Mereka yang Menikmati Manisnya Dana Pinjol untuk Pengembangan Usaha
Jasuta (55) dan Suryanah (53), menjalankan usaha membuat
tempe yang dirintis pada 2005 di Kelurahan Curug Manis, Serang, Banten.
”Orang-orang bilang, tempe saya ini lebih awet, 3-4 hari, setelah dibeli, Jadi
ya mungkin di cari orang,” kata Suryanah tersenyum, Jumat (10/11). Suryanah berkeinginan mengembangkan usahanya.
Pada 2015 ia mengajukan kredit usaha ke bank konvensional. Dua kali ia meminjam
dana Rp 10 juta dengan tenor masing-masing 1,5 tahun. Seingatnya, cicilannya Rp
700.000 per bulan. Tahun 2018, kampungnya dikunjungi Amartha yang kemudian
menawarkan pinjaman daring untuk kalangan UMKM. Suryanah pun tertarik. Berbekal
persetujuan keluarga, ia mengambil pinjaman pertama dari Amartha sebesar Rp 2
juta.
Sekarang ia tengah menyelesaikan pinjaman kelimanya dalam
lima tahun terakhir, senilai Rp 12 juta. Skema cicilan per minggu membuatnya
merasa nyaman. Siklus produksi dan penjualan tempenya yang harian membuat ia
lebih mudah menyisihkan dana untuk membayar cicilan mingguan ketimbang bulanan.
Suryanah mengakui penghasilan hariannya tak menentu. Jika target omzetnya per
hari Rp 1,5 juta-Rp 2 juta meleset, ia kekurangan modal untuk berproduksi
kembali. Harga kedelai berkisar Rp 13.000 per kg. Rata-rata ia butuh 40-80 kg
kedelai per hari sehingga setiap hari ia butuh Rp 500.000 sampaiRp 1 juta untuk
modal membuat tempe. ”Kalau ada duit pinjaman, saya bisa beli kedelai untuk
modal bikin tempe,” katanya. Suryanah tak berhenti memikirkan cara untuk
mengembangkan usahanya. Ia belajar cara pembuatan tahu. ”Kalau saya berhasil
mencoba bikin tahu, ya saya akan ngambil pinjaman lagi,” ujarnya semringah. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023