Pupuk
( 107 )Konflik Laut Merah Hambat Impor Bahan Baku Pupuk
Konflik di Laut Merah menyebabkan impor bahan baku pupuk
terhambat. Padahal, Indonesia tengah membutuhkan pupuk saat produksi beras
tahun ini diperkirakan turun akibat dampak perubahan cuaca. Di tengah kondisi
itu, PT Pupuk Indonesia (Persero) menjamin produksi pupuk nasional tetap
berjalan baik. Stok pupuk yang
dibutuhkan petani masih berlimpah dan stok bahan baku pupuk sudah ditambah.
Direktur PT Pupuk Indonesia (Persero) Rahmad Pribadi, Kamis (21/3) mengatakan,
perseroan beserta sejumlah anak perusahaan yang bergerak di industri pupuk
mengimpor bahan baku pupuk rata-rata 2,5 juta ton per tahun. Bahan baku pupuk
berupa kalium terutama diimpor dari Rusia, sedangkan fosfat dari Mesir dan
Jordania.
Akibat konflik di Laut Merah, impor bahan baku pupuk tersebut
terhambat. Serangan kelompok Houthi terhadap sejumlah kapal dagang yang
melewati Laut Merah menyebabkan banyak kapal barang memindahkan rute melalui
Tanjung Harapan, Afrika. Menurut Rahmad, waktu perjalanan kapal, termasuk pengangkut
bahan baku pupuk dari negara asal menuju Indonesia, bertambah dari 15 hari
menjadi 23-29 hari karena tidak melewati Terusan Suez. Biaya transportasi laut juga
naik 30 %. ”Bahkan, sejumlah kapal yang tetap memilih melewati Terusan Suez
menaikkan biaya asuransi hingga tujuh kali lipat,” ujarnya ketika dihubungi dari
Jakarta. Kendati begitu, Rahmad menegaskan, Pupuk Indonesia menjamin produksi
dan distribusi pupuk NPK dan urea nasional tetap berjalan baik. (Yoga)
INOVASI PETANI, Bersiasat dengan Pupuk dan Pestisida Organik
Ketika alokasi pupuk bersubsidi berkurang, harga pestisida
kimia bikin pusing, dan hama menyerang, sejumlah petani di Cirebon, Jabar,
tetap tenang. Mereka bersiasat dengan pupuk dan pestisida organik. Namun,
perjuangan petani untuk mandiri masih panjang. Rojai (49) tersenyum menunjukkan
drum biru berisi urine sapi yang telah melalui fermentasi di kandang miliknya
di Desa Tegalkarang, Palimanan, Cirebon, Rabu (28/2). Bagi orang lain, urine
itu bau dan kotor. Tapi, bagi Rojai, kencing sapi itu menghasilkan cuan.
Bagaimana tidak, urine itu menjadi bahan utama pupuk organik cair (POC) untuk
membantu pertumbuhan tanaman. Ia menjual POC itu dengan harga Rp 20.000 per
liter. ”Ini kalau dijual, harganya Rp 2 juta,” kata Rojai tentang wadah berisi
100 liter urine itu. Kumpulan urine tersebut berasal dari 10 sapi yang buang
air tiga hari.
Artinya, selama itu, ia bisa meraup uang yang hampir
menyentuh upah minimum kabupaten, yakni Rp 2,4 juta per bulan. POC buatan Rojai
jauh lebih murah dibandingkan harga pupuk cair kimia yang berkisar Rp 60.000-Rp
90.000 per liter. Meski demikian, POC bukan berarti murahan. Sawah yang memakai
pupuk itu batang dan daun padinya tampak hijau. Tanahnya mudah ditanami, subur.
