;
Tags

Peternakan

( 95 )

PENYAKIT MULUT KUKU, Pengawasan Diperketat di Boyolali

KT3 29 Apr 2024 Kompas

Kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) pada ternak kembali ditemukan di Kabupaten Boyolali, Jateng. Berdasarkan temuan awal, kasus ini bermula dari sapi yang berasal dari luar Boyolali. Upaya antisipasi di- gencarkan melalui pengetatan lalu lintas ternak dan vaksinasi. Berdasarkan laporan Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Boyolali, kasus PMK muncul lagi pada Januari 2024. Hingga April 2024, terdapat 41 ekor ternak yang tertular penyakit tersebut. Sebaran kasus ditemukan di tiga kecamatan, yaitu Cepogo, Ampel, dan Tamansari. ”Pada Januari ada yang melapor ke kami. Setelah dicek kelapangan bersama Balai Besar Veteriner Wates, (ternak) memang positif PMK. Yang dicek itu belum divaksinasi dan sapi yang baru dibeli dari daerah lain,” kata Kadis Peternakan dan Perikanan Kabupaten Boyolali Lusia Dyah Suciyati saat dihubungi, Minggu (28/4). Lusia menyatakan, ternak-ternak yang tertular PMK itu langsung diberi pengobatan begitu dilaporkan kepada jajarannya.

Pengobatan itu menjadi salah satu kunci penanganan agar kondisi ternak tidak semakin parah setelah tertular. Saat ini, katanya, sebagian ternak yang sempat tertular pun keadaannya berangsur membaik. Pemicu penularan, kata Lusia, adalah pembelian sapi dari luar Boyolali. Namun, ia enggan menyebutkan asal daerah dari sapi yang kemudian menulari sejumlah sapi lainnya itu. Meski demikian, ia mendapatkan informasi, tahun ini kasus PMK mencuat kembali di wilayah Jatim. ”Kami sudah membuat surat edaran agar pedagang berhati-hati untuk membeli sapi baru. Kalau bisa yang sudah divaksinasi, jika belum (divaksinasi), nanti laporkan ke kami, maka akan kami vaksinasi. Intinya harus membawa sapi yang sehat kalau beli dari luar daerah,” kata Lusia. Di sisi lain, pengawasan lalu lintas ternak juga semakin diperketat. Pengecekan kesehatan hewan dilakukan untuk ternak-ternak yang akan masuk ke pasar-pasar hewan di daerahnya. (Yoga)

Indonesia Rencanakan Impor 2,15 Juta Ekor Sapi Perah

KT3 18 Apr 2024 Kompas

Program Minum Susu Gratis menyebabkan kebutuhan susu nasional melonjak drastis. Untuk memenuhi kebutuhan itu, Kementan merencanakan mengimpor 2,15 juta sapi perah dari Australia, Selandia Baru, Brasil, dan AS. Minum Susu Gratis merupakan program Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka, pasangan capres dan cawapres peraih suara terbanyak pada Pemilu 2024. Program tersebut menyasar 82,9 juta pelajar, santri, dan ibu hamil, dengan total kebutuhan susu selama setahun sekitar 4,1 juta ton. Kehadiran program itu menyebabkan rerata kebutuhan susu tahunan bertambah dari 4,6 juta ton menjadi 8,7 juta ton. Dengan rerata produksi susu tahunan sebanyak 0,9 juta ton, Indonesia akan mengalami defisit susu sebanyak 7,8 juta ton per tahun atau setara 2 juta sapi perah.

Sekretaris Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan Makmun, Rabu (17/4) mengatakan, dalam tujuh tahun terakhir, 2017-2023, kebutuhan susu nasional meningkat 6 % per tahun, sedangkan produksinya hanya 1 % per tahun. Ini menunjukkan kebutuhan dan produksi susu nasional selalu tidak imbang sehingga Indonesia harus mengimpor susu setiap tahun. Untuk memenuhi kebutuhan nasional yang terus meningkat, sekaligus program Minum Susu Gratis, Kementan telah merencanakan program Peningkatan Produksi Susu Nasional (PPSN). Salah satunya dengan menambah populasi sapi perah, baik melalui impor maupun inseminasi buatan.

