;
Tags

Peternakan

( 95 )

Pasar Sapi Hidup Kembali Mengalir ke Indonesia

HR1 18 Jun 2025 Bisnis Indonesia

Pemerintah melalui Kementerian Pertanian terus menggenjot program swasembada daging dan susu sapi nasional dengan menargetkan impor 100.000 hingga 150.000 ekor sapi hidup sepanjang 2025. Hingga pertengahan Juni, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono mengungkapkan bahwa sudah lebih dari 20.000 ekor sapi hidup berhasil didatangkan ke Indonesia. Kebijakan ini merupakan bagian dari strategi pemenuhan kebutuhan protein hewani di dalam negeri.

Untuk mencapai target tersebut, pemerintah menggelar "karpet merah" bagi investor, baik dari dalam negeri maupun asing, guna mendorong investasi dalam sektor peternakan. Sudaryono menegaskan bahwa dukungan dan motivasi kepada para investor sangat penting agar rencana besar ini dapat terealisasi. Hingga akhir Mei 2025, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan mencatat bahwa sebanyak 196 pelaku usaha telah menyatakan komitmen untuk mendatangkan hampir 1 juta ekor sapi perah dalam lima tahun ke depan.

Selain aspek impor, pemerintah juga menyiapkan kebijakan jangka panjang, termasuk penyediaan lahan seluas 1,45 juta hektare untuk pengembangan peternakan skala besar serta model kemitraan antara investor dan peternak rakyat agar manfaat ekonomi bisa dirasakan secara merata. Dengan dukungan regulasi tambahan, sektor persusuan diharapkan bisa tumbuh secara berkelanjutan dan mandiri dalam beberapa tahun ke depan.


Pemerintah Menghapus Kuota Impor Sapi Hidup

KT1 16 Jun 2025 Investor Daily
Pemerintah menghapus kuota impor sapi hidup demi memacu produksi susu dan daging. Indonesia saat ini masih defisit susu hingga 79% dan daging sapi 52% dari total kebutuhan masing-masing komoditas tersebut. Produksi daging dan susu yang melimpah diharapkan bisa memperkuat ketahanan pangan nasional. Menko Pangan Zulkifli Hasan mengatakan, pemerintah tidak lagi memberlakukan batasan atau kuota impor sapi hidup guna menjamin ketersediaan pasokan susu hingga daging serta memperkuat pertahanan pangan nasional. Pengimpor atau importir dapat melaukan pemasukan sapi hidup tanpa batasan untuk berbagai tujuan, mulai dari pengemukakan, pemotongan, hingga produksi susu untuk mendukung susu untuk mendukung industri peternakan dan kebutuhan konsumsi masyarakat. "Tidak ada lagi batasan kuota impor sapi hidup. Ya, sekarang kita buka lebar. Impor sapi hidup, baik untuk potong, penggemukan, maupun susu, kita bebaskan," jelas Menko Pangan. Menko pangan menjelaskan, kebijakan impor tanpa kuota  itu juga memberikan peluang bagi industri pengolahan susu (IPS) nasional untuk meningkatkan volume produksi dan kualitas pasokan sekaligus memperkuat rantai pasok dari hulu ke hilir. (Yetede)

Hewan Kurban Surplus di Jateng

KT3 26 May 2025 Kompas

Ketersediaan hewan kurban di Jateng menjelang Idul Adha tahun ini lebih sedikit dibanding tahun sebelumnya. Kendati demikian, jumlahnya diklaim masih surplus atau melebihi jumlah hewan kurban yang dibutuhkan. Jateng berpotensi menyuplai hewan kurban ke daerah lain. Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Jateng mencatat, saat Idul Adha tahun lalu, jumlah hewan kurban yang tersedia sebanyak 1.764.206 ekor. Tahun ini, jumlah hewan kurban yang tersedia turun menjadi 1.538.363 ekor, terdiri dari 314.121 sapi potong, 9.736 kerbau, 795.423 kambing dan 419.083 domba. Meski ketersediaan hewan kurban tahun ini tak sebanyak tahun lalu, jumlah yang ada masih cukup untuk memenuhi kebutuhan di Jateng. Pada Idul Adha 2025, kebutuhan hewan kurban di Jateng diperkirakan 150.358 ekor sapi potong, kerbau sebanyak 3.847 ekor, kambing sebanyak 290.478 ekor dan domba sebanyak 102.907 ekor.

