Peternakan
( 95 )PENYAKIT MULUT KUKU, Pengawasan Diperketat di Boyolali
Kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) pada ternak kembali ditemukan di Kabupaten Boyolali, Jateng. Berdasarkan temuan awal, kasus ini bermula dari sapi yang berasal dari luar Boyolali. Upaya antisipasi di- gencarkan melalui pengetatan lalu lintas ternak dan vaksinasi. Berdasarkan laporan Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Boyolali, kasus PMK muncul lagi pada Januari 2024. Hingga April 2024, terdapat 41 ekor ternak yang tertular penyakit tersebut. Sebaran kasus ditemukan di tiga kecamatan, yaitu Cepogo, Ampel, dan Tamansari. ”Pada Januari ada yang melapor ke kami. Setelah dicek kelapangan bersama Balai Besar Veteriner Wates, (ternak) memang positif PMK. Yang dicek itu belum divaksinasi dan sapi yang baru dibeli dari daerah lain,” kata Kadis Peternakan dan Perikanan Kabupaten Boyolali Lusia Dyah Suciyati saat dihubungi, Minggu (28/4). Lusia menyatakan, ternak-ternak yang tertular PMK itu langsung diberi pengobatan begitu dilaporkan kepada jajarannya.
Pengobatan itu menjadi salah satu kunci penanganan agar kondisi ternak tidak semakin parah setelah tertular. Saat ini, katanya, sebagian ternak yang sempat tertular pun keadaannya berangsur membaik. Pemicu penularan, kata Lusia, adalah pembelian sapi dari luar Boyolali. Namun, ia enggan menyebutkan asal daerah dari sapi yang kemudian menulari sejumlah sapi lainnya itu. Meski demikian, ia mendapatkan informasi, tahun ini kasus PMK mencuat kembali di wilayah Jatim. ”Kami sudah membuat surat edaran agar pedagang berhati-hati untuk membeli sapi baru. Kalau bisa yang sudah divaksinasi, jika belum (divaksinasi), nanti laporkan ke kami, maka akan kami vaksinasi. Intinya harus membawa sapi yang sehat kalau beli dari luar daerah,” kata Lusia. Di sisi lain, pengawasan lalu lintas ternak juga semakin diperketat. Pengecekan kesehatan hewan dilakukan untuk ternak-ternak yang akan masuk ke pasar-pasar hewan di daerahnya. (Yoga)
Indonesia Rencanakan Impor 2,15 Juta Ekor Sapi Perah
Program Minum Susu Gratis menyebabkan kebutuhan susu nasional
melonjak drastis. Untuk memenuhi kebutuhan itu, Kementan merencanakan mengimpor
2,15 juta sapi perah dari Australia, Selandia Baru, Brasil, dan AS. Minum Susu
Gratis merupakan program Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka, pasangan capres
dan cawapres peraih suara terbanyak pada Pemilu 2024. Program tersebut menyasar
82,9 juta pelajar, santri, dan ibu hamil, dengan total kebutuhan susu selama
setahun sekitar 4,1 juta ton. Kehadiran program itu menyebabkan rerata
kebutuhan susu tahunan bertambah dari 4,6 juta ton menjadi 8,7 juta ton. Dengan
rerata produksi susu tahunan sebanyak 0,9 juta ton, Indonesia akan mengalami defisit
susu sebanyak 7,8 juta ton per tahun atau setara 2 juta sapi perah.
Sekretaris Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan
Makmun, Rabu (17/4) mengatakan, dalam tujuh tahun terakhir, 2017-2023,
kebutuhan susu nasional meningkat 6 % per tahun, sedangkan produksinya hanya 1
% per tahun. Ini menunjukkan kebutuhan dan produksi susu nasional selalu tidak
imbang sehingga Indonesia harus mengimpor susu setiap tahun. Untuk memenuhi
kebutuhan nasional yang terus meningkat, sekaligus program Minum Susu Gratis,
Kementan telah merencanakan program Peningkatan Produksi Susu Nasional (PPSN).