”Setidaknya Indonesia memerlukan tambahan impor 2,15 juta sapi perah untuk memenuhi kebutuhan susu regular ataupun program Minum Susu Gratis. Anggaran yang dibutuhkan mencapai Rp 90 triliun,” ujar Makmun dalam webinar ”Kawal Produksi Susu Menuju Kemandirian Pangan dan Protein” yang digelar Sinar Tani di Jakarta. Makmun menjelaskan, di luar kebutuhan reguler, program Minum Susu Gratis bagi 24 juta siswa SD membutuhkan 1,18 juta ton susu segar. Untuk memenuhinya, dibutuhkan 300.000 sapi perah impor dengan anggaran Rp 13,5 triliun. Sementara untuk program Minum Susu Gratis bagi 82,9 juta pelajar (termasuk siswa SD), santri, dan ibu hamil, dibutuhkan 4,1 juta ton susu segar. Untuk memenuhinya, dibutuhkan 1,1 juta sapi perah impor dengan anggaran Rp 49,5 triliun. (Yoga)

Rojai, Petani dan Peternak Unggul

KT3 18 Apr 2024 Kompas (H)

Di tangan Rojai (49), urine dan kotoran sapi disulap menjadi uang jutaan rupiah. Petani sekaligus peternak ini mengembangkan pupuk dan pestisida organik. Ia tidak hanya menerapkan pertanian ramah lingkungan, tetapi juga berjuang memandirikan petani. ”Alhamdulillah, dapat pesanan (pupuk kompos) lagi dari dinas (pertanian), 9-10 ton,” ucap Rojai, Selasa (16/4). Dengan harga Rp 2.000 per kg, ia meraup Rp 18 juta dari permintaan itu. Uang jutaan rupiah itu berasal dari kandang sapi miliknya di Desa Tegalkarang, Palimanan, Cirebon, Jabar. Di kandang itu, terdapat 10 sapi yang memproduksi kotoran dan urine. Akhir Februari lalu, misalnya, ia menunjukkan drum biru berisi 100 liter urine sapi yang telah difermentasi di kandang itu.

Saat tutupnya dibuka, aroma urine yang menyengat menguar dengan gelembung di atasnya. ”Ini kalau dijual, harganya Rp 2 juta,” ucap Rojai tersenyum. Urine itu menjadi bahan utama pupuk organik cair (POC) yang dapat membantu pertumbuhan tanaman. Sawah yang disemprot POC, batang dan daun padinya hijau. Tanahnya mudah ditanami. Sehektar butuh minimal 5 liter POC. Harga POC Rp 20.000 per liter, lebih murah dari pupuk cair kimia yang berkisar Rp 60.000-Rp 90.000 per liter. ”Urine sapi mengandung pestisida. Jadi, enggak usah beli obat (pestisida kimia),” katanya. Perjumpaan Rojai dengan pertanian organik bermula tahun 2016, pemilik 120 sapi dan 50 kambing ini menjadi peternak terbaik tingkat Kabupaten Cirebon.

Ia mendapat program unit pengelolaan pupuk organik dari dinas pertanian dan mulai mengolah limbah ternak menjadi pupuk dan pestisida organik. ”Saya pelatihan di Bogor habis Rp 5 juta, diketawain orang dinas (karena ikut pelatihan berbayar),” kenangnya. Pupuk kompos sangat membantu ditengah berkurangnya alokasi pupuk bersubsidi pemerintah. Petani hanya dijatah 70 kg per satu jenis pupuk per satu hektar sawah. Padahal, biasanya 1 kuintal per jenis pupuk bersubsidi. Petani pun membeli pupuk nonsubsidi dengan harga Rp 1 juta per kuintal. ”Dari 2017, saya enggak pernah bergantung sama pupuk dan pestisida kimia,” katanya. Setelah bertahun-tahun menggunakan bahan organik, padinya subur. ”Hasil pH-nya normal, 7. Padahal, di mana-mana, pH-nya paling 5,” kata Rojai.

Ia mengklaim hasil panen musim gadu (tanam kedua) tahun lalu mencapai 10,3 ton gabah basah per hektar. Padahal, petani biasanya hanya memanen 6-7 ton gabah per hektar. Rendemennya juga lebih tinggi. ”Padi biasanya rendemennya saat digiling jadi beras 62-65 %, hasil panen saya, rendemennya 70 %,” ungkapnya. Pupuk buatannya sudah dikemas dengan merek Supersonik dan digunakan petani setempat. Dinas pertanian bahkan pernah memesan 18 ton pupuk dan 160 liter POC untuk menjadi bahan pelatihan pertanian organik di Cirebon. Tidak hanya dalam pertanian, sistem organik juga ia terapkan di peternakan. Pakan sapi, misalnya, berasal dari jerami sisa panen di sawah hingga ampas tebu. Jamu untuk sapi bikin sendiri. Ia tidak pernah pakai antibiotik dan vitamin dari pabrik. Bahannya, dari aneka rempah. (Yoga)

