Financial Technology
( 558 )PENGUATAN MODAL FINTECH : OJK RESTUI PINJOL MELANTAI DI BURSA
Otoritas Jasa Keuangan merestui platform financial technology peer-to-peer lending atau pinjaman online melakukan initial public offering di Bursa Efek Indonesia untuk memperkuat permodalannya. Agusman, Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengatakan bahwa penguatan permodalan di industri financial technology atau fintech peer-to-peer lending dapat dilakukan oleh pemegang saham. “Tidak ditutup kemungkinan melalui IPO di Bursa Efek Indonesia, dan dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku,” katanya, dikutip Jumat (8/12). Berdasarkan data OJK per 30 November 2023, masih terdapat 23 penyelenggara pinjaman online atau pinjol yang belum memenuhi ketentuan pemenuhan ekuitas minimum sebesar Rp2,5 miliar. Di sisi lain, Agusman menyebut bahwa sejauh ini belum ada pemain peer-to-peer lending yang mengajukan diri untuk melantai di Bursa. “Sampai dengan saat ini belum ada peer-to-peer lending yang melakukan IPO melalui bursa efek,” ujarnya. Dalam kesempatan terpisah, Edi Setijawan, Kepala Departemen Pengawasan Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK mengatakan bahwa sejauh ini sebagian besar sumber pendanaan perusahaan fintech masih berasal dari investor korporasi, sehingga regulator mendorong pemain untuk meraih pendanaan dari investor ritel. “ we’ll see. Ada , we’ll see. Tergantung market-nya, karena kami maunya evaluasinya kami apa adanya,” kata Direktur Utama AdaKami Bernardino M. Vega beberapa waktu lalu. Meski demikian, Dino —panggilan akrabnya— enggan membeberkan kapan AdaKami akan melantai di pasar modal. Sebab, kata dia, untuk melantai di pasar modal memerlukan banyak faktor yang perlu dipertimbangkan. Berdasarkan catatan Bisnis, usai OJK mengumumkan induk usaha fintech PT Akseleran Keuangan Inklusif Indonesia (Akseleran), PT Akselerasi Usaha Indonesia Tbk. (AKSL) telah mengantongi pernyataan pra-efektif per 27 Juni 2023, manajemen AKSL memutuskan untuk menunda IPO hingga Juni 2024. Saat itu, perusahaan menyatakan tengah menjalani proses penawaran umum perdana saham dan berencana untuk menjadi perusahaan terbuka yang tercatat di Bursa Efek Indonesia pada 9 Agustus 2023. Group CEO & Co-Founder Akseleran Ivan Nikolas Tambunan mengungkapkan bahwa penundaan IPO tersebut dikarenakan perusahaan membutuhkan waktu lebih panjang untuk mendapatkan strategic investor yang tepat untuk dapat mendukung rencana perusahaan di masa mendatang. Adapun, Direktur Center of Economics and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adhinegara menyebut industri fintech lending membutuhkan momentum agar dapat melantai di pasar modal. Momentum itu pun dapat terlihat dari sisi kualitas pinjaman fintech yang harus menunjukkan perbaikan.
Pemain Pinjol Janji Jaga Rasio Kredit Macet
Mencari Keseimbangan Pengaturan Pinjaman ”Online”
Pada awal November 2023, OJK meluncurkan Peta Jalan
Pengembangan dan Penguatan Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi
Informasi 2023-2028. Langkah ini sebagai upaya pengembangan dan penguatan
industri layanan pendanaan bersama berbasis teknologi informasi atau lebih umum
dikenal sebagai fintech pinjaman online. Peta jalan itu merupakan kolaborasi
dari OJK, Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI), serta kalangan
akademisi dan pengamat ekonomi Indonesia. Kualitas penyaluran pinjaman
teknologi finansial (tekfin) membaik seiring dengan pemulihan ekonomi dan
meningkatnya kolaborasi dengan perbankan sebagai pemberi pinjaman. Berdasarkan
laporan OJK, saldo pinjaman online periode September 2023 tercatat Rp 55,7
triliun atau naik 14,28 % secara tahunan (yoy) dengan tingkat wanprestasi (TWP
90) 2,82 %. Secara kumulatif, tekfin pinjaman telah menyalurkan Rp 677,51
triliun dari 1,13 juta pemberi pinjaman kepada 119,7 juta penerima pinjaman.
