Perlambatan Ekonomi
( 71 )Indonesia Mengantisipasi Dampak Konflik Iran-Israel
Ketegangan antara Iran dan Israel dikhawatirkan memicu krisis
bagi kawasan dan global, apalagi jika berlangsung terbuka dan terus berkepanjangan.
Pemerintah Indonesia diharapkan menyiapkan langkah-langkah untuk mengantisipasi
dampak buruk krisis, terutama bagi rakyat di dalam negeri. Iran menyerang
Israel dengan 300 pesawat nirawak (drone) dan rudal pada 13 April 2024 sebagai
balasan atas serangan Israel terhadap fasilitas diplomatik Iran di Damaskus, Suriah,
pada 1 April 2024. Israel menyatakan berhasil mencegat serangan tersebut dan
hanya mengalami kerusakan ringan. Namun, dunia mengkhawatirkan kelanjutan
konflik Iran dan Israel setelah serangan tersebut. Jika tidak ditangani dengan
baik, bukan tidak mungkin konflik dan kekerasan di sana bakal bereskalasi dan
menyeret banyak negara ke perang besar.
Guru Besar Hukum Internasional UI Hikmahanto Juwana mengatakan,
serangan Iran terukur dan langsung berakhir. ”Namun, Iran menyatakan, jika ada
serangan balasan (dari Israel), Iran akan menyerang secara lebih besar dan
masif,” katanya dalam acara bincang-bincang Satu Meja The Forum bertajuk
”Israel-Iran Adu Kekuatan, Indonesia Terancam?”, Rabu (17/4) di Jakarta. Menurut
ekonom senior Indef Didik J Rachbini, jika sampai pecah perang, apalagi
mengarah menjadi perang dunia ketiga, semua akan habis. Dampak paling krusial
adalah pada perekonomian Indonesia. ”Perdagangan internasional akan terganggu.
Ada pelaku usaha yang terdampak. Maka, sekarang saatnya menyelamatkan daya beli
masyarakat,” katanya.
Hikmahanto membenarkan, perlambatan perekonomian dunia akibat
potensi konflik terbuka Iran-Israel harus diantisipasi. Saat ini, nilai tukar
rupiah terhadap dollar AS sudah lebih dari Rp 16.000. Harga minyak dunia juga
merambat naik dan dikhawatirkan bisa melebihi 100 dollar AS per barel. Melihat
konflik tersebut, para pengusaha juga bersikap melihat dan menunggu saja. Hal
itu akan berdampak terhadap investasi dan penyerapan tenaga kerja. Hal
terpenting saat ini dalam pandangan Hikmahanto adalah memperkuat perekonomian
di dalam negeri. Didik sependapat, Indonesia perlu melihat ke negara dan
kawasan terdekat dalam menguatkan perekonomian, seperti ASEAN, Asia Timur (China,
Jepang, dan Korsel), serta India. (Yoga)
Ekonomi Global Melambat Bakal Pengaruhi Cadev RI
Perlambatan dan Perlemahan Memukul Aktivitas Pabrik Dunia
LONDON,ID-Aktivitas pabrik dunia semakin memburuk pada Juli 2023. Perlambatan pertumbuhan dunia dan pelemahan pemulihan di Tiongkok sekarang berdampak pada ekonomi dunia. Penurunan ini menyoroti dilema bagi para pembuat kebijakan alias bank sentral. Yang sejak tahun lalu menjalankan siklus pengetatan agresif untuk memerangi infasi tinggi namun juga harus mencegah potensi resesi. Data purchasing manager's index (PMI) untuk zona euro secara keseluruhan menunjukkan kontraksi aktivitas manufaktur pada Juli 2023. Lanjutnya yang tercepat sejak masa puncak pandemi Covid-19. Adapun penyebab kontraksi tersebut adalah permintaan merosot meskipun pabrik-pabrik telah memotong tajam harga ditingkat mereka. Angka indeks dibawah 50 menandai kontraksi dalam aktivitas manufaktur. Sedangkan diatas 50 menunjukkan ekspansi. Sementara angka indeks yang mengukur produksi, yang dimasukkan kedalam PMI gabungan dan dijadwalkan keluar pada Kamis (03/08/2023) turun menjadi 42,7 dari 44,2. Ini adalah level terendah dalam tiga tahun lebih. Dan angka indeks ini dipandang sebagai tolok ukur yang baik tentang kondisi kesehatan ekonomi. (Yetede)
Siapkan Penangkal Resesi
