;
Tags

Startup

( 184 )

Mengupas Potensi Peluang Kerja dan Ekonomi Startup

KT1 24 Feb 2024 Investor Daily
Kehadiran perusahaan rintisan  yang berbasis teknologi (startup) dinilai telah mampu membuka ratusan  ribu lapangan pekerjaan dan menggairahkan subsektor ekonomi baru, yakni ekonomi digital Tanah Air bernilai tak kurang dari US$ 82 miliar tahun 2023. Era digitalisasi pada berbagai sektor kehidupan yang masif pun telah menjadi bagi startup untuk terus  berinovasi dan menumbuhkan bisnisnya. Namun mereka juga punya tantangan yang tak ringan  untuk lebih meningkatkan kinerja fundamental kinerja  usaha dan keuangannya guna menjaga  momentum  perkembangan dan pertumbuhan bisnisnya secara berkelanjutan. Dalam 13 tahunan terakhir, telah terjadi pergeseran signifikan  dalam perkembangan bisnis berbasis teknologi digital yang secara perlahan menjadi enabler untuk hampir setiap proses kehidupan. (Yetede)

PENDANAAN KE PERUSAHAAN RINTISAN : GUGUR SETELAH DIGUYUR

HR1 29 Jan 2024 Bisnis Indonesia

Perusahaan rintisan atau start-up bak cendawan di musim hujan sejak 2020, tatkala dunia dihadapkan pada situasi krisis akibat pandemi Covid-19. Terbatasnya aktivitas masyarakat, melahirkan ide-ide bisnis baru untuk memberikan layanan kepada konsumen berbasis digital. Sekitar pertengahan Juni 2020, Fabelio mengumumkan per olehan putaran pendanaan Seri C senilai US$9 juta yang dipimpin oleh perusahaan ventura asal Taiwan, AppWorks, Endeavour Catalyst, dan MDI Ventures. Dengan kucuran modal itu, perusahaan peritel berbasis online tersebut secara total meraup dana hingga US$20 juta atau sekitar Rp300 miliar sejak berdiri. Fabelio pun percaya diri dengan rencana bisnis yang dijalankan untuk memacu ekspansi ke beberapa wilayah seperti Jawa Barat dan Bali.  Menurut CEO & Co-Founder Fabelio Marshall Tegar Utoyo, fokus perusahaan yakni meningkatkan kategori produk dan waktu pengiriman, termasuk memperluas bisnis ke seluruh Indonesia. Selang 2 tahun kemudian, Fabelio dinyatakan dalam keadaan pailit berdasarkan putusan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat pada 5 Oktober 2022. Adalah PT Harta Djaya Karya yang membawa PT Kayu Raya Indonesia (Fabelio) ke meja hijau. Beberapa pihak yang mengetahui perkara tersebut menyatakan nilai kewajiban yang mesti dipenuhi oleh Fabelio sekitar Rp100 miliar. Kasus pailit dialami pula oleh start-up penyedia jasa working-space, Co-Hive atau PT Evi Asia Tenggara. Awal 2023, Pengadilan Niaga Jakarta Pusat menyatakan Evi Asia Tenggara (Co-Hive) dalam keadaan pailit menyusul gugatan yang diajukan oleh PT Bisnis Bersama Berkah. Rontoknya sejumlah perusahaan rintisan seolah menandai berakhirnya pesta ‘bakar uang’. 

