;
Tags

Peternakan

( 95 )

Peternakan Sapi Banjir Pesanan

KT3 05 Jun 2023 Kompas

Menjelang hari raya Idul Adha, permintaan hewan kurban, seperti sapi yang dipelihara di peternakan hewan NusaQu di Kecamatan Tajur Halang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Minggu (4/6/2023), terus meningkat. Peternakan khusus penggemukan ini setidaknya telah menerima pesanan 300 sapi untuk disembelih pada Idul Adha mendatang. Selain sapi lokal, seperti dari Bali, Bojonegoro, dan Banjarnegara, peternakan ini juga menjual sapi ras luar, seperti limosin dan simetal. (Yoga)

Singapura Hentikan Impor Babi dari Batam

KT3 25 Apr 2023 Kompas

Ekspor babi hidup ke Singapura dari peternakan Pulau Bulan, Batam, Kepulauan Riau, dihentikan sementara. Badan Pengawas Makanan Singapura menemukan ternak yang dikirim dari Pulau Bulan terjangkit virus demam babi Afrika. Padahal, peternakan babi terbesar di Indonesia itu menyuplai 15 % kebutuhan daging babi bagi warga Singapura. Kadis Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Kesehatan Hewan Kepulauan Riau Rika Azmi, Senin (24/4) mengatakan, petugas akan segera turun ke Pulau Bulan untuk memverifikasi dugaan merebaknya virus demam babi Afrika (African swine fever/ASF) di peternakan tersebut. Tim itu terdiri dari petugas Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementan dan petugas Balai Veteriner Bukittingi.

”Selama tiga hari ke depan, tim akan melakukan surveilans dan menyusun langkah-langkah  pengawasan dan pengendalian,” kata Rika. Sebelumnya, Badan Pengawas Makanan Singapura (Singapore Food Agency/SFA) menyatakan, babi hidup yang dikirim dari Pulau Bulan pada 19April 2023 terjangkit ASF. Ini temuan pertama babi yang diimpor Singapura terjangkit ASF. Menurut SFA, peternakan di Pulau Bulan menyuplai 15 % kebutuhan daging babi untuk konsumsi warga di Singapura. Penghentian impor daging babi dari Pulau Bulan bakal menyebabkan disrupsi suplai pangan di negara dengan 5,45 juta penduduk itu. (Yoga)


Peternak Rugi Triliunan Rupiah

KT3 17 Apr 2023 Kompas

Persaingan yang tidak setara antara perusahaan besar dan peternak ayam mandiri membuat harga jual ayam hidup terus tertekan. Diperberat oleh harga pokok produksi yang terus naik, peternak mandiri pun semakin merugi. Perlu ada intervensi untuk menciptakan keadilan dalam bisnis unggas ini. Ketua Komunitas Peternak Unggas Nasional (KPUN) Alvino Antonio menjelaskan, harga jual ayam hidup terus tertekan akibat harga pokok produksi yang terus naik. Kini, harga jual berada di kisaran Rp 17.000-Rp 18.000 per kg. Angka ini di bawah harga acuan yang ditetapkan dalam Peraturan Bapanas No 5 Tahun 2022 tentang Harga Acuan Pembelian di Tingkat Produsen dan Harga Acuan Penjualan di Tingkat Konsumen Komoditas Jagung, Telur Ayam Ras, dan Daging Ayam Ras. Dalam aturan itu ditetapkan harga acuan Rp 23.000 per kilogram. Dengan total produksi ayam peternak mandiri sekitar 16 juta ekor per minggu dan beban kerugian mulai dari Rp 2.000-Rp 3.000 per kilogram, KPUN mencatat kerugian setahun bisa mencapai Rp 3 triliun.

”Produksi nasional itu sekitar 80 juta ekor perminggu, dari peternakan rakyat sekitar 20 % atau 16 juta ekor. Bila asumsinya satu ekor beratnya 1,5 kg, kalau dihitung, ya, secara nasional ruginya Rp 2,7 triliun kurang lebih,” ujarnya saat dihubungi dari Jakarta, Sabtu (15/4). Ada beberapa penyebab harga ayam dari peternakan mandiri terus tertekan. Pertama, biaya produksi yang terus naik 10 % setiap tahunnya, sedangkan harga jual cenderung stabil. Harga jagung sebagai salah satu pakan ternak ayam memang masih tinggi. Berdasarkan data Bapanas per Sabtu (15/4), harga jagung di tingkat peternak berada di angka Rp 6.150, masih di atas harga acuan jagung sesuai Perbapanas No 5/2022 sebesar Rp 5.000 per kg. Selain jagung, harga pakan ayam kualitas baik yang digunakan untuk penggemukan juga berada di harga Rp 9.000 per kg, dari kondisi ideal Rp 7.500 per kg. (Yoga)


