;
Tags

Investasi lainnya

( 1347 )

Grup Emtek Investasi 5,44 Triliun di Grab Indonesia

Sajili 27 Jul 2021 Sinar Indonesia Baru

PT Elang Mahkota Teknologi Tbk atau Emtek menginvestasikan US$375 juta atau sekitar Rp 5,44 triliun di perusahaan ride-hailing dan pembayaran PT Grab Teknologi Indonesia atau Grab Indonesia. Hal ini sebagai tanda kerja sama yang lebih dalam.

Kesepakatan itu merupakan kerja sama terbaru antara Grab yang berkantor pusat di Singapura, perusahaan transportasi dan pengiriman makanan terbesar di kawasan itu, dan kanglomerat Asia Tenggara, termasuk investasi strategis oleh Central Group Thailand pada 2019.

Beberapa sumber mengatakan kepada Reuters bahwa kesepakatan itu sebagian bertujuan untuk perombakan di sektor pembayaran digital dan membantu Grab meningkatkan kepemilikannya di e-wallet OVO.

Reuters melaporkan pada 2019, mengutip dari sumber, bahwa OVO dan DANA sedang dalam pembicaraan untuk melakukan kerja sama Namun, belum ada kepastian atau tanggapan dari Grab, OVO, DANA, dan Emtek.


EMTK Tambahkan Modal ke Grab Indonesia

Sajili 27 Jul 2021 Kompas

PT Elang Mahkota Teknologi Tbk menuntaskan penyertaan investasi 375 juta dollar AS ke PT Grab Teknologi Indonesia. Keduanya sepakat menggabungkan portofolio bisnis masing-masing untuk memperluas pangsa pasar di segmen usaha mikro, kecil, dan menengah.

Sebelumnya, pada 30 Juni 2021, EMTK mengumumkan menambah kepemilikan saham mereka di Grab Indonesia melalui penyertaan saham baru yang diterbitkan oleh Grab Indonesia. Grab Indonesia menerbitkan 311,27 juta lembar saham dengan nominal Rp 1.000 per lembar. Jumlah ini setara dengan 3,29 persen dari modal disetor dan ditempatkan oleh Grab Indonesia. Sebelum itu, EMTK Group telah memegang 244,57 juta saham Grab Indonesia, setara dengan 2,68 persen dari modal disetor dan ditempatkan Grab Indonesia.

Portofolio bisnis Grab Indonesia juga banyak berkecimpung di segmen UMKM, seperti Grab Food dan Grab Bike/Grab Car. Kami optimistis kolaborasi kedua perusahaan dapat mengakomodasi makin banyak UMKM melek teknologi digital.

Country Managing Director Grab Indonesia Neneng Goenadi menyampaikan, Grab Indonesia menjadi mitra pengantaran Bukalapak untuk barang pesanan di 500 kabupaten/kota. Grab Indonesia juga membuat paket kupon pemesanan makanan Grab Food dengan akses konten di Vidio.


Realisasi Semester I/2021, Sumbawa Barat Raup Investasi Total Rp1,3 Triliun

Ayutyas 23 Jul 2021 Bisnis Indonesia

Bisnis, Mataram - Realisasi investasi Kabupaten Sumbawa Barat, NTB pada semester I/2021 mencapai Rp 1,3 triliun atau 37,21% dari target tahun ini Rp 3,54 triliun. Realisasi investasi di Sumbawa Barat masih terkonsentrasi pada sektor tambang dan diikuti oleh sektor lainnya. Investasi di sektor pariwisata difokuskan di wilayah selatan dan bagian barat kabupaten Sumbawa Barat. Pada wilayah tersebut Sumbawa Barat memiliki potensi pantai dan pulau kecil yang ditawarkan kepada investor seperti pantai Sekongkang, pulau pulau kecil seperti Pulau Kenawa. 

Pengembangan investasi di sektor pariwisata juga didukung dengan pembangunan Bandara di wilayah Kecamatan Poto Tano untuk mendukung akses ke daerah pariwisata di  Sumbawa Barat. Data BPS Sumbawa Barat mencatat struktur ekonomi daerah tersebut masih bergantung pada sektor pertambangan. Nilai PDRB Sumbawa Barat pada 2020 sebesar Rp 22,76 triliun dan 82,04% di antaranya bersumber dari sektor pertambangan. 

