Investasi lainnya
( 1334 )EMTK Tambahkan Modal ke Grab Indonesia
PT Elang Mahkota Teknologi Tbk menuntaskan penyertaan investasi 375 juta dollar AS ke PT Grab Teknologi Indonesia. Keduanya sepakat menggabungkan portofolio bisnis masing-masing untuk memperluas pangsa pasar di segmen usaha mikro, kecil, dan menengah.
Sebelumnya, pada 30 Juni 2021, EMTK mengumumkan menambah kepemilikan saham mereka di Grab Indonesia melalui penyertaan saham baru yang diterbitkan oleh Grab Indonesia. Grab Indonesia menerbitkan 311,27 juta lembar saham dengan nominal Rp 1.000 per lembar. Jumlah ini setara dengan 3,29 persen dari modal disetor dan ditempatkan oleh Grab Indonesia. Sebelum itu, EMTK Group telah memegang 244,57 juta saham Grab Indonesia, setara dengan 2,68 persen dari modal disetor dan ditempatkan Grab Indonesia.
Portofolio bisnis Grab Indonesia juga banyak berkecimpung di segmen UMKM, seperti Grab Food dan Grab Bike/Grab Car. Kami optimistis kolaborasi kedua perusahaan dapat mengakomodasi makin banyak UMKM melek teknologi digital.
Country Managing Director Grab Indonesia Neneng Goenadi menyampaikan, Grab Indonesia menjadi mitra pengantaran Bukalapak untuk barang pesanan di 500 kabupaten/kota. Grab Indonesia juga membuat paket kupon pemesanan makanan Grab Food dengan akses konten di Vidio.
Realisasi Semester I/2021, Sumbawa Barat Raup Investasi Total Rp1,3 Triliun
Bisnis, Mataram - Realisasi investasi Kabupaten Sumbawa Barat, NTB pada semester I/2021 mencapai Rp 1,3 triliun atau 37,21% dari target tahun ini Rp 3,54 triliun. Realisasi investasi di Sumbawa Barat masih terkonsentrasi pada sektor tambang dan diikuti oleh sektor lainnya. Investasi di sektor pariwisata difokuskan di wilayah selatan dan bagian barat kabupaten Sumbawa Barat. Pada wilayah tersebut Sumbawa Barat memiliki potensi pantai dan pulau kecil yang ditawarkan kepada investor seperti pantai Sekongkang, pulau pulau kecil seperti Pulau Kenawa.
Pengembangan investasi di sektor pariwisata juga didukung dengan pembangunan Bandara di wilayah Kecamatan Poto Tano untuk mendukung akses ke daerah pariwisata di Sumbawa Barat. Data BPS Sumbawa Barat mencatat struktur ekonomi daerah tersebut masih bergantung pada sektor pertambangan. Nilai PDRB Sumbawa Barat pada 2020 sebesar Rp 22,76 triliun dan 82,04% di antaranya bersumber dari sektor pertambangan.
(Oleh - IDS)
Multipolar Berinvestasi di Unicorn Otomotif Carro
PT Multipolar Tbk (MLPL) ikut berinvestasi di
unicorn otomotif Asia Tenggara, Carro. Hal ini sebagai bagian dari
transformasi Multipolar menjadi perusahaan investasi teknologi
yang melayani konsumen kelas menengah di Indonesia.
Direktur Multipolar Agus Arismunandar
mengatakan, perseroan akan fokus pada layanan
konsumen berbasis teknologi dengan terus
mencermati perilaku dan kebutuhan konsumen
di Indonesia. Sebab itu, sebagai perusahaan
investasi, perseroan terus membuka peluang
investasi di perusahaan berbasis digital atau
perusahaan rintisan (start-up). Hal tersebut lantaran banyaknya tren baru di era teknologi saat ini.
Carro yang didirikan pada 2015 memulai
bisnisnya sebagai online marketplace untuk
mobil, sebelum melakukan ekspansi secara
vertikal. Carro resmi mendapatkan status unicorn setelah meraih US$ 360 juta atau sekitar
Rp 5,1 triliun dalam pendanaan seri C yang
dipimpin oleh Softbank Vision Fund 2 pada 15
Juni 2021. Pada 2016, Venturra Capital, anak
usaha Multipolar, merupakan led investor atas
pendanaan seri A senilai US$ 150 juta, dengan
partisipasi Singtel Innov8, Golden Gate Ventures, Alpha JWC Ventures, Skystar Capital,
dan GMO Venture Partners.
