Saham
( 1722 )Group Emtek Jual Saham DANA ke Lazada Rp 4,5 Triliun
JAKARTA – PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) melalui anak usahanya, PT Kreatif Media Karya (KMK) menjual kepemilikan saham di PT Elang Andalan Nusantara (EAN) atau DANA kepada Lazadapay Holdings Pte Ltd, senilai total US$ 304,5 juta atau setara \ Rp 4,5 triliun. Pada hari yang sama, Grup Sinar Mas juga menyelesaikan rencana investasi di EAN sebesar US$ 200 juta atau setara Rp 2,97 triliun. Sekretaris Perusahaan EMTK Titi Maria Rusli mengatakan, pada 10 Agustus 2022 KMK telah meneken akta pengalihan saham sejumlah 202 saham seri A dan 4,79 juta saham seri B di EAN dengan Lazadapay Holdings Pte Ltd sebagai pembeli. “Harga penjualan adalah sebesar US$ 304,5 juta,” ujar dia dalam keterbukaan informasi, Kamis (11/8/2022). Titi mengungkapkan, setelah penyelesaian transaksi penjualan saham, kepemilikan saham KMK pada EAN atau DANA akan mengalami penurunan jumlah. “Di lain pihak, KMK akan memperoleh hasil penjualan saham yang akan berpengaruh positif kepada kondisi kas keuangan KMK dan perseroan,” imbuh Titi. (Yetede)
Kinerja Tertekan Penurunan Daya Beli
Meskipun trafik pengunjung di mal kembali naik, kinerja PT Ace Hardware Indonesia Tbk (ACES) masih lesu. Emiten perkakas rumah tangga ini membukukan penurunan pendapatan sebesar 2,36% menjadi Rp 3,31 triliun per akhir Juni 2022.
Sejalan dengan itu, laba bersih ACES menyusut 12,47% year on year (yoy) menjadi Rp 242,40 miliar pada semester I-2022. Analis Mirae Asset Sekuritas Christine Natasya memperkirakan, penurunan kinerja ACES berpotensi berlanjut hingga akhir tahun. Bahkan, laba bersih ACES diramal akan turun 28,8% di akhir 2022. Analis Ciptadana Sekuritas Robert Sebastian mengungkapkan, sebagian besar segmen pendapatan ACES mengalami penurunan.
Dana Asing Masuk Lagi ke Pasar Keuangan
Setelah sempat terjadi capital outflow akibat sentimen kenaikan suku bunga The Fed, dana asing mulai kembali masuk ke pasar keuangan Tanah Air. Di bursa saham, sepekan terakhir asing melakukan net buy Rp 4,71 triliun di pasar reguler.
Investor asing juga mulai melakukan aksi beli di pasar obligasi. Ini tercermin dari naiknya kepemilikan investor asing di surat berharga negara (SBN). Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR), per 8 Agustus, jumlah kepemilikan asing di SBN Rp 761,96 triliun, naik hingga Rp 10,72 triliun dari posisi akhir Juli, Rp 751,24 triliun.
Saham Empat Bank Bakal Moncer Hingga Akhir Tahun
Meski sudah 45 tahun diaktifkan kembali, pasar modal Indonesia dinilai kurang atraktif, terutama bagi pemodal besar dan investor asing. Salah satu penyebab utama adalah minimnya variasi produk. Hingga saat ini, produk yang dijual masih terbatas pada saham, obligasi, dan reksa dana. Sudah lama kalangan investor dan manajer investasi mengharapkan sejumlah produk turunan dari saham dan obligasi seperti stock futures, stock options, foreign exchange futures, foreign exchange option, dan interest rate futures. Selain minim variasi produk, Bursa Efek Indonesia (BEI) dinilai gagal menjadi filter yang baik untuk mendapatkan emiten berkualitas. Sebagian dari 809 emiten yang sahamnya tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (10/08/2022), adalah saham berkapitalisasi kecil, di bawah Rp 5 triliun, yang rawan menjadi saham gorengan. Dari sisi permintaan, jumlah investor baru 9,4 juta. Tidak sebanding dengan jumlah kelas menengah yang sudah mencapai 55 juta atau 20% dari penduduk Indonesia. (Yetede)
RALS Mengejar Kenaikan Pendapatan 20%
Di tengah kenaikan inflasi dan penurunan daya beli masyarakat, PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS) masih optimistis bisa meraup pertumbuhan penjualan sebesar 20% hingga akhir 2022. Ini seiring dengan rencana RALS menambah dua gerai baru lagi pada tahun ini.
Menurut Vice President Director RALS Jane Melinda Tumewu, kuartal III-2021, pembatasan sosial berimbas pada operasional sejumlah gerai RALS. Dus, "Ramayana akan membuka dua gerai baru di semester II-2022 dan membuka gerai yang sempat ditutup sementara," ujarnya kepada KONTAN, Senin (8/8).
Emiten Konsumer Masih Moncer
Daya beli masyarakat mulai merosot. Ini tercermin dari survei Danareksa Research Institute (DRI) terhadap Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) periode Juli 2022. Menilik survei tersebut, IKK Juli 2022 berada di level 89,1 atau turun 2,0% secara bulanan dari 90,9.
