Inflasi
( 547 )Jangan Remehkan Ancaman Resesi
Meski kondisi ekonomi relatif stabil dan sedang memasuki fase ekspansi, Indonesia tidak boleh meremehkan ancaman resesi global. Tiga negara dan satu kawasan—AS, RRT, India, dan Uni Eropa—yang mewakili 62,1% PDB dunia sedang dilanda perlambatan pertumbuhan ekonomi dan hiperinflasi (stagflasi), bahkan terancam resesi. Selain memperkuat stabilitas moneter, fiskal, dan jasa keuangan, pangan dan energi dipastikan cukup tersedia. Pemerintah diimbau tidak mengambil kebijakan yang melawan pasar dan menaikkan harga barang dan jasa. Lebih lanjut, dengan porsi PDB yang hampir mencapai dua per tiga PDB dunia, ekonomi ketiga negara dan satu kawasan tersebut akan menjadi penentu arah pertumbuhan ekonomi dunia. Karena, tingkat permintaan dunia mayoritas disumbang oleh mereka, sehingga ketika permintaan keempatnya melemah, tingkat produksi dan perdagangan global ikut melemah. Hal ini akan berdampak kepada negara-negara berkembang yang mayoritas adalah pemasok bahan baku dunia. Bahkan, ketika ketidakpastian global meninggi, pasar keuangan akan ikut terdampak. (Yetede)
KSSK: Inflasi 4 Juli 4,94% Moderat
Meski inflasi meningkat, Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menilai inflasi Juli lalu sebesar 4,94% secara tahunan (year on year) masih moderat. Inflasi inti juga masih terjaga pada level 2,86% (yoy), didukung oleh sinergi kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia. “Inflasi Juli 2022 sebesar 4,94% (yoy) masih relatif moderat dibandingkan berbagai negara peers. Ini seperti Thailand, yang tercatat inflasinya mencapai 7,7% (yoy), India inflasinya 7% (yoy), dan Filipina 6,1% (yoy),” kata Ketua KSSK sekaligus Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam konferensi pers mengenai hasil rapat berkala KSSK, Senin (1/8/2022). Komite tersebut terdiri atas Kementerian Keuangan, Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Margo Yuwono mengatakan, komponen harga bergejolak menjadi pendorong inflasi terbesar pada Juli 2022. Pada komponen harga bergejolak terjadi inflasi sebesar 1,41%, dan memberikan andil sebesar 0,25% pada inflasi keseluruhan Juli 2022. (Yetede)
Inflasi Makin Bebani Petani
Kenaikan harga pangan, energi, dan pupuk terus memicu kenaikan inflasi. Inflasi tersebut makin merambah ke berbagai sektor ekonomi, seperti rumah tangga, pertanian, industri, transportasi, dan konstruksi. Modal petani bahkan makin tertekan akibat kenaikan harga pupuk. Potret tekanan inflasi terhadap berbagai sektor itu terindikasi dari tingkat inflasi umum, inflasi harga perdagangan besar (HPB), dan nilai tukar usaha petani. BPS, Senin (!/8) merilis tingkat inflasi Juli 2022 yang mencapai 0,64 % secara bulanan dan 3,85 % secara tahun kalender. Sementara secara tahunan, inflasi pada Juli 2022 mencapai 4,94 %, jauh di atas target inflasi BI tahun ini sebesar 2-4 %.
Komoditas yang memberikan andil besar terhadap inflasi adalah cabai merah dan rawit, tarif angkutan udara, dan bahan bakar rumah tangga. Untuk minyak goreng, harganya terus turun dalam tiga bulan terakhir. Secara bulanan, minyak goreng memberi andil terhadap deflasi 0,07 %. Namun, secara tahunan, komoditas itu masih berkontribusi terhadap inflasi sebesar 0,29 %. Kepala BPS Margo Yuwono mengatakan, selain kenaikan harga pangan, energi, dan pupuk global, inflasi juga disebabkan oleh anomali cuaca serta kenaikan harga bahan bakar minyak, gas, dan tarif listrik nonsubsidi. (Yoga)
Ekonomi Indonesia Belum Lepas dari Hantu Inflasi Tinggi
Ekonomi Indonesia belum lekang dari bayang-bayang inflasi tinggi. Tren lonjakan inflasi ini berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi Indonesia karena menggerus daya beli masyarakat, tulang punggung ekonomi kita.
Kemarin, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa inflasi Juli 2022 sebesar 0,64% month on month (mom) atau 4,94% year on year (yoy). Pendorong inflasi, selain lonjakan harga pangan, adalah harga yang diatur pemerintah alias administered prices. Pada Juli 2022, komponen administered prices mencatatkan inflasi 1,17% mom atau 6,51% yoy, dan berandil 0,21% terhadap laju inflasi nasional. Harga energi nonsubsidi juga turut menggerek inflasi.