Meski Indonesia memiliki fundamental ekonomi yang relatif kokoh, pemerintah diminta menyiapkan berbagai langkah antisipasi untuk menangkal ancaman resesi. Langkah yang perlu ditempuh pemerintah diantaranya memperkuat ketahanan pangan nasional untuk mencegah inflasi, mengintensifkan bansos untuk menjaga daya beli masyarakat golongan bawah, dan menjamin subsidi energi tepat sasaran. Sementara itu, para investor di pasar saham diminta tetap tenang dalam menghadapi volatilitas pasar seiring bakal digelarnya rapat Federal Open Market Committee (FOMC) dan rilis data-data ekonomi AS sepanjang pekan ini. Adapun data ekonomi AS yang akan dipublikasikan pekan ini antara lain pertumbuhan ekonomi kuartal II-2022 (Kamis, 28/7). Setelah minus 1,6% pada kuartal I-2022, ekonomi AS pada kuartal II diperkirakan kembali negatif. Sebagian ekonom menyimpulkan kontraksi dua kuartal berturut-turut sebagai resesi, namun sebagian lagi menyatakan resesi baru terjadi jika kontraksi dua kuartal beruntun diikuti lonjakan angka pengangguran yang tinggi, di atas 5%. (Yetede)
Optimisme di Tengah Bom Aneka Tantangan
Ketidakpastian masih menyelimuti ekonomi global tak menyurutkan semangat optimisme atas arah ekonomi Indonesia di 2023.
Ini nampak dari keputusan Pemerintah dan Badan Anggaran (Banggar) Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang menyepakati asumsi pertumbuhan ekonomi di tahun depan di kisaran 5,3% - 5,9%, lebih tinggi dibanding outlook tahun ini sebesar 4,8% - 5,5%. Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti juga menyebut ada risiko gejolak ekonomi global penuh ketidakpastian.
Selain itu lonjakan harga energi dan pangan menyebabkan banyak negara berkembang kesulitan. Ia memperkirakan, pertumbuhan ekonomi 2023 berada pada kisaran 4,5% - 5%.
Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet melihat jika tahun depan Indonesia bisa tumbuh seperti sebelum pandemi, yakni tumbuh 5,17% atau tumbuh 5,2% di 2019 sudah bagus. "Artinya ingin dicapai 5,3%-5,9% perlu extra ordinary pemerintah," katanya.
Hingga Mei 2022 Konsumsi Semen Dalam Negeri Hanya Naik 2%
Kondisi persemenan pada bulan Januari sampai dengan Mei 2022 kurang menguntungkan bagi industri semen, dimana belum ada peningkatan konsumsi semen yang optimal. Hingga lima bulan pertama tahun ini, konsumsi dalam negeri tercatat hanya naik 2%, sementara untuk ekspor anjlok hingga 28%. "Sementara pada lima bulan pertama tahun ini diharapkan bisa naik di atas 5%, namun ternyata tidak seperti yang diharapkan yakni hanya naik 2%. Meski demikian, kami yakin setelah mulai bulan Juni ini sudah mulai bergerak naik bisa menutup kekurangan tersebut," kata Ketua Umum Assosiasi Semen Indonesia (ASI) Widodo Santoso. Dari jumlah tersebut, total penjualan dalam negeri dan ekspor sampai Mei tercatat sebesar 27,1 juta ton atau menurun 7,2%. "Disini terlihat pengaruh turunnya ekspor terhadap total penjualan industri semen yang tentunya akan menurunkan performance kinerja perusahaan," kata Widodo. (Yetede)
Waspada Kegagalan Investasi di Perusahaan BUMN
Amblasnya saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk atau saham GOTO menambah daftar kegagalan investasi yang dilakukan perusahaan BUMN. Padahal investasi yang dibuat BUMN seharusnya dilakukan secara hati-hati serta melihat aspek governance, yaitu pengawasan, pengendalian dan pemeriksaan secara ketat. Peneliti BUMN dari Research Group Universitas Indonesia, Toto Pranoto, mengatakan, di setiap BUMN , terdapat komite investasi yang melibatkan direksi maupun komisaris. Arus keputusan harus merunut pada prosedur standar investasi tersebut. Toto menilai, jika sampai terjadi investasi serampangan, berarti komite dan pengawas dewan komisaris tidak berjalan secara efektif. Atau eksekutif (direksi) terlalu powerfull sehingga pengawasan dewan komisaris dan investasi kemudian diabaikan. ujar dia, kemarin. Dalam kasus GOTO, kerugian di pasar saham ditengarai terjadi karena kecenderungan harga saham teknologi dunia yang tengah meredup. Hal ini,menurut dia, tak terlepas karena keuangan banyak perusahaan teknologi yang tidak sesuai dengan harapan kepercayaan investor menurun. (Yetede)
