INA Harus All-Out Bantu Emiten BUMN Karya
JAKARTA – Lembaga Pengelola Investasi
(LPI) atau Indonesia Investment Authority (INA)
harus all-out membantu BUMN Karya menjual
proyek-proyek infrastruktur yang dibangun atas
penugasan pemerintah. Divestasi harus segera
dilakukan agar BUMN Karya, terutama yang sudah
go public, bisa segera terlepas dari jerat utang
akibat menggarap proyek-proyek penugasan
pemerintah.
Untuk meningkatkan minat investor, INA bisa memberikan stimulan dengan berinvestasi pada proyekproyek di sekitar jalan tol yang
dibangun BUMN Karya. Langkah
tersebut akan meningkatkan volume
dan frekuensi kendaraan di jalan tol,
sehingga internal rate of return (IRR)-nya naik. Dalam jangka pendek,
pemerintah juga perlu memfasilitasi
restrukturisasi utang BUMN Karya.
Demikian benang merah wawancara Investor Daily dengan Ketua
Umum Asosiasi Dana Pensiun
Indonesia (ADPI) Suheri, peneliti
Center of Reform on Economics
(Core) Indonesia Yusuf Rendy
Manilet, ekonom senior/Rektor Universitas Indonesia (UI) Ari Kuncoro,
analis Pilarmas Investindo Sekuritas
Okie Setya Ardiastama, analis RHB
Sekuritas Andrey Wijaya, dan analis
PT Panin Sekuritas Tbk William
Hartanto. Mereka dihubungi secara
terpisah di Jakarta, akhir pekan lalu.
Sementara itu, Direktur Utama
INA Ridha Wirakusumah dan Juru
Bicara INA Masyita Cr ystallin
mengatakan, INA telah resmi membentuk konsorsium dengan Caisse
de dépôt et placement du Québec
(CDPQ), APG Asset Management
(APG), dan anak usaha Abu Dhabi
Investment Authority (ADIA).
Konsorsium tersebut bakal mengelola dana investasi hingga US$
3,75 miliar atau sekitar Rp 54 triliun
yang difokuskan pada proyek infrastruktur jalan tol di Indonesia.
Aksi bisnis yang akan ditempuh konsorsium di antaranya berinvestasi
atau membeli ruas tol yang dibangun dan dikelola BUMN Karya,
salah satunya PT Waskita Karya
(Persero) Tbk (WSKT).
Di pihak lain, Direktur Keuangan
PT Wijaya Karya (Persero) Tbk
(WIKA), Ade Wahyu, Corporate
Finance Group Head PT Jasa Marga
(Persero) Tbk (JSMR), Eka Setya
Adrianto, dan Senior Vice President
Corporate Secretary PT Waskita
Karya (Persero) Tbk (WSKT) Ratna
Ningrum menjelaskan, emitenemiten BUMN tersebut tengah
mendivestasi proyek-proyeknya,
termasuk melalui INA, dan melakukan restrukturisasi kredit. Mereka
optimistis masalah solvabilitas
perseroan segera teratasi.
Ekonom senior yang juga Rektor
UI, Ari Kuncoro menyarankan agar
INA tetap bergerak untuk berinvestasi
pada masa pandemi Covid-19. Namun,
investasi difokuskan di sekitar jalan
tol kawasan-kawasan aglomerasi,
seperti Jabodetabek, Semarang, dan
sekitarnya.
Perihal sinergi INA dan BUMN Karya untuk mengatasi persoalan utang
akibat penugasan pemerintah, Ari
menjelaskan, INA dan BUMN Karya
bisa menempuh tiga hal. Pertama,
merestrukturisasi kredit BUMN Karya. Kedua, menggalang pendanaan
di pasar modal melalui konsorsium.
Ketiga, segera melepas aset-aset ruas
tol yang tergolong gemuk.
Menurut Juru Bicara INA, Masyita
Crystallin, INA resmi membentuk
konsorsium dengan Caisse de dépôt
et placement du Québec (CDPQ),
APG Asset Management (APG), dan
anak usaha Abu Dhabi Investment
Authority (ADIA). Konsorsium tersebut akan mengelola dana investasi
hingga US$ 3,75 miliar atau sekitar
Rp 54 triliun.
Masyita mengungkapkan, minat
investor untuk berinvestasi di jalan
tol cukup tinggi. Itu sekaligus membuktikan bahwa kepercayaan investor
terhadap iklim investasi di Indonesia
semakin tumbuh. Apalagi saat ini
Indonesia sedang gencar-gencarnya
membangun infrastruktur, terutama
di jalan tol.
Menurut Direktur Utama INA,
Ridha Wirakusumah, INA bisa berinvestasi di sektor mana pun. Namun,
saat ini INA fokus pada empat sektor
kunci, yaitu infrastruktur yang mencakup bandara, pelabuhan, dan jalan tol.
“Ada pula infrastruktur digital
yang juga mencakup digital services
dan platform. Kami pun ada deal ke
healthcare dan renewable energy,” ujar
dia dalam diskusi virtual bersama
Lembaga Pengembangan Perbankan
Indonesia (LPPI), Kamis (10/6).
Ridha mengungkapkan, proyek infrastruktur akan menjadi sektor andalan.
“Misalnya untuk kargo, pertumbuhan
Indonesia paling tinggi dan punya volume besar. Sayangnya pengoperasian
kargo masih manual. Bagi investor,
tentunya ini peluang besar,” tandas dia.
(Oleh - HR1)
Tags :
#Investasi lainnyaPostingan Terkait
Ketahanan Investasi di Sektor Hulu Migas
Peluang Bisnis PT Garuda Indonesia
Mengawasi Langkah Strategis Danantara
Arus Modal Asing Bersiap Masuk
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023