Agung Dwi Pratama, Kegagalan Berbuah ”Maggot”

KT3 09 Apr 2024 Kompas (H)

Bermodalkan tutorial dan berkali-kali gagal mencoba, Agung Dwi Pratama (29) mengembangkan maggot di Banggai, Sulteng. Kini, ia menggandeng warga sekitar dan beternak larva lalat hitam itu untuk dimanfaatkan bersama. Medio 2018, saat mengalkulasi kebutuhan ternak ayam kampungnya, Agung tercekik kebutuhan pakan yang tinggi. Dedak, jagung, hingga nutrisi mencapai 75 % biaya produksi. Ia mulai mecari alternatif pakan. Saat itu, ia belum lama mengalami kerugian besar, 700 ekor ayam kampung ternaknya mati sekaligus. Ia pusing memikirkan modal dan keuntungan yang dibangun satu tahun terakhir. Terlebih lagi, ia baru saja menikah dan meninggalkan pekerjaan kantoran untuk beralih menjadi pengusaha.

”Hitungannya, dari Rp 50.000 harga ayam, misalnya, Rp 40.000 adalah biaya operasional dan perawatan. Dari jumlah tersebut, Rp 30.000 biaya pakan per ekornya,” kata Agung di Banggai, Minggu (31/3). Ia akhirnya menemukan informasi soal maggot yang Ia pelajari lewat bacaan, video terkait manfaatnya, hingga cara beternak maggot. Maggot adalah larva dari lalat black soldier fly (Hermetia illucens) atau si lalat hitam. Merogoh kocek Rp 1,5 juta, ia mengikuti kursus dalam jaringan dan video tutorial, lalu mencoba beternak maggot. Setelah memperbaiki cara produksi, volume produksi meningkat. Untuk mendapat 5 kg maggot, dibutuhkan 10 kg sampah, yang menjadi makanan utama dari telur lalat hitam. Sampah rumah tangga sisa makanan sehari-hari menjadi media tumbuh yang efektif untuk perkembangan maggot.

”Kami akhirnya membuat kelompok yang diberi nama GenToili BSF. GenToili diambil dari nama generasi dari kecamatan Toili,” sambungnya. Mereka mengumpulkan sampah di lingkungan secara bersama-sama. Berboncengan menggunakan sepeda motor berkeliling ke rumah-rumah warga, warung makan, hingga pesantren untuk mengumpulkan sampah makanan dan menaruhnya di sekretariat. Setelah difermentasi, lalu disiapkan untuk menjadi media kembang tumbuh maggot. Sistem rumah produksi sederhana juga dibuat. Mereka mampu menghasilkan 200 kg sebulan. Hasilnya, dibagi rata bersama. Sebab, para anggota kelompok ini adalah peternak ayam, lele, atau ternak lainnya. Berbekal modal tersebut, mereka mengajukan proposal ke Pertamina EP Donggi Matindok Field yang memang beroperasi di Banggai.

Saat ini, mereka telah memiliki produk lain berupa maggot kemasan. Maggot disangrai dan dikemas yang diberi nama Maggo Booster. Mereka mengemas dan menjualnya sendiri, dengan berkeliling kampung menawarkan produk ini ke toko hobi, pegiat hewan peliharaan, juga ke komunitas. Produk ini cocok untuk ikan koi, burung kontes, dan hewan peliharaan lainnya. Produk ini dibuat, untuk menjaga keberlangsungan, sekaligus eksistensi kelompok. Sebab, tidak semua anggota kelompok saat ini adalah peternak ayam, atau peternak lele. ”Kami juga punya mimpi untuk bikin pabrik tepung maggot. Itu kami rasa akan memberikan manfaat yang lebih besar ke depannya,” kata Agung. (Yoga)

Masifkan Pencegahan Antraks di DIY

KT3 15 Mar 2024 Kompas (H)

Kasus antraks yang berulang di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menunjukkan perlunya penyakit itu ditangani secara tuntas dan ada upaya pencegahan secara masif. Penyakit hewan yang dapat menular kepada manusia ini berbahaya. Dosen Fakultas Peternakan UGM, Nanung Danar Dono, menyebutkan, langkah memutus berulangnya kasus antraks di DIY memerlukan upaya dari masyarakat, tokoh masyarakat, dan pemerintah. Sejak 2019, kasus antraks setiap tahun selalu muncul di DIY, terutama di Kabupaten Gunungkidul.