Tekfin pinjaman online menggunakan inovasi digital untuk
meningkatkan skalabilitas, mengubah model bisnis, dan memperbaiki manajemen
risiko. Jika dimanfaatkan dengan baik, mendukung pertumbuhan dan inklusi keuangan
nasional. Beberapa aspek dapat dijadikan pertimbangan OJK mengatur pinjaman
online : Aspek pertama adalah keseimbangan literasi dengan inklusi keuangan
masyarakat. Survei Nasional Literasi dan Inklusi keuangan oleh OJK pada 2022
menunjukkan, Indeks Literasi Keuangan kita 48,68 %, sementara Indeks Inklusi
Keuangan jauh lebih tinggi di level 85,1 %. Kesenjangan indeks literasi dan
inklusi harus menjadi pertimbangan OJK dalam mengatur seberapa ketat industri
pinjaman online. Aspek kedua adalah keseimbangan peran tekfin pinjaman online
terhadap perbankan dan lembaga pembiayaan lainnya. Aspek ketiga adalah
keseimbangan kemampuan manajemen dan pertumbuhan industri. Kebanyakan tekfin pinjaman
online mulai dari level perusahaan rintisan alias start up dengan manajemen
relatif muda yang belum semapan perbankan. Aspek keempat adalah keseimbangan
kepentingan bersama dan kepentingan individual pelaku industri. Pengaturan OJK
hendaknya mendorong kolaborasi yang efektif untuk menekan biaya kredit,
operasional, dan dana. (Yoga)
Startup Aplikasi Emas Semakin Berkilau
Bisnis emas memang tak pernah hilang berkilau. Aplikasi jual beli emas sudah makin banyak. Platform ini bisa pengguna manfaatkan untuk membeli emas secara fisik atau sebagai tabungan emas. Transaksi
startup
emas pun semakin melejit. Salah satu kelebihan dari aplikasi ini adalah kemudahan dalam berinvestasi emas.
DARI zaman dahulu sampai era digital sekarang, investasi emas ternyata masih menjadi pilihan utama masyarakat. Lebih lagi, harga emas cenderung naik.
Hal ini yang membuat bisnis perusahaan rintisan atau
startup
emas juga terus terangkat. Sebut saja, Treasury. COO & Co-Founder Treasury Andreas Santoso menyebutkan, hingga kini, jumlah pengunduh atau
downloader
aplikasi Treasury sudah mencapai lebih dari dua juta unduhan.
Angka penjualan emas di Treasury per bulan pun termasuk besar. Sayangnya, Andreas belum bisa membuka berapa besar angka penjualan emas di aplikasi Treasury saban bulan.
Beberapa layanan di Treasury, seperti Transfer Emas, Waris, dan Cetak Emas Fisik dalam keping emas Antam dan UBS. Andreas mengatakan, layanan yang paling banyak
user
minati ialah beli dan jual emas. Dalam aplikasi Treasury, pengguna juga akan mendapat
update
harga emas secara
real time.
Ada juga Pluang yang merupakan perusahaan rintisan aplikasi investasi multi-aset, yang juga menawarkan investasi emas digital. Berinvestasi emas digital di Pluang bisa mulai Rp 10.000. Saat beli emas lewat platform ini, emas akan tersimpan dalam bentuk saldo. Pengguna Pluang bisa menarik emas fisik yang Antam produksi mulai dari 1 gram dan kapan saja.
"Setidaknya, ada pertumbuhan saldo emas pengguna per tahun mencapai lebih dari 40%. Ini menjadi bukti emas sebagai aset investasi yang tetap relevan bagi investor di tengah volatilitas pasar," tutur Kartika Dewi,
Head of Corporate Communications
Pluang.
Mereka yang Menikmati Manisnya Dana Pinjol untuk Pengembangan Usaha
Jasuta (55) dan Suryanah (53), menjalankan usaha membuat
tempe yang dirintis pada 2005 di Kelurahan Curug Manis, Serang, Banten.