”Artinya, jumlah yang ada masih surplus sebanyak 990.773 ekor, terdiri dari 163.763 ekor sapi potong, 5.889 ekor kerbau, 504.945 ekor kambing dan 316.176 ekor domba. Selain dapat memenuhi kebutuhan hewan kurban sendiri, Jateng juga bisa menyuplai hewan kurban ke daerah lain,” kata Kadis Peternakan dan Kesehatan Hewan Jateng, Supriyanto, Minggu (25/5). Belakangan, hewan ternak berkuku belah, seperti sapi,kerbau, kambing, dan domba, rentan terserang penyakit. Yang paling umum adalah penyakit mulut dankuku (PMK), lumpy skin diseases (LSD) dan antraks. Untuk mencegah penularan penyakit, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Jateng melakukan vaksinasi serentak pada Januari-Maret supaya hewan-hewan kurban di wilayahnya terlindungi dari penyakit. Pemantauan kesehatan hewan kurban mulai dari lapak-lapak pedagang hewan kurban hingga pasar hewan juga terus dilakukan. (Yoga)


Hewan Kurban di Pasar Lampung Laris Manis, Jawa Kurang Stok

KT3 22 May 2025 Kompas

Peternak di Lampung menyambut antusias melimpahnya pesanan sapi kurban menjelang Idul Adha 2025, dari sejumlah daerah di Sumatera dan Jawa, karena stok di Jawa kurang akibat wabah penyakit mulut dan kuku (PMK). Sarjono (54) peternak sapi dari Desa Astomulyo, Lampung Tengah, Lampung, mengatakan, pesanan dari sejumlah daerah mulai berdatangan sejak satu bulan lalu. Selain dari sejumlah daerah di Sumatera, pesanan sapi kurban juga datang dari wilayah Jabodetabek, Yogyakarta, dan Jateng. ”Tahun ini, lebih dari 300 ekor sapi sudah dipesan atau hampir 90 % sapi yang terjual. Kami mulai mengirim pada H-5 Idul Adha,” kata Sarjono, Rabu(21/5). Tahun lalu, Sarjono hanya mendapat pesanan 200 ekor sapi untuk kebutuhan hewan kurban. Sebagian besar datang dari wilayah Sumatera, seperti Bangka Belitung, Bengkulu, Jambi, hingga Sumbar.

Banyaknya pesanan sapi kurban dari wilayah Jawa, kata Sarjono, merupakan dampak wabah PMK yang merebak di sejumlah daerah di Jawa beberapa bulan lalu. Pedagang sapi di Jawa pun mencari hewan ternak hingga ke Lampung. ”Stok sapi di Jawa sekarang sedang menurun karena dampak merebaknya wabah PMK beberapa bulan lalu. Kalau ada, di sana katanya harga sapi lebih tinggi dibanding harga sapi dari Lampung. Pembeli juga yakin karena kesehatan ternak sapi dari Lampung sudah terjamin aman,” kata Sarjono. Saat ini, harga sapi hidup untuk kebutuhan hewan kurban dijual dengan harga bervariasi. Sapi berbobot dibawah 400 kg, harga daging sapi hidup berkisar Rp55.000-Rp 60.000 per kg atau Rp 19 juta-Rp 24 juta per ekor. Adapun sapi dengan bobot diatas 400 kg harganya lebih mahal, tergantung kualitas. (Yoga)


Jatuhnya Harga Ayam dan Peternak

KT3 25 Apr 2025 Kompas

Nawawin, seorang peternak ayam terlihat sedang memeriksa ayam pedaging peliharaannya di Desa Singkalan, Kecamatan Balongbendo, Sidoarjo, Jawa Timur, Kamis (24/4/2025). Usaha ternak ini merupakan mitra antara Nawawin dan perusahaan peternakan. Dengan jumlah ayam sekitar 6.000 ekor, Nawawin mendapat penghasilan bersih Rp 3 juta untuk sekali panen. Pendapatannya turun akibat jatuhnya harga ayam pedaging. Pada 14-16 April 2025 harga ayam pedaging Rp 13 ribu hingga Rp 14 ribu per kilogram,  padahal, menurut Peraturan Bapanas No 6 Tahun 2024, harga acuan penjualan ayam hidup sebesar Rp 23 ribu hingga Rp 35 ribu per kilogram. (Yoga)

Stabilisasi Harga Daging Jelang Lebaran

HR1 17 Mar 2025 Bisnis Indonesia

Lebih dari 20 tahun upaya pemerintah untuk mencapai swasembada daging sapi, harga daging sapi tetap terus meningkat, dari Rp67.000/kg pada 2010 menjadi Rp120.000/kg pada 2024. Berbagai kebijakan yang telah diambil, seperti membuka impor daging sapi tanpa kuota, kebijakan impor sapi betina produktif, dan program seperti SIKOMANDAN dan Upsus SIWAB, tidak berhasil menurunkan harga daging sapi. Bahkan, populasi sapi di Indonesia justru menurun drastis, sementara impor daging sapi semakin meningkat.