”Kepada masyarakat, mohon jangan lagi mengonsumsi ternak yang sudah mati. Kalau ada ternak yang sakit, jangan disembelih juga, laporkan ke petugas dinas peternakan setempat,” ujarnya, Kamis (14/3). Pada Rabu (13/3), Pemerintah DIY menetapkan Dusun Kalinongko Kidul, Prambanan, Kabupaten Sleman, dan Dusun Kayoman, Kecamatan Gedangsari, Gunungkidul, sebagai zona merah antraks. Meski beda kabupaten, kedua desa itu secara geografis bertetangga dan banyak warganya yang terikat hubungan kekerabatan.

Zonasi dilakukan untuk memfokuskan penanganan terhadap ternak agar kasus tak menyebar. Zona merah juga melarang lalu lintas ternak ke luar dusun Nanung berharap pemerintah melakukan penanganan secara cepat dan tuntas jika ada kasus antraks yang muncul. Hal ini untuk mencegah spora antraks menyebar ke area yang lebih luas. Salah satu solusinya ialah dengan mengkremasi bangkai hewan yang diduga mati tak wajar. Menurut dia, kremasi akan memusnahkan spora antraks secara total. Hal itu dilakukan dengan alat bernama onsite mobile incinerator yang dapat diterjunkan ke lokasi jika terjadi kasus kematian hewan ternak yang tak wajar. (Yoga)

Masifkan Pencegahan Antraks di DIY

KT3 15 Mar 2024 Kompas (H)

Kasus antraks yang berulang di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menunjukkan perlunya penyakit itu ditangani secara tuntas dan ada upaya pencegahan secara masif. Penyakit hewan yang dapat menular kepada manusia ini berbahaya. Dosen Fakultas Peternakan UGM, Nanung Danar Dono, menyebutkan, langkah memutus berulangnya kasus antraks di DIY memerlukan upaya dari masyarakat, tokoh masyarakat, dan pemerintah. Sejak 2019, kasus antraks setiap tahun selalu muncul di DIY, terutama di Kabupaten Gunungkidul.

”Kepada masyarakat, mohon jangan lagi mengonsumsi ternak yang sudah mati. Kalau ada ternak yang sakit, jangan disembelih juga, laporkan ke petugas dinas peternakan setempat,” ujarnya, Kamis (14/3). Pada Rabu (13/3), Pemerintah DIY menetapkan Dusun Kalinongko Kidul, Prambanan, Kabupaten Sleman, dan Dusun Kayoman, Kecamatan Gedangsari, Gunungkidul, sebagai zona merah antraks. Meski beda kabupaten, kedua desa itu secara geografis bertetangga dan banyak warganya yang terikat hubungan kekerabatan.

Zonasi dilakukan untuk memfokuskan penanganan terhadap ternak agar kasus tak menyebar. Zona merah juga melarang lalu lintas ternak ke luar dusun Nanung berharap pemerintah melakukan penanganan secara cepat dan tuntas jika ada kasus antraks yang muncul. Hal ini untuk mencegah spora antraks menyebar ke area yang lebih luas. Salah satu solusinya ialah dengan mengkremasi bangkai hewan yang diduga mati tak wajar. Menurut dia, kremasi akan memusnahkan spora antraks secara total. Hal itu dilakukan dengan alat bernama onsite mobile incinerator yang dapat diterjunkan ke lokasi jika terjadi kasus kematian hewan ternak yang tak wajar. (Yoga)

Ketika Harga jagung Mematuk Peternak

KT1 21 Feb 2024 Tempo
Para pelaku industri perunggasan, terutama peternak ayam mandiri, baik ayam pedaging/broiler maupun layer/petelur, memulai 2024 dengan muram. Mereka mengalami guncangan usaha luar biasa. Ongkos beternak terus naik, didorong oleh kenaikan harga pakan, obat-obatan, harga ayam usia sehari (DOC), dan ongkos tenaga kerja. Sedangkan harga jual dalam bentuk daging ayam hidup (livebird) dan telur amat tidak menentu.  Bagi peternak ayam broiler, situasi ini sudah terjadi setidaknya sejak Agustus 2018 dan belum ada solusi mujarab. Adapun situasi peternak layer sedikit berbeda. Akan tetapi keduanya kerap mengalami persoalan yang sama: terpukul dari dua sisi sekaligus, ongkos produksi naik sementara harga jual jatuh di bawah biaya pokok produksi.