Jaga Pasokan Daging dengan Swasembada Skala Domestik

KT3 24 Mar 2023 Kompas (H)

Nanang Purus Subendro, Ketua Dewan Pengurus Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau  Indonesia, menyebutkan, larangan impor salah satunya diberlakukan di Lampung. ”Di Lampung, ada regulasi yang melarang masuknya daging kerbau India,” ujarnya, Selasa (14/3). Regulasi ini tertuang dalam Surat Edaran Gubernur No 524 Tahun 2016. Nanang mengungkapkan, pemerintah pusat mengizinkan pemda menolak daging sapi impor guna melindungi peternak lokal. ”Kebetulan di Lampung sudah terjadi oversupply,” ujarnya. Pemetaan produksi dan konsumsi daging sapi yang dilakukan Litbang Kompas menemukan hal senada. Berdasarkan penghitungan menggunakan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang dirilis BPS, total konsumsi daging sapi di Lampung tahun lalu 1.558,8 ton.  

Adapun produksi daging sapi di tahun yang sama mencapai 21.176,2 ton. Produksi tersebut mampu mencukupi kebutuhan daging sapi Lampung. Bahkan, jika dihitung berdasarkan data Kementerian Pertanian (Kementan), surplus pasokan masih terjadi.  Kebijakan serupa lebih dulu diberlakukan di Jatim sejak 2010. Melalui Surat Edaran Gubernur No 524/2010, Pemprov Jatim melarang pemasukan dan peredaran sapi, daging, serta jeroan impor. Jika dihitung menggunakan data konsumsi Kementan, memang terjadi defisit daging sapi di Jatim 35.000 ton. Namun, perhitungan menggunakan data Susenas menunjukkan surplus 82.000 ton pada tahun 2022, terbesar di antara provinsi-provinsi lain di Indonesia. (Yoga)


Program Integrasi Sawit-Sapi di Kalsel

KT3 20 Mar 2023 Kompas

Kementan meresmikan program Sistem Integrasi Kelapa Sawit-Sapi Berbasis Kemitraan Usaha Ternak Inti Plasma (Siska Kuintip) di Kalsel, yang berjalan beberapa tahun terakhir. ”Kami mendorong perusahaan perkebunan besar swasta untuk mengintegrasikan lahan sawit miliknya dengan pengembangan sapi ternak,” kata Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, Sabtu (18/3) dalam peresmian program Siska Kuintip, sekaligus panen anak sapi di Desa Jombang, Kecamatan Satui, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalsel. Sebagai uji coba,  ditargetkan pengembangan 10.000 sapi di Tanah Bumbu. (Yoga)

Penyakit Kulit Ancam Ternak Sapi di Sumsel

KT3 29 Jan 2023 Kompas

Kasus penyakit kulit berbenjol atau lumpy skin diseases/LSD ditemukan pada ternak sapi di Sumsel. Penyakit itu diperkirakan berasal dari provinsi tetangga. Vaksinasi mulai dilakukan untuk mencegah penyebaran penyakit. Kadis Peternakan dan Ketahanan Pangan Sumsel Ruzuan Efendi, di Palembang, Sabtu (28/1) mengatakan, sudah ditemukan 50 kasus LSD di Sumsel, seperti di Kabupaten Banyuasin dan Musi Banyuasin. ”Namun, beberapa di antaranya sudah dinyatakan sembuh,” ucapnya. Ternak diperkirakan tertular dari sapi dari beberapa daerah di luar Sumsel. Menurut Ruzuan, kasus LSD sudah ditemukan terlebih dulu di Jambi dan Riau. Karena itu, lanjut Ruzuan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan sejumlah pihak terkait untuk benar-benar mengawasi distribusi hewan ternak yang masuk ataupun yang keluar dari Sumsel agar penyebaran penyakit tidak meluas. Sampai saat ini pihaknya juga telah menerima vaksin 4.000 dosis yang langsung disalurkan ke daerah-daerah yang sudah ada kasus LSD.