Start-up yang gagal bersaing, tidak mampu menemukan model bisnis yang tepat, atau salah dalam tata kelola, pada akhirnya terpaksa gulung tikar. Ketua Umum Indonesian Digital Empowering Community (IDIEC) M. Tesar Sandikapura menyatakan fenomena tutupnya sejumlah start-up pada tahun lalu, justru terjadi kepada perusahaan yang disuntik dana besar dengan jumlah besar. Menurutnya, fenomena itu mesti menjadi perhatian pemerintah. Apabila fenomena start-up yang disuntik dana jumbo kemudian mati, dampaknya bisa memengaruhi pergerakan ekonomi seperti pemutusan hubungan kerja (PHK) dan tingkat kepercayaan investor terhadap aktivitas investasi di dalam negeri. Fenomena itu mirip dengan kondisi para perusahaan rintisan yang melakukan penawaran saham perdana di pasar modal, tapi justru harga sahamnya rontok. Para pemilik modal atau venture capital terlihat mencermati dalam kurun sekitar 5 tahun sebagai fase krusial untuk melihat perkembangan perusahaan rintisan semenjak pertama kali mendapat kucuran pendanaan. Berdasarkan data yang dirilis oleh Bain & Company dan AC Ventures pada pengujung 2023, total pendanaan oleh venture capital sekitar US$700 juta. Jumlah itu melorot tajam dibandingkan dengan periode 2022 yang mencapai US$3,6 miliar. Menurut Co-Founder & Managing Partner at Ideosource VC Edward Ismawan Chamdani, sepanjang 2023 menjadi tahun yang penuh tantangan bagi para start-up dengan situasi pasar yang sedang terkoreksi. Sisi baiknya, katanya, kondisi riil start-up sekarang ini menjadi lebih transparan dan tidak bisa menutup diri dengan berbagai macam dinamika di internal masing-masing. Ketua Umum Asosiasi Tech Startup Indonesia Handito Joewono menilai fenomena tutupnya perusahaan start-up merupakan sesuatu yang normal. Justru menjadi tidak normal ketika semua perusahaan start-up tumbuh pesat. Terlebih, dia menyebut, selama ini memang hanya kurang dari 5% start-up yang mampu melewati tantangan menjadi perusahaan yang stabil.

KUCURAN SERET PERUSAHAAN RINTISAN

HR1 29 Jan 2024 Bisnis Indonesia (H)

Pendanaan ke perusahaan rintisan atau start-up pada 2023 terjun bebas. Selain terpengaruh ekonomi global yang melambat, situasi internal yang dihadapi oleh start-up dirasa cukup berat karena tidak bisa tumbuh sesuai dengan harapan.Lembaran baru bagi perusahaan rintisan dibuka lagi pada tahun ini. Sejumlah sektor yang terkait dengan energi baru terbarukan dan kesehatan, diperkirakan menjadi incaran para venture capital.Peluang bagi start-up mendulang pendanaan cukup terbuka. Namun, tantangannya seberapa mampu mereka menjaga tata kelola bisnis agar tak terjerembab dalam kerugian atau justru berujung masalah hukum.

Startup Edutech Menggarap Berkah

HR1 20 Jan 2024 Kontan
Fenomena winter in technology atawa tech winter terjadi di tahun 2024. Termasuk, di bisnis edukasi online atau edutech. Salah satunya adalah startup Zenius berhenti beroperasi untuk sementara. Namun, bagi pemain lain, saat ini, industri edutech semakin menantang. Mulai dari iklim investasi, arah inovasi, hingga perkembangan bisnis edukasi. Salah satunya, Kuncie, startup penyedia solusi pendidikan, yang berhasil mencatatkan kinerja positif selama 2023. Tercatat, nilai transaksi Kuncie sepanjang tahun lalu meningkat 3,5 kali lipat, yang diikuti pertumbuhan pendapatan sebesar hampir dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Hendra Saputra, CEO Kuncie, menyatakan, pencapaian ini mencerminkan tingkat kepercayaan masyarakat yang tinggi terhadap Kuncie, dan kesuksesan strategi bisnis Kuncie selama 2023. Hendra bilang, penyumbang pertumbuhan bisnis Kuncie pada 2023 adalah kinerja positif di segmen pelanggan korporasi melalui program Corporate Training Solutions, pembelian modul video belajar, dan rangkaian kelas belajar self-paced   yang dipersonalisasi. Sementara program yang dikhususkan untuk individu juga mencatatkan kinerja positif bagi perusahaan, seperti program Kuncie Executive yang merupakan hasil kolaborasi bersama institusi pendidikan ternama, seperti School of Business Management Institut Teknologi Bandung (SBM ITB) dan Universitas Gadjah Mada. Pemain lainnya, CoLearn juga tetap optimistis dengan bisnis bimbingan belajar (bimbel) online. Hingga saat ini, CoLearn tidak memiliki rencana untuk merambah bisnis secara offline. Sebab, menurut CEO CoLearn Abhay Saboo, permintaan dan kebutuhan bimbel online masih tinggi.

