INA Jajaki Sejumlah Proyek Energi Pertamina
JAKARTA – Indonesia Investment Authority (INA)
menjajaki potensi kemitraan strategis investasi pada
sebagian proyek energi milik PT Pertamina (Persero).
Proyek-proyek yang akan mendapat kucuran dana
tersebut dibutuhkan untuk mewujudkan ketahanan
energi dan menggerakkan ekonomi nasional.
Hal itu ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerahasiaan (non-disclosure agreement/NDA) oleh Direktur
Utama Pertamina Nicke Widyawati
dan Ketua Dewan Direktur INA Ridha
Wirakusumah, Rabu (19/5). Perjanjian
ini sebagai dasar untuk mengeksplorasi
lebih detail potensi kerja sama diantaranya keduanya.
Beberapa proyek yang dapat didanai
INA, mengacu dokumen Pertamina,
yakni Proyek Kilang Tuban, perbaikan
dan peningkatan kapasitas (upgrading)
Kilang Dumai, Plaju, Cilacap, Balikpapan, dan Balongan, serta pembangunan
tanki bahan bakar minyak (BBM) dan
gas minyak cair (liquefied petroleum
gas/LPG) di Indonesia Timur. Selain
itu, proyek energi bersih seperti
Proyek Gasifikasi Batu bara Tanjung
Enim, Kilang Hijau Plaju dan Green
Diesel Kilang Cilacap, serta Katalis
Merah Putih juga dapat didanai INA.
Nicke mengungkapkan, Holding
Pertamina akan fokus menggarap
bisnis perusahaan ke depan, termasuk
terkait transisi energi dari fosil ke
energi terbarukan yang pasti terjadi.
Pada saat yang sama, perseroan akan
memperkuat bisnis yang ada. Kebutuhan pendanaan untuk strategi tersebut
cukup besar.
Pjs Senior Vice President Corporate
Communications & Investor Relations
Pertamina Fajriyah Usman mengatakan, investasi yang dilakukan Pertamina bertujuan untuk meningkatkan produksi dan cadangan migas. Langkah ini
akan berdampak pada pengurangan impor minyak nasional dan mendukung
visi pemerintah dalam mewujudkan
ketahanan energi nasional sesuai dengan Grand Strategy Energi Nasional.
“Keseluruhan investasi Pertamina,
terbuka untuk kerja sama dengan INA.
Kami menyambut baik peluang ini
agar bisa terlaksana dan berdampak
positif bagi semua pihak,” tambahnya.
Sebelumnya, Direktur Keuangan
Pertamina Emma Sri Martini sempat
menuturkan, kebutuhan investasi US$
92 miliar akan dibiayai pendanaan
internal 38% dan eksternal 62%. Pendanaan eksternal dibutuhkan agar
keuangan perseroan tidak terlalu
tertekan. Kemudian untuk menjaga
rasio utang, porsi pendanaan berupa
ekuitas akan lebih besar.
(Oleh - HR1)
Tags :
#Investasi lainnyaPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023