;
Tags

Saham

( 1737 )

Pasar Saham Volatile, IPO Tetap Marak

KT1 21 Jun 2022 Investor Daily (H)

Proses penawaran umum perdana  (initial public offering/IPO) saham tetap marak ditengah kondisi  pasar saham yang sedang volatile. Meski dalam beberapa pekan terakhir  pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami fluktuasi yang cukup tinggi, lima calon emiten tetap meneruskan  rencana IPO mereka  dan telah melakukan penawaran awal (bookbuilding). Bahkan dalam catatan BEI, sudah ada 43 perusahaan yang antre untuk  IPO dengan total nilai Rp14,1 triliun. Sedangkan sejak awal tahun ini, sebanyak 21 perusahaan telah mencatat sahamnya (listing) di BEI. Kelima calon emiten yang sudah memasuki masa bookbuilding adalah PT Chemstar Indonesia Tbk (CHEM), PT Arkota Hydro Tbk (ARKO), PT Saraswanti Indoneland Development Tbk (SWID), PT Cerestar Indonesia Tbk (TRGU) dan PT Hilcon Tbk (HILL). Srluruh dana yang diperoleh IPO rencananya digunakan sekitar 63% untuk penambahan penyertaan  modal pada perusahaan anak, yakni PT Arkora Hydro Sulawesi.  (Yetede)

IPO, Saraswanti dan Cerestar Incar Dana Rp383 Miliar

KT1 18 Jun 2022 Investor Daily (H)

Dua calon emiten yakni PT Saraswanti Indoland Development Tbk (SWID) dan PT Cerestar Indonesia Tbk (TRGU) berencana melakukan penawaran umum perdana saham  (initial public offering/IPO) dengan total target dana yang dihimpun sebesar Rp383 miliar. PT Saraswanti Indoland Development Tbk (SWID), perusahaan properti ini berencana penawarkan 340 juta saham baru atau 6,31%  dari modal ditempatkan  dan disetor perseroan  degan nilai nominal Rp20 per saham. Saham baru tersebut akan ditawarkan dengan harga Rp 180-200 per saham, sehingga total dana yang akan terhimpun mencapai Rp61,2-68 miliar. "Seluruh dana yang diperoleh dari IPO dan waran seri I akan digunakan untuk modal kerja perseroan. Adapun modal kerja  yang dimaksud adalah terkait dengan pembayaran untuk biaya pemeliharaan Mataram City International Convention Center (MICC) dan hotel, pembelian bahan baku untuk makan dan minuman, pembelian persediaan hotel, pembayaran tenaga kerja dan utilitas, modal kerja untuk pembayaran kepada pemasok dan kontraktor dalam  rangka pembangunan proyek Banyu Bening," tulis manajemen SWID dalam prospektus yang dipublikasikan, Jumat (17/6).  (Yetede)

Hilicon Membidik Dana IPO Rp 884,60 Miliar

HR1 16 Jun 2022 Kontan

PT Hillcon Tbk berencana melakukan penawaran perdana saham alias initial public offering (IPO). Perusahaan jasa pertambangan dan jasa konstruksi tambang ini akan melepas 2,21 miliar saham baru, setara 15% dari modal ditempatkan dan disetor setelah IPO. Harga IPO yang ditawarkan berkisar antara Rp 250 hingga Rp 400 per saham. Sehingga, dana segar yang berpotensi diraih Hillcon dari aksi korporasi ini sebanyak-banyaknya Rp 884,60 miliar.

Investor Lokal Mampu Topang Kejatuhan Indeks

KT1 15 Jun 2022 Investor Daily (H)

Mendominasi 60% transaksi harian, investor lokal mampu menopang kejatuhan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Peran investor domestik dalam mengangkat harga saham yang terjungkal akibat aksi jual pemodal asing sudah terbukti sejak tahun 2020, saat ekonomi didera  pandemi Covid-19. Hari-hari ini, ketika BEI mengalami tekanan jual, investor domestik kembali menunjukkan perannya. Jumlah pemodal lokal saat ini sudah di atas 8,5 juta. Sedang peran mereka dalam transaksi harian  lebih dari 60%. Nilai transaksi harian yang pada tahun 2019 sekitar Rp 9,1 triliun, pada lima bulan pertama 2022 rata-rata di atas Rp17 triliun. "Besarnya peran investor lokal sudah terbukti  tahun 2020 dan saat ini peran itu kembali terlihat ketika saham dibuang asing," kata Anggota Dewan Komisioner OJK sekaligus Kepala Eksekutif  Pengawas Pasar Modal Hoesen dalam diskusi dengan para pemimpin redaksi, Selasa (14/6). (Yetede)