”Orang-orang bilang, tempe saya ini lebih awet, 3-4 hari, setelah dibeli, Jadi
ya mungkin di cari orang,” kata Suryanah tersenyum, Jumat (10/11). Suryanah berkeinginan mengembangkan usahanya.
Pada 2015 ia mengajukan kredit usaha ke bank konvensional. Dua kali ia meminjam
dana Rp 10 juta dengan tenor masing-masing 1,5 tahun. Seingatnya, cicilannya Rp
700.000 per bulan. Tahun 2018, kampungnya dikunjungi Amartha yang kemudian
menawarkan pinjaman daring untuk kalangan UMKM. Suryanah pun tertarik. Berbekal
persetujuan keluarga, ia mengambil pinjaman pertama dari Amartha sebesar Rp 2
juta.
Sekarang ia tengah menyelesaikan pinjaman kelimanya dalam
lima tahun terakhir, senilai Rp 12 juta. Skema cicilan per minggu membuatnya
merasa nyaman. Siklus produksi dan penjualan tempenya yang harian membuat ia
lebih mudah menyisihkan dana untuk membayar cicilan mingguan ketimbang bulanan.
Suryanah mengakui penghasilan hariannya tak menentu. Jika target omzetnya per
hari Rp 1,5 juta-Rp 2 juta meleset, ia kekurangan modal untuk berproduksi
kembali. Harga kedelai berkisar Rp 13.000 per kg. Rata-rata ia butuh 40-80 kg
kedelai per hari sehingga setiap hari ia butuh Rp 500.000 sampaiRp 1 juta untuk
modal membuat tempe. ”Kalau ada duit pinjaman, saya bisa beli kedelai untuk
modal bikin tempe,” katanya. Suryanah tak berhenti memikirkan cara untuk
mengembangkan usahanya. Ia belajar cara pembuatan tahu. ”Kalau saya berhasil
mencoba bikin tahu, ya saya akan ngambil pinjaman lagi,” ujarnya semringah. (Yoga)
PINJAMAN DARING, Kredit Macet Tertinggi di Lima Provinsi
Data Statistik Tekfin Pendanaan dari OJK mengungkap,
pertumbuhan penyaluran pinjaman daring atau pinjol meningkat selama beberapa
tahun terakhir. Angkanya lebih tinggi disbanding lembaga pendanaan konvensional.
Pertumbuhan penyaluran kredit pinjol yang tajam sejalan dengan kenaikan kredit
macet. Jumlah kredit macet pinjol yang dikenal dengan istilah TWP 90 atau
tingkat wanprestasilebih dari 90 hari ini hampir berlipat ganda sejak Januari 2021.
Di tingkat provinsi, TWP 90 tertinggi ditemukan di NTB yang mencapai 6,7 % per
Juli 2023, disusul Banten 4,9 %, Jabar 4,1 %, Jatim 3,7 %, dan Jateng 3,3 %.
Hal serupa terlihat di periode Januari 2021 dan Juni 2023.
Kadis Koperasi dan UMKM Provinsi NTB Ahmad Masyhuri
mengakui, pinjol menjadi salah satu persoalan di daerahnya. ”Tidak ada yang
bisa mengatakan telah tuntas kita perangi, kami mengharapkan pinjol tidak
menjalar ke mana-mana,” kata Masyhuri. Infrastruktur telekomunikasi menjadi
faktor pendorong warga mengenal keuangan digital. ”Untuk memasarkan pinjol atau
digitalisasi keuangan secara umum tidak menjadi soal. Tinggal konsumen yang memilih,”
kata Masyhuri. Sejalan dengan peningkatan kredit macet, angka penambahan utang
berjalan di lima provinsi itu juga meningkat. Utang berjalan di Jabar, per
Januari 2021-Juli 2023, meningkat 268 %, disusul Jatim 254 %, Jateng 238 %,
Banten 221 %, dan NTB 168 %. Total nilai utang berjalan secara nasional
mencapai Rp 56 triliun. (Yoga)
Iklan Pinjol Harus Dikendalikan
Orang mudah tergiur untuk meminjam uang dari platform pinjaman
daring atau pinjol. Mereka melakukan itu karena melihat tawaran kemudahan dari
iklan. Penerima pinjaman daring selama dua tahun terakhir didominasi kelompok
usia kurang dari 35 tahun. Mereka menggunakan dana pinjaman untuk hal-hal
konsumtif. Meski bergaji rendah, sifat konsumtif generasi muda menjadikan mereka
sasaran utama penyaluran pinjol.