Selain itu, kebijakan yang diluncurkan juga tidak diimbangi dengan pendalaman analisis yang mendalam mengenai permintaan dan penawaran daging sapi, serta potensi pertumbuhan peternakan sapi domestik. Beberapa faktor yang mempengaruhi termasuk ketidakjelasan data terkait pemotongan ternak sapi, pola perbibitan yang tidak terarah, dan pengabaian tradisi dalam budi daya peternakan rakyat. Akibatnya, kebijakan impor tidak berhasil menciptakan iklim yang mendukung pertumbuhan peternakan sapi domestik.

Pemerintah kini beralih ke Program Peningkatan Susu dan Daging Nasional (P2SDN) untuk mendukung program MBG, yang melibatkan impor 1,3 juta ekor sapi dalam lima tahun ke depan. Pemerintah juga merencanakan impor daging sapi dan kerbau sebanyak 280.000 ton pada tahun ini untuk mengatasi lonjakan harga pada saat Idulfitri.

Namun, untuk mengendalikan harga daging sapi, diperlukan kebijakan yang lebih komprehensif dan berbasis data yang akurat, termasuk penetapan harga yang tepat dan peningkatan produksi domestik, bukan hanya bergantung pada impor. Kebijakan yang tidak terkoordinasi dengan baik dan tidak memperhatikan faktor-faktor struktural dalam industri peternakan dapat menghambat keberhasilan dalam mencapai harga daging sapi yang terjangkau.


265 Pelaku Usaha Siap Berinvestasi Sapi Perah dan Sapi Pedaging

KT3 06 Mar 2025 Kompas

Sebanyak 265 pelaku usaha swasta kecil hingga besar siap berinvestasi indukan sapi perah dan pedaging, untuk menekan defisit susu segar dan daging sapi yang semakin besar lantaran program Makan Bergizi Gratis atau MBG. Ketua Kelompok Pengolahan Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan Kementan, Boethdy Angkasa, Rabu (5/3) mengatakan, 178 pelaku usaha telah berkomitmen mengimpor 1,054 juta indukan sapi perah. Selain itu, terdapat 87 pelaku usaha yang siap mengimpor 862.035 indukan sapi pedaging. Mereka terdiri dari para pelaku usaha perseorangan dan kemitraan, serta gabungan koperasi. Mereka bakal mengimpor sapi perah dan indukan sapi pedaging antara dari Brasil, Meksiko, Selandia Baru, dan Australia.

”Beberapa di antara mereka juga berencana membangun peternakan sapi perah dan pedaging,” ujarnya dalam webinar ”Generasi Emas Dimulai dari Meja Makan” yang digelar Sinar Tani TV di Jakarta. Selain itu, ada juga perusahaan asal Vietnam yang telah menjajaki investasi peternakan sapi perah dan industri pengolahan susu. Mereka telah menyurvei lokasi investasi di Sulsel dan Kalsel. Kementan berharap investasi perusahaan itu dapat terealisasi tahun ini. Investasi sapi diperlukan untuk menekan defisit neraca produksi-konsumsi susu segar dan daging sapi secara bertahap hingga lima tahun ke depan. Apalagi dengan mulai berjalannya program MBG, kebutuhan kedua komoditas itu semakin besar. (Yoga)


Widi Ilham Budiman, Motivasi Bagi Peternak Milenial

KT3 26 Feb 2025 Kompas (H)

Terlibat mengurus sapi perah milik ayahnya sudah dilakoni Widi Ilham Budiman (26) sejak masih duduk di bangku SD. Beternak sapi perah, menurut Widi, terbukti bisa menjadi lokomotif penghasilan yang relatif stabil layaknya bekerja di sektor formal. Namun, untuk menstabilkan pendapatan, semua upaya harus dilakukan dengan tekun, salah satunya dengan membuat hewan-hewan ternak tetap sehat dan nyaman, untuk menjaga produksi susu segar yang dipasok ke pabrik di Pasuruan melalui KUD Dadi Jaya. Menjaga kandang dalam suasana yang benar-benar bersih dan nyaman adalah hal yang tak boleh dilewatkan, selain soal asupan makanan. ”Fokuslah menjaga asupan sapi dengan memberikan porsi sesuai bobot masing-masing,” kata Widi di Dusun Suruhgalih, Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, Jatim, Minggu (23/2).

