Antraks dan Kemiskinan di Gunungkidul
Sepanjang pemerintah belum mampu memperbaiki taraf hidup masyarakat secara signifikan, wabah antraks tampaknya akan terus berulang di Gunungkidul, Yogyakarta. Sosialisasi mengenai bahaya antraks tak akan cukup berpengaruh selama masih banyak masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan dan memilih mengkonsumsi daging meski berpenyakit. Kasus persebaran antraks hampir terjadi setiap tahun di Gunungkidul. Sebut saja pada 2017, 2019, dan 2022. Pada Januari 2020, Kementerian Kesehatan pun menetapkan kejadian luar biasa (KLB) antraks di daerah tersebut. Per Kamis, 6 Juli 2023, 93 orang di Candirejo, Kecamatan Semanu, Gunungkidul, dinyatakan positif terinfeksi. Tiga di antaranya meninggal. Pemeriksaan laboratorium memastikan salah satu korban meninggal positif tertular antraks, dua lainnya memiliki riwayat kontak dengan sapi yang terkonfirmasi positif antraks dan sakit. Infeksi antraks diketahui setelah adanya pemeriksaan pada sapi-sapi yang sakit mendadak di wilayah itu pada periode Mei-Juni lalu. Pemilik sapi lalu diminta membunuh dan menguburkannya. Tapi, pemilik dan sebagian masyarakat menyembelih sapi-sapi tersebut sebagai hewan kurban. Dagingnya dibagi-bagikan. Bahkan ada sapi yang baru dikubur digali dan dagingnya dikonsumsi bersama-sama.
Di berbagai negara, umumnya, antraks mewabah kembali lantaran pemahaman masyarakat yang rendah, penanganan yang buruk atas bangkai hewan terjangkit, serta vaksinasi yang kurang tepat. Di Gunungkidul wabah antraks terjadi hampir setiap tahun. Di sinilah kita patut mempertanyakan keseriusan pemerintah daerah ataupun pusat dalam mempersiapkan masyarakat menghadapi penyakit tersebut. Seperti pada bahaya penyakit zoonosis lainnya, yang melompat dari hewan ke manusia, wabah antraks mengingatkan kembali mendesaknya kebijakan kesehatan yang terintegrasi dengan sektor lain. Sosialisasi mengenai bahaya antraks dan cara-cara penanganannya penting, tapi itu saja tidak cukup. Perlu ada prosedur operasional standar dan mekanisme yang mengawal ketat langkah-langkah pencegahan manakala penularan antraks terdeteksi. Penting bagi pemerintah untuk serius menangani kemiskinan di daerah tersebut. Fakta bahwa masyarakat mengkonsumsi bangkai sapi yang tertular antraks semestinya tidak dianggap enteng. Boleh jadi mereka tidak sepenuhnya memahami bahayanya. Tapi bukan tidak mungkin perilaku sembrono tersebut didorong oleh kebutuhan. Bagaimanapun, sampai sekarang Gunungkidul masih menjadi salah satu daerah termiskin di Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan lebih dari 6.000 keluarga tergolong miskin ekstrem. (Yetede)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023