Mengutip informasi dari laman situs internet Balai Besar Veteriner Wates, DI Yogyakarta, LSD merupakan penyakit kulit infeksius yang disebabkan oleh lumpy skin disease virus. Virus ini umumnya menyerang sapi dan kerbau. LSD dapat menyebabkan abortus, penurunan produksi susu sapi perah, infertilitas, dan demam berkepanjangan. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah kasus penyakit ternak terus menerpa Sumsel. Menurut Ruzuan, penyakit LSD yang ada di Sumsel belum memengaruhi populasi sapi. Populasi sapi di Sumsel 305.000 ekor. Untuk memenuhi kebutuhan daging, setidaknya dibutuhkan 700.000 ekor per tahun. Dari 125.000 ton kebutuhan daging sapi per tahun, hanya 80.000 ton yang diproduksi sendiri di Sumsel, sisanya dipasok daerah lain.Anggota Asosiasi Peternak dan Penjual Hewan Kurban Sumsel, Idil Fitriansyah berharap, pemerintah langsung mengambil tindakan agar penyakit LSD tidak lagi merebak dengan memperkuat vaksinasi. ”Kalau kami berjuang sendiri, tentu kami tidak mampu. Kami butuh bantuan vaksin dari pemerintah,” ujar Idil. (Yoga)


Ekspor Anak Ayam Buka Peluang

KT3 29 Nov 2022 Kompas

Sebanyak 85.850 anak ayam umur sehari jenis petelur dari Jatim diekspor ke Singapura. Transaksi senilai Rp 1,4 miliar ini diyakini bakal menjadi pembuka jalan industri unggas dalam negeri untuk mengisi ceruk pasar global. Ekspor juga dinilai bisa menjadi solusi mengatasi melimpahnya produksi unggas yang memicu harga murah. Ekspor anak ayam umur satu hari (day old chicken/DOC) jenis ayam petelur (layer) itu dilakukan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk melalui anak perusahaannya, PT Charoen Pokphand Jaya Farm, yang berlokasi di Gempol, Pasuruan, Jatim. Ekspor DOC untuk kali pertama tujuan Singapura itu dilakukan secara resmi di Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya, Senin (28/11). Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Kementan Agung Suganda mengatakan, upaya mengekspor anak ayam umur sehari ke Singapura bukan perkara mudah karena negara tersebut menerapkan standar keamanan pangan yang tinggi. Standar keamanan pangan tersebut setara dengan negara-negara di Uni Eropa, AS, dan Jepang. ”Hal ini menunjukkan bibit niaga ayam ras asal Indonesia mampu bersaing untuk mengisi ceruk pasar ekspor global,” ujar Agung di Sidoarjo, Jatim.

Ekspor DOC layer ke Singapura, kata Agung, melalui proses panjang, di antaranya tahapan audit, onsite review (tinjauan di tempat), serta kesesuaian terkait persyaratan dan ketentuan dari negara tujuan. Dia menambahkan, pelepasan ekspor DOC itu diharapkan menjadi momentum bersama untuk meningkatkan produktivitas di dalam negeri dan daya saing di pasar global. Presdir PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk Tjiu Thomas Effendy mengatakan, ekspor DOC layer itu telah didahului audit ketat oleh Singapore Food Agency. Setelah diaudit, produk itu berhasil menarik minat salah satu perusahaan peternakan ayam petelur Singapura untuk membeli DOC FS Layer Strain HyLine Brown. Setibanya di Singapura, anak ayam itu akan menjalani serangkaian uji laboratorium selama 10 hari untuk menentukan kualitas dan keamanannya. Setelah lolos uji, DOC dapat diterima dan dipelihara untuk dibesarkan di Singapura. ”Selain Singapura, sejak 2017, kami telah melakukan ekspor ke Timor Leste, Papua Niugini, Jepang, dan Qatar. Produk yang diekspor meliputi daging ayam, DOC broiler (ayam pedaging), DOC layer, dan pakan ternak. Sejak awal hingga semester pertama 2022, ekspor kami mencapai 500 kontainer dan 1.269.390 ekor DOC,” kata Thomas. (Yoga)


Harga Acuan Belum Berdampak, Pengaturan Suplai Mendesak

KT3 15 Oct 2022 Kompas

Kenaikan harga acuan pembelian dinilai belum cukup menstabilkan harga jual ayam pedaging di tingkat peternak. Bukan hanya harga jual yang rendah, peternak juga sedang tertekan akibat kenaikan harga BBM. Ketum Pengurus Pusat Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Indonesia Singgih Januratmoko berpendapat, tekanan harga jual rendah dan modal tinggi menyelimuti Hari Ayam dan Telur Nasional yang diperingati setiap 15 Oktober. ”Kenaikan harga BBM membuat ongkos angkut pakan peternak naik 30 %. Di sisi lain, harga jual peternak berkisar Rp 12.000-Rp 15.000 per kg,” katanya saat dihubungi, Jumat (14/10). Padahal, pemerintah telah menaikkan harga acuan melalui Peraturan Badan Pangan Nasional No 5 Tahun 2022 tentang Harga Acuan Pembelian di Tingkat Produsen dan Harga Acuan Penjualan di Tingkat Konsumen Komoditas Jagung, Telur Ayam Ras, dan Daging Ayam Ras. Aturan itu ditetapkan 5 Oktober 2022.