MENJINAKKAN LAJU INFLASI
Di tengah ketidakpastian global yang tinggi, angka inflasi Indonesia pada Juli 2022 rupanya tak buruk-buruk amat. Apalagi, jika dibandingkan dengan negara-negara G20, inflasi domestik masih tergolong rendah.Kendati demikian, Pemerintah dan Bank Indonesia didorong untuk terus memacu kolaborasi dengan menyiapkan langkah strategis guna meredam agar laju inflasi tak makin tinggi. Hal itu dilakukan demi menjaga daya beli masyarakat yang menjadi salah satu andalan dalam menopang pemulihan ekonomi nasional.Data terbaru Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa inflasi pada Juli 2022 mencapai 4,94% (year-on-year/YoY), menembus batas atas target terbaru pemerintah sebesar 4,5%. Angka itu juga berada di atas target inflasi tahunan yang ditetapkan BI sebesar 4,5%-4,6%.Merespons dinamika inflasi terkini, Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan bank sentral akan memperkuat operasi moneter sebagai langkah preventif dan berorientasi ke depan untuk memitigasi risiko kenaikan ekspektasi inflasi.
BI juga melakukan normalisasi kebijakan likuiditas melalui kenaikan Giro Wajib Minimum (GWM) rupiah secara bertahap dan pemberian insentif yang berlangsung tanpa mengganggu kondisi likuiditas dan intermediasi perbankan.
Adapun, Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman menyatakan inflasi yang terus meningkat disebabkan oleh membaiknya permintaan, menyusul adanya pelonggaran mobilitas yang mendorong perputaran uang. Dia menuturkan BI perlu menaikkan suku bunga acuan seiring dengan naiknya angka inflasi yang hampir mencapai 5%. “Karena tren inflasi inti juga diperkirakan terus meningkat ke depan,” katanya. Kepala BPS Margo Yuwono mengatakan inflasi komponen inti sejauh ini masih stabil. Inflasi inti pada Juli 2022 tercatat mencapai 2,86% secara tahunan.
Waspada Rambatan Resesi AS
Kondisi perekonomian dunia berada diambang ketidakpastian. Geliat ekonomi pascakrisis pandemi Covid-19 diperparah dengan krisis geopolitik berupa perang antara Rusia dan Ukraina menyebabkan harga komoditas penting terutama energi dan pangan melonjak tajam. Kenaikan harga komoditas yang signifikan ini memicu inflasi yang cukup tinggi di berbagai belahan dunia atau biasa disebut dengan istilah stagflasi. Kondisi tersebut menyebabkan penurunan pertumbuhan ekonomi global berada di depan mata. Penurunan pertumbuhan ekonomi tersebut terjadi secara luas di hampir semua negara. Hal ini terlihat dari pemangkasan target pertumbuhan yang dilakukan baik di kelompok negara maju maupun berkembang. Sebagai contoh, proyeksi pertumbuhan ekonomi 2022 untuk Zona Eropa sebagai episentrum konflik geopolitik mengalami revisi ke bawah dari 4,2% menjadi 2,5%. Kondisi lebih parah terjadi di Rusia dan Ukraina yang diprediksi mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 8,9% dan 45,1%. Bahkan pertumbuhan ekonomi dua negara terbesar di dunia, yakni Amerika Serikat dan China juga dipangkas menjadi 2,5% dan 4,3% pada tahun ini.
Terdapat beberapa dampak rambatan yang perlu kita waspadai dan pengaruhnya terhadap negara kita. Pertama adalah kekhawatiran meningkatnya inflasi domestik yang didorong oleh naiknya harga-harga komoditas internasional terutama komoditas energi dan pangan. Saat ini berbagai harga komoditas internasional sudah naik secara signifikan seperti minyak bumi, batu bara, gandum, jagung, minyak sawit hingga kedelai. Kenaikan harga komoditas internasional ini belum begitu berpengaruh terhadap inflasi di Indonesia karena harga-harga dalam negeri diatur oleh pemerintah. Kedua, dampak rambatan terkait dengan peningkatan suku bunga akan sangat berdampak terhadap investasi dan pasar keuangan di dalam negeri. Kenaikan suku bunga The Fed akan menyebabkan penyesuaian tingkat imbal hasil (yield) US Treasury. Ketiga, likuiditas di pasar akan makin menyempit akibat terjadinya perebutan dana antara pemerintah dan perbankan. Penyempitan likuiditas tersebut akan menyulitkan berbagai negara terutama negara berkembang untuk memperoleh pendanaan dan menarik investasi asing. Secara umum, berbagai dampak rambatan tersebut akan menyebabkan perekonomian terkontraksi sehingga diperlukan berbagai kebijakan untuk mengatasi kondisi ini.
