Industri lainnya
( 1875 )Ekosistem Pertanian dan 10.000 Perusahaan Disiapkan Pemerintah
Pemerintah menyiapkan sejumlah strategi
untuk mempercepat pengentasan rakyat dari kemiskinan. Dua di antaranya adalah
proyek berbasis pertanian di daerah miskin serta perluasan lapangan kerja melalui
pembukaan 10.000 perusahaan. Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP
Taskin) Budiman Sudjatmiko saat berkunjung ke kantor Redaksi Harian Kompas,
Jakarta, Kamis (20/3), mengatakan, pihaknya telah bertemu dengan sejumlah
kementerian, termasuk Kementan dan Kemensos, guna membahas strategi pengentasan
kemiskinan ekstrem serta mendorong pertumbuhan ekonomi.
Bersama Kementan, BP Taskin akan
membangun ekosistem pertanian untuk meningkatkan produksi di 15 provinsi serta
menyiapkan 75 proyek di desa-desa termiskin di Jateng. Selain itu, BP Taskinjuga
menjalinkerja sama dengan Kemensos sebagai bagian dari upaya pengentasan rakyat
dari kemiskinan di desa-desa. ”(Kerja sama) dengan Kementan akan direalisasikan
pada awal minggu pertama setelah puasa. Kami akan membentuk memorandum of
understanding (MoU). Sementara itu, kerja sama dengan Kemensos menargetkan 900
desa termiskin di Jateng, di mana kami akan membentuk tim khusus untuk turun
langsung ke lapangan,” ujar Budiman.
Dalam proyek percontohan tersebut,
petani akan diberdayakan dalam budidaya komoditas strategis untuk memenuhi
pasokan industri hilirisasi dalam negeri ataupun menyuplai bahan baku untuk program
Makan Bergizi Gratis. Strategi lain untuk mempercepat pengentasan rakyat dari kemiskinan adalah mendorong terbentuknya 10.000 perusahaan baru
atau eksisting yang terlibat dalam rantai pasok global (global supply chain). Sebanyak
2.000 perusahaan nasional akan menjadi pemimpin pasar (leading player) dalam memasuki
pasar global. Jika setiap perusahaan nasional melibatkan rata-rata empat
perusahaan pendukung dan pemasok, total akan ada 10.000 perusahaan nasional
yang terlibat dalam rantai pasok global. (Yoga)
Alarm Darurat dari Pariwisata di Danau Toba
Banjir bandang merusak jantung
pariwisata Danau Toba di Parapat, Kabupaten Simalungun, Sumut. Sudah lima hari
aktivitas pariwisata lumpuh. Bencana ekologis itu disebabkan kerusakan hutan di
hulu Danau Toba. Banjir bandang menghantam destinasi wisata, hotel, restoran,
rumah sakit, permukiman warga, dan sempat membuat jalan nasional lumpuh total.
Hingga Kamis (20/3) kawasan pariwisata Parapat masih lumpuh. Rumah makan, restoran
dan hotel belum beoperasi. Masyarakat masih sibuk membersihkan material lumpur
di dalam rumah. Jaringan Advokasi Masyarakat Sipil Sumut (Jamsu) menelusuri
penyebab banjir bandang. Jamsu, antara lain, terdiri dari Kelompok Studi dan
Pengembangan Prakarsa Masyarakat (KSPPM), Aliansi Masyarakat Adat Nusantara
(AMAN) Tano Batak, dan Auriga Nusantara.
”Hasil penelusuran kami, banjir
bandang disebabkan hilangnya 6.148 hektar hutan alam di hulu Parapat,” kata
Direktur Eksekutif KSPPM, Rocky Pasaribu. Banjir bandang dan longsor melanda
kawasan pariwisata Parapat, Minggu (16/3) malam. Rocky menyebut, banjir bandang
yang menghantam jantung pariwisata Danau Toba merupakan alarm darurat yang memperingatkan
kerusakan lingkungan hidup yang masif. Berdasarkan
analisis spasial dan penelitian di lapangan, kata Rocky, dalam kurun waktu 20
tahun terakhir terjadi pembukaan hutan yang signifikan di lima kecamatan
sekitar Parapat, yang merupakan lanskap Daerah Aliran Sungai (DAS) Bolon
Simalungun.
