Saham
( 1717 )Saham Batubara Dibayangi Pajak Baru
Aturan baru terkait pungutan di sektor batubara berpotensi menjadi sentimen negatif bagi perusahaan batubara. Dalam Peraturan Pemerintah No 15/2022, tarif penerimaan negara bukan pajak (PNBP) produksi batubara dihitung secara progresif, mengikuti besaran harga batubara acuan (HBA). Direktur Avere Investama Teguh Hidayat menyebut, pengaturan kembali penerimaan pajak dan PNBP bagi IUPK sebenarnya terbilang wajar di tengah kenaikan harga batubara. Jika HBA kembali naik lebih tinggi, tarif pajak akan tetap flat di level 28%.
Perdagangan Pertama Tanpa Drama
Rahma Putri, 28 tahun, bergegas melepas saham GOTO setelah harganya memasuki level Rp 400 per lembar. Investor retail ini mengaku khawatir mengalami rugi seperti saat ia membeli saham PT Bukalapak.com Tbk (BUKA). "Saya rugi 60% lebih dan itu traumatis," tutur pegawai swasta di Jakarta ini, kemarin. 11 April. Menurut Rahma, keputusan kilat itu tak ada dalam rencana awalnya. Sejak ia tertarik membeli saham milik PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk karena perusahaan tampak telah belajar dari pengalaman Bukalapak yang telah lebih dahulu melantai di bursa. Sebagai catatan, Bukalapak ditawarkan dengan harga Rp850 per lembar, tapi tak lama anjlok. Hingga saat ini sahamnya masih berada di zona merah. Kemarin, BUKA ditutup di level Rp 328 per lembar. Vice President PT Infovesta Utama, Wawan Hendrayana, mencatat pergerakan saham yang positif dalam perdagangan perdana umumnya berlanjut hiingga lima hari kemudian. Namun, dalam kasus GoTo, perlu dicermati bahwa ada kondisi yang berbeda dengan rata-rata emiten lain yang baru IPO. (Yetede)
GoTo Resmi Masuk Bursa, Manajer Investasi Dilematis
Penawaran saham perdana PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) membawa dampak dilematis bagi para manajer investasi (MI). GOTO memiliki kapitalisasi pasar Rp 452 triliun, tertinggi keempat di BEI. Alhasil, MI yang mau mengekor kinerja indeks, perlu mengoleksi GOTO. Tapi, fundamental GOTO masih dipertanyakan karena masih merugi dan valuasi tinggi. Investment Specialist Sucorinvest Aseet Management Toufan Yamin mengatakan, mungkin perlu waktu 10 tahun bagi GOTO untuk mencapai profitabilitas.
Bersiap Beralih Buru Saham Lapis Dua
Kinerja saham dengan kapitalisasi pasar kecil dan menengah (small mid caps) cenderung tertinggal dibanding saham berkapitalisasi pasar besar (big caps). Ini terlihat dari pergerakan IDX SMC Composite yang hanya naik 6,31% dan IDX SMC Liquid yang hanya terkerek 4,27% sejak awal tahun. Kinerja ini lebih rendah dari performa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang naik 9,46% dan LQ45 yang bergerak positif 10,51%. Sejak awal tahun, Analis Jasa Utama Capital Sekuritas Cheryl Tanuwijaya mengatakan, saat ini justru menjadi waktu yang tepat untuk membeli saham-saham small mid caps. Sementara Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Abdul Azis Setyo Wibowo menyarankan investor wait and see terlebih dahulu. Apalagi, IHSG kemarin ditutup terkoreksi setelah sebelumnya terus menerus mencetak rekor tertinggi baru.
Emiten Kertas Sinar Mas Cetak Laba Tinggi di 2021
Pendapatan dan laba bersih dua emiten kertas milik grup Sinar Mas masih tumbuh. Hal ini membuat saham PT Indah Kiat Pulp and Paper Tbk (INKP) dan PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM) dinilai masih undervalued. Sepanjang 2021, INKP mencatatkan penjualan bersih US$ 3,51 miliar atau tumbuh 17,76% secara tahunan dari US$ 2,98 miliar pada 2020. Hal ini membuat laba bersih INKP melesat 79,23% secara tahunan menjadi US$ 527 juta per Desember 2021.
Bernasib serupa, penjualan bersih TKIM naik sebesar 18,23% secara tahunan. Per Desember 2021 penjualan TKIM mencapai US$ 1,02 miliar dari sebelumnya US$ 866,45 juta. Dari sisi bottom line TKIM mencatatkan laba bersih US$ 249 juta pada akhir 2021. Capaian tersebut naik 67,86% dibanding US$ 148,33 juta pada 2020. Analis BNI Sekuritas Mikhail Joshua Siahaan mengatakan, saham INKP dan TKIM masih undervalued. Ini karena nilai pasar yang terefleksi saat ini masih di bawah nilai fundamental yang diproyeksikan BNI Sekuritas.
Indeks Saham Teknologi Prospektif
PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. mencatatkan saham perdana (initial public offering/IPO) di Bursa Efek Indonesia hari ini, Senin (11/4). Emiten berkode saham GOTO itu meraup total penawaran senilai Rp13,7 triliun. Penghimpunan dana IPO oleh GoTo memang tak sebesar capaian Bukalapak yang mampu menggalang modal dari masyarakat senilai total Rp21,9 triliun. Akan tetapi, saham GoTo diyakini relatif lebih prospektif karena ditopang oleh model bisnis dan fundamental yang kuat. Seperti kita ketahui, GoTo menjadi perwujudan dari konsolidasi bisnis teknologi yang menggabungkan tiga segmen sekaligus, yakni layanan on demand melalui Gojek, e-commerce dari Tokopedia, serta layanan jasa keuangan melalui bendera GoTo Finansial.
