Saham
( 1717 )IPO, Arkora Hydro Lepas 20 Persen Saham ke Publik
PT Arkora Hydro berencana menawarkan 579,9 juta saham pada penawaran saham perdana kepada publik (IPO). Menurut informasi laman e-ipo yang dikutip Senin (20/6), jumlah saham yang ditawarkan tersebut setara 20 % total modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO. Arkora merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pembangkit tenaga listrik melalui sumber energi baru dan terbarukan. (Yoga)
Ini Dia Saham-Saham Yang Hampir Selalu Kasih Cuan
Harga saham memang lazimnya naik turun. Tapi, ada lo, saham yang mampu memberikan keuntungan selama beberapa tahun berturut-turut. Sejumlah saham anggota indeks KOMPAS100 mampu mencetak keuntungan lima tahun berturut-turut. Contoh saham PT Bank Jago Tbk (ARTO), PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (BJTM) dan PT Bank Central Asia tbk (BBCA). Harga saham ketiga emiten itu naik terus di periode 2017-2021. Ada juga saham-saham yang reli selama lima tahun terakhir, tetapi turun sekali dalam setahunnya. Misalnya PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM)
Pasar Saham Volatile, IPO Tetap Marak
Proses penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham tetap marak ditengah kondisi pasar saham yang sedang volatile. Meski dalam beberapa pekan terakhir pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami fluktuasi yang cukup tinggi, lima calon emiten tetap meneruskan rencana IPO mereka dan telah melakukan penawaran awal (bookbuilding). Bahkan dalam catatan BEI, sudah ada 43 perusahaan yang antre untuk IPO dengan total nilai Rp14,1 triliun. Sedangkan sejak awal tahun ini, sebanyak 21 perusahaan telah mencatat sahamnya (listing) di BEI. Kelima calon emiten yang sudah memasuki masa bookbuilding adalah PT Chemstar Indonesia Tbk (CHEM), PT Arkota Hydro Tbk (ARKO), PT Saraswanti Indoneland Development Tbk (SWID), PT Cerestar Indonesia Tbk (TRGU) dan PT Hilcon Tbk (HILL). Srluruh dana yang diperoleh IPO rencananya digunakan sekitar 63% untuk penambahan penyertaan modal pada perusahaan anak, yakni PT Arkora Hydro Sulawesi. (Yetede)
IPO, Saraswanti dan Cerestar Incar Dana Rp383 Miliar
Dua calon emiten yakni PT Saraswanti Indoland Development Tbk (SWID) dan PT Cerestar Indonesia Tbk (TRGU) berencana melakukan penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) dengan total target dana yang dihimpun sebesar Rp383 miliar. PT Saraswanti Indoland Development Tbk (SWID), perusahaan properti ini berencana penawarkan 340 juta saham baru atau 6,31% dari modal ditempatkan dan disetor perseroan degan nilai nominal Rp20 per saham. Saham baru tersebut akan ditawarkan dengan harga Rp 180-200 per saham, sehingga total dana yang akan terhimpun mencapai Rp61,2-68 miliar. "Seluruh dana yang diperoleh dari IPO dan waran seri I akan digunakan untuk modal kerja perseroan. Adapun modal kerja yang dimaksud adalah terkait dengan pembayaran untuk biaya pemeliharaan Mataram City International Convention Center (MICC) dan hotel, pembelian bahan baku untuk makan dan minuman, pembelian persediaan hotel, pembayaran tenaga kerja dan utilitas, modal kerja untuk pembayaran kepada pemasok dan kontraktor dalam rangka pembangunan proyek Banyu Bening," tulis manajemen SWID dalam prospektus yang dipublikasikan, Jumat (17/6). (Yetede)
Hilicon Membidik Dana IPO Rp 884,60 Miliar
PT Hillcon Tbk berencana melakukan penawaran perdana saham alias initial public offering (IPO). Perusahaan jasa pertambangan dan jasa konstruksi tambang ini akan melepas 2,21 miliar saham baru, setara 15% dari modal ditempatkan dan disetor setelah IPO.
Harga IPO yang ditawarkan berkisar antara Rp 250 hingga Rp 400 per saham. Sehingga, dana segar yang berpotensi diraih Hillcon dari aksi korporasi ini sebanyak-banyaknya Rp 884,60 miliar.