Analisis Tim Jurnalisme Data Harian Kompas menemukan, ada peningkatan 5,3 %
jumlah peminjam pinjol yang tidak lancar dan macet di atas 30 hari pada
kelompok usia 17 hingga 34 tahun ini (Kompas, 22/11). Otoritas tentu sudah melakukan
berbagai cara agar keberadaan platform memberi kemudahan dan sekaligus memberi pelindungan kepada nasabah
pinjaman daring. Mereka juga memberi rambu-rambu soal keamanan dalam
bertransaksi di berbagai platform teknologi finansial (tekfin). Akan tetapi, berbagai
upaya itu sepertinya belum mencukupi.
Berbagai kasus memperlihatkan bahwa orang dengan dengan hasilan rendah, yang kemudian
berhadapan dengan sejumlah masalah finansial, langsung tertarik dengan pinjaman
daring karena melihat iklan-iklannya di berbagai kanal. Sebagian besar iklan
pinjaman daring menawarkan banyak kemudahan dan menggiurkan. Beberapa isi iklan
itu antara lain kemudahan untuk meminjam, kemudahan mendapatkan pinjaman, dan
suku bunga yang disebut lebih rendah (dibandingkan dengan platform lain). Dengan
cara pemasaran digital yang bisa menyasar target dengan lebih akurat, iklan-iklan
pinjaman daring berdampak signifikan terhadap kinerja bisnis mereka. Tidak
mengherankan, mereka jorjoran mengeluarkan belanja pemasaran. Selama periode
Januari- Agustus 2023, rata-rata porsi dana iklan dan pemasaran dari 101
perusahaan fintech lending yang terdaftar di OJK mencapai 34,7 %, dengan nilai Rp
1,3 triliun atau Rp 13,2 miliar per perusahaan, meningkat 6 % dibandingkan periode
yang sama pada 2022 di 28,7 % atau Rp 8,6 miliar per perusahaan. Mereka tentu
berharap mendapatkan peminjam dalam jumlah besar dan dalam waktu singkat. (Yoga)
STRATEGI PINJOL BERIZIN, Dana Promosi Makin Besar, Keuntungan Meroket Sepuluh Kali Lipat
Kehadiran perusahaan teknologi finansial atau tekfin
tergolong paling akhir dibandingkan dengan lembaga pendanaan konvensional lain.
Sebagai pendatang baru, tekfin pun tampak jorjoran mempromosikan diri agar produknya
dikenal masyarakat luas. Analisis Kompas menemukan, ada peningkatan belanja
iklan dan pemasaran sejak perusahaan tekfin menawarkan pinjaman online (pinjol)
di Indonesia awal 2016. Merujuk data OJK, porsi alokasi dana untuk iklan dan
pemasaran dibandingkan dengan total biaya operasional perusahaan tekfin bahkan
menunjukkan tren terus meningkat. Selama periode Januari-Agustus 2023,
rata-rata porsi dana iklan dan pemasaran dari 101 perusahaan fintech lending yang
terdaftar di OJK mencapai 34,7 %, dengan nilai sedikitnya Rp 1,3 triliun atau
Rp 13,2 miliar per perusahaan, meningkat 6 % dibandingkan periode yang sama
pada 2022 yang masih 28,7 % atau Rp 8,6 miliar per perusahaan.