Selama terjun sebagai peternak, Widi menerapkan seluruh ilmu yang didapat ketika kuliah di Fakultas Peternakan Universitas Islam Malang. Ia mengatakan, dengan asupan yang cukup, sapi dipastikan sehat dan bermuara pada produksi susu segar. Begitu juga dengan kualitas pakan yang diberikan. Sangat berpengaruh pada kualitas susu yang dihasilkan. Dia menerapkan sistem pemberian pakan sesuai bobot sapi, memberikan tambahan konsentrat, serta memilih rumput odot yang memiliki kandungan air rendah dan lebih mengenyangkan. Dalam pemberian pakan, sejak awal ditakar berdasarkan berat badan sapi, hingga pencatatan lain yang lebih detail.

Dengan sistem itu, saat ini produksi susu sapi setelah beranak, per ekor meningkat dari 15 liter menjadi 20-25 liter setiap hari. Faktor lain adalah mengembangkan peternakan sapi perah dengan etika dan kepedulian tinggi terhadap hewan. Apalagi dari ternak sapi, tidak hanya menikmati produksi susu segar, tetapi kotorannya pun berfaedah. Kotoran diolah menjadi biogas dan bermanfaat menjadi kompos untuk menyuburkan rumput sebagai pakan ternak utama. Pengolahan kotoran sapi pun tak pernah berhenti dan selalu ada cara baru. Sejak 2010 mereka sudah menikmati aliran gas dari pengolahan kotoran baik padat maupun cair, yang disalurkan melalui pipa ke areal tanaman rumput.

Kini pembuatan kompos menggunakan media cacing (vermikompos). Dengan begitu, peternak sapi perah tak hanya menikmati susu, tapi juga kotorannya. Peternakan sapi perah yang dikembangkan Widi bersama kedua orangtuanya sejak tahun lalu sudah menerapkan kandang sapi tertutup. Dengan kondisi kandang yang bersih dan suhu terjaga, sapi tidak mudah stres. Pemberian vaksin pun rutin dilakukan. Widi, yang lulus pada 2024, bersama ayah dan ibunya memiliki 15 sapi, tujuh di antaranya aktif memproduksi susu. Rata-rata setiap hari dia bisa menyetor susu ke KUD Dadi Jaya sebanyak 60 liter dengan harga Rp 7.300 per liter. Misinya, memotivasi generasi milenial agar tertarik menjadi peternak. (Yoga)


Kementerian Pertanian Angkat Bicara Menanggapi Satu Kasus Antraks yang Terjadi di Desa Tileng

KT1 20 Feb 2025 Tempo
Kementerian Pertanian (Kementan) angkat bicara menanggapi satu kasus antraks yang terjadi di Desa Tileng, Kecamatan Girisubo, Gunung Kidul, DI Yogyakarta. "Kami telah mengirimkan tim ke lokasi kasus untuk melakukan penelusuran, pengambilan sampel, dan penyuluhan kepada pemilik ternak," ujar Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan Agung Suganda di Jakarta, Kamis, 20 Februari 2025, seperti dikutip dari Antara. Tim itu dikerahkan ke lokasi untuk menelusuri, mengambil sampel, dan melakukan penyuluhan kepada pemilik ternak. Kementan, kata Agung, lewat Tim Balai Besar Veteriner (BBVet) Wates telah menelusuri kasus tersebut. Ia juga telah meninjau langsung laboratorium BBVet Wates pada Selasa lalu, 18 Februari 2025.

Agung menjelaskan, tim BBVet Wates juga terus berkoordinasi dengan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kabupaten Gunung Kidul dan meminta Dinas PKH berkoordinasi lintas sektor dengan Dinas Kesehatan setempat untuk memantau dan mengecek kesehatan pada pemilik ternak atau yang memiliki riwayat kontak dengan ternak sakit. Kepala BBVet Wates Hendra Wibawa mengatakan tim BBVet Wates dan Dinas PKH Kabupaten Gunung Kidul telah melakukan desinfeksi kandang secara menyeluruh pada kandang yang terdampak, untuk memastikan dekontaminasi kuman sehingga potensi penyebaran penyakit dapat dihilangkan.  "Ternak-ternak yang masih ada di kandang harus diisolasi, tidak boleh dikeluarkan, dan pembatasan akses keluar masuk, serta kandang terus dijaga biosekuritinya agar ternak tidak terpapar penyakit," kata Hendra.

