Pertanian
( 500 )Program Petani Milenial, Produk Harus Mampu Bersaing
BANDUNG — Program Petani Milenial yang digagas Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat terus berprogres. Tahapan demi tahapan dilalui dengan menerapkan prinsip kehati-hatian. Tujuannya agar program tersebut berjalan optimal. Direktur Utama PT Agro Jabar Kurnia Fajar menyatakan selaku offtaker atau pembeli komoditas peserta Petani Milenial, pihaknya pun menerapkan prinsip kehati-hatian. Terutama dalam menentukan komoditas yang diproduksi peserta Petani Milenial. "Tentu kami mencari produk-produk yang mampu bersaing di pasaran, sehingga kami membuat bisnis model dengan komprehensif untuk program Petani Milenial," kata Kurnia dalam rilis Humas Jabar, Jumat (18/6/2021).
Dalam program Petani Milenial, PT Agro Jabar sudah menentukan komoditas apa yang akan dibeli. Untuk sektor pertanian, PT Agro Jabar akan menjadi offtaker komoditas tanaman hias. Di sektor peternakan, PT Agro Jabar menjadi pembeli hasil komoditas petani milenial ternak puyuh. Sedangkan di sektor perikanan, PT Agro Jabar merupakan offtaker komoditas ikan nila. Kurnia menuturkan, untuk komoditas tanaman hias, nantinya akan diekspor ke enam negara di Eropa. "Tanaman hias ini InsyaAllah akan ekspor ke enam negara. Kami juga sudah ada pesanan yang sangat banyak untuk tanaman hias. Tanaman hias yang diekspor bukan tanaman hias yang ramai dibicarakan di sini, tetapi yang menjadi kebutuhan masyarakat di Eropa," katanya. Sebagai offtaker, kata Kurnia, PT Agro Jabar pun akan melakukan pendampingan secara intensif kepada peserta Petani Milenial. Pendampingan ini dilakukan agar petani milenial tidak mengambil keputusan yang salah manakala terjadi masalah saat menjalankan usahanya.
(Oleh - HR1)
Hanya Sumbang 2,8 Persen
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) pada sektor pertanian di kabupaten Sidoarjo masih rendah. Terbukti, tahun PDRB 2020 pada sektor ini hanya menyumbang 2,8 persen saja. Bupati Sidoarjo menyebutkan, rendahnya pendapatan pada sektor pertanian karena ada pergeseran fenomena petani pemilik lahan dan panjangnya distribusi mata rantai antara petani dengan pasar.
Kedua hal itu harus dicarikan solusinya. Salah satunya, menggandeng Perum Bulog, Asosiasi Penggiling Gabah dan Beras, Gapoktan, Petani Milenial, perwakilan Pabrik Gula Candi dan Krembung, serta PT Indomarco Prismatama.
Pemkab Sidoarjo dan Bulog menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan Direktur Bisnis Perum Bulog. Fokus kerja sama, pengadaan dan pendistribusian beras. Kerja sama akan berlangsung selama dua tahun. Targetnya mewujudkan ketahanan pangan, meningkatkan kesejahteraan para petani dan menaikkan PDRB pada sektor pertanian.
Selain Bulog, Pemkab Sidoarjo melalui Dinas Pangan dan Pertanian membuat komitmen kerja sama dengan pengelola Indomaret untuk membantu penjualan beras dan gula hasil dari produksi petani Sidoarjo. Kerja sama juga melibatkan dua pabrik gula, pabrik gula Candi dan Krembung. Termasuk juga melibatkan Asosiasi Penggiling Gabah dan Beras dengan Gapoktan. Upaya ini untuk memutus mata rantai distribusi.
Tak Semua Petani Nikmati CPO
Pemerataan atas hasil kinerja ekspor sejumlah sektor pertanian dan perkebunan serta industri manufaktur belum optimal. Pendapatan petani dan perajin atau pengusaha kecil menengah belum terkatrol dengan baik serta masih menemui sejumlah hambatan. Sekretaris Jenderal Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) Indonesia Mansuetus Darto, Rabu (16/6/2021), mengatakan, harga minyak kelapa sawit mentah (CPO) dan produk turunannya sedang cenderung meningkat dan bagus. Saat ini harga CPO di atas 1.000 dollar AS per ton dari yang pernah terpuruk di bawah 700 dollar AS per ton. Namun, belum semua petani sawit bisa merasakan efek kenaikan harga komoditas unggulan ekspor Indonesia itu. Baru petani plasma atau yang terintegrasi dengan perusahaan sawit yang menikmati hasilnya. Para petani CPO kategori swadaya atau mandiri belum merasakan dampak positif itu.
