Saham
( 1717 )Penjualan oleh Investor Asing Tekan Indeks Saham
Tekanan jual oleh para investor asing dikhawatirkan membuat IHSG menjadi lebih berfluktuasi. Para investor tetap harus memperhatikan sentimen di pasar yang dipengaruhi oleh perkembangan situasi ekonomi AS. ”Jangan melawan arus investor asing, banyak aliran dana asing keluar di sektor finansial. Selama ada outflow, tekanan jual masih ada,” kata Head of Reaserch Mirae Asset Sekuritas Hariyanto Wijaya dalam Mirae Asset Day, Selasa (12/7) di Jakarta. Mirae juga merevisi target IHSG pada akhir tahun menjadi 7.400 dari sebelumnya 7.600. Penurunan target ini terkait kondisi ekonomi Indonesia dan global.
Macro Equity Strategist dari Samuel Sekuritas Indonesia, Lionel Priyadi, dalam risetnya, mengatakan, investor di AS bersiap menghadapi musim laporan keuangan yang cenderung pesimistis. Hal ini terlihat dari pergeseran dana pasar saham ke uang tunai dan pasar obligasi. Ketika imbal hasil obligasi Pemerintah AS berdurasi 10 tahun hanya turun menjadi 2,99 %, indeks USD menguat signifikan 0,9 % menjadi 108 pada Senin (11/7). Lionel juga mencermati bahwa tekanan inflasi dan pertumbuhan PDB yang rendah berpotensi menekan IHSG dan harga obligasi. (Yoga)
Cara Pasar Menjewer Bank Sentral
Tekanan terhadap rupiah berlanjut. Kemarin, kurs spot rupiah tutup di level Rp 14.999 per dollar Amerika Serikat (AS). Ini level terendah rupiah sejak 6 Mei 2020. Rupiah bahkan sempat mencapai Rp 15.039 per dollar AS. Pelemahan rupiah membuat pasar saham ikut kebakaran. IHSG kemarin turun 0,85% ke 6.646,41. Chief Excekutif Officer Edvisor.id Praska Putrantyo menjelaskan, rupiah memang menjadi biang keladi pelemahan pasar saham kemarin. Senior Analyst Equity Research Emtrade William Siregar mengatakan, asing tak menyukai keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga di tengah inflasi tinggi. Dus, pelemahan rupiah kali ini ibarat cara pasar menjewer Bank Indonesia (BI) agar menaikkan bunga.
JSMR Jual 40% Saham Jalan Tol Layang MBZ ke Anak META
PT Jasa Marga Tbk (JSMR) melakukan divestasi atas kepemilikan saham JSMR di PT Jasamarga Jalanlayang Cikampek (JJC). Perusahaan ini merupakan anak usaha JSMR yang mengelola Jalan Layang Sheikh Mohamed Bin Zayed (MBZ).
JSMR menjual 40% saham JCC ke perusahaan infrastruktur milik Grup Salim, PT Marga Utama Nusantara. Sebagai informasi, Marga Utama Nusantara merupakan anak usaha yang 76,51% sahamnya dimiliki oleh PT Nusantara Infrastructure Tbk (META).
Daftar Emiten yang Terancam Delisting Bertambah
Sejumlah emiten berpotensi didepak paksa dari Bursa Efek Indonesia (BEI). Teranyar, ada PT Sugih Energy Tbk (SUGI) yang berpotensi terkena penghapusan saham alias delisting.
Kepala Divisi Penilaian Perusahaan 2 BEI Vera Florida mengatakan, masa suspensi saham SUGI telah mencapai 24 bulan pada tanggal 1 Juli 2021. Hal itu bermakna, BEI telah memberikan toleransi cukup panjang. Pasalnya, batas waktu suspensi saham adalah selama dua tahun berturut-turut sebelum masuk daftar delisting. Beberapa saham lain juga tercatat sudah masuk masa suspensi lebih dari 24 bulan. Misalnya, PT. Armidian Karyatama Tbk (ARMY), PT. Panasia Indo Resources Tbk (HDTX), PT. Jakarta Kyoei Steel Works Tbk (JKSW), dan PT Eureka Prima Jakarta Tbk (LCGP).
Semua Sektor Saham Terkoreksi, IHSG Merosot 2,28%
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), Bursa Efek Jakarta (BEI) melemah hingga 155,16 poin atau 2,28% ke posisi 6.639,17 pada penutupan perdagangan Senin (4/6) sore. Kali ini, pelemahan terdalam dialami saham sektor teknologi yang turun hingga 4%, kemudian sektor transportasi dan logistik 3,57%, sektor consumer non cyclicals 2,66%, sektor keuangan 2,58%, dan sektor material dasar 1,83%. Sentimen lain yang datang adalah terkoreksinya harga komoditas seperti nikel, minyak mentah, dan minyak sawit mentah (CPO). "Conference Board merilis data tingkat Indeks Keyakinan Konsumen AS tercatat menurun ke level 98,7 dari sebelumnya di level 103,3.
