiasati bila ingin tetap berada
di depan. Pertama, kewajiban
community development sebagai
BUMN. “Saya tak punya data,
tapi menurut perkiraan saya,
tugas melebarkan jaringan ke
desa-desa, penyediaan internet
untuk pendidikan, dan semacam
itu, merupakan pos rugi,” ujar
dia.
Kedua, pacuan teknologi.
Perusahaan pertama yang mampu meluncurkan teknologi 5G
punya peluang besar untuk
berada di depan, sebagai market
leader. “Teknologi 3G, apalagi
2G, adalah teknologi ketinggalan dengan konsekuensi biaya
tinggi. Harus segera migrasi.
Harus segera migrasi,” sarannya.
Ketiga, struktur organisasi
TLKM Group yang sangat gemuk, lebar dan panjang. Karena
itu, dibutuhkan restrukturisasi
yang mendasar agar organisasi
lebih lincah, lebih efisien, lebih
fokus pada bisnis inti dan penunjangnya
(Oleh - HR1)
Pendanaan StartUp, Iklim Investasi Kian Kondusif
Bisnis, JAKARTA — Iklim investasi perusahaan rintisan diproyeksikan makin baik pada kuartal III/2021 seiring dengan meningkatnya kepercayaan diri dari para pemodal untuk menyuntikkan dananya.
Ketua Umum Asosiasi Startup Teknologi Indonesia (Atsindo) Handito Joewono mengatakan investasi besar yang terjadi pada salah satu perusahaan rintisan (startup) akan merangsang investasi sejenis di ekosistem tersebut.
Adapun, yang terbaru adalah investasi PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) senilai US$300 juta kepada PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (Gojek). Adapun total investasinya sejak November 2020 telah mencapai US$450 juta.
Selain itu, minat startup untuk segera melantai di bursa untuk meraih pendanaan pun akan makin kuat seiring dengan adanya sentimen dari rencana penawaran umum perdana perusahaan hasil merger Gojek-Tokopedia.
Adapun, Cento Ventures menyatakan bahwa pendanaan ke startup Asia Tenggara turun 3,5% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi US$8,2 miliar pada 2020. Pada semester I/2020, pendanaan ke startup Asia Tenggara masih senilai US$5,9 miliar, lalu turun pada semester II/2020 menjadi US$ 2,3 miliar.
Adapun, jumlah kesepakatan investasi sepanjang tahun lalu tercatat sebanyak 645, turun dibandingkan 2019 yang mencapai 704.
Namun, dari sisi nilai, Indonesia masih mendominasi dengan berkontribusi 70% terhadap total pendanaan, disusul Singapura 14%, Malaysia 5%, Thailand 5%, Vietnam 4%, dan Filipina 2%.
Besarnya nilai investasi yang diperoleh perusahaan rintisan Indonesia ditopang oleh startup jumbo, di mana hampir setengah dari dana yang terkumpul masuk ke kantong para unikorn seperti Grab, Gojek, Bukalapak, dan Traveloka.
Sebelumnya, Handito juga mengatakan pendanaan startup turut ditentukan oleh penanganan pandemi Covid-19. Menurutnya, Indonesia menjadi salah satu negara dengan program vaksinasi terbaik sehingga kayak untuk dilirik para pemodal.
AMBISI MENJADI UNICORN
Sementara itu, agresifnya pemain perusahaan rintisan untuk menjadi unikorn selanjutnya di Tanah Air dinilai turut menjadi sentimen positif untuk meningkatkan minat pemodal dalam menyuntikan dananya.
Bendahara Asosiasi Modal Ventura Seluruh Indonesia (Amvesindo) Edward Ismawan Chamdani menilai selain bergairahnya pemain startup untuk memiliki nilai valuasi US$1 miliar, para unikorn yang melirik lantai bursa juga memberikan optimisme bagi pemodal.
Di sisi lain, Kementerian Komunikasi dan Informatika melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020—2024 menargetkan hadirnya tiga unikorn pada 2024. Tambahan tersebut diharapkan mulai terealisasi pada tahun depan.
Rencana tersebut menjelaskan bahwa pada tahun ini diharapkan startup digital aktif yang terbentuk berjumlah 35. Adapun, untuk jumlah startup pada 2022, 2023, dan 2024 masing-masing target yang diharapkan berjumlah 70, 110, dan 150.
(Oleh - HR1)
Tiga Perusahaan Dana Pensiun Memilih Pensiun Dini
Jumlah pemain dana pensiun terus berkurang sejak beberapa tahun terakhir. Namun kondisi tersebut tidak terlalu berpengaruh terhadap kinerja industri yang masih mencatatkan pertumbuhan investasi. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) baru saja membubarkan tiga penyelenggaran dana pensiun. Yaitu Dana Pensiun Unggul Indah Cahaya, Dana Pensiun Pegawasi RS Budi Kemuliaan dan Dana Pensiun Pfizer Indonesia. Pembubaran itu pada periode April - Mei 2021.