”Urine sapi itu mengandung pestisida. Jadi, enggak usah beli obat (pestisida
kimia) lagi, larang (mahal),” ucap Ketua Kelompok Ternak Jaya itu. POC biasanya
disemprotkan ke sawah saat tanam dengan interval 10 hari berikutnya. Dalam 1
hektar, kebutuhan POC minimal 5 liter. Tidak hanya urine ternak, Rojai juga mengolah
kotoran sapi menjadi pupuk kompos. Ia bahkan memiliki kemasan khusus pupuk
organik padat dengan merek Supersonik. Harganya hanya Rp 2.000 per kg, lebih
murah daripada pupuk kimia yang bisa belasan ribu rupiah. (Yoga)
KETAHANAN PANGAN : Memperkuat Industri Pupuk Nasional
Krisis pangan yang melanda hampir di seluruh belahan dunia beberapa waktu belakangan membuat pemerintah ketar-ketir terhadap ketahanan pangan nasional. Pabrik amonium nitrat yang semula ditujukan kepada industri bahan peledak pun diminta untuk bisa digunakan oleh industri pupuk. Besarnya impor bahan baku pupuk menjadi perhatian pemerintah di tengah ketatnya pasokan pangan dunia. Alasannya, pupuk merupakan aspek penting untuk menjaga ketahanan pangan nasional. Kendala pupuk pun berimbas pada langkah impor bahan pangan. Keberadaan pabrik amonium nitrat milik PT Kaltim Amonium Nitrat di Bontang, Kalimantan Timur diharapkan membuka jalan bagi Indonesia mengurangi impor bahan baku pupuk dan pangan.
Untuk diketahui, pabrik amonium nitrat dengan investasi sekitar Rp1,2 triliun itu awalnya ditujukan kepada industri bahan peledak. Bahkan, pabrik tersebut telah mendapatkan permintaan untuk kegiatan pertambangan di Kalimantan Timur. Kepala Negara pun meminta Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menambah investasi pabrik amonium nitrat agar tidak perlu lagi melakukan impor. Harapannya, pasokan bahan baku pupuk di dalam negeri tidak lagi terganggu saat terjadi ketidakpastian global, seperti saat meningkatnya ketegangan geopolitik Rusia-Ukraina.
Menteri BUMN Erick Thohir menjelaskan bahwa industri pupuk memiliki karakteristik yang berbeda dengan sektor lain karena industri hilirnya lebih dulu terbentuk dibandingkan dengan hulu.
Keberadaan pabrik yang dibangun oleh perusahaan patungan PT Pupuk Kaltim dan PT Dahana Investama Corp itu dinilai cukup strategis, karena bakal memproduksi amonium nitrat sebanyak 75.000 ton per tahun. Jumlah tersebut belum termasuk asam nitrat yang bisa digunakan oleh industri pertahanan dan pupuk. Amonium nitrat merupakan bahan baku utama produksi bahan peledak, sehingga diperlukan jaminan suplai yang memadai untuk menjaga keberlangsungan operasional perusahaan.
Sejalan dengan pengembangan industri pupuk di Tanah Air, Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi mengatakan bahwa pihaknya berencana untuk membangun dua pabrik pupuk NPK berbasis nitrat untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri.
Menurutnya, masing-masing pabrik tersebut bakal memiliki kapasitas produksi 100.000 ton pupuk NPK per tahun sehingga diharapkan bisa menopang ketahanan pangan nasional. Alasannya, pabrik NPK di Jawa Barat ditargetkan rampung tahun ini, disusul pabrik NPK di Bontang pada tahun berikutnya.
Pabrik di Bontang Diharapkan Dapat Tekan Impor Amonium Nitrat
Presiden Jokowi mengungkapkan kegembiraannya saat meresmikan
pabrik amonium nitrat di Bontang, Kaltim. Pabrik tersebut diharapkan berperan penting
untuk mendukung kemandirian Indonesia dalam menyediakan bahan baku industri
pupuk ataupun industri pertahanan. ”Saya senang pabrik ini selesai, nanti bisa
menambah bahan baku pembuatan pupuk di Tanah Air, utamanya NPK (pupuk yang
mengandung unsur utama nitrogen, fosfor, dan kalium),” kata Presiden Jokowi saat
memberikan sambutan pada peresmian PT Kaltim Amonium Nitrat di Kota Bontang,
Kamis (29/2). Peresmian itu ditandai dengan penekanan sirene. Kehadiran pabrik
ini, menurut Presiden Jokowi, sangat penting karena akan menentukan kemandirian
Indonesia dalam penyediaan pupuk dan keberlanjutan produksi pangan.