Hari-hari ini, harga telur di peternak hanya Rp 21-22 ribu per kilogram, jauh di bawah ongkos produksi (Rp 25 ribu per kilogram). Ongkos produksi peternak naik tinggi, terutama disulut oleh harga jagung untuk pakan. Di pasar, harga jagung bahkan sudah menembus Rp 9.000 per kilogram, jauh di atas harga acuan yang diatur Badan Pangan Nasional (Bapanas): Rp 5.000 per kilogram. Tak ada solusi buat petani. Membeli pakan dari pabrik atau membuat sendiri sama saja: harganya mahal.

Dalam industri perunggasan, pengeluaran terbesar ada pada komponen pakan. Pakan mengambil porsi 70 persen dari seluruh ongkos produksi. Padahal, apabila harga pakan terjangkau, peluang untuk membangun industri perunggasan yang kompetitif terbuka lebar. Dari seluruh komponen pakan, jagung merupakan unsur utama. Dari komposisi pakan unggas, 50-55 persennya dari jagung. Karena itu, tinggi-rendahnya harga jagung amat menentukan harga akhir daging ayam dan telur ayam. Ketersediaan jagung yang pasti dengan harga terjangkau merupakan pilar bagi terciptanya industri perunggasan yang kompetitif. (Yetede)

Jerit Peternak karena Harga Pakan Melambung

KT3 05 Feb 2024 Kompas

Sejumlah peternak ayam di Jateng berjuang mati-matian mempertahankan usahanya yang kembang kempis di tengah terus melambungnya harga pakan. Cipto (45), peternak asal Slawi, Tegal, Jateng, sulit tidur nyenyak beberapa bulan terakhir. Usaha ternak ayam yang sudah dilakoni sepuluh tahun terakhir pelan-pelan menuju ”senja”. Mulanya, Cipto punya delapan kandang, masing-masing sekitar 10.000 ayam pedaging. Seiring waktu, satu per satu kandang kosong dan tidak berproduksi lagi. Kini, tinggal tiga kandang yang beroperasi dengan enam pekerja. Lima kandang lain tutup dan 10 pekerja harus berhenti. ”Mereka tulang punggung keluarga, maka saya pusing kalau kepikiran mereka,” ujarnya, Sabtu (3/2).

Usahanya berjatuhan lantaran tak ada lagi perusahaan pembibitan ayam yang menyuplai bibit kepadanya. Selama ini ia jadi mitra perusahaan, tidak hanya mendapatkan bibit, tetapi juga suplai pakan ternak, obat-obatan, dan jaminan pemasaran dengan harga sesuai perjanjian. Biasanya, ia mendapat suplai bibit ayam 35-40 hari sekali. Namun, tiga bulan terakhir, mayoritas suplai bibit terhenti karena harga pakan meroket. Cipto menduga, perusahaan memilih membesarkan sendiri bibit ayamnya untuk memangkas pengeluaran dan menekan kerugian. Kondisi itu membuat kandang milik Cipto menganggur. Tiga tahun terakhir, 90 % dari seluruh peternak ayam di Kabupaten Tegal menutup usahanya. Masalah serupa terjadi di hampir seluruh daerah di Jateng. Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Jateng Parjuni menyebut, 20 % dari total peternak rakyat di Jateng gulung tikar enam bulan terakhir.

”Sudah ratusan peternakan yang tutup, terutama peternak yang populasi ayamnya di bawah 10.000 ekor. Yang populasinya 20.000-25.000 ekor ayam juga ada yang gulung tikar. Mungkin karena beban cicilan bank atau pembayaran yang tidak bisa dilakukan. Ketimpangan biaya produksi dan harga jual jadi alasannya. Contoh, ongkos produksi telur Rp 27.000 per kg, sedangkan harga jualnya Rp 22.000-Rp 23.000 per kg. Adapun biaya produksi ayam pedaging hidup Rp 21.000-Rp 22.000 per kg, tetapi harga jualnya Rp 17.000 per kg. Kenaikan biaya produksi jadi problem utama seiring melonjaknya harga jagung, komponen utama dalam pakan unggas. ”Selain harganya naik, stok jagung di pasaran itu juga tidak ada,” kata Parjuni. (Yoga)