Deputi Komisioner Pengawas Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) OJK, Anggar Budhi Nuraini mengatakan, pembubaran tersebut sudah sesuai dengan Keputusan Dewan Komisioner. "Pembubaran dilakukan atas permohonan pendiri dana pensiun untuk efisiensi dan efektifitas penyelenggaraan program pensiun, " kata Anggar, dalam keterangan resmi, pekan lalu. Setelah pembubaran tersebut, tim likuidasi akan melakukan proses likuidasi sesuai ketentuan Peraturan OJK Nomor 9/POJK.05/2014 tentang Pembubaran dan Likuidasi Dana Pensiun. "OJK mengimbau kepada peserta dana pensiun untuk tetap tenang karena dana mereka akan dialihkan ke Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) dengan memenuhi ketentuan yang berlaku.
Merujuk data OJK, sampai dengan Maret 2021 terdapat 214 pemain dana pensiun. Jumlah itu memang terus berkurang dibandingkan Maret tahun sebelumnya yang mencapai 219 pelaku usaha di bisnis dana pensiun.
Direktur Eksekutif Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI), Bambang Sri Muljadi mengatakan berkurangnya jumlah pemain dana pensiun disebabkan beberapa faktor. Namun sebagian besar karena pendiri kesulitan keuangan menambah iuran peserta. Mereka juga rata-rata adalah pemain kecil. "Ke depan, dana pensiun semakin berkurang khususnya dari program manfaat pastu. Selain bubar, ada beberapa dana pensiun yang akan konversi ke program iuran pasti, " ungkap Bambang.
Walaupun berkurang, namun imbal hasil investasi (Rol) industri dana pensiun terus tumbuh. Secara industri, dana pensiun mencatatkan Rol sebesar 1,63% per Maret 2021. Nilai itu naik dari Maret 2020 senilai 1,52%. Dengan realisasi itu, ia memperkirakan strategi investasi dana pensiun akan tetap konservatif pada tahun ini. Investasi mereka akan lebih berorientasi pada liabilitas untuk menghindari risiko mismatch dengan likuiditas. "Artinya, komposisi investasi dana pensiun tidak banyak perubahan, " lanjutnya.
Social Bella Raih Pendanaan Rp 818 Miliar
JAKARTA – Sociall Bella, start-up
teknologi kecantikan (beauty-tech),
mengumumkan pendanaan terbarunya senilai Rp 818 miliar dari empat
investor yang dipimpin oleh L Catterton, perusahaan investasi dan
pengelola dana (private equity firm)
yang berpusat di Amerika Serikat.
Indies Capital, bersama dua pemegang saham Social Bella sebelumnya,
East Ventures dan Jungle Ventures,
juga turut berpartisipasi pada pendanaan di putaran kali ini. Pendanaan L
Catterton ke Social Bella merupakan
investasi pertamanya di Indonesia.
Sementara itu, bagi Social Bella, selain
menunjukkan potensi industri ritel kecantikan di Indonesia yang begitu besar di
Indonesia, pendanaan ini juga membuktikan kapabilitas serta kepemimpinan
perusahaan yang solid di industrinya.
President dan Co-founder Social
Bella Christopher Madiam mengatakan, tahun 2020 merupakan tahun
yang sulit. Akibat pandemi, kesehatan
dan mobilitas masyarakat sangat terdampak.
Principal L Catterton and Investment
Lead for Southeast Asia Yock Siong Tee
mengungkapkan, penetrasi industri kecantikan dan perawatan diri di kawasan
Asia Tenggara terus berkembang pesat
dengan pemain yang inovatif.
Lewat brand Sociolla, Social Bella
menjadi salah satu contoh yang menyediakan lebih banyak pilihan, produkproduk premium, dan terus meningkatkan jangkauannya, baik secara online
maupun offline terhadap konsumennya.
“Inovasi-inovasi yang dilakukan oleh
Sociolla mampu memuaskan, baik
konsumen serta brand principal secara seimbang,” tutur Yock Siong Tee.
(Oleh - HR1)
Telkom Ikut Danai Fintech Cermati
JAKARTA – PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM)
melalui anak usahanya, MDI Ventures, turut
berpartisipasi dalam pendanaan Seri C untuk
Cermati pada April 2021. Pendanaan tersebut akan
digunakan untuk mendukung pengembangan tim
dan produk Cermati.
CEO MDI Ventures Donald Wihardja menjelaskan, dengan dukungan TelkomGroup sebagai salah satu investor
utama, Cermati akan memperluas
distribusi produk mereka melalui jaringan luas yang dimiliki oleh TelkomGroup serta perusahaan-perusahaan
dan BUMN lainnya.