Penurunan angka yang merupakan titik terendah dalam 16 bulan terakhir ini menjadi katalis negatif bagi IHSG awal pekan ini," kata Financial Expert Ajaib Sekuritas M Julian Fadli dalam ulasannya di Jakarta, Senin (4/7). Chief Economist and Head of Global Markets Research Asia ex-Japan Nomura Rob Subbaraman dan Global Markets Analyst Nomura Si Ying Toh dalam catatan hasil risetn holdings perusahaan keuangan yang berbasis di Tokyo tersebut memprediksi bahwa zona uero, Inggris, Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Kanada, akan terperosok dalam resesi bersama dengan Amerika. (Yetede)
UJI TANGGUH LQ45
Pergerakan indeks acuan saham paling likuid, LQ45, sedang seret. Gejolak eksternal yang merembet ke pasar modal Indonesia menjadi katalis negatif. Kondisi itu menjadi alarm bagi investor yang mengoleksi saham-saham LQ45. Apalagi, capital outflow dikhawatirkan berlanjut pada paruh kedua tahun ini. Adapun, strategi buy on weakness dapat dilakukan investor untuk merespons kondisi tersebut. Volatilitas pasar yang tinggi tercermin dari kontraksi indeks harga saham gabungan (IHGS) dan LQ45 pada Juni 2022. IHSG melorot 3,51% month-to-month (MtM) ke level 6.897,67 pada Kamis (30/6) dan melanjutkan penurunan 1,7% ke level 6.794,32 pada perdagangan akhir pekan lalu. Koreksi yang lebih dalam dialami oleh indeks LQ45. Pada bulan lalu, LQ45 turun 6,13% secara bulanan dan melorot 1,78% pada Jumat (1/7). Kendati demikian, LQ45 masih mengemas return positif 4,61% year-to-date (YtD). Jika dicermati, indeks LQ45 tergelincir sejalan dengan aksi jual bersih (net sell) investor asing tiga pekan berturut-turut di Bursa Efek Indonesia.
Equity Analyst Kanaka Hita Solvera Andhika Cipta Labora mengatakan indeks LQ45 berisiko tertekan pada semester II/2022 akibat sentimen negatif di pasar global. Salah satu sentimen tersebut ialah The Federal Reserve yang secara agresif menaikkan suku bunga. Menurutnya, sentimen negatif juga datang dari ancaman resesi di Amerika Serikat dan Eropa. Sentimen lain yang akan memengaruhi saham-saham LQ45 berasal dari konflik antara Rusia dan Ukraina yang masih panas.Saham Pemerintah di Krakatau Steel Turun
Kepemilikan saham pemerintah di PT Krakatau Steel (Persero) Tbk akan berubah dari 80 % menjadi 60 % akibat penerbitan saham baru sebanyak 6,4 miliar lembar. Total dana diharapkan bisa mencapai Rp 1,8 triliun hingga Rp 2,5 triliun. ”Konsekuensi dari penerbitan saham baru adalah saham pemerintah terdilusi dari 80 % menjadi 60 %,” kata Pelaksana Harian Dirut Krakatau Steel Tardi, Kamis (30/6), di Jakarta. (Yoga)
Tadah Cuan Saham Saat Dana Asing Keluar
Dana asing masih hengkang dari bursa saham dalam negeri. Sepanjang pekan lalu, total aksi jual bersih (net sell) investor asing mencapai Rp 4,18 triliun. Beruntung, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih bertahan di zona hijau sepanjang pekan lalu.
Potensi resesi di Amerika Serikat (AS) dan kenaikan suku bunga mendorong investor asing mulai meninggalkan instrumen yang punya risiko tinggi, seperti saham. Sikap agresif The Fed dalam menaikkan suku bunga juga meningkatkan persepsi risiko berinvestasi di Indonesia. Analis Jasa Utama Capital Cheryl Tanuwijaya mengatakan, investor asing akan mencermati rilis data inflasi dan makroekonomi dalam negeri. Kalau data ini menunjukkan pemulihan ekonomi, dana asing bisa kembali.
Sektor Komoditas dan Infra-Telko Bakal Dongkrak IHSG Pekan Ini
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pekan ini diprediksi menguat, menguji level area 7.060-7.080. Penguatan ini antaranya ditopang oleh saham-saham sektor komoditas serta infrastruktur telekomunikasi (Infra-Telko). Saham-saham konsumsi nonsiklik yang tertekan selama pandemi Covid-19, kini juga dinilai mulai layak dikoleksi seiring mobilitas masyarakat yang meningkat. Penaikan agresif Fed fund rate (FFR), ancaman resesi terhadap ekonomi AS, perlambatan ekonomi dunia, dan konflik Rusia-Ukraina, tetap menjadi sentimen dominan yang membayangi aktivitas perdagangan di BEI ke depan. Dari dalam negeri, investor, diperkirakan terus mencermati kemungkinan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan BI-7 Day Reserve Repo Rate pada semester II tahun ini. (Yetede)
Saham BUMN Terkerek Pembangunan IKN
Saham-saham BUMN konstruksi ditutup melesat sepanjang perdagangan Kamis (23/6). Penguatan tersebut seiring dengan rencana pemerintah yang akan memulai konstruksi Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara pada bulan depan. Kenaikan tertinggi dicetak saham PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) yang melesat Rp60 (8,22%) menjadi Rp790,saham PT Wijaya Karya (Persero) Tnk (WIKA) naik Rp45 (4,97%) menjadi Rp950,dan saham PT Waskita Karya (persero) Tbk (WSKT) menguat Rp30 (5,83%), menjadi Rp545. Sehari sebelumnya, Presiden Jokowi telah memastikan peletakan batu pertama pembangunan Istana Presiden, pusat perkantoran, dan fasilitas publik, seperti pendidikan, kesehatan, dan komersial di kawasan Ibu Kota Nusantara akan dilaksanakan Juli 2022.