(Oleh - HR1)
162 Perusahaan Berminat Relokasi Investasi Rp 1.222 Triliun ke Indonesia
Kementerian Investasi/Badan
Koordinasi Penanaman Modal (BKPM)
mengungkapkan, sebanyak 162 perusahaan
dari 10 negara dengan total rencana investasi
US$ 84,18 miliar atau setara Rp 1.222 triliun
menyatakan minat untuk merelokasi atau
ekspansi usaha ke Indonesia. Bahkan, 23
perusahaan di antaranya, dengan total rencana
investasi US$ 8,13 miliar, sudah memastikan
keputusan untuk relokasi atau ekspansi tersebut.
“Sampai saat ini ada 162 perusahaan yang berminat relokasi investasi ke Indonesia, termasuk
dari Tiongkok,” ujar Deputi Bidang
Promosi Penanaman Modal Kementerian Investasi/Badan Koordinasi
Penanaman Modal (BKPM) Ikmal
Lukman dalam webinar yang berlangsung akhir pekan lalu.
Menurut Ikmal, secara keseluruhan, 162 perusahaan tersebut
berpotensi menyerap tenaga kerja
hingga 331.060. Sedangkan 10 negara asal 162 perusahaan tersebut
adalah Amerika Serikat, Taiwan,
Korea Selatan, Tiongkok, Jepang,
Hong Kong, Belgia, Jerman, Swiss,
dan Belanda.
Ia merinci, 162 perusahaan tersebut terbagi menjadi tiga kelompok,
yakni sebanyak 23 perusahaan sudah pasti melakukan relokasi atau
diversifikasi investasi ke Indonesia
de ngan rencana nilai investasi sebesar US$ 8,13 miliar. Investasi tersebut berpotensi menyerap tenaga
kerja sebanyak 70.950.
Kelompok kedua adalah perusahaan yang memiliki intensi relokasi
atau diversifikasi ke Indonesia sebanyak 25 perusahaan dengan nilai
investasi sebanyak US$ 35,55 miliar
yang berpotensi menyerap tenaga
kerja sebanyak 103.680.
(Oleh - HR1)
Baru 95 Hari Kerja, INA Sudah Berhasil Gaet 3 Investor Asing
Jakarta - Baru bekerja 95 hari, Lembaga Pengelola Investasi atau Indonesia Investment Authority (INA) sudah berhasil mengajak tiga investor asing untuk berkomitmen menanamkan modal senilai US$ 3,75 miliar di aset jalan tol. Dari total komitmen US$ 3,75 miliar itu, senilai US$ 750 juta di antaranya berasal dari INA dan masing-masing dari tiga investor asing itu US$ 1 miliar. Setelah MoU, tahap berikutnya adalah due diligence agar komitmen ini bisa terealisasi ke dalam transaksi.
Selain itu, INA telah meneken kerja sama dengan PT Pertamina (Persero) untuk menjajaki investasi di sektor energi. Kerja sama juga dilakukan dengan Kementrian BUMN serta BUMN, antaralain Telkom, Angkasa Pura, Pelindo, Pertamina, dan Kimia Farma. Saat ini, INA sedang menindaklanjuti 8-10 aset yang berpotensi untuk diadakan kerja sama dengan lembaga ini. Semua proyek tersebar di berbagai sektor, mulai jalan tol, bandara, pelabuhan, hingga healthcare services.
(Oleh - IDS)
Mas Ipin Promosikan Investasi Jahe Merah
Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin mempromosikan investasi budi daya jahe merah di Kabupaten Trenggalek. Investasi itu menggandeng perusahaan Fintech iGrow dengan membuka peluang bagi para investor untuk turut andil mendanai pengembangan jahe merah di Kecamatan Pule, Kabupaten Trenggalek.
Bupati yang akrab disapa Mas Ipin itu menjelaskan, menginvestasikan dana yang ada pada pengembangan pertanian jahe merah di Trenggalek tergolong aman. Bahkan dalam skema itu, investasi pendanaan budi daya jahe merah diklaim dapat memberi keuntungan sebesar 18 persen per tahun.
