;
Tags

Financial Technology

( 558 )

Jelang Lebaran, Bank Genjot Layanan PayLater

HR1 06 Mar 2025 Kontan
Menjelang Lebaran, perbankan menggenjot penyaluran kredit melalui produk paylater (BNPL) guna memanfaatkan peningkatan konsumsi masyarakat. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat per Januari 2025, kredit paylater perbankan tumbuh 46,45% menjadi Rp 22,57 triliun, berasal dari 22,44 juta rekening pengguna.

Bank Mandiri optimistis transaksi paylater akan naik 20% dibanding periode sebelumnya, terutama melalui aplikasi Livin' by Mandiri. Yanto Masyap, SVP Digital Retail Banking Bank Mandiri, menjelaskan bahwa paylater banyak digunakan untuk transaksi offline di minimarket dan SPBU, serta e-commerce. Bank Mandiri menawarkan bunga 0% untuk tenor 1-3 bulan dan 1,5% per bulan untuk tenor lebih lama.

Bank Central Asia (BCA) juga menargetkan pertumbuhan paylater selama Idulfitri. Hera F. Haryn, EVP Corporate Communication and Social Responsibility BCA, menyebut outstanding paylater BCA tumbuh 195% yoy menjadi Rp 339 miliar per Januari 2025. BCA memberikan bunga 0% untuk tenor 1-3 bulan dan 1,25% untuk tenor 6-12 bulan.

Allo Bank Indonesia juga optimistis dengan kenaikan transaksi paylater 20%-30% selama Ramadan dan Idulfitri, didorong oleh meningkatnya konsumsi masyarakat. Indra Utoyo, Direktur Utama Allo Bank, mencatat pertumbuhan pengajuan paylater mencapai 300% sepanjang 2024, dengan total pinjaman digital yang disalurkan mencapai Rp 5,7 triliun per Januari 2025. Allo Bank menargetkan debitur muda dengan limit kredit hingga Rp 100 juta, yang bisa digunakan untuk transaksi offline via QRIS.

Secara keseluruhan, bank-bank besar semakin agresif mengembangkan layanan paylater, menawarkan bunga rendah hingga 0%, serta memperluas ekosistem transaksi, baik online maupun offline. Hal ini menunjukkan bahwa BNPL masih memiliki potensi besar untuk tumbuh, terutama di tengah meningkatnya tren belanja digital dan konsumsi saat Ramadan.

Permintaan Kredit Naik Menjelang Lebaran

KT3 05 Mar 2025 Kompas

Menjelang momentum Lebaran, permintaan kredit melalui platform buy now pay later (BNPL) dan pinjaman daring oleh masyarakat diperkirakan akan meningkat. Meski tingkat kredit macet saat ini masih berada dalam batas aman, masyarakat dan pelaku usaha diharapkan berhati-hati dan waspada. Berdasar data OJK, penyaluran kredit melalui platform BNPL per Januari 2025 mencapai Rp 26,69 triliun atau tumbuh 44,19 % secara tahunan. Ini terdiri dari BNPL perusahaan pembiayaan sebesar Rp 7,12 triliun dan BNPL perbankan sebesar Rp 22,57 triliun, yang masing-masing tumbuh 41,9 % secara tahunan dan 44,65 % secara tahunan. Sementara, saldo pembiayaan oleh industri pinjaman daring atau fintech peer to peer lending per Januari 2025 tercatat Rp 78,5 triliun atau tumbuh 29,94 % secara tahunan, lebih tinggi dibanding Desember 2024 yang tumbuh 29,14 % secara tahunan.

Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK, Agusman memperkirakan pertumbuhan tersebut akan berlanjut menjelang perayaan hari raya Lebaran, sebagaimana terjadi tahun lalu. ”Kita bisa mempelajari fakta yang pernah terjadi tahun lalu. Dengan membandingkan posisi April 2024 dengan Maret 2024, terlihat bahwa outstanding (saldo) pembiayaan BNPL oleh perusahaan pembayaran mengalami peningkatan. Demikian juga untuk industri pinjaman daring juga meningkat,” katanya dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK Februari 2025, Selasa (4/3). (Yoga)


Sulsel Jadi Pusat QRIS Inklusif untuk Indonesia Timur

HR1 03 Mar 2025 Bisnis Indonesia

Sulawesi Selatan (Sulsel) telah menjadi pionir dalam transformasi digital di Indonesia Timur, dengan fokus pada penggunaan sistem pembayaran digital QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard). Melalui peningkatan infrastruktur digital, literasi teknologi, dan dukungan lembaga keuangan, QRIS telah menjadi pilar utama dalam digitalisasi ekonomi, mempermudah transaksi bagi masyarakat dan sektor usaha. Pada 2024, volume transaksi QRIS di Sulsel meningkat signifikan, dengan 78 juta transaksi dan nominal mencapai Rp10,3 triliun. Pencapaian ini didorong oleh meningkatnya minat konsumen dan kesadaran akan pentingnya pembayaran digital yang aman.

Namun, tantangan seperti penetrasi internet yang belum merata dan rendahnya literasi keuangan digital masih menjadi hambatan. Oleh karena itu, kolaborasi antara Bank Indonesia (BI) Sulsel, pemerintah, dan industri telekomunikasi sangat diperlukan untuk memperkuat infrastruktur dan meningkatkan penggunaan QRIS, terutama di daerah yang lebih terpencil. BI Sulsel juga berencana untuk meningkatkan pengguna QRIS, dengan sasaran 99 juta transaksi pada 2025, serta memperluas cakupan pengguna melalui sektor pariwisata, UMKM, dan komunitas masyarakat.

Melalui adopsi QRIS, Sulsel diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif, dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi daerah mencapai 4,8%—5,6% pada 2025. Dengan mengatasi tantangan infrastruktur dan literasi digital, Sulsel dapat terus menjadi motor penggerak ekonomi digital di Indonesia Timur, berkontribusi pada pemerataan digitalisasi di wilayah tersebut.


Bank Perketat Kredit Channeling ke Fintech Lending

KT1 27 Feb 2025 Investor Daily (H)
Perbankan nasional semakin selektif menyalurkan kredit channelling kepada industri financial technology peer to peer lending (fintech p2p lending) Mengingat, Saat ini banyak P2P lending yang berguguran. Head of Consumer Funding & Wealth Business PT Bank Danamon Indonesia Tbk Ivan Jaya mengatakan bahwa maraknya fintech yang bermasalah saat ini membuat  perseroan cukup ketat melakukan monitoring dalam hal channeling. Hal ini dilakukan untuk menjaga kualitas kredit bank tetap baik kedepannya. "Jadi sebenarnya ada dua atau tiga hal yang penting ya, mengkurasi fintech atau startup tersebut, tentunya kami harus mengetahui bahwa usecase-nya tepat. Makanya yang kami incar itu adalah series A atau series B. Beratri kan secara profitability juga sudah ada," kata Ivan. Berikutnya, di Danamon sendiri memanfaatkan eko sistem grup dalam hal melakukan channeling, sehingga kualitas kreditnya lebih terjamin. Disamping itu, pihaknya juga perketat dengan memilah perusahaan fintech dari sisi kapabilitas founder dalam melakukan terobosan atau inovasi  dalam mengembangkan inovasi. Dengan strategi tersebut, diharapkan dapat membantu perseroan dalam mengantisipasi  naiknya rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) akibat kredit channeling. (Yetede)

Bank Digital Jadi Senjata Baru Bank Besar

HR1 22 Feb 2025 Kontan
Bank-bank besar semakin memperkuat bisnis bank digital untuk memperluas layanan ke segmen yang belum terjangkau. PT Bank Hibank Indonesia, anak usaha BNI, resmi diluncurkan untuk fokus pada kredit UMKM, terutama di sektor supply chain FMCG. Direktur Utama Hibank, Jenny Wiriyanto, menyebut kredit UMKM Hibank tumbuh 37% di 2024 dan ditargetkan naik 40% di 2025, dengan kualitas kredit yang tetap terjaga di bawah 0,7%.