IHSG tengah bergerak dalam tren bullish setidaknya sejak awal tahun. Sepanjang kuartal pertama 2022, indeks saham domestik telah mencatatkan pertumbuhan sebanyak 7,4%. Sementara itu, selama periode April, IHSG terus melaju dengan kenaikan sebesar 1,9%. Artinya, secara kumulatif, indeks komposit telah tumbuh hingga 9,5% sepanjang tahun berjalan. Kontribusi saham-saham berbasis teknologi sebagai pengungkit indeks komposit telah dibuktikan sepanjang tahun lalu. Mereka adalah primadona pasar saham domestik dengan lompatan pertumbuhan hingga ribuan persen.
Akhir Tahun, Kapitalisasi Pasar Rp 9.500 Triliun
Seiring rekor baru Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) tembus Rp 9.000 triliun. Jumat lalu (8/4). kapitalisasi pasar BEI sudah Rp 9.046 triliun. Market cap BEI naik 9,57% dibanding posisi akhir tahun lalu, yaitu Rp 8.284 triliun. Meroket kapitalisasi pasar saham dalam negeri ini mengindikasikan tingginya kepercayaan investor terhadap pasar saham Indonesia. "Fundamental yang masih solid menjadi salah satu alasan bagi investor terus berinvestasi di pasar saham Indonesia," jelas Daniel Agustinus, Analis Kanaka Hita Solvera, Sabtu (9/4). Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta berpendapat, kondisi ini juga menarik bagi asing. Aksi beli asing di pasar saham memang cukup besar. Tercatat, sejak awal tahun, investor asing sudah membukukan aksi beli bersih hingga Rp 37,52 triliun.
GoTo Tetapkan Saham IPO Rp 338 Per Unit
Setelah mendapatkan persetujuan efektif dari OJK, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk menetapkan harga saham perdana (IPO) Rp 338 per saham. Dengan total penawaran 46,7 miliar saham dan harga Rp 338 per saham, total dana masyarakat yang diperoleh dari IPO akan mencapai Rp 15,78 triliun. CEO Grup GoTo Andre Soelistyo, Kamis (31/3), mengatakan, pihaknya bersyukur melihat tanggapan positif dari para investor. (Yoga)
Go Public April 2022: Enam Calon Emiten Antre IPO
Setelah kedatangan 12 emiten baru hingga pengujung kuartal I/2022, sebanyak enam calon perusahaan terbuka sedang menuntaskan initial public offering (IPO) agar dapat melantai di Bursa Efek Indonesia pada April 2022.
Para calon emiten itu ialah PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO), PT WIR Asia Tbk. (WIRG), PT Teladan Prima Agro Tbk. (TLDN), PT Winner Nusantara Jaya Tbk. (WINR), PT Murni Sadar Tbk. (MTMH), dan PT Sigma Energy Compressindo Tbk. (SICO).WIR Asia baru saja menetapkan harga pelaksanaan IPO di level Rp168 per saham. Harga itu berada di level tengah harga penawaran awal di kisaran Rp150—Rp175 per saham.Dalam IPO, perusahaan sektor teknologi informasi itu bakal melepas 2,33 miliar saham biasa sehingga berpotensi menggalang dana segar Rp392,63 miliar dari aksi go public tersebut. Apabila terjadi kelebihan pemesanan dalam penjatahan terpusat, WIR Asia bakal mengeluarkan saham tambahan maksimal 233,7 juta. Dengan begitu, dana hasil IPO dapat meningkat menjadi Rp431,89 miliar.
Tren Penurunan Harga Saham Perusahaan Teknologi Bayangi Langkah GoTo
Perusahaan hasil merger Gojek dan Tokopedia, yakni PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk, memperpanjang periode waktu penawaran awal saham dari 15-21 Maret 2022 menjadi 15-24 Maret 2022. Keputusan ini diyakini perusahaan mampu menarik lebih banyak masyarakat, terutama mitra pedagang dan konsumen, untuk berpartisipasi. Pada saat yang sama, langkah perusahaan menuju pencatatan di bursa saham bulan depan dibayangi tren penurunan harga saham sejumlah perusahaan teknologi lain yang melantai di bursa.
Corporate Secretary PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GoTo) Koesoemo Hadiani (21/3) menyatakan, proses penawaran awal saham menarik respons positif calon investor. Antusiasme masyarakat tinggi. Hal itu diduga didorong kemudahan akses berpartisipasi dalam penawaran awal melalui skema fixed allotment untuk konsumen dan pedagang dalam platform Gojek, Tokopedia, dan GoTo Financial. Dalam prospektus penawaran umum saham perdana (IPO), GoTo berencana melepas 4,35 % sahamnya atau 52 miliar lembar senilai Rp 316-Rp 346 per lembar saham.
Sekjen Asosiasi Modal Ventura untuk Startup Indonesia (Amvesindo) Eddi Danusaputro berpendapat, perusahaan rintisan bidang teknologi yang akan melantai di bursa saham berada dalam kondisi rugi. Oleh karena itu, investor, baik public maupun institusi, semestinya menyadari hal itu sejak awal. Chief Economist PT Bank Permata Tbk Josua Pardede mengatakan, saat ini saham sejumlah perusahaan teknologi skala global dan di dalam negeri sedang melemah. IHSG perusahaan teknologi telah terkoreksi 12 % year to date. (Yoga)