Adapun pengobatan antibiotik pada ternak yang sekandang telah dilakukan dan akan dilanjutkan vaksinasi antraks pada ternak tersebut setelah masa kerja/residu antibiotik berakhir. "Untuk di luar lokasi kasus, vaksinasi antraks dapat dilakukan secepatnya pada ternak-ternak yang sehat untuk mencegah penularan penyakit," ujarnya. Hingga kini, kata Hendra, tidak ditemukan penularan kasus pada ternak lain dan juga tidak ditemukan kasus klinis pada manusia. "Kementerian Pertanian akan terus melakukan pemantauan dan penanganan kasus antraks ini untuk mencegah penyebaran penyakit dan melindungi kesehatan hewan dan manusia." (Yetede)

Bapanas Minta Impor Daging Sapi untuk Kebutuhan Ramadan Tapi Pemerintah Belum mengeluarkan Izin

KT1 04 Feb 2025 Tempo
Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi mengatakan, stok daging sapi kini masih ada untuk mencukupi kebutuhan masyarakat menjelang Ramadhan. Karena itu, pemerintah memutuskan untuk belum mengeluarkan izin impor. “Kalau sekarang stok masih ada, tapi izin impor harus cepat diputuskan supaya persiapan Ramadhan bisa lebih baik. Dengan masuknya stok baru, harga akan lebih baik,” ujar Arief kepada Tempo, Ahad, 2 Februari 2025. Arief menuturkan, kedatangan daging sapi impor akan diatur berkala sesuai kebutuhan. Dengan kuota impor daging yang ada saat ini yakni 180 ribu ton, pemerintah akan mengatur masuk secara bertahap. Misalkan, ujar dia, seribu ton per seribu ton.

“Biarkan nanti pasar yang menentukan. Kalau semua importir mendatangkan sama-sama, semua harga akan jeblok. Tapi kalau terlambat, harga akan naik,” ujarnya. Sedangkan Arief sendiri mengaku ingin agar impor daging sapi itu cepat terealisasikan. Sebab, bahan pangan itu memerlukan waktu untuk sampai di Indonesia. Kalau sampai akhir Maret barang belum masuk, ujar dia, harga sudah terlanjur mahal. Eks Direktur Utama PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) ini mengatakan terbiasa merencanakan sesuatu beberapa bulan sebelumnya. Jika kuota impor daging 180 ribu ton itu belum terealisasi, ujar dia, artinya pemerintah memandang stok saat ini masih banyak. Tapi dia belum dapat memastikan jumlah stok saat ini.“Mau kami turunkan harga (dengan keluarkan izin impor daging sapi) bisa, tapi peternak, kasihan karena harga sapi akan jatuh,” tuturnya.

Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Pangan Kasan mengatakan, tahun ini sejumlah alokasi impor daging sapi reguler akan dialihkan ke BUMN. Ia beralasan, kebijakan ini mempertimbangkan wabah penyakit kuku dan mulut (PMK) yang berpotensi naik dipicu musim penghujan. “Dengan penugasan kepada BUMN, harga dan ketersediaan daging akan lebih mudah diawasi oleh pemerintah,” ujarnya kepada Tempo, Ahad, 2 Februari 2025. Kasan menjelaskan, kuota impor daging sapi reguler itu akan dialihkan pemerintah menjadi kuota impor daging kerbau bagi BUMN. Tujuannya, untuk menjaga ketersediaan daging agar harga pada hari besar keagamaan nasional tetap terjaga. Tapi Kasan belum dapat memastikan jumlah kuota impor daging sapi milik swasta yang akan dialihkan ke BUMN. Jumlah alokasi penugasan impor untuk daging sapi dan kerbau oleh BUMN, Kasan berujar, akan mempertimbangkan realisasi impor BUMN pada 2024 dan produksi daging dalam negeri dan kebutuhan nasional. “Akan diputuskan pada rapat koordinasi yang akan dilakukan dalam waktu dekat,” tuturnya. (Yetede)