Selain Hibank, bank digital milik BRI, PT Bank Raya Indonesia Tbk, juga menunjukkan pertumbuhan pesat. Direktur Keuangan Bank Raya, Rustati Suri Pertiwi, mengungkapkan bahwa penyaluran dana talangan mencapai Rp 11,88 triliun pada September 2024, tumbuh 69% tahunan, dengan outstanding kredit naik 195%. Sinergi dengan ekosistem BRI Group semakin memperkuat kontribusi Bank Raya dalam bisnis digital.

Sementara itu, anak usaha BCA, PT Bank BCA Digital, juga mencatat lonjakan laba bersih 134,5% secara tahunan menjadi Rp 108,0 miliar. Head of Corporate Planning BCA Digital, Yoga T. Susilo, menyatakan pertumbuhan ini didukung oleh strategi ekspansi dan optimalisasi layanan, dengan jumlah nasabah Blu mencapai 2,4 juta pengguna.

Bank-bank digital ini memanfaatkan ekosistem induk mereka untuk mendorong pertumbuhan kredit dan dana pihak ketiga, menunjukkan bahwa model bisnis digital semakin menjadi kunci bagi perbankan besar.

Ancaman Fintech terhadap Stabilitas Perbankan

HR1 14 Feb 2025 Kontan (H)
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mulai memperingatkan risiko yang meningkat di industri financial technology (fintech) setelah beberapa kasus fraud yang melibatkan platform seperti iGrow, TaniFund, Investree, dan eFishery. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, meminta perbankan untuk menghentikan sementara kredit channeling ke fintech hingga dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola dan kinerjanya.

OJK mencatat bahwa perbankan merupakan sumber pendanaan utama bagi fintech, dengan total pendanaan mencapai Rp 44,77 triliun per November 2024, setara dengan 59,22% dari total pendanaan fintech. Dian mengingatkan agar bank tidak sembarangan menyalurkan kredit ke startup atau fintech demi menjaga stabilitas keuangan.

Saran OJK disambut positif oleh pihak perbankan. Direktur Kepatuhan Bank Oke Indonesia, Efdinal Alamsyah, menegaskan bahwa pihaknya rutin mengevaluasi mitra fintech dan telah menghentikan kerja sama dengan lebih dari 10 fintech yang memiliki NPL tinggi dan banyak komplain nasabah.

Sementara itu, Direktur Keuangan Bank Raya Indonesia, Rustati Suri Pertiwi, menyatakan bahwa pihaknya lebih selektif dalam memilih mitra fintech berdasarkan tingkat NPL, rasio bisnis, dan rencana bisnis. Bank Raya tetap mengembangkan channeling, tetapi bukan sebagai strategi utama.

Direktur Kepatuhan Bank Jago, Tjit Siat Fun, juga menegaskan bahwa Bank Jago secara berkala menyeleksi mitra pembiayaan berdasarkan risiko, tren bisnis, dan perilaku. Saat ini, Bank Jago lebih fokus menyalurkan kredit channeling ke ekosistem Grup Goto.

Dengan meningkatnya risiko di sektor fintech, OJK menegaskan perlunya kehati-hatian dalam pemberian kredit oleh perbankan agar tidak terjadi kerugian yang tidak perlu.

OJK Menargetkan Akan Banyak Bank Bakal Naik Kelas

KT1 13 Feb 2025 Investor Daily
OJK menargetkan akan ada sejumlah bank yang akan naik kelas dari kelompok bank berdasarakan modal inti (KBMI) 3 ke KBMI 4 dalam periode hingga 2028. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Edian Rae mengungkapkan bahwa akan ada bank yang terus meningkatkan permodalannya hingga nantinya naik kelas menjadi bank papan atas dengan modal inti di atas Rp70 triliun. "Kami mengharapkan dalam 2-3 tahun kedepan sudah ada tambahan enam bank lagi yang akan digeser dari KBMI 3 menjadi KBMI 4," ujarnya. Saat ini, baru ada empat bank besar yang masuk katagori KBMI IV. Keempat bank yang saat ini berada di KBMI IV adalah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Central Asia Tbk (BCA), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI). Lebih lanjut Dian menambahkan, masuknya bank-bank yang naik kelas ini akan sangat penting dan berdampak signifikan terhadap perekonomian nasional. Pasalnya, salah satu prinsip dasar pertumbuhan ekonomi suatu bangsa adalah berfungsinya sektor keuangan, termasuk perbankan. (Yetede)