Salah satunya dengan menambah populasi sapi perah, baik melalui impor maupun
inseminasi buatan.
”Setidaknya Indonesia memerlukan tambahan impor 2,15 juta
sapi perah untuk memenuhi kebutuhan susu regular ataupun program Minum Susu
Gratis. Anggaran yang dibutuhkan mencapai Rp 90 triliun,” ujar Makmun dalam webinar
”Kawal Produksi Susu Menuju Kemandirian Pangan dan Protein” yang digelar Sinar Tani
di Jakarta. Makmun menjelaskan, di luar kebutuhan reguler, program Minum Susu
Gratis bagi 24 juta siswa SD membutuhkan 1,18 juta ton susu segar. Untuk memenuhinya,
dibutuhkan 300.000 sapi perah impor dengan anggaran Rp 13,5 triliun. Sementara
untuk program Minum Susu Gratis bagi 82,9 juta pelajar (termasuk siswa SD),
santri, dan ibu hamil, dibutuhkan 4,1 juta ton susu segar. Untuk memenuhinya,
dibutuhkan 1,1 juta sapi perah impor dengan anggaran Rp 49,5 triliun. (Yoga)
Rojai, Petani dan Peternak Unggul
Di tangan Rojai (49), urine dan kotoran sapi disulap menjadi
uang jutaan rupiah. Petani sekaligus peternak ini mengembangkan pupuk dan
pestisida organik. Ia tidak hanya menerapkan pertanian ramah lingkungan, tetapi
juga berjuang memandirikan petani. ”Alhamdulillah, dapat pesanan (pupuk kompos)
lagi dari dinas (pertanian), 9-10 ton,” ucap Rojai, Selasa (16/4). Dengan harga
Rp 2.000 per kg, ia meraup Rp 18 juta dari permintaan itu. Uang jutaan rupiah
itu berasal dari kandang sapi miliknya di Desa Tegalkarang, Palimanan, Cirebon,
Jabar. Di kandang itu, terdapat 10 sapi yang memproduksi kotoran dan urine. Akhir
Februari lalu, misalnya, ia menunjukkan drum biru berisi 100 liter urine sapi
yang telah difermentasi di kandang itu.
Saat tutupnya dibuka, aroma urine yang menyengat menguar
dengan gelembung di atasnya. ”Ini kalau dijual, harganya Rp 2 juta,” ucap Rojai
tersenyum. Urine itu menjadi bahan utama pupuk organik cair (POC) yang dapat
membantu pertumbuhan tanaman. Sawah yang disemprot POC, batang dan daun padinya
hijau. Tanahnya mudah ditanami. Sehektar butuh minimal 5 liter POC. Harga POC
Rp 20.000 per liter, lebih murah dari pupuk cair kimia yang berkisar Rp
60.000-Rp 90.000 per liter. ”Urine sapi mengandung pestisida. Jadi, enggak usah
beli obat (pestisida kimia),” katanya. Perjumpaan Rojai dengan pertanian
organik bermula tahun 2016, pemilik 120 sapi dan 50 kambing ini menjadi
peternak terbaik tingkat Kabupaten Cirebon.
Ia mendapat program unit pengelolaan pupuk organik dari dinas
pertanian dan mulai mengolah limbah ternak menjadi pupuk dan pestisida organik.
”Saya pelatihan di Bogor habis Rp 5 juta, diketawain orang dinas (karena ikut
pelatihan berbayar),” kenangnya. Pupuk kompos sangat membantu ditengah
berkurangnya alokasi pupuk bersubsidi pemerintah. Petani hanya dijatah 70 kg
per satu jenis pupuk per satu hektar sawah. Padahal, biasanya 1 kuintal per
jenis pupuk bersubsidi. Petani pun membeli pupuk nonsubsidi dengan harga Rp 1
juta per kuintal. ”Dari 2017, saya enggak pernah bergantung sama pupuk dan pestisida
kimia,” katanya. Setelah bertahun-tahun menggunakan bahan organik, padinya subur.
