Industri lainnya
( 1858 )Kelangkaan Bahan Baku, Industri Bersiap Naikkan Harga
Kenaikan Pajak Pertambahan Nilai atau PPN menjadi 11% yang berlaku sejak 1 April 2022 diklaim tidak akan banyak memengaruhi rencana ekspansi. Sejumlah industriawan justru bersiap untuk menaikkan harga produknya sebagai akibat dari perkembangan situasi yang terjadi. Pengusaha makanan dan minuman (mamin) mengaku siap kembali menaikkan harga produknya usai Lebaran, meski hal tersebut telah dilakukan pada akhir tahun lalu dan pada awal 2022. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) Adhi S Lukman mengatakan bahwa lonjakan harga bahan baku akibat tensi geopolitik Rusia-Ukraina dan kenaikan PPN menjadi 11% membuat pengusaha berencana melakukan kajian terhadap harga produknya. Sejauh ini, kata dia, pengusaha masih menahan diri untuk kembali menaikkan harga jual.
Direktur produsen fast moving consumer goods (FMCG) PT Kino Indonesia Tbk. (KINO) Budi Muljono mengatakan bahwa kenaikan tarif PPN menjadi 11% mulai bulan ini akan langsung diikuti dengan kenaikan harga jual di tingkat konsumen. Begitu pula dengan pembayaran PPN masukan dari para supplier. “Karena kenaikan PPN itu merupakan kebijakan pemerintah, kami merespons dengan seharusnya, yaitu mengenakan PPN 11% terhadap pembeli kami dan membayarkan PPN 11% terhadap supplier kami. Kenaikan PPN tidak terlalu berimbas pada rencana ekspansi,” imbuh Budi. KINO justru berencana melakukan evaluasi rencana ekspansi pada tahun ini karena imbas lonjakan harga bahan baku.
Industri Militer Amerika Serikat Akan Panen
AS mengirimkan persenjataan ke Ukraina yang diambil dari stok, misalnya Stinger dan Javelin, rudal yang ditembakkan dari bahu. Senjata buatan perusahaan Lockheed Martin dan Raytheon Technologies itu sudah dibayar oleh Pemerintah AS beberapa waktu lalu. Pendapatan produsen senjata dari pasokan ke Ukraina itu diperkirakan tak banyak. Pendapatan lebih besar baru akan datang kemudian dari pesanan Pemerintah AS untuk isi ulang stoknya dan pesanan sejumlah negara. (Yoga)
Perluas Layanan Jasa Logistik
Group Co-CEO TheLorry Nadhir Ashafiq, Chief Business Development Officer Wahana Express Kumalasari, CMO Cahaya Express Sam Sahiry Rumambi Supit dan CEO TheLorry Indonesia Alzamendi Qatryany, berbincang seusai menandatangani nota kesepahaman kerja sama layanan industri logistik di Jakarta, Kamis (24/3). Kerja sama strategis ini menciptakan peluang baru bagi semua pihak untuk menangkap pasar logistik yang berkembang pesat di Indonesia senilai US$300 miliar yang didukung oleh pertumbuhan pesat terutama pasar e-commerce dan pengiriman antar negara.
Tata Niaga: Minyak Goreng Dana Subsidi Siap Dikucurkan
Dana subsidi minyak goreng sawit (MGS) curah sesuai Peraturan Menteri Perindustrian (Permenperin) No. 8/2022 siap dikucurkan oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS). Kepala Divisi Perusahaan BPDPKS Achmad Maulizal mengatakan penyalurannya tinggal menunggu mekanisme klaim dari produsen minyak goreng. Ada 81 pabrikan minyak goreng yang diwajibkan mendaftar dalam program ini. Per 22 Maret 2022, sebanyak 47 perusahaan industri telah mendaftar, untuk kemudian wajib melaporkan rencana produksi, distribusi, dan rantai distributornya hingga tingkat kabupaten/kota.
Sebelumnya, berdasarkan hitungan sementara, nilai subsidi untuk program ini akan mencapai Rp7,28 triliun. BPDPKS akan memberikan penggantian selisih antara harga acuan keekonomian (HAK) dan harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan Kementerian Perdagangan sebesar Rp14.000 per liter atau Rp15.500 per kg. Achmad menjelaskan selisih antara HAK sebesar Rp20.398 per liter dan HET Rp14.000 per liter yakni Rp6.398 per liter. Dengan perkiraan kebutuhan minyak goreng curah sebesar 1,2 juta liter selama 6 bulan ke depan, maka kebutuhan dananya menjadi Rp7,28 triliun.
Nilai Impor LPG
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor LPG Indonesia pada 2021 mencapai US$4,09 miliar atau sekitar Rp 58,5 triliun (asumsi kurs Rp 14.300 per US$), meroket 58,5% dibandingkan nilai impor pada 2020 lalu yang tercatat US$ 2,58 miliar.
