;
Tags

Peternakan

( 95 )

Efek Domino Kenaikan Harga Pakan

KT1 24 Jan 2024 Tempo
Sudah lebih dari dua pekan peternak ayam dibuat pusing menghadapi persoalan kelangkaan dan kenaikan harga pakan ternak. Pasokan jagung menipis lantaran banyak petani yang gagal panen akibat El Nino. Di sisi lain, permintaan pasokan jagung impor masih tertahan. Kini harga pakan ternak sudah mendekati Rp 8.000 per kilogram, dari harga rata-rata normal Rp 6.900 per kilogram. Adapun harga jagung terpantau mencapai Rp 10 ribu per kilogram di sejumlah daerah, dari harga normal Rp 6.000 per kilogram.

Produksi jagung pipil kering berkadar air 14 persen terus turun akibat kekeringan sebagai dampak El Nino sejak pertengahan tahun lalu. Sejumlah petani mengalami gagal panen karena tidak ada hujan. Di daerah Lamongan, Jawa Timur, misalnya, penurunan produksi mencapai 80 persen saat panen pertama. Sedangkan di Bima, Nusa Tenggara Barat, hasil panen anjlok hingga 50 persen. Menurut data Badan Pusat Statistik, produksi jagung nasional pada Oktober 2023 mencapai 1,29 juta ton. Jumlahnya terus turun menjadi 1,17 juta ton pada November dan 0,89 juta ton pada Desember. Sedangkan kebutuhan jagung nasional per bulan menembus 1,25 juta ton.

Ketua Bidang Telur Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat, Leopold Halim, mengungkapkan peternak saat ini kelimpungan lantaran produsen pakan kian ketat membatasi penjualan akibat stok yang diprediksi tak sampai hingga sebulan ke depan. “Permasalahannya, kita punya uang pun belum tentu mendapat itu barang. Sedangkan kalau menggiling pakan sendiri, bahan baku konsentrat jagung juga susah dicari,” ujarnya kepada Tempo, kemarin. (Yetede)

Kerbau Rawa Pampangan, Pemantik Pelestarian Lingkungan

KT3 22 Jan 2024 Kompas

Tradisi beternak kerbau rawa (B bubalis carabauesis) di Sumsel bertahan sejak era kerajaan hingga kini di sejumlah desa di Kecamatan Pampangan, Ogan Komering Ilir. Kesadaran masyarakat untuk melestarikan lingkungan pun terbangun demi menjaga habitat rumpun kerbau lokal asli Indonesia tersebut. Kamis (7/12/2023) Paisol (44) beranjak dari rumahnya di Desa Bangsal, Pampangan, menuju kompleks kandang di Pulau Tapus denan perahu ketek menyusuri Sungai Lubuk Sekayan. Ia memiliki 50 ekor kerbau rawa ternak di kandang. Paisol membersihkan kotoran di kandang dengan menumpuknya di pundak sejumlah kerbau. ”Nanti, kotoran itu jatuh di sungai dan padangan (hamparan rumput liar) yang menjadi pupuk alami untuk menyuburkan rerumputan,” ujar Paisol. Setelah itu, barulah Paisol membuka pintu kandang. Kerbau-kerbau itu pun lekas menuju padangan yang menjadi sumber pakan mereka sehari-hari.

”Kerbau rawa Pampangan suka sekali berenang. Kalau musim banjir (semua padangan tergenang air biasanya selama Januari-Maret), mereka bisa berenang berjam-jam dan menyelam untuk memakan rerumputan di dasar air,” ujar M Ali Hanapiah, Sekretaris Desa Bangsal, yang mendampingi Kompas dan Pantau Gambut, organisasi nonpemerintah yang berfokus pada riset dan advokasi keberlanjutan lahan gambut di Indonesia. Kerbau rawa mudah diternakkan, cukup dilepaskan pada pukul 06.00-07.00 dan mereka akan keluar untuk mencari pakan di lingkungan sekitar. Menjelang petang, kerbau itu kembali ke kandang. Kerbau rawa identik dengan Pampangan karena mereka bagian tak terpisahkan dari rantai kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat. Susu kerbau menjadi sumber pendapatan harian peternak. Peternak bisa mendapatkan sekitar 1 liter susu per ekor per hari.