”Hasil pH-nya normal, 7. Padahal, di mana-mana, pH-nya paling 5,” kata Rojai.
Ia mengklaim hasil panen musim gadu (tanam kedua) tahun lalu
mencapai 10,3 ton gabah basah per hektar. Padahal, petani biasanya hanya memanen
6-7 ton gabah per hektar. Rendemennya juga lebih tinggi. ”Padi biasanya rendemennya
saat digiling jadi beras 62-65 %, hasil panen saya, rendemennya 70 %,”
ungkapnya. Pupuk buatannya sudah dikemas dengan merek Supersonik dan digunakan petani
setempat. Dinas pertanian bahkan pernah memesan 18 ton pupuk dan 160 liter POC
untuk menjadi bahan pelatihan pertanian organik di Cirebon. Tidak hanya dalam
pertanian, sistem organik juga ia terapkan di peternakan. Pakan sapi, misalnya,
berasal dari jerami sisa panen di sawah hingga ampas tebu. Jamu untuk sapi
bikin sendiri. Ia tidak pernah pakai antibiotik dan vitamin dari pabrik.
Bahannya, dari aneka rempah. (Yoga)
Agung Dwi Pratama, Kegagalan Berbuah ”Maggot”
Bermodalkan tutorial dan berkali-kali gagal mencoba, Agung
Dwi Pratama (29) mengembangkan maggot di Banggai, Sulteng. Kini, ia menggandeng
warga sekitar dan beternak larva lalat hitam itu untuk dimanfaatkan bersama. Medio
2018, saat mengalkulasi kebutuhan ternak ayam kampungnya, Agung tercekik kebutuhan
pakan yang tinggi. Dedak, jagung, hingga nutrisi mencapai 75 % biaya produksi.
Ia mulai mecari alternatif pakan. Saat itu, ia belum lama mengalami kerugian
besar, 700 ekor ayam kampung ternaknya mati sekaligus. Ia pusing memikirkan
modal dan keuntungan yang dibangun satu tahun terakhir. Terlebih lagi, ia baru
saja menikah dan meninggalkan pekerjaan kantoran untuk beralih menjadi pengusaha.
”Hitungannya, dari Rp 50.000 harga ayam, misalnya, Rp 40.000
adalah biaya operasional dan perawatan. Dari jumlah tersebut, Rp 30.000 biaya pakan
per ekornya,” kata Agung di Banggai, Minggu (31/3). Ia akhirnya menemukan
informasi soal maggot yang Ia pelajari lewat bacaan, video terkait manfaatnya, hingga
cara beternak maggot. Maggot adalah larva dari lalat black soldier fly (Hermetia
illucens) atau si lalat hitam. Merogoh kocek Rp 1,5 juta, ia mengikuti kursus
dalam jaringan dan video tutorial, lalu mencoba beternak maggot. Setelah
memperbaiki cara produksi, volume produksi meningkat. Untuk mendapat 5 kg maggot,
dibutuhkan 10 kg sampah, yang menjadi makanan utama dari telur lalat hitam.
Sampah rumah tangga sisa makanan sehari-hari menjadi media tumbuh yang efektif untuk
perkembangan maggot.
”Kami akhirnya membuat kelompok yang diberi nama GenToili
BSF. GenToili diambil dari nama generasi dari kecamatan Toili,” sambungnya. Mereka
mengumpulkan sampah di lingkungan secara bersama-sama. Berboncengan menggunakan
sepeda motor berkeliling ke rumah-rumah warga, warung makan, hingga pesantren untuk
mengumpulkan sampah makanan dan menaruhnya di sekretariat. Setelah
difermentasi, lalu disiapkan untuk menjadi media kembang tumbuh maggot. Sistem
rumah produksi sederhana juga dibuat. Mereka mampu menghasilkan 200 kg sebulan.