OJK Semakin Serius Mengembangkan Kegiatan Usaha Bullion

KT1 12 Feb 2025 Investor Daily (H)
OJK semakin serius mengembangkan kegiatan usaha bullion untuk menggali potensi dalam mendukung perekonomian nasional. Salah satunya dengan menyiapkan peta jalan (roadmap) terkait bullion bank sampai dengan 2045. Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML) OJK Agusman menjelaskan, ketentuan lembaga jasa keuangan (LJK) untuk bisa memiliki modal inti minimum sebesar Rp 14 triliun untuk bisa menjalankan lima kegiatan usaha bullion. Adapaun, lima kegiatan bullion bank antara lain gold financing, gold trading, gold custady, dan atau aktivitas lainnya. Menurut Agusman, selama ini emas belum pernah diintermediasi. Padahal, potensinya sangat luar biasa dan dapat mendukung perumbuhan ekonomi nasional. Pihaknya menjelaskan bahwa saat ini baru Penggadaian yang resmi menjalankan kegiatan bullion bank, lantaran Pengadaian yang paling siap dibandingkan dengan yang lainnya. "Karena ini baru dikenal, yang baru mengajukan itu Penggadaian. Nanti kalau roadmap sudah ada akan semakin jelas tentu industri bisa hitung seberapa siap mereka, ini sangat-sangat baru, dan penggadaian sudah lebih awal," imbuh dia. (Yetede)

OJK: Jasa Keuangan Hadapi Ujian Ketidakpastian Global

KT3 12 Feb 2025 Kompas
Setelah mencatatkan kinerja positif pada 2024, sektor jasa keuangan dihadapkan pada sejumlah dampak dari risiko ketidakpastian global pada 2025. Program prioritas pemerintah dapat menjadi peluang bagi industri jasa keuangan untuk tetap berdaya tahan. Di tengah ketidakpastian global, pertumbuhan ekonomi sepanjang 2024 tercatat 5,03 persen secara tahunan. Sejalan dengan itu, indikator kinerja sektor dasar keuangan tetap positif didukung oleh permodalan yang solid, likuiditas yang mencukupi, serta profil risiko yang terkelola dengan baik. Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar menyampaikan, indikator likuiditas berada di atas ambang batas minimum dengan solvabilitas terpantau solid.Bahkan, sektor perbankan mencatat rasio permodalan (capital adequacy ratio/CAR) sebesar 26,69 persen atau tertinggi di antara negara-negara kawasan. ”Kondisi ini tentunya merupakan modalitas bagi sektor jasa keuangan untuk tetap berdaya tahan dalam menghadapi kerentanan dan guncangan eksternal,” katanya saat memberikan sambutan dalam Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan (PTIJK) 2025 di Jakarta, Selasa (11/2/2025).

Pada kesempatan itu, Mahendra Siregar bersama jajaran anggota Dewan Komisioner OJK meluncurkan Sistem Informasi Pelaku (Sipelaku) dan Indonesia Anti-Scam Center (IASC). Sistem informasi tersebut untuk mencegah penipuan (fraud) di sektor jasa keuangan. Ketahanan industri jasa keuangan ini, lanjut Mahendra, tecermin dari industri perbankan yang pada Desember 2024 tercatat menyalurkan kredit senilai Rp 7.827 triliun atau tumbuh sesuai target 9-11 persen, yakni 10,39 persen secara tahunan. Sementara itu, penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 4,48 persen secara tahunan. Di sisi lain, penghimpunan dana di pasar modal pada 2024 tercatat Rp 259,24 triliun, melampaui target Rp 200 triliun. Dari sisi permintaan, jumlah investor pasar modal tumbuh enam kali lipat dalam lima tahun terakhir menjadi 14,87 juta investor. Kendati demikian, tantangan dari ketidakpastian global masih berlanjut pada 2025 yang eskalasinya berpotensi meningkat. Hal ini, antara lain, tecermin dari laju pertumbuhan ekonomi global yang diproyeksikan terbatas, perlambatan normalisasi suku bunga negara maju, serta divergensi pemulihan ekonomi yang akan berpengaruh terhadap arus modal. Dari sisi domestik, perekonomian Indonesia menghadapi tantangan struktural terkait penyerapan tenaga kerja sektor formal dan pemulihan daya beli masyarakat, khususnya kelompok menengah bawah.