Susu dihargai Rp 20.000 per liter. Susu itu laku dijual karena ada perajin atau pembuat gulo puan yang membutuhkannya. Gulo puan adalah produk turunan susu kerbau yang menjadi komoditas unggulan Desa Kuro dan Desa Bangsal, dua desa paling tua di Pampangan, yang konon ada sejak era Kesultanan Palembang Darussalam abad XVII- XIX. Gulo puan ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia pada 2021. Dari pelatihan yang diberikan Badan Restorasi Gambut dan Mangrove serta Universitas Sriwijaya pada 2020, kelompok peternak mampu mengolah kotoran kerbau menjadi pupuk organik yang teruji bisa membantu mengoptimalkan pertumbuhan tanaman hortikultura. Karena belum memiliki izin jual, pupuk itu diberikan gratis kepada warga. Keunikan kerbau rawa dan keindahan alam di Pampangan juga menarik minat wisatawan dalam beberapa tahun terakhir. ”Kami melihat pariwisata bisa menjadi sumber pendapatan masa depan di sini,” kata Kades Bangsal Angkut, Join. (Yoga)

Sapi yang Mahal dan Masa Depan Bumi

KT3 20 Jan 2024 Kompas

CEO Meta Mark Zuckerberg belum lama ini memamerkan foto dirinya menikmati daging steak medium-rare di sebuah restoran pinggir pantai, di akun Instagramnya, Rabu (10/1). Steak itu dihasilkan dari peternakan miliknya di Ko’olau, kompleks seluas 1.400 hektar di Kauai, Hawaii. Miliarder itu mengaku ingin memproduksi daging sapi kualitas terbaik di dunia, dengan fokus pada sapi wagyu dan angus, yang biasa diternakkan secara spesial untuk menghasilkan daging jenis premium. Unggahan ini ramai dikomentari pengguna Instagram.

Mayoritas dari belasan ribu pemberi komentar mengecam bisnis Musk yang mereka nilai tidak hanya menghancurkan binatang berkaki empat itu tetapi juga kelangsungan bumi. Seiring menguatnya kesadaran tentang perubahan iklim, semakin banyak masyarakat mengenal dampak industri peternakan sapi bagi lingkungan. Hal ini didukung sejumlah penelitian ilmuwan dunia terkait industri tersebut yang berhubungan dengan emisi gas rumah kaca penyebab krisis iklim. Selama siklus hidupnya, sapi melepaskan metana dalam jumlah besar. Metana dikenal sebagai salah satu gas rumah kaca selain karbon dioksida (CO2), yang menurut studi menyebabkan pemanasan sekitar 85 kali lebih banyak dibandingkan CO2 selama 20 tahun.

Seekor sapi dewasa mengeluarkan 500 liter metana per hari, menyumbang 3,7 % dari seluruh emisi gas rumah kaca. Kotoran sapi juga mengeluarkan gas rumah kaca, yakni CH4 dan dinitrogen oksida (N2O). Produksi pakan ternak, yang terkait pengelolaan tanah dan tanaman, juga menghasilkan CO2 dan N2O. FAO di situs resminya menyerukan agar negara-negara berpendapatan tinggi mengurangi konsumsi daging guna menjaga kelangsungan bumi. Sebaliknya, mereka mengampanyekan produksi daging untuk mengatasi tantangan kesehatan negara-negara miskin. Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Peternakan, memperkirakan konsumsi daging sapi 2,62 kg per kapita per pada 2022, sementara rata-rata tingkat konsumsi dunia mencapai 6,4 kg per kapita per tahun. (Yoga)

Potensi Maggot dalam Mengelola Sampah Organik

KT3 14 Nov 2023 Kompas

Guru Besar Teknik Kimia Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung Prof Judy Retti B Witono mengungkapkan bahwa maggot memiliki potensi dan dapat digunakan sebagai solusi efektif dalam mengatasi masalah sampah organik. Hal tersebut disampaikan Prof. Judy dalam Presentasi Kunci “Pengolahan Limbah Organik Melalui Budidaya Maggot”, Sabtu (4/11). Prof Judy menjelaskan secara terperinci bagaimana maggot, dalam bentuk larva lalat tentara hitam, mampu mengolah sampah organik dengan efisien.  Prof Judy juga menyampaikan urgensi pengelolaan sampah organik melalui budi daya maggot sebagai solusi terhadap permasalahan yang semakin memprihatinkan.