Sebab, saat krisis pangan, semua negara mengerem ekspor bahan
pangan, seperti gandum dan beras. ”Artinya, pangan ke depan menjadi sangat
penting bagi semua negara. Dan, produktivitas pangan kita memerlukan pupuk,”
ujar Presiden Jokowi. Masalahnya, beberapa bahan baku pupuk masih diimpor. Indonesia,
menurut Menteri BUMN Erick Thohir dalam laporannya, memerlukan amonium nitrat 560.000
ton per tahun. Sejauh ini, baru 79 % atau 300.000 ton yang dapat dipenuhi oleh
pabrik-pabrik amonium nitrat dalam negeri. Sisanya 21 % amonium nitrat masih
dipenuhi dari impor. (Yoga)
Usut Tuntas Penyelewengan Pupuk Subsidi
Distribusi Pupuk Subsidi Picu Krisis Beras
Pupuk Mahal dan Langka Picu Lonjakan Harga Beras
Berharap pada Pupuk Organik
Penanaman Padi Diakselerasi
Pemerintah menyiapkan empat solusi untuk mempercepat
penanaman tanaman pangan, khususnya padi dan jagung, demi meningkatkan
produksi. Solusi yang dimaksud adalah pompanisasi, optimalisasi lahan rawa,
insentif benih gratis, dan penambahan pupuk. Mentan Amran Sulaiman mengemukakan
hal itu di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (13/2). ”Tadi, kami
dipanggil Presiden. Beliau menanyakan perkembangan tanaman, khususnya padi dan
jagung,” ujar Amran. Menurut Amran, peningkatan produksi beras harus didorong
lebih cepat karena harga beras dunia dan Indonesia meningkat. Terkait hal itu,
dirumuskan empat solusi untuk mendorong upaya akselerasi.
”Kami laporkan ke Bapak Presiden, (pertama) bagaimana kita
mengairi sawah-sawah di Pulau Jawa dan luar Jawa yang di wilayah itu ada sungai
(besar), seperti Sungai Bengawan Solo. Kita bisa pompa airnya naik ke sawah,
digunakan oleh petani,” ujar Amran. Solusi kedua adalah optimalisasi lahan rawa
yang sebelumnya hanya ditanami satu kali agar bisa ditanami dua dan tiga kali.
”Ketiga adalah kita memberikan insentif benih gratis kepada petani yang mau melakukan
perluasan tanam, contoh padi gogo,” kata Amran. Solusi keempat adalah tambahan
pupuk agar bisa diperoleh petani dengan tepat waktu dan tepat volume. ”Pupuk
tambahan dari Bapak Presiden nilainya Rp 14 triliun, bagaimana ini
direalisasikan dengan cepat,” ujarnya.
Amran menegaskan, produksi mutlak ditingkatkan untuk menurunkan
harga beras. Hal ini bukan hanya menyangkut harga beras Indonesia, melainkan
juga harga beras dunia. ”Kita standing crop sekarang, yang kita tanam sejak
Desember (dan) Januari, lebih kurang 4 juta hektar. Dikali saja dengan produksi,
mudah-mudahan bisa produksi 5-8 ton per hektar,” ujarnya terkait target panen hingga
Maret 2024. Dirut Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi menambahkan, ketersediaan
pupuk menjadi faktor utama dalam upaya peningkatan produksi beras. ”Oleh karena
itu, kita sudah siapkan stok pupuk 2 juta ton, dimana 1,1 juta ton sudah berada di kabupaten-kabupaten, siap
untuk disalurkan,” katanya. Volume pupuk subsidi ini, menurut Rahmad, mencapai
4,7 juta ton. (Yoga)
Manajemen Pupuk Indonesia Harus Dievaluasi
Pilihan Editor
-
Credit Suisse Tepis Krisis Perbankan
17 Mar 2023 -
PARIWISATA, Visa Kedatangan Perlu Diperketat
15 Mar 2023 -
Ratusan Ribu Pekerja Inggris Mogok
17 Mar 2023