Hasilnya, dibagi rata bersama. Sebab, para anggota kelompok ini adalah peternak
ayam, lele, atau ternak lainnya. Berbekal modal tersebut, mereka mengajukan
proposal ke Pertamina EP Donggi Matindok Field yang memang beroperasi di
Banggai.
Saat ini, mereka telah memiliki produk lain berupa maggot
kemasan. Maggot disangrai dan dikemas yang diberi nama Maggo Booster. Mereka
mengemas dan menjualnya sendiri, dengan berkeliling kampung menawarkan produk
ini ke toko hobi, pegiat hewan peliharaan, juga ke komunitas. Produk ini cocok
untuk ikan koi, burung kontes, dan hewan peliharaan lainnya. Produk ini dibuat,
untuk menjaga keberlangsungan, sekaligus eksistensi kelompok. Sebab, tidak
semua anggota kelompok saat ini adalah peternak ayam, atau peternak lele. ”Kami
juga punya mimpi untuk bikin pabrik tepung maggot. Itu kami rasa akan memberikan
manfaat yang lebih besar ke depannya,” kata Agung. (Yoga)
Masifkan Pencegahan Antraks di DIY
Kasus antraks yang berulang di wilayah Daerah Istimewa
Yogyakarta (DIY) menunjukkan perlunya penyakit itu ditangani secara tuntas dan
ada upaya pencegahan secara masif. Penyakit hewan yang dapat menular kepada
manusia ini berbahaya. Dosen Fakultas Peternakan UGM, Nanung Danar Dono, menyebutkan,
langkah memutus berulangnya kasus antraks di DIY memerlukan upaya dari
masyarakat, tokoh masyarakat, dan pemerintah. Sejak 2019, kasus antraks setiap
tahun selalu muncul di DIY, terutama di Kabupaten Gunungkidul.
”Kepada masyarakat, mohon jangan lagi mengonsumsi ternak yang
sudah mati. Kalau ada ternak yang sakit, jangan disembelih juga, laporkan ke
petugas dinas peternakan setempat,” ujarnya, Kamis (14/3). Pada Rabu (13/3),
Pemerintah DIY menetapkan Dusun Kalinongko Kidul, Prambanan, Kabupaten Sleman,
dan Dusun Kayoman, Kecamatan Gedangsari, Gunungkidul, sebagai zona merah
antraks. Meski beda kabupaten, kedua desa itu secara geografis bertetangga dan
banyak warganya yang terikat hubungan kekerabatan.
Zonasi dilakukan untuk memfokuskan penanganan terhadap ternak
agar kasus tak menyebar. Zona merah juga melarang lalu lintas ternak ke luar
dusun Nanung berharap pemerintah melakukan penanganan secara cepat dan tuntas
jika ada kasus antraks yang muncul. Hal ini untuk mencegah spora antraks
menyebar ke area yang lebih luas. Salah satu solusinya ialah dengan mengkremasi
bangkai hewan yang diduga mati tak wajar. Menurut dia, kremasi akan memusnahkan
spora antraks secara total. Hal itu dilakukan dengan alat bernama onsite mobile
incinerator yang dapat diterjunkan ke lokasi jika terjadi kasus kematian hewan
ternak yang tak wajar. (Yoga)
Masifkan Pencegahan Antraks di DIY
Kasus antraks yang berulang di wilayah Daerah Istimewa
Yogyakarta (DIY) menunjukkan perlunya penyakit itu ditangani secara tuntas dan
ada upaya pencegahan secara masif. Penyakit hewan yang dapat menular kepada
manusia ini berbahaya. Dosen Fakultas Peternakan UGM, Nanung Danar Dono, menyebutkan,
langkah memutus berulangnya kasus antraks di DIY memerlukan upaya dari
masyarakat, tokoh masyarakat, dan pemerintah. Sejak 2019, kasus antraks setiap
tahun selalu muncul di DIY, terutama di Kabupaten Gunungkidul.