Investor Lokal Mampu Topang Kejatuhan Indeks
Mendominasi 60% transaksi harian, investor lokal mampu menopang kejatuhan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Peran investor domestik dalam mengangkat harga saham yang terjungkal akibat aksi jual pemodal asing sudah terbukti sejak tahun 2020, saat ekonomi didera pandemi Covid-19. Hari-hari ini, ketika BEI mengalami tekanan jual, investor domestik kembali menunjukkan perannya. Jumlah pemodal lokal saat ini sudah di atas 8,5 juta. Sedang peran mereka dalam transaksi harian lebih dari 60%. Nilai transaksi harian yang pada tahun 2019 sekitar Rp 9,1 triliun, pada lima bulan pertama 2022 rata-rata di atas Rp17 triliun. "Besarnya peran investor lokal sudah terbukti tahun 2020 dan saat ini peran itu kembali terlihat ketika saham dibuang asing," kata Anggota Dewan Komisioner OJK sekaligus Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Hoesen dalam diskusi dengan para pemimpin redaksi, Selasa (14/6). (Yetede)
KINO Meminta Restu Penambahan 25 Kegiatan Usaha
PT Kino Indonesia Tbk (KINO) berencana menambah kegiatan usaha yang belum terdapat di Anggaran Dasar. Total, ada 25 kegiatan usaha baru yang akan ditambahkan oleh KINO, mulai dari menjalankan usaha industri pengasinan/pemanisan buah-buahan dan sayuran hingga industri alat kesehatan.
"Kami tentunya mengharapkan bahwa kegiatan usaha baru tersebut akan membantu meningkatkan kinerja penjualan dan laba perseroan," jelas manajemen KINO seperti dikutip dalam keterbukaan informasi, Senin (13/6). Pihak KINO juga melihat peluang-peluang usaha dan potensi yang menarik dari kegiatan usaha baru yang akan ditambahkan tersebut.
Dengan dijalankannya penambahan kegiatan usaha tersebut, KINO memprediksi bisa meningkatkan laba perusahaan antara 0,25% hingga 2,11%.
Untuk memperlancar rencananya, KINO akan meminta persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa yang akan digelar Rabu ini (15/6).
Pyridam Akuisisi Ethica Rp 163 Miliar
Emiten sektor farmasi PT Pyridam Farma Tbk akan mengakuisisi PT Ethica Industri Farmasi dengan membeli 41,93 juta saham seri B dan 7,4 juta saham seri A. Dalam keterbukaan informasi yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (13/6) manajemen Pyridam menyatakan, transaksi itu merupakan transaksi material karena nilai transaksinya berdasarkan sale purchase agreement sebesar Rp 163,46 miliar atau 97,82 % ekuitas Pyridam. (Yoga)
Saham BUMN Kompak Merah Terseret Koreksi Bursa Saham
Saham emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN) merosot pada perdagangan Senin (13/6). Misalnya, PT Waskita Karya Tbk (WSKT) turun 6,36%, PT Adhi Karya Tbk (ADHI) merosot 5,96%, dan Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) turun 5,77%.
Secara umum, dari 20 emiten anggota IDX BUMN 20, hanya PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) yang menguat sebesar 1,49%.
Equity Analyst Kanaka Hita Solvera Andhika Cipta Labora melihat penurunan harga saham BUMN mengikuti pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Kemarin, IHSG ditutup melemah 1,29% ke level 6.995,42.
Analis Binaartha Sekuritas Ivan Rasanova menjagokan saham TLKM, WIKA, PTPP, dan SMGR. Katalis positifnya antara lain, kinerja yang stabil, potensi pertumbuhan proyek pasca pemulihan dari dampak pandemi, hingga kebutuhan pembangunan properti dan infrastruktur.
Dia menyarankan buy on weakness karena tren koreksi pasar saham. "Untuk timeframe setidaknya satu tahun ke depan ada potensi naik. Untuk jangka pendek, kemungkinan masih koreksi dulu," katanya.
Pasar Saham Terjerat Bunga, Tersandung Inflasi
Pasar saham tengah dihantui banyak tantangan. Uji massal penduduk China atas paparan Covid-19 pada akhir pekan, ancaman resesi Inggris, serta tingginya inflasi Amerika Serikat (AS) menjadi sentimen yang akan memperberat gerak bursa saham ke depan. Inflasi tinggi AS yang pada Mei 2022 mencapai 8,6%, tertinggi dalam empat dekade terakhir, semisal, kian memperkuat ekspektasi bank sentral AS The Fed mengerek naik bunga secara agresif. Kondisi ini akan berdampak ke bursa saham dalam negeri.









