Saham
( 1722 )Semua Sektor Saham Terkoreksi, IHSG Merosot 2,28%
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), Bursa Efek Jakarta (BEI) melemah hingga 155,16 poin atau 2,28% ke posisi 6.639,17 pada penutupan perdagangan Senin (4/6) sore. Kali ini, pelemahan terdalam dialami saham sektor teknologi yang turun hingga 4%, kemudian sektor transportasi dan logistik 3,57%, sektor consumer non cyclicals 2,66%, sektor keuangan 2,58%, dan sektor material dasar 1,83%. Sentimen lain yang datang adalah terkoreksinya harga komoditas seperti nikel, minyak mentah, dan minyak sawit mentah (CPO). "Conference Board merilis data tingkat Indeks Keyakinan Konsumen AS tercatat menurun ke level 98,7 dari sebelumnya di level 103,3.
Penurunan angka yang merupakan titik terendah dalam 16 bulan terakhir ini menjadi katalis negatif bagi IHSG awal pekan ini," kata Financial Expert Ajaib Sekuritas M Julian Fadli dalam ulasannya di Jakarta, Senin (4/7). Chief Economist and Head of Global Markets Research Asia ex-Japan Nomura Rob Subbaraman dan Global Markets Analyst Nomura Si Ying Toh dalam catatan hasil risetn holdings perusahaan keuangan yang berbasis di Tokyo tersebut memprediksi bahwa zona uero, Inggris, Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Kanada, akan terperosok dalam resesi bersama dengan Amerika. (Yetede)
UJI TANGGUH LQ45
Pergerakan indeks acuan saham paling likuid, LQ45, sedang seret. Gejolak eksternal yang merembet ke pasar modal Indonesia menjadi katalis negatif. Kondisi itu menjadi alarm bagi investor yang mengoleksi saham-saham LQ45. Apalagi, capital outflow dikhawatirkan berlanjut pada paruh kedua tahun ini. Adapun, strategi buy on weakness dapat dilakukan investor untuk merespons kondisi tersebut. Volatilitas pasar yang tinggi tercermin dari kontraksi indeks harga saham gabungan (IHGS) dan LQ45 pada Juni 2022. IHSG melorot 3,51% month-to-month (MtM) ke level 6.897,67 pada Kamis (30/6) dan melanjutkan penurunan 1,7% ke level 6.794,32 pada perdagangan akhir pekan lalu. Koreksi yang lebih dalam dialami oleh indeks LQ45. Pada bulan lalu, LQ45 turun 6,13% secara bulanan dan melorot 1,78% pada Jumat (1/7). Kendati demikian, LQ45 masih mengemas return positif 4,61% year-to-date (YtD). Jika dicermati, indeks LQ45 tergelincir sejalan dengan aksi jual bersih (net sell) investor asing tiga pekan berturut-turut di Bursa Efek Indonesia.
Equity Analyst Kanaka Hita Solvera Andhika Cipta Labora mengatakan indeks LQ45 berisiko tertekan pada semester II/2022 akibat sentimen negatif di pasar global. Salah satu sentimen tersebut ialah The Federal Reserve yang secara agresif menaikkan suku bunga. Menurutnya, sentimen negatif juga datang dari ancaman resesi di Amerika Serikat dan Eropa. Sentimen lain yang akan memengaruhi saham-saham LQ45 berasal dari konflik antara Rusia dan Ukraina yang masih panas.Saham Pemerintah di Krakatau Steel Turun
Kepemilikan saham pemerintah di PT Krakatau Steel (Persero) Tbk akan berubah dari 80 % menjadi 60 % akibat penerbitan saham baru sebanyak 6,4 miliar lembar. Total dana diharapkan bisa mencapai Rp 1,8 triliun hingga Rp 2,5 triliun. ”Konsekuensi dari penerbitan saham baru adalah saham pemerintah terdilusi dari 80 % menjadi 60 %,” kata Pelaksana Harian Dirut Krakatau Steel Tardi, Kamis (30/6), di Jakarta. (Yoga)
Tadah Cuan Saham Saat Dana Asing Keluar
Dana asing masih hengkang dari bursa saham dalam negeri. Sepanjang pekan lalu, total aksi jual bersih (net sell) investor asing mencapai Rp 4,18 triliun. Beruntung, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih bertahan di zona hijau sepanjang pekan lalu.
Potensi resesi di Amerika Serikat (AS) dan kenaikan suku bunga mendorong investor asing mulai meninggalkan instrumen yang punya risiko tinggi, seperti saham. Sikap agresif The Fed dalam menaikkan suku bunga juga meningkatkan persepsi risiko berinvestasi di Indonesia. Analis Jasa Utama Capital Cheryl Tanuwijaya mengatakan, investor asing akan mencermati rilis data inflasi dan makroekonomi dalam negeri. Kalau data ini menunjukkan pemulihan ekonomi, dana asing bisa kembali.