”Kepada masyarakat, mohon jangan lagi mengonsumsi ternak yang
sudah mati. Kalau ada ternak yang sakit, jangan disembelih juga, laporkan ke
petugas dinas peternakan setempat,” ujarnya, Kamis (14/3). Pada Rabu (13/3),
Pemerintah DIY menetapkan Dusun Kalinongko Kidul, Prambanan, Kabupaten Sleman,
dan Dusun Kayoman, Kecamatan Gedangsari, Gunungkidul, sebagai zona merah
antraks. Meski beda kabupaten, kedua desa itu secara geografis bertetangga dan
banyak warganya yang terikat hubungan kekerabatan.
Zonasi dilakukan untuk memfokuskan penanganan terhadap ternak
agar kasus tak menyebar. Zona merah juga melarang lalu lintas ternak ke luar
dusun Nanung berharap pemerintah melakukan penanganan secara cepat dan tuntas
jika ada kasus antraks yang muncul. Hal ini untuk mencegah spora antraks
menyebar ke area yang lebih luas. Salah satu solusinya ialah dengan mengkremasi
bangkai hewan yang diduga mati tak wajar. Menurut dia, kremasi akan memusnahkan
spora antraks secara total. Hal itu dilakukan dengan alat bernama onsite mobile
incinerator yang dapat diterjunkan ke lokasi jika terjadi kasus kematian hewan
ternak yang tak wajar. (Yoga)
Ketika Harga jagung Mematuk Peternak
Jerit Peternak karena Harga Pakan Melambung
Sejumlah peternak ayam di Jateng berjuang mati-matian
mempertahankan usahanya yang kembang kempis di tengah terus melambungnya harga
pakan. Cipto (45), peternak asal Slawi, Tegal, Jateng, sulit tidur nyenyak
beberapa bulan terakhir. Usaha ternak ayam yang sudah dilakoni sepuluh tahun
terakhir pelan-pelan menuju ”senja”. Mulanya, Cipto punya delapan kandang,
masing-masing sekitar 10.000 ayam pedaging. Seiring waktu, satu per satu
kandang kosong dan tidak berproduksi lagi. Kini, tinggal tiga kandang yang
beroperasi dengan enam pekerja. Lima kandang lain tutup dan 10 pekerja harus
berhenti. ”Mereka tulang punggung keluarga, maka saya pusing kalau kepikiran
mereka,” ujarnya, Sabtu (3/2).
Usahanya berjatuhan lantaran tak ada lagi perusahaan
pembibitan ayam yang menyuplai bibit kepadanya. Selama ini ia jadi mitra
perusahaan, tidak hanya mendapatkan bibit, tetapi juga suplai pakan ternak,
obat-obatan, dan jaminan pemasaran dengan harga sesuai perjanjian. Biasanya, ia
mendapat suplai bibit ayam 35-40 hari sekali. Namun, tiga bulan terakhir,
mayoritas suplai bibit terhenti karena harga pakan meroket. Cipto menduga,
perusahaan memilih membesarkan sendiri bibit ayamnya untuk memangkas
pengeluaran dan menekan kerugian. Kondisi itu membuat kandang milik Cipto
menganggur. Tiga tahun terakhir, 90 % dari seluruh peternak ayam di Kabupaten Tegal
menutup usahanya. Masalah serupa terjadi di hampir seluruh daerah di Jateng.
Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Jateng Parjuni menyebut, 20
% dari total peternak rakyat di Jateng gulung tikar enam bulan terakhir.
”Sudah ratusan peternakan yang tutup, terutama peternak yang
populasi ayamnya di bawah 10.000 ekor. Yang populasinya 20.000-25.000 ekor ayam
juga ada yang gulung tikar. Mungkin karena beban cicilan bank atau pembayaran yang
tidak bisa dilakukan. Ketimpangan biaya produksi dan harga jual jadi alasannya.