Hati-hati Rekor Inflasi
Laju inflasi pada 2022 menembus rekor tertinggi dalam tujuh tahun terakhir, yaitu berada di level 4,94% secara tahunan (year on year/yoy). Kenaikan harga pangan, khususnya cabai merah, dan bawang merah, menjadi komponen utama penyebab inflasi, yang diikuti dengan kenaikan harga bahan bakar rumah tangga serta tarif angkutan udara. Directur Center of Economics and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira Adhinegara, berujar, meski saat ini fundamental ekonomi tampak kuat, hal itu seketika dapat berubah menjadi semu jika resesi di Amerika Serikat dan Uni Eropa semakin nyata. "Pemerintah dan Bank Indonesia jangan overconfident dan tidak bisa juga tutup mata. Inflasi harga produsen kan sudah sudah naik 11,7%. Ini jelas bukan musiman dan sekarang masih ditahan sama produsen. Kalau mereka passing through itu ke konsumen, inflasi sebenarnya bisa lebih tinggi," kata Bhima, Senin, 1 Agustus 2022. (Yetede)
The Fed Tetap Fokus ke Data Inflasi
Presiden Bank The Federal Reserve (The Fed) Minneapolis Neel Kashkari mengatakan jika ada yang memperdebatkan apakah Amerika Serikat (AS) sudah berada dalam resesi atau tidak, ini artinya pertanyaan yang diajukan salah. “Apakah kita secara teknis dalam resesi atau tidak, tidak mengubah analisis saya. Saya fokus pada data inflasi. Saya fokus pada data upah. Dan sejauh ini, inflasi terus mengejutkan kita dengan kenaikan. Gaji terus naik," Ujar Kashkari kepada CBS pada Minggu (31/8), yang dilansir CNBC. Sebelumnya pada Kamis (28/7), data Departemen Tenaga Kerja yang baru menunjukkan tanda-tanda pelambatan di pasar kerja, di mana tunjangan klaim pengangguran awal mencapai level ter tinggi sejak per tengahan November. “Apakah kita secara teknis dalam resesi atau tidak, tidak mengubah fakta bahwa Federal Reserve memiliki pekerjaan sendiri yang harus dilakukan, dan kami berkomitmen untuk melakukannya,” kata Kashkari. Biro Analisis Ekonomi sempat. (Yetede)
Inflasi Biaya Pendidikan Juga Perlu Diwaspadai
Kepala Ekonom BCA David Sumual mengatakan, kenaikan biaya pendidikan akan menjadi salah satu penyumbang inflasi Juli 2022. Lonjakan inflasi pendidikan ini sejalan dengan faktor musiman ajaran baru. Tapi lonjakan biaya pendidikan merupakan salah satu yang perlu diwaspadai untuk inflasi ke depan.
MENANGKIS IMPAK RESESI AS
Dunia usaha menghadapi ujian berat. Resesi Amerika Serikat (AS) akibat lesatan inflasi yang berbarengan dengan prospek suram ekonomi China, membuat pelaku bisnis harus memutar otak lebih keras guna mempertahankan kinerja positif sepanjang tahun berjalan 2022.Dinamika ekonomi yang melanda dua negara utama di dunia itu berisiko menggerus cuan, terutama yang berkaitan erat dengan aktivitas ekspor. Termutakhir, pada pekan lalu, AS mengonfirmasi koreksi pertumbuhan ekonominya selama dua kuartal berturut-turut. Alhasil, negara adi daya itu kini masuk ke dalam jurang resesi. Perihal kondisi tersebut, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan resesi AS dan perlambatan ekonomi China akan menghentak aktivitas perdagangan.
Menurut Menkeu, ada tiga kawasan yang memiliki pengaruh besar terhadap ekonomi nasional. Selain AS dan China, Eropa juga menjadi salah satu tujuan ekspor utama, sehingga teropong gelap ekonomi Benua Biru juga akan menyengat eksistensi bisnis di Tanah Air.
Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Koordinator Bidang Maritim, Investasi, dan Luar Negeri, Shinta Widjaja Kamdani mengatakan ekspor Indonesia ke AS akan terkontraksi lantaran pelemahan daya beli masyarakat hingga penutupan bisnis. Hal ini pun menurutnya berdampak pada neraca perdagangan Indonesia, serta penurunan pendapatan eksportir, sehingga pajak yang disetorkan ke negara juga terpangkas.
Pilihan Editor
-
Rencana Riset dan Inovasi 2022 Disiapkan
14 Dec 2021 -
Tujuh Kantor Pajak Besar Penuhi Target Setoran
14 Dec 2021 -
Yuk, Menggali Utang di Negeri Sendiri
14 Dec 2021