(Oleh - IDS)

Multipolar Berinvestasi di Unicorn Otomotif Carro

Ayutyas 21 Jul 2021 Investor Daily, 21 Juli 2021

PT Multipolar Tbk (MLPL) ikut berinvestasi di unicorn otomotif Asia Tenggara, Carro. Hal ini sebagai bagian dari transformasi Multipolar menjadi perusahaan investasi teknologi yang melayani konsumen kelas menengah di Indonesia. Direktur Multipolar Agus Arismunandar mengatakan, perseroan akan fokus pada layanan konsumen berbasis teknologi dengan terus mencermati perilaku dan kebutuhan konsumen di Indonesia. Sebab itu, sebagai perusahaan investasi, perseroan terus membuka peluang investasi di perusahaan berbasis digital atau perusahaan rintisan (start-up). Hal tersebut lantaran banyaknya tren baru di era teknologi saat ini. Carro yang didirikan pada 2015 memulai bisnisnya sebagai online marketplace untuk mobil, sebelum melakukan ekspansi secara vertikal. Carro resmi mendapatkan status unicorn setelah meraih US$ 360 juta atau sekitar Rp 5,1 triliun dalam pendanaan seri C yang dipimpin oleh Softbank Vision Fund 2 pada 15 Juni 2021. Pada 2016, Venturra Capital, anak usaha Multipolar, merupakan led investor atas pendanaan seri A senilai US$ 150 juta, dengan partisipasi Singtel Innov8, Golden Gate Ventures, Alpha JWC Ventures, Skystar Capital, dan GMO Venture Partners.

(Oleh - HR1)

162 Perusahaan Berminat Relokasi Investasi Rp 1.222 Triliun ke Indonesia

Ayutyas 19 Jul 2021 Investor Daily, 19 Juli 2021

Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengungkapkan, sebanyak 162 perusahaan dari 10 negara dengan total rencana investasi US$ 84,18 miliar atau setara Rp 1.222 triliun menyatakan minat untuk merelokasi atau ekspansi usaha ke Indonesia. Bahkan, 23 perusahaan di antaranya, dengan total rencana investasi US$ 8,13 miliar, sudah memastikan keputusan untuk relokasi atau ekspansi tersebut.

“Sampai saat ini ada 162 perusahaan yang berminat relokasi investasi ke Indonesia, termasuk dari Tiongkok,” ujar Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Ikmal Lukman dalam webinar yang berlangsung akhir pekan lalu. Menurut Ikmal, secara keseluruhan, 162 perusahaan tersebut berpotensi menyerap tenaga kerja hingga 331.060. Sedangkan 10 negara asal 162 perusahaan tersebut adalah Amerika Serikat, Taiwan, Korea Selatan, Tiongkok, Jepang, Hong Kong, Belgia, Jerman, Swiss, dan Belanda. Ia merinci, 162 perusahaan tersebut terbagi menjadi tiga kelompok, yakni sebanyak 23 perusahaan sudah pasti melakukan relokasi atau diversifikasi investasi ke Indonesia de ngan rencana nilai investasi sebesar US$ 8,13 miliar. Investasi tersebut berpotensi menyerap tenaga kerja sebanyak 70.950. Kelompok kedua adalah perusahaan yang memiliki intensi relokasi atau diversifikasi ke Indonesia sebanyak 25 perusahaan dengan nilai investasi sebanyak US$ 35,55 miliar yang berpotensi menyerap tenaga kerja sebanyak 103.680.

(Oleh - HR1)

Baru 95 Hari Kerja, INA Sudah Berhasil Gaet 3 Investor Asing

Ayutyas 14 Jul 2021 Investor Daily, 14 Juli 2021

Jakarta - Baru bekerja 95 hari, Lembaga Pengelola Investasi atau Indonesia Investment Authority (INA) sudah berhasil mengajak tiga investor asing untuk berkomitmen menanamkan modal senilai US$ 3,75 miliar di aset jalan tol. Dari total komitmen US$ 3,75 miliar itu, senilai US$ 750 juta di antaranya berasal dari INA dan masing-masing dari tiga investor asing itu US$ 1 miliar. Setelah MoU, tahap berikutnya adalah due diligence agar komitmen ini bisa terealisasi ke dalam transaksi. 

Selain itu, INA telah meneken kerja sama dengan PT Pertamina (Persero) untuk menjajaki investasi di sektor energi. Kerja sama juga dilakukan dengan Kementrian BUMN serta BUMN, antaralain Telkom, Angkasa Pura, Pelindo, Pertamina, dan Kimia Farma. Saat ini, INA sedang menindaklanjuti 8-10 aset yang berpotensi untuk diadakan kerja sama dengan lembaga ini. Semua proyek tersebar di berbagai sektor, mulai jalan tol, bandara, pelabuhan, hingga healthcare services.