Dalam aturan baru tersebut, harga acuan pembelian ayam pedaging di tingkat produsen ditetapkan Rp 21.000-Rp23.000 per kg, sedangkan acuan penjualan di tingkat konsumen Rp 36.750 per kg. Pada regulasi sebelumnya, yakni Permendag No 7 Tahun 2020, harga acuan pembelian ayam pedaging di tingkat peternak Rp 19.000-Rp 21.000 per kg dan penjualan di konsumen Rp 35.000 per kg. Meski demikian, kata Singgih, regulasi itu belum mampu mengerek harga. Rendahnya harga jual di tingkat peternak disebabkan suplai berlebih. Dia memperkirakan, kelebihan suplai yang terjadi sekitar 20 % kebutuhan masyarakat setiap minggu. Menurut dia, upaya menyerap dan menyimpan oleh perusahaan-perusahaan yang telah ditunjuk Badan Pangan Nasional masih terbatas. ”Penyalurannya pun belum optimal. Hal ini mesti disokong program pemerintah yang mendorong konsumsi,” ujarnya. (Yoga)


Stabilisasi Harga Telur lewat Bantuan Pakan

KT3 25 Aug 2022 Kompas (H)

Harga telur ayam ras rata-rata melambung hingga Rp 31.000 per kg dalam sepekan terakhir. Hal ini dipicu kenaikan harga pakan dan permintaan pasar yang jauh di atas produksi. Pemerintah berupaya menurunkan harga telur lewat bantuan pakan. Pantauan di Pasar Kliwon Purwokerto, Jawa Tengah, harga telur sepekan terakhir naik dari Rp 25.000 menjadi Rp 31.000 per kg. Harga yang sama terpantau di Semarang, Jateng, Rabu (24/8). ”Kenaikan harga terjadi sejak pekan ketiga Agustus, naik terus, dan baru turun sedikit kemarin. Pada awal Agustus itu masih Rp 25.000 per kg, sekarang Rp 30.000 per kg, itu pun harga dari penyalurnya. Jadi, kami jualnya Rp 31.000 per kilogram,” kata Marsih (42), pedagang di Pasar Peterongan, Semarang.

Abdullah Mansuri, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi), meminta pemerintah segera mengatasi persoalan tingginya harga telur. Sejumlah peternak menyebut kenaikan harga telur salah satunya karena kenaikan harga pakan. Nur Hikmah, peternak Batang, mengatakan, harga pakan ayam naik dari Rp 750.000 per kuintal menjadi Rp 990.000 per kuintal. Dalam rapat kabinet terbatas, kemarin, Presiden Jokowi menanyakan soal harga telur ayam ras yang terus meningkat. Mendag Zulkifli Hasan menyebut bahwa hal itu terjadi karena pengusaha melakukan afkir. Ditambah, Kemensos menyerap banyak telur peternak untuk bantuan sosial.

Penyediaan jagung pakan dengan harga sesuai harga acuan pemerintah, yaitu Rp 4.500 per kg bagi peternak berskala mikro kecil, menjadi salah satu solusi menurunkan harga telur. Bantuan itu dimulai pada Oktober-Desember 2021 sebanyak 30.000 ton dan Mei-Juni 2022 sebanyak 25.000 ton. ”Bantuan itu diharapkan dapat mengurangi beban biaya produksi peternak ayam petelur sehingga harga dan stok telur ayam bisa stabil,” kata Plt Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Syailendra. (Yoga)


Daerah Diminta Awasi Kompensasi PMK

KT3 21 Jul 2022 Kompas

Pemerintah daerah diminta mengawasi proses pemotongan hewan yang terjangkit penyakit mulut dan kuku (PMK), serta pemberian kompensasi bagi peternak. ”Pemotongan bersyarat sudah berjalan di sejumlah daerah. Tinggal penggantian. Dinas di daerah harus mengawasi hal itu,” kata Sekretaris Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan Makmun di Lombok Tengah, NTB, Rabu (20/7). (Yoga)