Dalam deskripsi di situs iGrow, skema investasi terbuka itu diinisiasi oleh beberapa pihak. Antara lain PT Sari Bumi Niaga yang merupakan entitas usaha yang mewadahi para petani jahe merah di Kecamatan Pule.
Selain itu, ada juga PT Bintang Toedjoe yang berdasarkan perjanjian kerja sama akan menyerap hasil panen para petani jahe merah di Pule. Termasuk juga Pemkab Trenggalek yang menginisasi pengembangan budidaya jahe merah itu di tiga desa, yakni Pake, Pule, dan Jombok.
Investasi INA Masuk ke Proyek Level Komersial
JAKARTA – Juru Bicara Indonesia Investment Authority
(INA) atau Lembaga Pengelola
Investasi (LPI) Masyita Crystallin mengatakan, karakteristik
investasi INA akan masuk ke
proyek-proyek yang sudah
mencapai level komersial. Sehingga, investasi dilakukan
terhadap proyek-proyek yang
memiliki interest rate return
(IRR) menjual.
Untuk itu, pemerintah akan
berusaha untuk meningkatkan
nilai jual daerah terpencil di
mata investor dengan melakukan pembangunan infrastruktur yang dikerjasamakan
melalui public private partnership (PPP). Pemerataan pembangunan infrastruktur juga
diperlukan agar tercipta sumber ekonomi baru yang tidak
hanya berpusat di Pulau Jawa.
Menurut Masyita, masuknya
INA ke proyek infrastruktur tol
pada tahap awal diyakini akan
memberikan mulitiplier effect
atau efek berganda bagi daerah
sekitar termasuk UMKM. Sebab,
akses yang semakin mudah akan
memperpendek konektivitas
saat mendistribusikan barang.
“Konektivitas antarwilayah menjadi murah, banyak daerah maju
terkoneksi, sehingga UMKM
ikut naik. Secara direct belum ke
sana,” ujar dia. Perusahaan patungan ini
akan mengelola dana investasi
hingga US$ 3,75 miliar atau
Rp 54 triliun (kurs Rp 14.300/
US$). Investasi keempat entitas
keuangan ini akan difokuskan
pada proyek infrastruktur jalan
tol yang ada di Indonesia.
Bahkan, dalam waktu dekat,
INA akan akan melakukan investasi di tiga jalan tol. Meski
demikian, ia enggan memberitahukan dengan detail ketiga
jalan tol yang akan dimasuki
oleh INA tersebut.
(Oleh - HR1)
Target Investasi Rp 1.200 T Disebar ke 6 Wilayah
Jakarta - Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) akan menyebar target investasi 2022 sebesar Rp 1.200 triliun, naik 33,3% dari target tahun ini yang sebesar Rp 900 triliun ke enam wilayah yang telah dipetakan. Langkah ini juga menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk mendorong pemerataan ekonomi hingga ke luar Jawa. Target realisasi investasi tahun depan akan dikejar baik melalui penanaman modal asing (PMA) maupun penanaman modal dalam negeri (PMDN).
Ada empat hal kunci untuk mendorong pencapaian target investasi. Pertama, penyebaran investasi yang merata di berbagai daerah. Kedua, investasi yang berkualitas. Ketiga, mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, dan terakhir terkait pemerataan pendapatan. Hingga saat ini masih ada permasalahan investasi yang terjadi. Pertama, terkait dengan rencana tata ruang, pembebasan lahan, status dan kepemilikan lahan, tumpang tindih kepemilikan konsesi, regulasi dan perpajakan, perizinan amdal, izin lingkungan IPPKH, serat kepastian jangka waktu. Kemudian masalah perjanjian kerja sama, ketenagakerjaan, dan perpajakan.
(Oleh - IDS)
INA Harus All-Out Bantu Emiten BUMN Karya
JAKARTA – Lembaga Pengelola Investasi
(LPI) atau Indonesia Investment Authority (INA)
harus all-out membantu BUMN Karya menjual
proyek-proyek infrastruktur yang dibangun atas
penugasan pemerintah. Divestasi harus segera
dilakukan agar BUMN Karya, terutama yang sudah
go public, bisa segera terlepas dari jerat utang
akibat menggarap proyek-proyek penugasan
pemerintah.