(Oleh - IDS)

 

Mas Ipin Promosikan Investasi Jahe Merah

Sajili 01 Jul 2021 Surya

Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin mempromosikan investasi budi daya jahe merah di Kabupaten Trenggalek. Investasi itu menggandeng perusahaan Fintech iGrow dengan membuka peluang bagi para investor untuk turut andil mendanai pengembangan jahe merah di Kecamatan Pule, Kabupaten Trenggalek.

Bupati yang akrab disapa Mas Ipin itu menjelaskan, menginvestasikan dana yang ada pada pengembangan pertanian jahe merah di Trenggalek tergolong aman. Bahkan dalam skema itu, investasi pendanaan budi daya jahe merah diklaim dapat memberi keuntungan sebesar 18 persen per tahun.

Dalam deskripsi di situs iGrow, skema investasi terbuka itu diinisiasi oleh beberapa pihak. Antara lain PT Sari Bumi Niaga yang merupakan entitas usaha yang mewadahi para petani jahe merah di Kecamatan Pule.

Selain itu, ada juga PT Bintang Toedjoe yang berdasarkan perjanjian kerja sama akan menyerap hasil panen para petani jahe merah di Pule. Termasuk juga Pemkab Trenggalek yang menginisasi pengembangan budidaya jahe merah itu di tiga desa, yakni Pake, Pule, dan Jombok.


Investasi INA Masuk ke Proyek Level Komersial

Ayutyas 28 Jun 2021 Investor Daily, 28 Juni 2021

JAKARTA – Juru Bicara Indonesia Investment Authority (INA) atau Lembaga Pengelola Investasi (LPI) Masyita Crystallin mengatakan, karakteristik investasi INA akan masuk ke proyek-proyek yang sudah mencapai level komersial. Sehingga, investasi dilakukan terhadap proyek-proyek yang memiliki interest rate return (IRR) menjual. Untuk itu, pemerintah akan berusaha untuk meningkatkan nilai jual daerah terpencil di mata investor dengan melakukan pembangunan infrastruktur yang dikerjasamakan melalui public private partnership (PPP). Pemerataan pembangunan infrastruktur juga diperlukan agar tercipta sumber ekonomi baru yang tidak hanya berpusat di Pulau Jawa.

Menurut Masyita, masuknya INA ke proyek infrastruktur tol pada tahap awal diyakini akan memberikan mulitiplier effect atau efek berganda bagi daerah sekitar termasuk UMKM. Sebab, akses yang semakin mudah akan memperpendek konektivitas saat mendistribusikan barang. “Konektivitas antarwilayah menjadi murah, banyak daerah maju terkoneksi, sehingga UMKM ikut naik. Secara direct belum ke sana,” ujar dia. Perusahaan patungan ini akan mengelola dana investasi hingga US$ 3,75 miliar atau Rp 54 triliun (kurs Rp 14.300/ US$). Investasi keempat entitas keuangan ini akan difokuskan pada proyek infrastruktur jalan tol yang ada di Indonesia. Bahkan, dalam waktu dekat, INA akan akan melakukan investasi di tiga jalan tol. Meski demikian, ia enggan memberitahukan dengan detail ketiga jalan tol yang akan dimasuki oleh INA tersebut.

(Oleh - HR1)

Target Investasi Rp 1.200 T Disebar ke 6 Wilayah

Ayutyas 21 Jun 2021 Investor Daily, 21 Juni 2021

Jakarta - Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) akan menyebar target investasi 2022 sebesar Rp 1.200 triliun, naik 33,3% dari target tahun ini yang sebesar Rp 900 triliun ke enam wilayah yang telah dipetakan. Langkah ini juga menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk mendorong pemerataan ekonomi hingga ke luar Jawa. Target realisasi investasi tahun depan akan dikejar baik melalui penanaman modal asing (PMA) maupun penanaman modal dalam negeri (PMDN). 

Ada empat hal kunci untuk mendorong pencapaian target investasi. Pertama, penyebaran investasi yang merata di berbagai daerah. Kedua, investasi yang berkualitas. Ketiga, mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, dan terakhir terkait pemerataan pendapatan. Hingga saat ini masih ada permasalahan investasi yang terjadi. Pertama, terkait dengan rencana tata ruang, pembebasan lahan, status dan kepemilikan lahan, tumpang tindih kepemilikan konsesi, regulasi dan perpajakan, perizinan amdal, izin lingkungan IPPKH, serat kepastian jangka waktu. Kemudian masalah perjanjian kerja sama, ketenagakerjaan, dan perpajakan. 