Subsidi Minyak Goreng Curah Rp 7,68 Triliun
Pemerintah berupaya menjaga pasokan dan harga minyak goreng curah di pasaran. Dua kementerian telah merilis aturan mainnya, termasuk ketentuan harga eceran tertinggi (HET) maupun mekanisme penyediaan minyak goreng curah. Pada 16 Maret 2022, pemerintah merilis peraturan Menteri Perdagangan No. 11/2022 tentang Penetapan Harga Eceran Tertinggi Minyak Goreng Curah. Mendag Muhammad Lutffi menetapkan HET minyak goreng curah senilai Rp 14.000 per liter. Dua hari kemudian, terbit Peraturan Menteri Perindustrian (Permenperin) Nomor 8/2022 tentang Penyediaan Minyak Goreng Curah untuk Kebutuhan Masyarakat, Usaha Mikro dan Usaha Kecil dalam Kerangka Pembiayaan oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS).
Kepala Divisi Perusahaan BPDPKS, Achmad Maulizal Sutawijaya menjelaskan, terkait subsidi, BPDPKS akan memberikan penggantian selisih harga minyak goreng curah Rp 14.000 sesuai HET. "Dengan demikian, perkiraan kebutuhan dananya Rp 7,28 trliun," ujar dia, kemarin. Hitungan sementara kebutuhan minyak goreng curah selama 6 bulan sekitar 1,2 juta liter. Kemudian harga keekonomian Rp 20.398 per liter, sementara HET Rp 14.000 per liter, sehingga selisihnya Rp 6.398 per liter. Alhasil, kebutuhan dana untuk subsidi sekitar Rp 7,68 triliun.
Isuzu Catat Penjualan 256 Unit
Pada pameran otomotif tersebut, Isuzu mampu membukukan penjualan sebanyak 256 unit dengan nilai transaksi mencapai Rp 106,8 milliar yang disumbangkan oleh Isuzu Traga, Isuzu Elf, Isuzu GIGA, All New Isuzu D-max, dan All New Isuzu MU-X 4x4.
Harga Makanan dan Minuman Naik
Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) menyatakan industri makanan dan minuman olahan akan menaikkan kembali harga produk mereka setelah lebaran menyusul tren kenaikan harga komoditas pangan berlanjut sejak akhir tahun lalu. Kenaikan harga itu juga dipicu oleh penerapan tarif pajak pertambahan nilai atau PPN sebesar 11% pada April 2022.
ESSA Siap Produksi Blue Amonia
PT Surya Esa Perkasa Tbk (ESSA) bersiap untuk memproduksi blue amonia pada tahun 2024. Wakil Presiden Direktur Utama PT Surya Esa Perkasa Tbk Kanishk Laroya mengungkapkan, pihaknya bakal mengkonversi fasilitas yang ada saat ini dari produksi amonia menjadi blue amonia. "Kalau untuk blue amonia estimasi di akhir 2024 kami berharap sudah bisa beroperasi sebagai pabrik blue amonia," ungkap Kanishk dalam diskusi virtual, Sabtu (19/3). Kanishk melanjutkan, sejumlah persiapan kini masih dilakukan termasuk untuk feasibility study atau studi kelayakan proyek. Untuk saat ini, kebutuhan investasi diperkirakan bakal mencapai US$ 100 juta hingga US$ 200 juta.
Sebagai tahapan awal, ESSA sebelumnya telah menandatangani nota kesepahaman dengan Japan Oil, Gas, and Metals National Corporation (JOGMEC), Mitsubishi Corporation (MC) dan Institut Teknologi Bandung (ITB) pada Maret 2021 lalu. Diketahui Jepang telah berkomitmen untuk mengambil blue amonia sebanyak 2 juta ton per tahun hingga 2025 mendatang. Jumlah ini ditargetkan meningkat menjadi 5 juta ton per tahun di 2030.
Industri Produk Kayu: Peluang Ekspor Terbuka
Memanasnya kondisi geopolitik Rusia-Ukraina membuka peluang bagi pelaku industri produk kayu nasional memperlebar pangsa pasarnya di luar negeri. Penghentian ekspor produk kayu Rusia oleh sejumlah negara menyebabkan Indonesia mendapat limpahan pesanan dari Benua Biru. Hanya saja, persoalan kontainer dan penyetopan pengapalan ke Eropa sebagai akibat dari situasi di Ukraina masih menjadi persoalan. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) Indroyono Soesilo mengatakan bahwa sejumlah Duta Besar Indonesia di negara-negara Uni Eropa telah menyampaikan permintaan pasokan produk kayu dari Indonesia. Sayangnya, pengapalan ke Eropa masih terkendala biaya kontainer yang tinggi dan dibarengi dengan terbatasnya ketersediaan kapal induk.
Di sektor hilir, nilai ekspor sembilan jenis produk kayu meningkat 23,1% menjadi US$2,40 miliar. Tahun lalu nilai ekspor industri hilir kehutanan mencapai US$14,48 miliar dengan pertumbuhan 30,7%. Indroyono mengatakan pencapaian tahun lalu merupakan yang tertinggi sepanjang masa karena didorong oleh permintaan produk kayu yang melesat akibat tren bekerja dari rumah. “Peluangnya masih besar, karena di Eropa sekarang banyak work from home, banyak renovasi rumah dan kamar, butuh kayu terutama plywood,” ujar Indroyono.