BI Diproyeksi Naikkan Suku Bunga 75 Bps
Bank Indonesia (BI) diproyeksi menaikkan suku bunga acuannya menyusul langkah Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) yang telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin atau 0,5%, pada Rabu (4/5) waktu setempat. Langkah The Fed menaikkan suku bunga sebagai upaya untuk mengatasi lonjakan inflasi yang tertinggi selama empat dekade terakhir. Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Faisal Rachman memproyeksi, Bank Indonesia juga akan menaikkan BI-7DRR secara total sebesar 75 bps atau 0,75% menjadi 4,25% pada 2022, yang dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebesar 3,50%. Sikap The Fed lebih hawkish ditengah meningkatnya tekanan inflasi, namun BI tidak akan terburu-buru untuk menaikkannya. Peningkatan BI-7DRRR kan sangat bergantung pada kondisi inflasi domestik yang kami perkirakan meningkat secara fundamental dan substansial di semester II tahun ini," ucap dia dalam keterangannya, Kamis (5/5). Faisal menyebutkan, melonjaknya harga komoditas global akibat konflik antara Rusia dan Ukraina telah mendorong kinerja ekspor Indonesia dan memperpanjang rangkaian surplus perdagangan. (Yetede)
Akumulasi Utang Menghambat Pemulihan Ekonomi
Dana Moneter Internasional atau IMF mengingatkan pada Senin (18/4) bahwa akumulasi utang oleh perusahaan maupun individu di seluruh dunia dapat menghambat pemulihan ekonomi negara dari krisis pandemi Covid-19. "Perusahaan-perusahaan yang rentan dan rumah tangga yang kesusahan, yang jumlah maupun proposinya meningkat sepanjang pandemi Covid-19, kami perkirakan terus memangkas belanja. Khususnya di negara-negara yang strategi kebangkrutannya tidak efisien dan ruang fiskalnya terbatas," tutur IMF. Pemerintah diseluruh dunia mengambil langkah-langkah luar biasa untuk menyokong perekonomian di sepanjang krisis Covid-19 yang sudah lebih dari dua tahun. Termasuk meluncurkan program penangguhan utang atau menawarkan pinjaman skala besar. (Yetede)
Sri Lanka Gagal Bayar Semua Utang Luar Negeri
Pemerintah Sri Lanka gagal membayar (default) utang luar negerinya senilai US$ 51 miliar pada Selasa (12/4) saat negara kepulauan itu bergulat dengan krisis ekonomi terburuknya. Sementara itu, protes kuat telah menuntut pengunduran diri pemerintah. Kekurangan makanan dan bahan bakar yang akut, disamping pemadaman listrik setiap hari yang panjang, telah membawa penderitaan yang meluas ke 22 juta orang di negara itu. Ini menjadi penurunan paling menyakitkan sejak kemerdekaan Sri Lanka pada 1948. Kementerian Keuangan Sri Lanka mengatakan, negara ini gagal membayar semua kewajiban eksternalnya, termasuk pinjaman dari pemerintah asing, menjelang dana talangan (bailout) IMF. Krisis ekonomi bola salju Sri Lanka dimulai dengan ketidakmampuan mengimpor barang-barang penting, setelah pandemi virus corona merusak pendapatan vital dari pariwisata dan pengiriman uang. (Yetede)
Pilihan Editor
-
TRANSISI ENERGI : JURUS PAMUNGKAS AMANKAN EBT
26 Dec 2023 -
Ekspansi Nikel Picu Deforestasi 25.000 Hektar
14 Jul 2023