(Oleh - IDS)

INA Harus All-Out Bantu Emiten BUMN Karya

Ayutyas 14 Jun 2021 Investor Daily, 14 Juni 2021

JAKARTA – Lembaga Pengelola Investasi (LPI) atau Indonesia Investment Authority (INA) harus all-out membantu BUMN Karya menjual proyek-proyek infrastruktur yang dibangun atas penugasan pemerintah. Divestasi harus segera dilakukan agar BUMN Karya, terutama yang sudah go public, bisa segera terlepas dari jerat utang akibat menggarap proyek-proyek penugasan pemerintah.  Untuk meningkatkan minat investor, INA bisa memberikan stimulan dengan berinvestasi pada proyekproyek di sekitar jalan tol yang dibangun BUMN Karya. Langkah tersebut akan meningkatkan volume dan frekuensi kendaraan di jalan tol, sehingga internal rate of return (IRR)-nya naik. Dalam jangka pendek, pemerintah juga perlu memfasilitasi restrukturisasi utang BUMN Karya.

Demikian benang merah wawancara Investor Daily dengan Ketua Umum Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) Suheri, peneliti Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet, ekonom senior/Rektor Universitas Indonesia (UI) Ari Kuncoro, analis Pilarmas Investindo Sekuritas Okie Setya Ardiastama, analis RHB Sekuritas Andrey Wijaya, dan analis PT Panin Sekuritas Tbk William Hartanto. Mereka dihubungi secara terpisah di Jakarta, akhir pekan lalu. Sementara itu, Direktur Utama INA Ridha Wirakusumah dan Juru Bicara INA Masyita Cr ystallin mengatakan, INA telah resmi membentuk konsorsium dengan Caisse de dépôt et placement du Québec (CDPQ), APG Asset Management (APG), dan anak usaha Abu Dhabi Investment Authority (ADIA). Konsorsium tersebut bakal mengelola dana investasi hingga US$ 3,75 miliar atau sekitar Rp 54 triliun yang difokuskan pada proyek infrastruktur jalan tol di Indonesia. Aksi bisnis yang akan ditempuh konsorsium di antaranya berinvestasi atau membeli ruas tol yang dibangun dan dikelola BUMN Karya, salah satunya PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT). Di pihak lain, Direktur Keuangan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), Ade Wahyu, Corporate Finance Group Head PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR), Eka Setya Adrianto, dan Senior Vice President Corporate Secretary PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) Ratna Ningrum menjelaskan, emitenemiten BUMN tersebut tengah mendivestasi proyek-proyeknya, termasuk melalui INA, dan melakukan restrukturisasi kredit. Mereka optimistis masalah solvabilitas perseroan segera teratasi.

Ekonom senior yang juga Rektor UI, Ari Kuncoro menyarankan agar INA tetap bergerak untuk berinvestasi pada masa pandemi Covid-19. Namun, investasi difokuskan di sekitar jalan tol kawasan-kawasan aglomerasi, seperti Jabodetabek, Semarang, dan sekitarnya. Perihal sinergi INA dan BUMN Karya untuk mengatasi persoalan utang akibat penugasan pemerintah, Ari menjelaskan, INA dan BUMN Karya bisa menempuh tiga hal. Pertama, merestrukturisasi kredit BUMN Karya. Kedua, menggalang pendanaan di pasar modal melalui konsorsium. Ketiga, segera melepas aset-aset ruas tol yang tergolong gemuk. Menurut Juru Bicara INA, Masyita Crystallin, INA resmi membentuk konsorsium dengan Caisse de dépôt et placement du Québec (CDPQ), APG Asset Management (APG), dan anak usaha Abu Dhabi Investment Authority (ADIA). Konsorsium tersebut akan mengelola dana investasi hingga US$ 3,75 miliar atau sekitar Rp 54 triliun. Masyita mengungkapkan, minat investor untuk berinvestasi di jalan tol cukup tinggi. Itu sekaligus membuktikan bahwa kepercayaan investor terhadap iklim investasi di Indonesia semakin tumbuh. Apalagi saat ini Indonesia sedang gencar-gencarnya membangun infrastruktur, terutama di jalan tol. Menurut Direktur Utama INA, Ridha Wirakusumah, INA bisa berinvestasi di sektor mana pun. Namun, saat ini INA fokus pada empat sektor kunci, yaitu infrastruktur yang mencakup bandara, pelabuhan, dan jalan tol. “Ada pula infrastruktur digital yang juga mencakup digital services dan platform. Kami pun ada deal ke healthcare dan renewable energy,” ujar dia dalam diskusi virtual bersama Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Kamis (10/6). Ridha mengungkapkan, proyek infrastruktur akan menjadi sektor andalan. “Misalnya untuk kargo, pertumbuhan Indonesia paling tinggi dan punya volume besar. Sayangnya pengoperasian kargo masih manual. Bagi investor, tentunya ini peluang besar,” tandas dia.

(Oleh - HR1)

Pilihan Editor