Dalam pemaparannya, Prof Judy menyoroti masalah penumpukan sampah organic yang mencapai lebih dari 50 % total sampah yang saat ini hanya dibuang begitu saja. Prof Judy menggarisbawahi urgensi untuk memahami mengapa pembudidayaan maggot sangat penting dalam menangani masalah ini. “Maggot menjadi solusi yang tak hanya penting, tetapi juga mendesak dalam menangani masalah sampah organic yang masih banyak diabaikan atau hanya ditumpuk di tempat pembuangan sampah,” ujar Prof Judy.

 “Sampah organik, ketika terfermentasi, menghasilkan gas metana yang tak hanya berdampak pada polusi saat ini, tetapi juga akan berdampak padaefek rumah kaca pada masa depan,” ucapnya. Ia menekankan bahwa penanganan limbah organik dengan maggot dapat memberikan hasil yang lebih baik daripada hanya membiarkannya membusuk atau dibuang begitu saja. “Maggot bisa digunakan sebagai sarana pengelolaan sampah yang lebih ekonomis dan efisien,” tuturnya. Budi daya maggot tidak hanya menangani sampah organik, tetapi juga membuka potensi penggunaan hasilnya untuk berbagai keperluan, mulai dari pakan ternak, produk kimia, hingga produk kosmetik. Dengan demikian, budi daya maggot menjadi solusi holistis dalam mengelola sampah organik sambil memberikan manfaat yang lebih luas. (Yoga)

KOKOK Emiten Ayam Semakin Pelan

HR1 09 Aug 2023 Kontan

Nyaring kokok emiten unggas (poultry) nampaknya masih tersendat. Hal ini nampak dari kinerja sejumlah emiten ternak unggas sepanjang semester pertama 2023. Teranyar, kinerja PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) terjun bebas sepanjang semester pertama 2023. Emiten unggas ini hanya membukukan laba bersih senilai Rp 81,97 miliar pada enam bulan pertama 2023. Realisasi ini merosot 92,62% dari laba bersih yang dibukukan pada periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp 1,11 triliun Penurunan pendapatan ini sejalan dengan penurunan pendapatan. Konstituen Indeks Kompas100 ini membukukan pendapatan Rp 24,15 triliun, menurun 1,3% dari pendapatan di periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 24,48 triliun. Menyusul JPFA, ada PT Charoen Pokphand Tbk (CPIN) yang laba bersihnya merosot 43% menjadi Rp1,37 triliun dari sebelumnya Rp 2,41 triliun. Nasib PT Malindo Feedmill Tbk (MAIN) malah lebih parah. MAIN mencatatkan rugi bersih atau rugi tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 130,60 miliar. Rugi bersih ini membengkak 96,15% secara tahunan jika dibandingkan periode yang sama di tahun lalu yang hanya Rp 66,58 miliar. Melihat hasil tesebut, analis Ciptadana Sekuritas Asia, Muhammad Gibran memperkirakan, kenaikan harga jual rata-rata alias average selling price (ASP) produk pakan tidak akan berdampak signifikan terhadap volume penjualan emiten. Sementara itu, analis Indo Premier Sekuritas, Andrianto Saputra menilai, dari sisi permintaan, konsumsi per kapita unggas nasional belum pulih ke tingkat sebelum pandemi.

RI Sementara Tolak Sapi Hidup dari Australia

KT3 02 Aug 2023 Kompas

Sebanyak 13 sapi bakalan yang dikirim dari Australia terinfeksi lumpy skin disease atau LSD. Atas temuan itu, Kepala Badan Karantina Pertanian Kementerian Pertanian RI Bambang, Selasa (1/8/2023), di Jakarta, menyatakan, pihaknya memutuskan untuk tidak menerima sapi bakalan impor dari empat peternakan di Australia yang berkaitan dengan temuan tersebut. Penghentian itu bersifat sementara hingga terbukti bebas dari LSD. (Yoga)

Peternak Jateng Didorong Aktif Cegah Antraks

KT3 12 Jul 2023 Kompas

Para peternak didorong aktif mencegah terjadinya penularan antraks di Jateng. Kecepatan pelaporan gejala mampu mempercepat penanganan demi mengantisipasi paparan penyakit tersebut.Vaksinasi ternak juga digencarkan guna memberikan perlindungan lebih bagi ternak yang ada di daerah tersebut. Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengatakan, keaktifan masyarakat menjadi kunci dalam pencegahan antraks. Kejelian peternak mengamati kondisi ternak masing-masing akan membuat penanganan penyakit lebih cepat dilakukan. Dengan demikian, ancaman penyebaran juga bisa dicegah sesegera mungkin.