KINO Meminta Restu Penambahan 25 Kegiatan Usaha

HR1 15 Jun 2022 Kontan

PT Kino Indonesia Tbk (KINO) berencana menambah kegiatan usaha yang belum terdapat di Anggaran Dasar. Total, ada 25 kegiatan usaha baru yang akan ditambahkan oleh KINO, mulai dari menjalankan usaha industri pengasinan/pemanisan buah-buahan dan sayuran hingga industri alat kesehatan. "Kami tentunya mengharapkan bahwa kegiatan usaha baru tersebut akan membantu meningkatkan kinerja penjualan dan laba perseroan," jelas manajemen KINO seperti dikutip dalam keterbukaan informasi, Senin (13/6). Pihak KINO juga melihat peluang-peluang usaha dan potensi yang menarik dari kegiatan usaha baru yang akan ditambahkan tersebut. Dengan dijalankannya penambahan kegiatan usaha tersebut, KINO memprediksi bisa meningkatkan laba perusahaan antara 0,25% hingga 2,11%. Untuk memperlancar rencananya, KINO akan meminta persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa yang akan digelar Rabu ini (15/6).

Pyridam Akuisisi Ethica Rp 163 Miliar

KT3 14 Jun 2022 Kompas

Emiten sektor farmasi PT Pyridam Farma Tbk akan mengakuisisi PT Ethica Industri Farmasi dengan membeli 41,93 juta saham seri B dan 7,4 juta saham seri A. Dalam keterbukaan informasi yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (13/6) manajemen Pyridam menyatakan, transaksi itu merupakan transaksi material karena nilai transaksinya berdasarkan sale purchase agreement sebesar Rp 163,46 miliar atau 97,82 % ekuitas Pyridam. (Yoga)

Saham BUMN Kompak Merah Terseret Koreksi Bursa Saham

HR1 14 Jun 2022 Kontan

Saham emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN) merosot pada perdagangan Senin (13/6). Misalnya, PT Waskita Karya Tbk (WSKT) turun 6,36%, PT Adhi Karya Tbk (ADHI) merosot 5,96%, dan Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) turun 5,77%. Secara umum, dari 20 emiten anggota IDX BUMN 20, hanya PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) yang menguat sebesar 1,49%. Equity Analyst Kanaka Hita Solvera Andhika Cipta Labora melihat penurunan harga saham BUMN mengikuti pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Kemarin, IHSG ditutup melemah 1,29% ke level 6.995,42. Analis Binaartha Sekuritas Ivan Rasanova menjagokan saham TLKM, WIKA, PTPP, dan SMGR. Katalis positifnya antara lain, kinerja yang stabil, potensi pertumbuhan proyek pasca pemulihan dari dampak pandemi, hingga kebutuhan pembangunan properti dan infrastruktur. Dia menyarankan buy on weakness karena tren koreksi pasar saham. "Untuk timeframe setidaknya satu tahun ke depan ada potensi naik. Untuk jangka pendek, kemungkinan masih koreksi dulu," katanya.

Pasar Saham Terjerat Bunga, Tersandung Inflasi

HR1 14 Jun 2022 Kontan (H)

Pasar saham tengah dihantui banyak tantangan. Uji massal penduduk China atas paparan Covid-19 pada akhir pekan, ancaman resesi Inggris, serta tingginya inflasi Amerika Serikat (AS) menjadi sentimen yang akan memperberat gerak bursa saham ke depan. Inflasi tinggi AS yang pada Mei 2022 mencapai 8,6%, tertinggi dalam empat dekade terakhir, semisal, kian memperkuat ekspektasi bank sentral AS The Fed mengerek naik bunga secara agresif. Kondisi ini akan berdampak ke bursa saham dalam negeri.