Untuk meningkatkan minat investor, INA bisa memberikan stimulan dengan berinvestasi pada proyekproyek di sekitar jalan tol yang
dibangun BUMN Karya. Langkah
tersebut akan meningkatkan volume
dan frekuensi kendaraan di jalan tol,
sehingga internal rate of return (IRR)-nya naik. Dalam jangka pendek,
pemerintah juga perlu memfasilitasi
restrukturisasi utang BUMN Karya.
Demikian benang merah wawancara Investor Daily dengan Ketua
Umum Asosiasi Dana Pensiun
Indonesia (ADPI) Suheri, peneliti
Center of Reform on Economics
(Core) Indonesia Yusuf Rendy
Manilet, ekonom senior/Rektor Universitas Indonesia (UI) Ari Kuncoro,
analis Pilarmas Investindo Sekuritas
Okie Setya Ardiastama, analis RHB
Sekuritas Andrey Wijaya, dan analis
PT Panin Sekuritas Tbk William
Hartanto. Mereka dihubungi secara
terpisah di Jakarta, akhir pekan lalu.
Sementara itu, Direktur Utama
INA Ridha Wirakusumah dan Juru
Bicara INA Masyita Cr ystallin
mengatakan, INA telah resmi membentuk konsorsium dengan Caisse
de dépôt et placement du Québec
(CDPQ), APG Asset Management
(APG), dan anak usaha Abu Dhabi
Investment Authority (ADIA).
Konsorsium tersebut bakal mengelola dana investasi hingga US$
3,75 miliar atau sekitar Rp 54 triliun
yang difokuskan pada proyek infrastruktur jalan tol di Indonesia.
Aksi bisnis yang akan ditempuh konsorsium di antaranya berinvestasi
atau membeli ruas tol yang dibangun dan dikelola BUMN Karya,
salah satunya PT Waskita Karya
(Persero) Tbk (WSKT).
Di pihak lain, Direktur Keuangan
PT Wijaya Karya (Persero) Tbk
(WIKA), Ade Wahyu, Corporate
Finance Group Head PT Jasa Marga
(Persero) Tbk (JSMR), Eka Setya
Adrianto, dan Senior Vice President
Corporate Secretary PT Waskita
Karya (Persero) Tbk (WSKT) Ratna
Ningrum menjelaskan, emitenemiten BUMN tersebut tengah
mendivestasi proyek-proyeknya,
termasuk melalui INA, dan melakukan restrukturisasi kredit. Mereka
optimistis masalah solvabilitas
perseroan segera teratasi.
Ekonom senior yang juga Rektor
UI, Ari Kuncoro menyarankan agar
INA tetap bergerak untuk berinvestasi
pada masa pandemi Covid-19. Namun,
investasi difokuskan di sekitar jalan
tol kawasan-kawasan aglomerasi,
seperti Jabodetabek, Semarang, dan
sekitarnya.
Perihal sinergi INA dan BUMN Karya untuk mengatasi persoalan utang
akibat penugasan pemerintah, Ari
menjelaskan, INA dan BUMN Karya
bisa menempuh tiga hal. Pertama,
merestrukturisasi kredit BUMN Karya. Kedua, menggalang pendanaan
di pasar modal melalui konsorsium.
Ketiga, segera melepas aset-aset ruas
tol yang tergolong gemuk.
Menurut Juru Bicara INA, Masyita
Crystallin, INA resmi membentuk
konsorsium dengan Caisse de dépôt
et placement du Québec (CDPQ),
APG Asset Management (APG), dan
anak usaha Abu Dhabi Investment
Authority (ADIA). Konsorsium tersebut akan mengelola dana investasi
hingga US$ 3,75 miliar atau sekitar
Rp 54 triliun.
Masyita mengungkapkan, minat
investor untuk berinvestasi di jalan
tol cukup tinggi. Itu sekaligus membuktikan bahwa kepercayaan investor
terhadap iklim investasi di Indonesia
semakin tumbuh. Apalagi saat ini
Indonesia sedang gencar-gencarnya
membangun infrastruktur, terutama
di jalan tol.
Menurut Direktur Utama INA,
Ridha Wirakusumah, INA bisa berinvestasi di sektor mana pun. Namun,
saat ini INA fokus pada empat sektor
kunci, yaitu infrastruktur yang mencakup bandara, pelabuhan, dan jalan tol.