”Kalau sapi terkena penyakit antraks, segera dilaporkan. Lapor itu ada dokter hewan cukup banyak. Kalau itu segera di laporkan, maka kita bisa cepat menangani seperti hari ini,” kata Ganjar, di sela-sela  vaksinasi antraks, di Desa Karanganyar, Kecamatan Weru, Sukoharjo, Jateng, Selasa (11/7). Ganjar juga menyoroti pemicu penularan antraks, yakni tradisi brandu, di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta, beberapa waktu lalu. Ia meminta masyarakat Jateng belajar dari pengalaman itu dan hal serupa tidak terjadi di Jateng. Tradisi brandu merujuk pada kebiasaan warga mengumpulkan iuran untuk diserahkan kepada pemilik ternak yang mati atau sakit. Daging hewan tersebut selanjutnya dibagikan kepada orang-orang yang mengumpulkan iuran. (Yoga)


Perhitungkan Kerugian Peternak akibat Antraks

KT3 10 Jul 2023 Kompas

Demi mencegah penularan, pemerintah meminta hewan ternak yang mati karena antraks tidak dipotong dan dagingnya tak dibagi-bagikan kepada masyarakat sekitar. Karena kehilangan nilai ekonomi, peternak yang hewan ternaknya mati akibat antraks perlu mendapatkan kompensasi dari pemerintah agar tidak makin terbebani kerugian. Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (Ditjen PKH Kementan) sedang menangani penyakit antraks yang ditemukan di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Penyakit yang bisa menular dari hewan ke manusia atau zoonosis tersebut pertama kali dilaporkan ke Ditjen PKH Kementan pada 15 Juni 2023. Per 6 Juli 2023, Kementan mendata, hewan ternak yang terkena antraks mencapai 12 kasus. Sepanjang Mei-Juni 2023, Kemenkes mencatat, terdapat tiga orang meninggal akibat penyakit antraks.

Dewan Pimpinan Pusat Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia Robi Agustiar menyoroti soal kompensasi pada peternak yang hewan ternaknya terkena antraks. ”Perencanaan (mengenai kompensasi bagi peternak yang terdampak antraks) pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten perlu selaras. Proses administrasi bagi peternak pun perlu dipermudah,” katanya, saat dihubungi, Minggu (9/7). Secara spesifik, dia menilai, akar kasus antraks di Gunungkidul bersifat sosial. Daging ternak, khususnya sapi, yang mati dibagi-bagikan kepada warga sekitar. Untuk mengendalikan antraks di daerah itu, perlu diupayakan pendekatan lintas pemangku kepentingan agar tak ada lagi kebiasaan membagikan daging ternak yang mati kepada masyarakat. Pemusnahan dan penguburan hewan ternak yang mati karena antraks juga perlu diawasi. (Yoga)


Antraks dan Kemiskinan di Gunungkidul

KT1 07 Jul 2023 Tempo

Sepanjang pemerintah belum mampu memperbaiki taraf hidup masyarakat secara signifikan, wabah antraks tampaknya akan terus berulang di Gunungkidul, Yogyakarta. Sosialisasi mengenai bahaya antraks tak akan cukup berpengaruh selama masih banyak masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan dan memilih mengkonsumsi daging meski berpenyakit. Kasus persebaran antraks hampir terjadi setiap tahun di Gunungkidul. Sebut saja pada 2017, 2019, dan 2022. Pada Januari 2020, Kementerian Kesehatan pun menetapkan kejadian luar biasa (KLB) antraks di daerah tersebut. Per Kamis, 6 Juli 2023, 93 orang di Candirejo, Kecamatan Semanu, Gunungkidul, dinyatakan positif terinfeksi. Tiga di antaranya meninggal. Pemeriksaan laboratorium memastikan salah satu korban meninggal positif tertular antraks, dua lainnya memiliki riwayat kontak dengan sapi yang terkonfirmasi positif antraks dan sakit. Infeksi antraks diketahui setelah adanya pemeriksaan pada sapi-sapi yang sakit mendadak di wilayah itu pada periode Mei-Juni lalu. Pemilik sapi lalu diminta membunuh dan menguburkannya. Tapi, pemilik dan sebagian masyarakat menyembelih sapi-sapi tersebut sebagai hewan kurban. Dagingnya dibagi-bagikan. Bahkan ada sapi yang baru dikubur digali dan dagingnya dikonsumsi bersama-sama.