Jerit Peternak karena Harga Pakan Melambung

KT3 05 Feb 2024 Kompas

Sejumlah peternak ayam di Jateng berjuang mati-matian mempertahankan usahanya yang kembang kempis di tengah terus melambungnya harga pakan. Cipto (45), peternak asal Slawi, Tegal, Jateng, sulit tidur nyenyak beberapa bulan terakhir. Usaha ternak ayam yang sudah dilakoni sepuluh tahun terakhir pelan-pelan menuju ”senja”. Mulanya, Cipto punya delapan kandang, masing-masing sekitar 10.000 ayam pedaging. Seiring waktu, satu per satu kandang kosong dan tidak berproduksi lagi. Kini, tinggal tiga kandang yang beroperasi dengan enam pekerja. Lima kandang lain tutup dan 10 pekerja harus berhenti. ”Mereka tulang punggung keluarga, maka saya pusing kalau kepikiran mereka,” ujarnya, Sabtu (3/2).

Usahanya berjatuhan lantaran tak ada lagi perusahaan pembibitan ayam yang menyuplai bibit kepadanya. Selama ini ia jadi mitra perusahaan, tidak hanya mendapatkan bibit, tetapi juga suplai pakan ternak, obat-obatan, dan jaminan pemasaran dengan harga sesuai perjanjian. Biasanya, ia mendapat suplai bibit ayam 35-40 hari sekali. Namun, tiga bulan terakhir, mayoritas suplai bibit terhenti karena harga pakan meroket. Cipto menduga, perusahaan memilih membesarkan sendiri bibit ayamnya untuk memangkas pengeluaran dan menekan kerugian. Kondisi itu membuat kandang milik Cipto menganggur. Tiga tahun terakhir, 90 % dari seluruh peternak ayam di Kabupaten Tegal menutup usahanya. Masalah serupa terjadi di hampir seluruh daerah di Jateng. Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Jateng Parjuni menyebut, 20 % dari total peternak rakyat di Jateng gulung tikar enam bulan terakhir.

”Sudah ratusan peternakan yang tutup, terutama peternak yang populasi ayamnya di bawah 10.000 ekor. Yang populasinya 20.000-25.000 ekor ayam juga ada yang gulung tikar. Mungkin karena beban cicilan bank atau pembayaran yang tidak bisa dilakukan. Ketimpangan biaya produksi dan harga jual jadi alasannya. Contoh, ongkos produksi telur Rp 27.000 per kg, sedangkan harga jualnya Rp 22.000-Rp 23.000 per kg. Adapun biaya produksi ayam pedaging hidup Rp 21.000-Rp 22.000 per kg, tetapi harga jualnya Rp 17.000 per kg. Kenaikan biaya produksi jadi problem utama seiring melonjaknya harga jagung, komponen utama dalam pakan unggas. ”Selain harganya naik, stok jagung di pasaran itu juga tidak ada,” kata Parjuni. (Yoga)

Berharap Harga Ayam Bisa Membaik

HR1 26 Jan 2024 Kontan
Harga jual ayam hidup di tingkat peternak saat ini masih menghadapi tantangan. Menurut Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (Gopan) harga jual ayam saat ini masih di rentang Rp 16.000–17.000 per kilogram. Harga tersebut masih jauh dari biaya produksi yang dikeluarkan peternak. Yakni rata-rata Rp 20.500–Rp 21.500 per kilogram. Salah satu kendala utama adalah kenaikan pakan ternak. Analis Investindo Nusantara Sekuritas, Pandhu Dewanto melihat anjloknya harga ayam saat ini bisa mempengaruhi kinerja emiten perunggasan. "Jika harga harga ayam terus anjlok maka kinerja emiten pakan ternak diprediksi akan turun pada tahun ini," ujarnya kepada KONTAN, Kamis (25/1). 

Sementara Head of Business Development Division Henan Putihrai Asset Management, Reza Fahmi Riawan menambahkan, emiten perunggsan dan pakan ternak tahun ini memang menghadapi tantangan. Ini akibat gejolak harga bahan baku pakan. Terutama kedelai yang lebih banyak diimpor. "Harga ayam yang anjlok juga berpengaruh pada kinerja emiten pakan ternak, karena menurunkan daya beli peternak," ujar Reza kepada KONTAN Kamis (25/1). Terlihat dari kinerja emiten perunggasan seperti PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN), dan PT Malindo Feedmill Tbk (MAIN) pada 9 bulan pertama tahun 2023 yang cenderung bervariasi. Maka ia rekomendasi JPFA targetnya Rp 1.700–Rp 1.750. CPIN hold di harga Rp 7.300, dan buy MAIN dengan target Rp 930. Sementara Pandhu masih wait and see saham tersebut meski secara valuasi sudah menarik.