Contoh, ongkos produksi telur Rp 27.000 per kg, sedangkan harga jualnya Rp 22.000-Rp
23.000 per kg. Adapun biaya produksi ayam pedaging hidup Rp 21.000-Rp 22.000
per kg, tetapi harga jualnya Rp 17.000 per kg. Kenaikan biaya produksi jadi
problem utama seiring melonjaknya harga jagung, komponen utama dalam pakan
unggas. ”Selain harganya naik, stok jagung di pasaran itu juga tidak ada,” kata
Parjuni. (Yoga)
Jerit Peternak karena Harga Pakan Melambung
Sejumlah peternak ayam di Jateng berjuang mati-matian
mempertahankan usahanya yang kembang kempis di tengah terus melambungnya harga
pakan. Cipto (45), peternak asal Slawi, Tegal, Jateng, sulit tidur nyenyak
beberapa bulan terakhir. Usaha ternak ayam yang sudah dilakoni sepuluh tahun
terakhir pelan-pelan menuju ”senja”. Mulanya, Cipto punya delapan kandang,
masing-masing sekitar 10.000 ayam pedaging. Seiring waktu, satu per satu
kandang kosong dan tidak berproduksi lagi. Kini, tinggal tiga kandang yang
beroperasi dengan enam pekerja. Lima kandang lain tutup dan 10 pekerja harus
berhenti. ”Mereka tulang punggung keluarga, maka saya pusing kalau kepikiran
mereka,” ujarnya, Sabtu (3/2).
Usahanya berjatuhan lantaran tak ada lagi perusahaan
pembibitan ayam yang menyuplai bibit kepadanya. Selama ini ia jadi mitra
perusahaan, tidak hanya mendapatkan bibit, tetapi juga suplai pakan ternak,
obat-obatan, dan jaminan pemasaran dengan harga sesuai perjanjian. Biasanya, ia
mendapat suplai bibit ayam 35-40 hari sekali. Namun, tiga bulan terakhir,
mayoritas suplai bibit terhenti karena harga pakan meroket. Cipto menduga,
perusahaan memilih membesarkan sendiri bibit ayamnya untuk memangkas
pengeluaran dan menekan kerugian. Kondisi itu membuat kandang milik Cipto
menganggur. Tiga tahun terakhir, 90 % dari seluruh peternak ayam di Kabupaten Tegal
menutup usahanya. Masalah serupa terjadi di hampir seluruh daerah di Jateng.
Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Jateng Parjuni menyebut, 20
% dari total peternak rakyat di Jateng gulung tikar enam bulan terakhir.
”Sudah ratusan peternakan yang tutup, terutama peternak yang
populasi ayamnya di bawah 10.000 ekor. Yang populasinya 20.000-25.000 ekor ayam
juga ada yang gulung tikar. Mungkin karena beban cicilan bank atau pembayaran yang
tidak bisa dilakukan. Ketimpangan biaya produksi dan harga jual jadi alasannya.
Contoh, ongkos produksi telur Rp 27.000 per kg, sedangkan harga jualnya Rp 22.000-Rp
23.000 per kg. Adapun biaya produksi ayam pedaging hidup Rp 21.000-Rp 22.000
per kg, tetapi harga jualnya Rp 17.000 per kg. Kenaikan biaya produksi jadi
problem utama seiring melonjaknya harga jagung, komponen utama dalam pakan
unggas. ”Selain harganya naik, stok jagung di pasaran itu juga tidak ada,” kata
Parjuni. (Yoga)
Berharap Harga Ayam Bisa Membaik
Pilihan Editor
-
Credit Suisse Tepis Krisis Perbankan
17 Mar 2023 -
PARIWISATA, Visa Kedatangan Perlu Diperketat
15 Mar 2023 -
Ratusan Ribu Pekerja Inggris Mogok
17 Mar 2023