Di berbagai negara, umumnya, antraks mewabah kembali lantaran pemahaman masyarakat yang rendah, penanganan yang buruk atas bangkai hewan terjangkit, serta vaksinasi yang kurang tepat. Di Gunungkidul wabah antraks terjadi hampir setiap tahun. Di sinilah kita patut mempertanyakan keseriusan pemerintah daerah ataupun pusat dalam  mempersiapkan masyarakat menghadapi penyakit tersebut. Seperti pada bahaya penyakit zoonosis lainnya, yang melompat dari hewan ke manusia, wabah antraks mengingatkan kembali mendesaknya kebijakan kesehatan yang terintegrasi dengan sektor lain. Sosialisasi mengenai bahaya antraks dan cara-cara penanganannya penting, tapi itu saja tidak cukup. Perlu ada prosedur operasional standar dan mekanisme yang mengawal ketat langkah-langkah pencegahan manakala penularan antraks terdeteksi. Penting bagi pemerintah untuk serius menangani kemiskinan di daerah tersebut. Fakta bahwa masyarakat mengkonsumsi bangkai sapi yang tertular antraks semestinya tidak dianggap enteng. Boleh jadi mereka tidak sepenuhnya memahami bahayanya. Tapi bukan tidak mungkin perilaku sembrono tersebut didorong oleh kebutuhan. Bagaimanapun, sampai sekarang Gunungkidul masih menjadi salah satu daerah termiskin di Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan lebih dari 6.000 keluarga tergolong miskin ekstrem. (Yetede)

Peternak Tak Lagi Dirundung Cemas

KT3 30 Jun 2023 Kompas

Kehadiran listrik menjadi jawaban bagi peternak ayam petelur yang kerap dirundung resah di sentra peternakan ayam di Kota Payakumbuh dan Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumbar. Elektrifikasi mampu menekan biaya operasional berkali-kali lipat, menaikkan produksi dan omzet lebih pesat, serta menjauhkan ayam sekaligus peternak dari stres dan rasa cemas. Jon Eddi (47), pengusaha peternakan PT Radja Poultry Shop di Kecamatan Guguak, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumbar, sejak 2021,  menggunakan mesin pemberi pakan ternak berkekuatan listrik dengan total kapasitas 82,5 kilovolt ampere (kVa) yang didapat melalui program Electrifying Agriculture dari PLN. Hanya dengan memencet tombol, ransum berisi campuran jagung, dedak, dan konsentrat otomatis terdistribusi ke semua unit kandang melalui sistem instalasi pemberian pakan.

Sebelumnya, selama 20 tahun memulai usaha pada 1999, Jon menjalankan peternakan dengan mesin genset berbahan bakar solar dengan pemberian pakan secara manual. Akibatnya, jatah ransum tidak merata. Konsumsi pakan yang tidak seimbang itu pun memengaruhi kapasitas ayam memproduksi telur. Sedikit saja perubahan, seperti kekurangan pakan membuat ayam stres dan menghasilkan telur berkualitas buruk, tidak bertelur sama sekali, atau tiba-tiba mati. ”Setelah pakai listrik, kami bisa menyalakan lampu lebih lama dibandingkan menggunakan genset. Tambahan cahaya  4 jam merangsang ayam untuk bertelur sehingga meningkatkan produktivitas,” kata Jon, Selasa (13/6). Tak hanya peternakan, Jon juga mengembangkan pabrik pengolahan pakan dengan mesin listrik. Dengan elektrifikasi di berbagai lini usahanya itu, Jon bisa menghemat biaya operasional 40 %. Seiring dengan itu, produktivitas meningkat. Dulu, dalam satu periode (22-24 bulan), seekor ayam menghasilkan 380 butir telur. Kini, seekor ayam dapat bertelur hingga 450 butir. (Yoga)