“Kami turut mendukung Cermati
dalam menawarkan produk-produk micro insurance dan micro lending supaya
bisa berperan penting terhadap inklusi
keuangan Indonesia,” ujar Donald
dalam keterangan resmi, Rabu (5/5).
Di lain pihak, Managing Partner
Centauri Fund Kenneth Li menjelaskan, bersama MDI Ventures, KB
Financial Group juga ikut ambil bagian
dalam investasi Cermati melalui KBMDI Centauri Fund. Dipilihnya Cermati karena KB-MDI Centauri Fund
melihat perusahaan ini potensi pertumbuhan yang masih sangat besar.
Karena itu, dengan ekosistem yang
dimiliki TelkomGroup dan KB Financial Group, pihaknya bisa membantu
mengakselerasi penetrasi keuangan
kepada segmen unbanked dan underbanked di Indonesia.
CEO dan Co-Founder Cermati.com
Andhy Koesnandar menjelaskan,
pihaknya mengapresiasi kerjasama
dengan MDI Ventures yang memiliki
keahlian dalam membangun perusahaan rintisan. Pihaknya berharap dapat memanfaatkan jaringan MDI yang
kuat di lingkungan Telkom Group
dan BUMN dapat meningkatkan kapabilitas produk dan aset kami. Investasi dan sinergi ini akan mempercepat
visi Cermati dalam memanfaatkan
teknologi untuk membantu mencapai
inklusi keuangan.
Direktur Strategic Portfolio Telkom
Budi Setyawan Wijaya mengatakan
bahwa investasi di Cermati akan
melengkapi ekosistem digital fintech yang tengah dikembangkan
oleh MDI sebagai corporate venture
capital Telkom Group. Ke depan,
Budi berharap adanya kolaborasi
antara anak perusahaan dan entitas
unit bisnis Telkom Group dengan Cermati untuk melahirkan produk-produk
digital yang inovatif, khususnya di
sektor financial services
(Oleh - HR1)
RI Butuh Investasi Rp 5.931 T di 2022
Indonesia membutuhkan suntikan investasi hingga Rp 5931,8 triliun di tahun 2022. Menurut Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa, investasi itu dibutuhkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Soal porsinya, Suharso menjabarkan pemerintah mengandalkan investasi dari kalangan swasta dan BUMN.
Pemerintah juga akan melakukan investasi dalam jumlah yang lebih kecil. Dalam paparannya disebutkan investasi yang akan dilakukan pemerintah hanya sekitar 7,5-8,4% atau sekitar Rp 439,4-497 triliun. Sementara itu investasi dari BUMN mencapai 8,5-9,7%, atau sejumlah Rp 503,1-577 triliun. Sementara itu, jumlah kebutuhan investasi dari pihak swasta yang dipaparkan Suharso senilai Rp 4.948,9-4.857,7 triliun atau sekitar 81,9-84% dari total kebutuhan investasi di tahun 2022.
Bappenas:2022, Butuh Investasi Rp 5.931 Triliun
JAKARTA – Pemerintah meyakini, pemulihan
ekonomi di 2022 semakin baik sejalan dengan
target pertumbuhan ekonomi mencapai 5,8%.
Untuk mencapai target tersebut dibutuhkan
investasi sekitar Rp 5.891,4 triliun - Rp 5.931,8
triliun.
"Pada 2022, investasi akan jadi aktor utama
dorong laju pertumbuhan ekonomi," kata
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Suharso Monoarfa
dalam pembukaan Musyawarah Perencanaan
Pembangunan Nasional (Musrenbangnas)
secara virtual, Jakarta, Selasa (4/5).
Secara rinci, komponen investasi dimaksud
terdiri dari investasi pemerintah sekitar 7,5-
8,4% atau setara Rp 439,4 triliun – Rp 497 triliun
dari total target investasi. Berikutnya, investasi
BUMN Rp 503,1 triliun - Rp 577 triliun atau
sekitar 8,5-9,7%. Serta, investasi swasta yang
diharapkan mencapai sekitar Rp 4.948,9 triliun
- Rp 4.857,7 triliun.
Lebih lanjut, ia meyakini Incremental Capital
Output Ratio (ICOR) Indonesia akan menurun
di 2022, seiring dengan pemulihan ekonomi.
ICOR Indonesia diperkirakan meningkat
menjadi 8,16 pada 2021 dari posisi 2019 yang
tercatat sebesar 6,88.
ICOR diperkirakakan kembali menurun ke
level 6,24 pada 2022. Dengan harapan dapat
mendorong investasi tahun depan. "ICOR
2022 diperkirakan lebih rendah, sehingga investasi dapat mendorong ekonomi secara lebih
efisien,"tuturnya.
(Oleh - HR1)