”Jika diakumulasi sejak 2000 hingga 2023,
kawasan ini telah kehilangan hutan alam seluas 6.148 hektar. Perubahan ini
sangat berpengaruh terhadap daya tampung air hujan dan stabilitas tanah yang
akhirnya menyebabkan bencana ekologis banjir bandang,” ungkap Rocky. Koordinator
Jamsu, Juniati Aritonang menyebut, pemerintah harus melakukan mitigasi bencana
ekologis dalam jangka pendek dan panjang. Hal yang mendesak dilakukan adalah evaluasi
tata ruang kawasan Danau Toba, terutama di wilayah rawan bencana. (Yoga)
Serikat Buruh Desak Pemerintah Membentuk Satgas PHK
Serikat buruh mendesak pemerintah
membentuk Satgas PHK, untuk mempercepat penanganan risiko PHK yang meluas ke
berbagai sektor industri sejak awal tahun 2025. Berdasarkan temuan Tim Penelitian
dan Pengembangan (Litbang) Partai Buruh dan Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia
(KSPI) sekitar 50 perusahaan melakukan PHK pada Januari-Februari 2025.
Contohnya Sritex, Adatex, Tunas Karya Budi, Sambu Grup, dan Kara Santan Pertama.
Lebih kurang 60.000 buruh terdampak. Terkait alasan PHK, Presiden KSPI dan
Partai Buruh, Said Iqbal menyebutkan beberapa penyebab, seperti pailit, efisiensi,
dan relokasi. Dari 50 perusahaan itu, 15 perusahaan melakukan PHK karena alasan
pailit dan dua perusahaan lain karena relokasi. Perusahaan-perusahaan itu dari berbagai sektor
industri, seperti tekstil dan elektronik.
”Kami secara khusus mendesak Kemenaker
agar membentuk Satgas PHK untuk menyikapi fenomena tersebut,” ujar Said, Kamis
(20/3) di Jakarta. Ada kemungkinan sejumlah buruh yang di-PHK oleh 50
perusahaan itu mengalami risiko pengabaian hak, seperti pesangon dan THR yang
lama dibayar. ”Mengenai THR, kami memang sejak lama menemukan berbagai modus yang
dilakukan perusahaan agar tidak membayar, di antaranya memutus kontrak para pekerja
sebelum Ramadhan. Setelah Lebaran, pekerja tersebut akan dipanggil untuk dipekerjakan
kembali,” kata Said. Menurut rencana, KSPI dan Partai Buruh bertemu jajaran Kemenaker
pada Jumat (21/3). Dalam pertemuan akan disampaikan desakan pembentukan Satgas
PHK. (Yoga)
Strategi Ekspansi dan Harga Jadi Kunci Pertumbuhan
Strategi Ekspansi dan Harga Jadi Kunci Pertumbuhan
Usaha yang Pasti, Tanpa Pungli
Kepastian berusaha diawali saat mengurus
perizinan hingga produksi tanpa gangguan pungli dan premanisme. Tanpa
kepastian, investor enggan masuk Indonesia. Rencana bisa kacau saat perusahaan
mesti menghadapi ”biaya tak terduga” yang muncul karena ketidakpastian.
Misalnya, pengurusan izin yang tak kunjung beres tanpa kejelasan. Atau,
pemerasan dan perilaku premanisme yang menyedot sumber daya biaya dan energi
karena kegiatan produksi bisa tertunda atau terhenti. Kekacauan lain adalah
”biaya di bawah meja” atau ”biaya siluman”, seperti pungutan liar. Biaya tak
tercatat ini sulit diukur hasilnya, tetapi membebani usaha dan mengurangi biaya
produksi. Biaya-biaya tak terlihat ini, menurut salah seorang pengusaha, bisa
20 persen dari total perputaran dana per tahun (Kompas, 18/3/2025). Besar,
tetapi tak ada hasilnya alias lenyap begitu saja.
Padahal, jika digunakan untuk proses
produksi, dana tersebut bisa digunakan untuk kegiatan yang lebih produktif, diantaranya
untuk menambah mesin produksi, mempercepat proses produksi, menambah pekerja,
atau malahan untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja. Pada akhirnya akan membantu
meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Tak ada jalan lain selain membenahi
iklim bisnis di Indonesia. Tak perlu berdalih pelaku premanisme dan pungli itu
oknum. Tak perlu juga merasa jemawa dengan jumlah penduduk Indonesia yang 280
juta jiwa, yang menarik investor menjadikan Indonesia sebagai pasar. Pasar yang
besar tak akan jadi daya tarik karena tertutup bayang-bayang ketidakpastian
berusaha. Jika berbagai hambatan berinvestasi ini dibiarkan, lambat laun
investor akan enggan masuk ke Indonesia. Investasi macet. (Yoga)
Sarjana Jadi Sopir dan PRT akibat Badai PHK
Dunia kerja semakin menantang.
Angkatan kerja terus bertambah, tetapi lowongan kerja terbatas dengan syarat
ketat. Situasi bertambah rumit akibat badai PHK. Tak heran, sebagian pekerja
kerah putih harus banting setir ke kerah biru demi bertahan hidup. Seorang
pengguna media sosial X (dulu Twitter) mencurahkan kesedihannya dalam cuitan, beberapa
lulusan sarjana yang terkena PHK atau kontraknya tidak diperpanjang melamar pekerjaan
sebagai pekerja rumah tangga (PRT) di kawasan Bumi Serpong Damai (BSD), Tangsel,
Banten. Fenomena itu sejatinya dekat dengan keseharian warga Jabodetabek kini.