Besarnya porsi anggaran iklan dan pemasaran ini terbukti
mampu mendongkrak popularitas pinjaman daring di masyarakat. Hal ini tecermin
pada meningkatnya popularitas istilah ”pinjol”, seperti terekam oleh Google
Trends sejak Januari 2022 hingga Agustus 2023. Nilai korelasi antara
peningkatan anggaran iklan dan popularitas istilah pinjol mencapai 0,92 dari batas
korelasi terendah 0 dan paling tinggi 1. Dengan kata lain, pertumbuhan anggaran
pemasaran naik beriringan dengan popularitas pinjol di masyarakat dan berbuah
pada meroketnya laba. Data statistik OJK menyebutkan, laba komprehensif seluruh
penyelenggara tekfin pendanaan pada Januari 2023 sebesar Rp 50,5 miliar. Dalam
waktu delapan bulan atau pada Agustus 2023, nilainya telah menjadi Rp 521,3 miliar.
Nilai peningkatan ini lebih dari 10 kali lipat dari keuntungan awal. (Yoga)
Jutaan Anak Muda Sulit Bayar ”Pinjol”
Sedikitnya 2,5 juta orang sedang kesulitan mengembalikan
dana pinjaman daring. Dari jumlah ini, lebih dari separuhnya, yaitu 57 %,
merupakan anak muda dengan rentang usia kurang dari 35 tahun. Penerima pinjaman
daring atau pinjaman online alias pinjol selama dua tahun terakhir didominasi
kelompok usia kurang dari 35 tahun. Mereka menggunakan dana pinjaman untuk hal
konsumtif. Meski bergaji rendah, sifat konsumtif generasi muda menjadikan
mereka sasaran utama penyaluran pinjaman. Analisis Tim Jurnalisme Data Harian
Kompas menemukan, terdapat peningkatan 5,3 % jumlah nasabah pinjaman daring
dengan pembayaran tidak lancar dan macet di atas 30 hari pada kelompok usia
17-34 tahun ini. Pada Januari-Agustus 2021, rata-rata persentase jumlah nasabah
pinjaman daring tidak lancar dan macet di rentang usia tersebut 8,1 %. Dalam periode
yang sama pada 2023, angkanyanaikmenjadi 13,4 %. Dengan kata lain, tahun ini rata-rata
ada 1,5 juta nasabah berusia di bawah 35 tahun dengan pembayaran tidak lancer dan
macet. Angka itu setara 57 % dari total 2,6 juta nasabah pinjaman daring dengan
pembayaran tak lancar dan macet.
Analisis menggunakan data statistik bulanan OJK. Setelah di-
kombinasikan dengan data mikro Survei Tenaga Kerja Nasional (Sakernas) dari BPS
per Februari 2022, diperoleh hasil bahwa besaran pinjaman daring nasabah
melebihi gajinya. Pada 2022, rata-rata penghasilan penduduk bekerja Rp 2,17 juta
per bulan. Sementara itu, nilai rata-rata pinjaman daring per orang Rp 2,31
juta atau 106 %, lebih besar dari rata-rata penghasilan. Kelompok usia muda dan
pekerja awal yang berusia 17 hingga 34 tahun menduduki peringkat teratas dalam
hal perbandingan pinjaman dan penghasilan yang tidak seimbang ini. Mereka
menerima pinjaman Rp 2,44 juta atau lebih besar 121 % dari gaji yang hanya Rp 2,02
juta per bulan. Pinjaman konsumtif diberikan dengan tenor pendek, misalnya
kurang dari 30 hari, dengan bunga 0,4 % per hari. Peringkat kedua ditempati kelompok
usia pensiun ke atas (lebih dari 54 tahun) dengan dana pinjaman lebih besar 112
% dibandingkan penghasilannya. Meski demikian, persentase jumlah nasabah pinjaman
daring tidak lancar di atas 30 hari pada kelompok usia ini trennya menurun. Pada
Januari hingga Agustus 2023, hanya 2,2 % atau menurun 5,3 % dibandingkan pada
2021. (Yoga)
Diluncurkan di Jakarta, Bank Saqu Sasar Anak Muda
Pilihan Editor
-
Hati-hati Rekor Inflasi
02 Aug 2022 -
Kisruh Labuan Bajo Merusak Citra
04 Aug 2022 -
Waspadai Sentimen Geopolitik
05 Aug 2022 -
BABAK BARU RELASI RI-JEPANG
28 Jul 2022