Indonesia Miliki 75 Startup Baru

KT1 18 Jan 2024 Investor Daily
Indonesia menjadi rumah bagi 2.566 usaha rintisan berbasis teknologi (startup) hingga tanggal 17 januari 2024. Jumlah bertambah 75 dibandingkan Juli 2023 yang mencapai 2.491 startup. Pertumbuhannya ditopang oleh dukungan program inkubator swasta dan pemerintah untuk memgembangkan startup pemula serta banyaknya potensi ekonomi untuk digarap di Tanah Air. Jumlah startup di Indonesia tersebut berkontribusi 53,35% terhadap keseluruhan di Kawasan Asia Tenggara sebanyak 4.810. Dari startup rangking itu juga bisa disimpulkan bahwa  Indonesia menjadi rumah terbesar startup di kasawan Asia Tenggara. Dalam periode tersebut, jumlah bertambah 103 startup di kawasan ini dari enam bulan lalu 4.707. Indonesia jauh mengalahkan Singapura yang punya 1.180 startup. Filipina 338, Malaysia 327, Vietnam 144, Thailand 189, Myanmar 47, Kamboja 7, dan sisanya 9 startup di negara Brunei Darussalam, 2 di Laos, dan 1 di Timor Leste. (Yetede)

Badai Startup Belum Berlalu

KT1 02 Jan 2024 Tempo
Badai tekanan pembiayaan di startup teknologi diperkirakan belum berakhir pada tahun ini. Musababnya, ekonomi dunia masih dibayangi kabut ketidakpastian akibat berbagai faktor, dari geopolitik hingga masalah suku bunga yang masih tinggi. "Jadi pada 2024 mungkin masih berlanjut tech winter-nya meski sudah mulai ada peningkatan investasi sejak triwulan III 2023," ujar Ketua Umum Asosiasi Modal Ventura untuk Startup Indonesia (Amvesindo) Eddi Danusaputro kepada Tempo, kemarin.

Laporan bertajuk "Indonesia Venture Capital Report 2023" yang dirilis AC Ventures dan Bain & Company pada November tahun lalu menunjukkan pendanaan modal ventura terus meningkat secara volume transaksi hingga 2019. Namun, pada 2019, nilai pendanaan yang digelontorkan modal ventura untuk bisnis-bisnis di Indonesia cenderung turun ketimbang pada tahun sebelumnya. 

Volume pendanaan tersebut berkurang setelah pandemi melanda pada 2020. Jumlah transaksi pendanaan, yang pada 2019 sekitar 231 pendanaan, turun menjadi 224 pada masa awal pagebluk. Namun kepercayaan investor cukup cepat pulih. Setahun setelahnya, jumlah transaksi dan nilai pendanaan yang digelontorkan modal ventura naik cukup signifikan, yang terutama didorong kenaikan adopsi digital pada masa pandemi. (Yetede)

Tech Winter Terus Memakan Korban

HR1 16 Dec 2023 Kontan (H)
Selamat datang tech winter, fase dimana banyak perusahaan rintisan atau startup berbasis teknologi gugur satu per satu. Banyak yang kesulitan pendanaan hingga tak cakap mengelola sumber daya manusia. Baru-baru ini, perusahaan teknologi Pegi Pegi tutup setelah 12 tahun beroperasi di Indonesia. Sebelum itu, ada lagi startup yang tutup, yakni Rumah.com, CoHive, Fabelio, JD ID, Airy Rooms, dan banyak lagi. Nailul Huda, Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) mengutip riset Google, Baik & Company, Tenasek, proyeksi gross merchandise value (GMV) alias nilai barang dagangan ekonomi digital Indonesia turun pada 2025, dari US$ 130 miliar menjadi US$ 109 miliar. Kondisi ini patut dicermati startup di berbagai bidang. Penurunan proyeksi GMV tak lepas dari investasi ke sektor digital yang turun. Pengamat Ekonomi Digital, Heru Sutadi bilang, Indonesia telah memiliki unicorn maupun decacorn seperti Tokopedia, Gojek, Traveloka, Bukalapak, Kopi Kenangan, Xendit dan lainnya. "Start up kita banyak, tapi beberapa gulung tikar. Salah satu faktor dari pendanaan," jelas dia, (15/12). Tapi, ia melihat ada sektor yang berpotensi besar untuk berkembang yakni big data analytics, artificial intelligence (AI), Internet of Things, pertanian dan peternakan, serta kesehatan. Pebisnis e-commerce seperti Tokopedia berbagi strategi di bisnis ini. Aditia Grasio Nelwan, Head of Communication Tokopedia bilang, Tokopedia sudah bertransformasi jadi super ekosistem untuk mendorong pertumbuhan bisnis berkelanjutan. Tokopedia memiliki lebih dari 14 juta penjual dan hampir 100% penjual adalah pelaku UMKM. Mereka memasarkan lebih dari 1,8 miliar produk di 99% kecamatan di Indonesia lewat Tokopedia, ujar Aditia, (15/12). Corporate Affairs Manager Kenangan Brands, Ruth Davina bilang, Kenangan Brands punya sejumlah fokus bisnis dan strategi mempertahankan eksistensi produk.

