Industri lainnya
( 1858 )Sinyal Bahaya Hilirisasi Nikel, Apa Tantangannya?
Pemerintah Indonesia untuk melakukan penghiliran nikel menghadapi sejumlah tantangan yang cukup besar. Salah satu masalah yang muncul adalah kesulitan yang dihadapi oleh Jiangsu Delong Nickel Industry Co., induk perusahaan PT Gunbuster Nickel Industry (GNI), yang terjerat utang dan menghadapi masalah hukum, mengingat sebagian besar smelter di Indonesia beroperasi melalui kerja sama dengan perusahaan China. GNI, yang mengolah 20 juta ton bijih nikel per tahun, adalah salah satu smelter terbesar di Indonesia, namun masalah cadangan dan pasokan bijih nikel menjadi kendala. Impor bijih nikel, khususnya dari Filipina, juga mengalami peningkatan yang signifikan pada 2024, karena adanya perbedaan spesifikasi bijih nikel.
Selain itu, kebijakan pemerintah mengenai pembatasan produksi nikel dan pengelolaan cadangan mineral turut menambah ketidakpastian di kalangan pelaku industri smelter, yang khawatir akan mempengaruhi pasokan dan operasional mereka. Bisman Bachtiar, Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan, mengkritik kurangnya perencanaan yang matang dalam industri smelter nikel nasional, yang mengakibatkan tumbuhnya banyak smelter tanpa persiapan yang memadai, sehingga menyebabkan ketidaksehatan industri.
Untuk menghadapi masalah ini, beberapa tokoh, seperti Bisman Bachtiar dan Bhima Yudhistira, menyarankan agar pemerintah mempertimbangkan moratorium pembangunan smelter untuk mengevaluasi kesiapan pasokan mineral dan mengelola potensi pasokan dan harga secara lebih selektif. Meskipun demikian, pemerintah melalui Dirjen Minerba Kementerian ESDM, Tri Winarno, menegaskan bahwa moratorium pembangunan smelter nikel berbasis teknologi rotary kiln-electric furnace (RKEF) belum direncanakan. Pemerintah akan tetap mendorong penghiliran nikel dan memaksimalkan pemanfaatan produk turunan, sambil mengevaluasi kapasitas smelter yang berlebih.
Industri Film Siap Panen di Musim Lebaran
Laba Industri Pupuk Tumbuh di Tengah Volatilitas Pasar
Saudi Suntikkan Rp 1,6 Triliun untuk Investasi di AirAsia
Dihidupkannya Lagi Industri Garam Rakyat di Pesisir Sumbar
PT Garam, BUMN yang bergerak di bidang produksi garam, berencana menghidupkan kembali industri garam rakyat di dua wilayah Sumbar. Pemprov Sumbar mendukung penuh rencana ini karena kawasan pesisir Sumbar punya potensi besar untuk menghasilkan garam. Ada dua lokasi yang menjadi sasaran awal dari PT Garam, yaitu Muaro Sakai Inderapura di Kabupaten Pesisir Selatan dan Air Bangis di Kabupaten Pasaman Barat. PT Garam berencana mendampingi industri garam rakyat di dua daerah tersebut. Untuk tahap awal, PT Garam akan melakukan survei teknis dulu ke lapangan. Belum ada proyeksi berapa produksi garam di dua kawasan itu. Di Indonesia, total kebutuhan garam mencapai 5 juta ton, sekitar 50 % masih impor.
”Di sana (Pesisir Selatan dan Pasaman Barat) sebelumnya sudah ada pengolahan garam rakyat, tetapi sekarang mati. Bekas-bekasnya dan orang-orangnya masih ada. Itu mau dihidupkan kembali,” kata Kadis Perindustrian dan Perdagangan Sumbar Novrial, Kamis (6/3). Sejauh ini, Sumbar belum memproduksi garam sendiri. Kebutuhan garam provinsi di kawasan pantai barat Pulau Sumatera ini masih dipasok dari luar provinsi. Sebelumnya, Dirut PT Garam, Abraham Mose dan jajaran berkunjung ke kantor Gubernur Sumbar, Rabu (5/3) bertemu Gubernur Sumbar, Mahyeldi dan jajaran. Dalam pertemuan itu, Abraham menyebut, Sumbar bersama Aceh sedang diproyeksikan sebagai kluster produksi garam nasional di wilayah Sumatera, untuk menekan biaya produksi dan memenuhi kebutuhan nasional. (Yoga)
Industri Antariksa memasuki Era Swastanisasi
Wahana Blue Ghost (Hantu Biru) mendarat di Bulan, Minggu (2/3). Ini bukti menguatnya peran swasta dalam inovasi teknologi luar angkasa. Peluncuran Blue Ghost memakai roket Falcon 9 milik SpaceX dari Bandar Antariksa Kennedy di Florida, AS, pada 15 Januari 2025, mengangkut 10 instrumen riset milik NASA untuk mendapat data ilmiah mengenai lingkungan di Bulan (Kompas, 6/3/2025). Blue Ghost buatan Firefly Aerospace merupakan wahana swasta kedua yang berhasil mendarat di Bulan. Sebelumnya, wahana Odysseus milik Intuitive Machines mendarat di lereng kawah di Bulan pada Februari 2024, tetapi terguling sehingga alat sainsnya cepat rusak.