Oleh sebab itu, dibutuhkan langkah transformatif guna mencapai target pertumbuhan yang diharapkan. ”Oleh karena itu, kami menyambut berbagai program prioritas dan inisiasi pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ke level yang lebih tinggi dan mencapai visi Indonesia Emas. Kami mengambil serangkaian langkah kebijakan prioritas yang sejalan dengan langkah pemerintah untuk mengakselerasi pertumbuhan,” ujar Mahendra. Ia menambahkan, sektor jasa keuangan berkomitmen untuk berkontribusi secara optimal dalam mendukung pencapaian target program prioritas pemerintah. Dukungan program Makan Bergizi Gratis dan ketahanan pangan, misalnya, diberikan melalui kemudahan akses pembiayaan dan penjaminan khusus kepada petani serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), termasuk produk asuransi parametrik. Selain itu, sektor jasa keuangan juga akan mendukung pembangunan 3 juta hunian bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Caranya, antara lain, dengan mempermudah akses penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR). Penyaluran pembiayaan tersebut dilakukan dengan penilaian kualitas aset berdasarkan satu pilar, pengenaan bobot risiko rendah, serta tidak melarang pengajuan KPR bagi debitor nonlancar. Partisipasi perbankan Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan, industri perbankan diharapkan dapat berpartisipasi dalam program-program pemerintah, termasuk hilirisasi dan UMKM. (Yoga)
\

PayLater: Kemudahan atau Ancaman?

HR1 08 Feb 2025 Bisnis Indonesia (H)

fenomena penggunaan paylater yang semakin populer di kalangan Generasi Z dan Alpha, yang memanfaatkan kemudahan akses teknologi untuk membeli barang dan layanan dengan cicilan tanpa bunga. Meski memberikan kemudahan, kebiasaan ini berisiko menyebabkan masalah keuangan jangka panjang, terutama bagi mereka yang belum memiliki perencanaan keuangan yang matang. Kekhawatiran utama adalah rendahnya pemahaman tentang risiko utang dan penyetujuan kredit yang cepat tanpa pemeriksaan yang cukup, yang dapat berujung pada penumpukan utang dan merusak riwayat kredit.

Fenomena ini tercermin dalam data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang menunjukkan adanya 17,9 juta pengguna paylater di Indonesia hingga Agustus 2024, dengan total kredit outstanding mencapai Rp18,01 triliun. Di balik pertumbuhan pesat ini, ada pula peningkatan risiko kredit macet dengan tingkat non-performing loans (NPL) sebesar 2,24%. Faktor lain yang memperburuk keadaan adalah fenomena Fear of Missing Out (FOMO), yang mendorong perilaku konsumtif impulsif di kalangan anak muda.

Melihat pengalaman negara-negara seperti Australia, Inggris, dan Singapura yang telah lebih dulu mengatasi masalah ini, regulasi dan edukasi keuangan menjadi kunci untuk mencegah dampak buruk dari paylater. OJK di Indonesia diharapkan dapat mengadopsi kebijakan serupa, seperti Responsible Lending Obligations (RLO) dari Australia dan BNPL Code of Conduct dari Singapura, serta memperkuat literasi keuangan dengan program edukasi yang lebih luas dan melibatkan influencer serta kementerian pendidikan. Dengan pendekatan ini, generasi muda bisa lebih memahami risiko dan menikmati manfaat teknologi keuangan digital tanpa terjebak dalam utang yang tidak terkendali.