BTN Fund Bakal Suntik Rp 400 M ke Startup Properti

KT1 07 Dec 2023 Investor Daily (H)
JAKARTA,ID-PT Bank Tabungan Negara (BTN) (Persero) Tbk menggandeng PT Mandiri Capital Indonesia (MCI) membentuk program pendanaan bertajuk BTN Fund. Melalui BTN Fun, BTN akan menyediakan  pendanaan untuk berinvestasi pada perusahaan rintisan yang bergerak di bidang properti dan industri terkait lainnya untuk mendongkrak sektor perumahan di Tanah Air. Direktur Risk Management BTN Setiyo Wibowo mengatakan, lewat kemitraan ini, BTN bekerja sama dengan MCI sebagai pengelola dana BTN Fund. Selain memberikan pendanaan untuk startup di sektor properti, BTN juga dirancang untuk menyuntik investasi pada usaha rintisan lain yang sejalan dengan bisnis BTN. "Mungkin sekitar 10-20 startup tahap awal. Dananya sedang kami finalisasi, tapi sekitar Rp200-400 miliar untuk (10-20) startup ini," kata Setiyo. (Yetede)

Telkomsel Siapkan Pendanaan Startup Tahap Kedua

KT1 27 Nov 2023 Investor Daily

JAKARTA,ID-Telkomsel Mitra Inovasi, anak usaha Telkomsel di bidang permodalan ventura, memperbaharui nama menjadi Telkomsel Ventures dan logo. Pembaharuan tersebut menjadi simbol dimulainya babak baru dalam mendukung pertumbuhan dan inovasi startup di Indonesia, melalui dana kelolaan utama (flagship) fund) yang kedua. Sebelumnya, TMI telah sukses menyelesaikan investasi flagship fund pertama tahun 2020 dengan total pendanaan US$ 40 juta yang telah diinvestasikan ke 17 perusahaan di Asia tenggara dan Amerika Utara, antara lain Evermos,Halodoc, PrivyID, Sekolahmu, Edafarm, dan Finaccel. "Selaras dengan semangat Telkomsel dapat menggerekkan kemajuan yang terinspirasi semangat bangsa, pembaharuan identitas yang kami lakukan merupakan salah satu upaya Telkomsel Ventures untuk tetap relevan dan adaptif seiring perkembangan zaman, terutama dalam mendukung pertumbuhan startup," ujar CEO Telkomsel ventures Mia Melinda. (Yetede)

Melandai Permodalan Industri Domestik

KT1 11 Nov 2023 Tempo
JAKARTA - Aliran penanaman modal untuk pendanaan startup di dalam negeri semakin seret. Para investor lebih selektif menjaring perusahaan digital sebelum menyuntikkan dana. Dalam laporan bertajuk e-Conomy SEA 2023 yang dirilis Google, Temasek, serta Bain and Company, tercatat investasi untuk startup di Indonesia anjlok hingga 87 persen pada paruh pertama tahun ini. Nilainya hanya US$ 400 juta. Padahal, pada semester I 2022, investasi yang mengalir mencapai US$ 3,3 miliar. 

Tren ini merata di Asia Tenggara. Investasi startup di kawasan dilaporkan turun dari US$ 13 miliar menjadi US$ 4 miliar saja dalam periode yang sama. Tak hanya pendanaan awal, seperti seed dan seri A, penurunan ini juga terjadi di fase pertumbuhan, yakni seri B serta seri D, hingga fase akhir, yaitu seri D dan E.

Laporan itu menyebutkan biaya modal startup yang tinggi serta penurunan valuasi menjadi salah satu pemicu anjloknya pendanaan di seluruh kawasan, termasuk Indonesia. "Strategi exit juga masih menjadi perhatian karena tingkat pengembalian modal di Asia Tenggara lebih rendah daripada kawasan lain." Sebagai gambaran, investor di Cina bisa mengantongi 0,5 kali dari modal yang disertakan setelah berinvestasi 5-7 tahun. Sementara itu, di Asia Tenggara hanya 0,04 kali.