Sentimen Negatif Kepung Pasar Saham

HR1 14 Jun 2022 Bisnis Indonesia

Indeks harga saham gabungan atau IHSG terkoreksi relatif dalam pada perdagangan kemarin, Senin (13/6). IHSG kembali tersungkur ke level di bawah 7.000. Indeks komposit sempat tersungkur 2,04% pada akhir sesi pertama. Sampai dengan akhir perdagangan kemarin, IHSG terus tertekan sehingga tidak mampu keluar dari zona merah. Pelemahan pasar pada awal pekan ini mengakumulasi koreksi sepanjang bulan berjalan periode Juni 2022. Pergerakan indeks komposit tak cukup bertenaga dengan total penurunan sebesar 2,15%. Beragam sentimen negatif membayangi pergerakan IHSG. Di tengah gejolak ekonomi global, IHSG sejatinya telah mengalami tekanan cukup dalam sejak bulan lalu, seiring dengan kebijakan The Fed dalam menaikkan suku bunga. Ke depan, pasar modal di dalam negeri diperkirakan masih akan dipengaruhi sentimen negatif dari global, terutama dari sikap hawkish The Fed. Beragam sentimen negatif yang meningkat dalam beberapa waktu terakhir sangat memengaruhi pergerakan pasar. Oleh karena itu, tidak mengherankan rasanya apabila investor cenderung memilih untuk mengambil sikap wait and see.


Keuntungan Berpihak kepada Investor Sabar

KT3 13 Jun 2022 Kompas

Harapan para investor atau trader yang membeli aset investasi, seperti saham, tanah, atau emas, tentu adalah keuntungan. Namun, keuntungan yang didapatkan tentu tidak instan, langsung untung tidak lama setelah membeli aset tersebut. Kenaikan harga tanah, misalnya, tentu tidak terjadi hanya dalam rentang sehari setelah rumah itu dibeli, kecuali  dalam kondisi khusus. Demikian pula dengan kenaikan harga saham. Tidak semua harga saham naik serta-merta ketika saham dibeli. Memang, ada saham-saham yang naik tinggi ketika jam perdagangan sedang berlangsung. Namun, sebagian besar, kenaikan harga saham membutuhkan waktu, bisa dalam hitungan harian, mingguan, bahkan bulanan.

Kesabaran merupakan salah satu hal yang diperlukan ketika berinvestasi atau trading saham. Salah satu investor Indonesia, Lo Kheng Hong, pernah mengatakan, di bursa saham, uang dapat berpindah dari kantong orang yang tidak sabar ke orang yang sabar. Berjual beli saham bukanlah cara instan untuk melipatgandakan aset dalam sekejap. Ada  proses, termasuk proses dalam menantikan kenaikan harga saham. Orang yang tidak sabar cenderung cepat melepas sahamnya ketika rugi. Padahal, jika dicermati, terdapat potensi tren kenaikan harga. Berapa lama menunggu kenaikan harga saham sangat tergantung dari strategi dan rencana trading setiap orang. Seorang investor jangka panjang yang memilih saham sebagian besar berdasarkan analisis fundamental akan sabar menantikan kenaikan harga saham, bahkan dalam hitungan tahun. Selain dari kenaikan harga, investor jangka panjang juga memerhatikan pembagian dividen.

Sementara investor dengan strategi swing, akan bersabar menanti kenaikan harga saham dalam jangka waktu beberapa pekan. Saham yang dibeli ketika mulai masuk ke tren naik akan ditunggu hingga tren tersebut patah dan berbalik menjadi tren turun. Beda lagi dengan trader yang bertransaksi dengan cepat dalam hitungan hari. Bisa jadi trader itu membeli saham pada sore hari dengan perkiraan saham akan naik keesokan harinya. Atau, menantikan kenaikan harga saham dalam beberapa hari. Kesabaran menantikan kenaikan harga saham perlu dibarengi dengan pengelolaan uang investasi yang baik, menggunakan uang nganggur merupakan hal yang utama. Membeli beberapa saham untuk melakukan diversifikasi juga salah satu cara untuk mengatur keuangan. Sebaiknya pula, tidak semua uang porsi investasi dibelikan saham. Selain itu, sisakan sekitar 20 % dana tunai untuk berjaga-jaga. (Yoga)


Pilihan Editor