“Ada pula infrastruktur digital
yang juga mencakup digital services
dan platform. Kami pun ada deal ke
healthcare dan renewable energy,” ujar
dia dalam diskusi virtual bersama
Lembaga Pengembangan Perbankan
Indonesia (LPPI), Kamis (10/6).
Ridha mengungkapkan, proyek infrastruktur akan menjadi sektor andalan.
“Misalnya untuk kargo, pertumbuhan
Indonesia paling tinggi dan punya volume besar. Sayangnya pengoperasian
kargo masih manual. Bagi investor,
tentunya ini peluang besar,” tandas dia.
(Oleh - HR1)
Model Baru Misi Dagang
Pandemi Covid-19 tak menyurutkan misi dagang antarpulau dan
daerah, bahkan lintas negara. Pandemi yang membatasi perdagangan fisik
melahirkan model baru jaringan perdagangan dan bisnis secara virtual dan hibrida.
Kamar Dagang dan Industri Indonesia, Sekolah Ekspor, Kementerian Perdagangan,
dan Kementerian Luar Negeri bekerja sama memanfaatkan momentum pandemi untuk memperkuat
jaringan perdagangan dan bisnis secara virtual. Salah satunya ialah mempertemukan
diaspora Indonesia di luar negeri dengan pelaku usaha di dalam negeri pada
ruang virtual.
Akhir Mei 2021, misalnya, ruang interaksi virtual ini direalisasikan melalui Seri Dialog Global 500K Eksportir Baru ”Diaspora Eksportir Baru Wilayah Amerika Serikat”. Diaspora yang memiliki bisnis di sejumlah wilayah AS dihadirkan. Mereka bergerak di sektor ritel, logistik, pergudangan terintegrasi, dan distribusi. Selain berbagi pengalaman dan membagikan kondisi pasar AS, para diaspora Indonesia itu juga berkomitmen menjadi aggregator atau penghubung dengan pebisnis dan konsumen di AS.
Adapun Balai Besar Pelatihan Pendidikan dan Pelatihan Ekspor dan Sekolah Ekspor bekerja sama mengurasi dan memetakan diaspora-diaspora Indonesia di beberapa negara. Hal itu dalam rangka membangun jaringan ekspor dari hulu hingga hilir dan pembuatan peta jalan pengembangan ekspor bagi 500.000 eksportir baru dari kalangan UKM.
Pandemi juga membuat pemerintah ”menyulap” pameran perdagangan internasional tahunan Trade Expo Indonesia (TEI) menjadi TEI Virtual Exhibition (TEI-VE) pada 2020. Sebulan digelar, pameran yang merupakan bagian dari misi dagang dan investasi ini membukukan transaksi senilai 1,2 miliar dollar AS. Pameran ini menghadirkan 690 pelaku usaha dan 7.459 pembeli yang meliputi 3.352 pembeli dari 127 negara mitra dagang dan 4.107 pembeli lokal.
Untuk menggerakkan perdagangan antardaerah dan pulau, pemerintah daerah menggalakkan misi dagang dan investasi baik secara virtual maupun hibrida (daring dan luring). Pada akhir September 2020, misalnya, Pemerintah Provinsi Jawa Timur menggelar misi dagang hibrida dengan Pemprov Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, dan Maluku. Total transaksi yang dibukukan dalam misi dagang hibrida itu senilai Rp 168,22 miliar. Pada 3 Juni 2021, DKI Jakarta dan Jatim menandatangani nota kesepahaman dan perjanjian kerja sama di bidang perdagangan, investasi, dan pembentukan komunitas kebutuhan pangan. Acara ini juga menghadirkan pelaku usaha dari DKI Jakarta dan Jatim dan berhasil membukukan transaksi senilai Rp 750,439 miliar.
Grand View Research, perusahaan konsultan dan riset pasar yang berbasis di India dan AS, mencatat, pasar acara virtual global bernilai 77,98 miliar dollar AS pada 2019 dan 94,04 miliar dollar AS pada 2020. Laju pertumbuhan majemuk tahunan (compound annual growth rate) dari 2020 hingga 2027 diperkirakan sebesar 23,2 persen. Acara virtual ini antara lain mencakup konferensi video, streaming, dan penyiaran langsung, bursa kerja, pameran dagang, serta komunikasi atau pertemuan bisnis perdagangan dan investasi.