Selain PRT, banyak sarjana kini juga banting setir menjadi petugas kebersihan, pekerja
proyek, dan pekerjaan ”kerah biru” lainnya agar dapur tetap mengepul.
Secara umum, pekerjaan ”kerah biru”
hanya membutuhkan syarat pendidikan setara maksimal SMA. Sementara pekerjaan
”kerah putih” merujuk pada sarjana atau jenjang lebih tinggi dan mereka yang
memiliki keahlian tertentu (Kompas,2Juni 2024). Pergeseran pekerjaan dari ”kerah
putih” ke ”kerah biru” dialami Purnawati
(42). Lulusan diploma akuntansi ini menjadi babysitter (pengasuh anak) sejak
pandemi Covid-19. ”Sebelumnya kerja kantoran. Terus berhenti dan jadi ibu rumah
tangga, tetapi terbentur ekonomi, makanya jadi babysitter,” kata Purnawati,
Rabu (19/3). Gajinya sebagai pengasuh anak mendekati UMR Jakarta Rp 5,39 juta. Purnawati
adalah salah satu pekerja yang disalurkan PT Kasih Ibu Sejati Mulia di Mampang
Prapatan, Jaksel.
Sepanjang 2025 saja sudah ada lima
pekerja ”kerah biru” yang seharusnya bisa masuk lapangan kerja ”kerah putih.” Namun,
ketiadaan lapangan kerja dan ketatnya persaingan membuat mereka ”terlempar” ke
pekerjaan ”kerah biru”. Lima orang yang telah disalurkan PT Kasih Ibu Sejati Mulia
itu ialah 1 sopir lulusan sarjana, 1 PRT berijazah diploma, 3 pengasuh anak
lulusan diploma, dan 1 tenaga administrasi lulusan diploma. ”Setahun ke
belakang jumlah pelamar bertambah (lulusan diploma dan sarjana). Tiga bulan
terakhir ini banyak lulusan keperawatan dan guru yang tidak lagi melihat latar
belakang pendidikan sebelumnya,” tutur pengurus PT Kasih Ibu Sejati Mulia, Diki
Hermawan. (Yoga)
Perlu Rute Alternatif untuk Truk
Pembatasan angkutan barang sumbu tiga
atau lebih untuk melintas di ruas tol dan arteri selama arus mudik Lebaran 2025
akan berlangsung 16 hari, yakni 24 Maret hingga 8 April 2025. Pembatasan ini diperkirakan
memicu kerugian bisnis truk dan depo kontainer sehingga perlu ditinjau kembali.
Salah satunya, pemerintah bisa mempertimbangkan membuka rute alternatif. Senior
Consultant Supply Chain Indonesia, Sugi Purnoto, Rabu (19/3) di Jakarta,
berpendapat, sejumlah jalan tol dapat digunakan untuk angkutan barang, terutama
di jalan tol yang jarang dilalui pemudik. Contohnya, Jalan Tol Lingkar
Pelabuhan (CTP) dan Cibitung-Cimanggis, Jalan Tol Pelabuhan dan JORR
II-Balaraja, serta Jalan Tol Serpong-Cinere-Cimanggis yang bukan jalur tol pemudik.
Sugi memperkirakan kerugian ekonomi
akibat kebijakan pembatasan itu bisa mencapai Rp 1 triliun. Perhitungan ini didasarkan
pada terhambatnya angkutan barang yang banyak mengalir ke kawasan industri di
Pulau Jawa. ”Untuk aliran kontainer, terutama domestik dari Jakarta ke arah
timur, memberi proporsi 60-70 % total pergerakan kontainer di Tanjung Priok.
Jadi, efeknya besar sekali,” tutur Sugi. Ketua Asosiasi Depo Kontainer Indonesia
(Asdeki) Mustofa Kamal Hamka mengatakan, bisnis depo kontainer di pelabuhan dirugikan
atas kebijakan tersebut. Pengusaha harus menanggung biaya sewa lebih tinggi
karena ada potensi pengembalian peminjaman kontainer ke perusahaan pelayaran lebih
lama dari yang diperjanjikan. (Yoga)
Persaingan Nike dan Adidas
Bagi sebagian orang, jika sudah menggunakan
Adidas, mereka enggan beralih ke Nike, begitu pula sebaliknya. Salah satunya
Fildaz Raeditya (33) yang selama 10 tahun setia menggunakan produk Adidas tanpa
pernah membeli merek lain. Dari berbagai produk yang pernah ia coba sebelumnya,
Adidas menjadi pilihan yang paling nyaman di kakinya, sesuai dengan selera, dan
memberikan rasa percaya diri yang lebih. ”Durability (daya tahan) Adidas luar
biasa. Total ada delapan pasang sepatu yang saya miliki. Dari yang termurah, Rp
300.000 untuk model Superstar, hingga yang termahal Rp 3 juta, yaitu Microacer,
favorit saya. Yang paling sering dipakai Adizero SL,” ujarnya, Selasa (18/3).