Penurunan IKK didorong peningkatan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi dan peningkatan tarif listrik. Kenaikan harga pangan pada Juli, seperti cabai dan bawang, ikut menekan keyakinan konsumen.
Di tengah anjloknya IKK, kinerja emiten sektor barang konsumsi diyakini masih moncer. Muhammad Nafan Aji Gusta Utama, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, menilai, geliat mobilitas penduduk dan akselerasi vaksinasi ikut mendorong prospeknya kinerja emiten konsumsi.
BERBURU CUAN SAHAM ANYAR
Gelombang aksi go public terus berlanjut di lantai bursa. Momentum pasar modal yang sedang menanjak membuat ‘kontes kecantikan’ emiten untuk memikat investor kian menarik. Tak ayal, kondisi tersebut diyakini dapat dimanfaatkan investor untuk mendapatkan saham-saham yang menjanjikan. Kabar terbaru, pada tanggal cantik 8 Agustus 2022 alias hari ini, empat emiten anyar melantai di Bursa Efek Indonesia. Mereka yaitu PT Mora Telematika Indonesia Tbk. (MORA) yang menggalang dana hasil initial public offering (IPO) Rp1 triliun, PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk. (ELPI) Rp222,4 miliar, PT Kusuma Kemindo Sentosa Tbk. (KKES) Rp31,5 miliar, dan PT Estee Gold Feet Tbk. (EURO) Rp35 miliar. Kehadiran mereka membuat total emiten anyar yang melantai di Bursa Efek Indonesia sejak awal tahun mencapai 38 perusahaan. Jumlah tersebut kian mendekati target otoritas bursa yang membidik tambahan 55 emiten baru pada 2022. Selain emiten baru tersebut, PT Klinko Karya Imaji Tbk. (KLIN), PT Segar Kumala Indonesia Tbk. (BUAH), dan PT Rohartindo Nusantara Luas Tbk. (TOOL) juga bakal listing pada Selasa (9/8). Menariknya, sejumlah perusahaan pendatang baru terafiliasi dengan konglomerasi atau taipan. Sebut saja MORA yang terkait dengan Grup Sinar Mas karena sebagian sahamnya digenggam oleh anak usaha PT Smartfren Telecom Tbk. (FREN).
Bonus Saham bagi Bos Bankir Segera Cair
Sejumlah direksi dan komisaris bank besar mulai merealisasikan bonus atas kinerja moncer mereka sepanjang tahun lalu. Seperti Bank Mandiri membagikan bonus saham sebanyak 6,59 juta untuk 12 anggota direksi dan lima anggota dewan komisaris pada 29 Juli lalu. Dengan harga rata-rata pembelian Rp 8.076,69 per saham, nilai bonus saham Bank Mandiri direksi dan komisaris itu mencapai Rp 53,25 miliar. Bank Rakyat Indonesia (BRI) mengalokasikan bonus dan tentiem 2021 untuk direksi dan komisaris, yakni Rp 475,5 miliar
Waspadai Sentimen Geopolitik
Suhu geopolitik belakangan kian memanas. Kunjungan Ketua DPR Amerika Serikat Nancy Pelosi ke Taiwan telah memantik reaksi negatif dari China. Merespons lawatan Pelosi itu, Kementerian Pertahanan China melayangkan peringatan keras untuk meluncurkan operasi militer gabungan di dekat Taiwan. Aksi ini menjadi sinyal serius kepada Taiwan yang terus meningkatkan gelagat separatisme, juga kepada Amerika Serikat yang secara terang-terangan menunjukkan dukungan disintegrasi. Kita tentu prihatin dengan situasi ini, terlebih konflik Rusia dan Ukraina juga tak kunjung mereda. Rivalitas yang sarat dengan kepentingan negara-negara kuat di dunia ini perlu dikelola dengan baik. Jika tidak, pengaruhnya akan berdampak buruk terhadap ekonomi global. Seperti kita ketahui, invasi Rusia ke Ukraina saja telah mendorong ekonomi dunia ke tepi jurang. Inflasi di Amerika Serikat, salah satunya, yang naik secara progresif dan menjadi yang tertinggi sejak 1981 telah memicu sikap hawkish The Fed. Bank sentral Amerika Serikat itu telah dua kali mengatrol suku bunga sebanyak 75 basis poin dan memberikan sinyal kenaikan lagi pada pertemuan September mendatang. Kita tentu tidak bisa menutup mata bahwa situasi geopolitik yang memanas di Asia Timur itu bakal merambat negatif ke pasar modal di dalam negeri. Padahal, kinerja indeks harga saham gabungan atau IHSG sedang berada dalam tren positif.
Kinerja Grup Astra Naik Dua Kali Lipat
Hampir semua lini bisnis PT Astra International Tbk (ASII) mencatatkan kinerja kinclong di semester I-2022. Bahkan, investasi di PT Goto Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) turut mendongkrak laba.
"Pada semester pertama tahun 2022, Grup Astra mencatatkan kinerja yang baik pada hampir semua divisi bisnis, didukung membaiknya kondisi ekonomi dan meningkatnya harga komoditas secara signifikan," tulis Djony Bunarto Tjondro, Presiden Direktur ASII, dalam rilisnya, Kamis (28/7).