Firefly Aerospace dan Intuitive Machines, dikutip dari situs NASA, adalah bagian dari 14 perusahaan lain yang dilibatkan dalam program Layanan Komersial Muatan Bulan (CLPS) NASA. Guna mendukung misi antariksa tersebut, NASA menganggarkan Rp 42,8 triliun hingga tahun 2028. Pola perlombaan eksplorasi antariksa berubah, dari persaingan antar negara menjadi antar perusahaan swasta. Setelah tercipta industri peluncuran roket dan pembuatan wahana ke Stasiun Ruang Angkasa Internasional (ISS), industri kargo ke Bulan berbuah hasil. Dalam pengembangan industri antariksa AS, NASA meneliti teknologi berisiko tinggi yang sulit dikembangkan swasta. Saat teknologi yang dikembangkan layak dikomersialisasi, maka terjadi transfer teknologi. Perusahaan swasta mendanai dan memasarkan produk teknologi itu.
Semua perusahaan penyedia teknologi bagi NASA bebas mengembangkan pasar dan jejaring industri. Hal ini menciptakan ekonomi inovasi dan lapangan kerja, menjaga keberlanjutan sumber daya pengembangan teknologi antariksa, serta meningkatkan pendapatan negara. Selain itu, pelibatan perusahaan swasta dalam mengeksplorasi antariksa menciptakan persaingan usaha yang sehat sehingga mengurangi biaya eksplorasi antariksa. Efisiensi biaya akan tercapai lantaran tiap peserta program berlomba membuat teknologi paling andal dengan biaya termurah. Meski investasi tak selalu membuahkan hasil, sistem kompetisi terbuka yang dibangun akan mendorong partisipasi semua kelompok masyarakat dan munculnya inovasi secara masif. (Yoga)
Perbaikan Smelter Manyar, PT Freeport Indonesia, Rampung Juni
PT Freeport Indonesia (PTFI)
memastikan percepatan perbaikan fasilitas Common Gas Cleaning (CGC) Plant
Smelter Manyar, dengan mendatangkan perlengkapan dan komponen kritikal secara
bertahap menggunakan pesawat kargo Antonov AN-124 danBoeing 747 ke Surabaya,
yang selanjutnya menempu jalan darat ke Gresik, Jatim. “Kami berupaya semaksimal
mungkin agar proses recovery berjalan efektif dan efisien agar smelter
secepatnya kembali berproduksi. Pemilihan pesawat kargo karena waktu tempuh
dari luar negeri hanya 35 jam, jauh lebih cepat dari kapal laut yang memakan
waktu 60 hari,” kata Presdir PTFI, Tony Wenas, di Jakarta, Rabu (5/3/2025).
Durasi perbaikan smelter ditargetkan
rampung pada Juni mendatang. Rencanakerja sudah disampaikan ke pemerintah dan
menjadi dasar pemberian izin ekspor konsentrat tembaga. Pabrik asam sulfat di
Smelter Manyar mengalami insiden kebakaran pada Oktober 2024, sebulan setelah
diresmikan oleh Presiden Indonesia ke-7 Jokowi. Kebakaran itu masuk dalam
kategori kahar sehingga pemerintah memberi kesempatan ekspor. Menteri ESDM
Bahlil Lahadalia mengatakan akan ada sanksi bagi PTFI bila perbaikan pabrik asam
sulfat tidak rampung pada Juni mendatang, berupa pungutan pajak ekspor
maksimal. (Yetede)
Bencana Banjir Bisa Hantam Bisnis dan Ekonomi
Butuh Konsolidasi dan Koordinasi yang Komprehensif
Ekspansi Jadi Senjata Baru AKRA Hadapi Tantangan
Pilihan Editor
-
25 Tahun Lagi Cadangan Timah Indonesia Habis
14 Dec 2021 -
Emiten Komponen Otomotif Kian Menderu
14 Dec 2021