Menurut Didit, kesetiaannya pada
Adidas didasarkan pada konsep klasik yang ditawarkan merek tersebut. Selain
itu, beberapa seri Adidas juga menghadirkan sentuhan futuristik, bahkan menggabungkan
kedua konsep itu dalam satu desain. Yavi Diamanta. Hingga usia 30 tahun, tetap
setia pada Nike dan tak pernah beralih ke merek lain. ”Nike punya kampanye yang
luar biasa. Bold, well-crafted, dan erat dengan dunia atlet. Gue suka banget
atlet-atlet Nike. Cerita bagaimana Nike bisa merekrut Michael Jordan, misalnya,
itu gila banget. Belum lagi deretan sepatu ikonik Nike yang sudah menjadi
bagian dari kultur,” ujar Yavi. Menurut dia, model Air Jordan 1 adalah sepatu
yang tak lekang oleh waktu.
Dua koleksi lainnya yang menjadi
favoritnya adalah Nike Blazer Mid 77 dan Jordan 1 Purple Court. Dari kecil dia memang
suka dan merasa paling cocok dengan Nike, dan tidak tertarik membeli merek lain.
Persaingan merebut hati konsumen tak hanya terlihat dari cerita Yavi dan Didit.
Dua jenama, Nike dan Adidas, juga bersaing ketat berdasarkan sejumlah data.
Mengutip laporan Brand Finance, di sektor aparel atau fashion, kedua merek ini
masuk 10 besar merek dengan nilai tertinggi di dunia pada 2024. Nike, mencatat
nilai merek sebesar 29,873 miliar USD, menempati peringkat kedua. Posisi Nike
digeser Louis Vuitton dari Perancis yang kini berada di peringkat pertama
dengan nilai pasar 32,235 miliar USD.
Pada 2024, Adidas berada di peringkat
kedelapan dengan nilai pasar 14,448 miliar USD. Dengan kekuatan branding-nya
yang solid, kedua jenama ini juga mencatat pendapatan besar. Berdasarkan data
Statista yang dipublikasikan pada 14 Januari 2025, pendapatan Adidas mencapai 23,683
miliar euro pada 2024, meningkat dari tahun sebelumnya di 21,427 miliar euro.
Nike mencatat pendapatan 47,78 miliar euro pada 2024, naik dari 42,65 miliar
euro pada 2023. Pendapatan besar yang diraih Nike dan Adidas juga didukung oleh
luasnya jaringan toko ritel serta jumlah pekerja yang tersebar di seluruh
dunia. (Yoga)
Rute Batam-Johor dibuka ASDP untuk Wisata dan Logistik
PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) akan
berekspansi dengan mengembangkan jangkauan rute dari Batam, Kepri, ke Johor,
Malaysia. Targetnya, dua kapal akan mulai beroperasi pada 2025. Prospek
pariwisata antar kedua negara pun dianggap menjanjikan. Operator feri di
Indonesia, PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), berencana memperluas jangkauan
rute hingga ke Malaysia.
Rute tersebut akan menghubungkan
Batam, Kepri, di Indonesia dengan Johor di Malaysia. ”Namun, masih banyak hal yang
perlu kami siapkan karena ini kerja samanya government to government (G2G),
negara dengan negara, bukan sekadar bisnis ke bisnis,” ujar Dirut ASDP
Indonesia Ferry, Heru Widodo, di Jakarta, Senin (17/3).
Rute Batam-Johor ini akan menargetkan
pasar logistik dan wisata, serupa dengan Batam dan Singapura yang selama ini sudah
berjalan. Ke depan, rute internasional yang tengah disiapkan ini akan didukung
dua feri ASDP. Feri akan beroperasi di antara Pelabuhan Bintang 99 Persada di
Batam dan Pelabuhan Tanjung Belungkor, Bandar Penawar, di Johor. Kedua pelabuhan
tersebut bukan di bawah naungan ASDP. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Agenda Kebijakan Biden Akan Tersusun di 2022
29 Dec 2021 -
Tujuh Kantor Pajak Besar Penuhi Target Setoran
14 Dec 2021 -
Rencana Riset dan Inovasi 2022 Disiapkan
14 Dec 2021 -
Yuk, Menggali Utang di Negeri Sendiri
14 Dec 2021