Sektor Komoditas dan Infra-Telko Bakal Dongkrak IHSG Pekan Ini
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pekan ini diprediksi menguat, menguji level area 7.060-7.080. Penguatan ini antaranya ditopang oleh saham-saham sektor komoditas serta infrastruktur telekomunikasi (Infra-Telko). Saham-saham konsumsi nonsiklik yang tertekan selama pandemi Covid-19, kini juga dinilai mulai layak dikoleksi seiring mobilitas masyarakat yang meningkat. Penaikan agresif Fed fund rate (FFR), ancaman resesi terhadap ekonomi AS, perlambatan ekonomi dunia, dan konflik Rusia-Ukraina, tetap menjadi sentimen dominan yang membayangi aktivitas perdagangan di BEI ke depan. Dari dalam negeri, investor, diperkirakan terus mencermati kemungkinan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan BI-7 Day Reserve Repo Rate pada semester II tahun ini. (Yetede)
Saham BUMN Terkerek Pembangunan IKN
Saham-saham BUMN konstruksi ditutup melesat sepanjang perdagangan Kamis (23/6). Penguatan tersebut seiring dengan rencana pemerintah yang akan memulai konstruksi Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara pada bulan depan. Kenaikan tertinggi dicetak saham PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) yang melesat Rp60 (8,22%) menjadi Rp790,saham PT Wijaya Karya (Persero) Tnk (WIKA) naik Rp45 (4,97%) menjadi Rp950,dan saham PT Waskita Karya (persero) Tbk (WSKT) menguat Rp30 (5,83%), menjadi Rp545. Sehari sebelumnya, Presiden Jokowi telah memastikan peletakan batu pertama pembangunan Istana Presiden, pusat perkantoran, dan fasilitas publik, seperti pendidikan, kesehatan, dan komersial di kawasan Ibu Kota Nusantara akan dilaksanakan Juli 2022.
IPO, Arkora Hydro Lepas 20 Persen Saham ke Publik
PT Arkora Hydro berencana menawarkan 579,9 juta saham pada penawaran saham perdana kepada publik (IPO). Menurut informasi laman e-ipo yang dikutip Senin (20/6), jumlah saham yang ditawarkan tersebut setara 20 % total modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO. Arkora merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pembangkit tenaga listrik melalui sumber energi baru dan terbarukan. (Yoga)
Ini Dia Saham-Saham Yang Hampir Selalu Kasih Cuan
Harga saham memang lazimnya naik turun. Tapi, ada lo, saham yang mampu memberikan keuntungan selama beberapa tahun berturut-turut. Sejumlah saham anggota indeks KOMPAS100 mampu mencetak keuntungan lima tahun berturut-turut. Contoh saham PT Bank Jago Tbk (ARTO), PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (BJTM) dan PT Bank Central Asia tbk (BBCA). Harga saham ketiga emiten itu naik terus di periode 2017-2021. Ada juga saham-saham yang reli selama lima tahun terakhir, tetapi turun sekali dalam setahunnya. Misalnya PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM)
Pasar Saham Volatile, IPO Tetap Marak
Proses penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham tetap marak ditengah kondisi pasar saham yang sedang volatile. Meski dalam beberapa pekan terakhir pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami fluktuasi yang cukup tinggi, lima calon emiten tetap meneruskan rencana IPO mereka dan telah melakukan penawaran awal (bookbuilding). Bahkan dalam catatan BEI, sudah ada 43 perusahaan yang antre untuk IPO dengan total nilai Rp14,1 triliun. Sedangkan sejak awal tahun ini, sebanyak 21 perusahaan telah mencatat sahamnya (listing) di BEI. Kelima calon emiten yang sudah memasuki masa bookbuilding adalah PT Chemstar Indonesia Tbk (CHEM), PT Arkota Hydro Tbk (ARKO), PT Saraswanti Indoneland Development Tbk (SWID), PT Cerestar Indonesia Tbk (TRGU) dan PT Hilcon Tbk (HILL). Srluruh dana yang diperoleh IPO rencananya digunakan sekitar 63% untuk penambahan penyertaan modal pada perusahaan anak, yakni PT Arkora Hydro Sulawesi. (Yetede)
IPO, Saraswanti dan Cerestar Incar Dana Rp383 Miliar
Dua calon emiten yakni PT Saraswanti Indoland Development Tbk (SWID) dan PT Cerestar Indonesia Tbk (TRGU) berencana melakukan penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) dengan total target dana yang dihimpun sebesar Rp383 miliar. PT Saraswanti Indoland Development Tbk (SWID), perusahaan properti ini berencana penawarkan 340 juta saham baru atau 6,31% dari modal ditempatkan dan disetor perseroan degan nilai nominal Rp20 per saham. Saham baru tersebut akan ditawarkan dengan harga Rp 180-200 per saham, sehingga total dana yang akan terhimpun mencapai Rp61,2-68 miliar. "Seluruh dana yang diperoleh dari IPO dan waran seri I akan digunakan untuk modal kerja perseroan. Adapun modal kerja yang dimaksud adalah terkait dengan pembayaran untuk biaya pemeliharaan Mataram City International Convention Center (MICC) dan hotel, pembelian bahan baku untuk makan dan minuman, pembelian persediaan hotel, pembayaran tenaga kerja dan utilitas, modal kerja untuk pembayaran kepada pemasok dan kontraktor dalam rangka pembangunan proyek Banyu Bening," tulis manajemen SWID dalam prospektus yang dipublikasikan, Jumat (17/6). (Yetede)