Darto mencontohkan, harga tandan buah segar (TBS) ditingkat petani plasma cukup tinggi, yaitu Rp 3.200-Rp 3.300 per kilogram. Adapun harga TBS di tingkat petani mandiri Rp 1.400-Rp 1.500 per kg. Kesenjangan ini terjadi lantaran petani mandiri menjual TBS ke pengepul atau tengkulak sehingga harga TBS di tingkat petani tertekan. ”Ini sebenarnya masalah klasik tetapi tetap perlu dicarikan solusi agar kesejahteraan petani mandiri yang jumlahnya lebih banyak daripada petani plasma turut terjamin,” kata Darto ketika dihubungi di Jakarta.
Dengan harga CPO yang di atas 1.000 dollar AS per ton, total pungutan ekspor dan bea keluar yang dikenakan adalah sebesar 400 dollar AS per ton. ”Dengan pengenaan pungutan ekspor dan bea keluar sebesar itu, harga TBS ditingkat petani tergerus antara Rp 600 dan Rp 800 per kg,” katanya. Sebelumnya, Badan Pusat Statistik menyebutkan, nilai total ekspor Indonesia pada Mei 2021 sebesar 16,6 miliar dollar AS dan impornya 14,23 miliar dollar AS sehingga neraca perdagangannya masih surplus sebesar 2,63 miliar dollar AS. Surplus pada Mei tersebut semakin menopang surplus neraca perdagangan pada Januari-Mei 2021 yang sebesar 10,17 miliar dollar AS.Program Petani Milenial Proses Dilakukan Bertahap
BANDUNG - Program Petani Milenial yang digagas Pemerintah Provinsi Jawa Barat terus berprogres. Tahapan demi tahapan sudah dilalui. Mulai dari pendaftaran, seleksi, BI checking, sampai pencarian offtaker. Kini, program tersebut memasuki tahapan pelatihan dan pemagangan. Kepala Biro Perekonomian Sekretariat Daerah (Setda) Provinsi Jabar Benny Bachtiar mengatakan setiap tahapan program Petani Milenial dilalui dengan optimal. Prinsip kehati-hatian pun diterapkan agar calon petani milenial mendapatkan hasil yang maksimal. "Sejauh ini semua tahapan berjalan baik. Tapi memang dilakukan secara bertahap dan hati-hati. Karena kami tidak mau Petani Milenial ini gagal dalam melakukan aktivitasnya. Gelombang pertama program Petani Milenial ini harus berhasil karena akan dijadikan percontohan bagi gelombang berikutnya," kata Benny, Senin (31/5/2021).
Selain bidang pertanian, program Petani Milenial mencakup juga bidang peternakan, perikanan, dan perkebunan. Menurut Benny, bidang pertanian dengan komoditas tanaman hortikultura paling banyak diminati calon petani milenial. Benny menuturkan, semua perangkat daerah yang menjadi penanggungjawab setiap bidang sudah melakukan pemagangan maupun pelatihan. Pemagangan dan pelatihan bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan calon petani milenial.
(Oleh - HR1)
Harga Rendah, Semangat Petambak Garam Kendor
Kebutuhan garam masih sangat tinggi, sayang semangat para petani garam di Kabupaten Sampang mulai berkurang untuk memproduksi garam.
Faktornya adalah harga garam tidak stabil, dalam arti harga jual garam tidak sesuai dengan harga produksi sehingga mengalami kerugian. Mungkin karena harga yang tidak layak, membuat semangat petani loyo. Mencermati kondisi petambak garam yang lesu, Mahfud berusaha untuk meningkatkan semangat para petani untuk memproduksi garam kembali.
Adapun upaya yang akan dilakukan dengan memberikan bantuan hingga melakukan kegiatan integrasi lahan, pembinaan, dan semacamnya. Kami juga akan upayakan ke pemerintah pusat agar petambak garam di Sampang diperhatikan.
Berdasarkan data di Dinas Perikanan (Diskan) Sampang, Pada 2018 target garam sebesar 275.000 ton dan tercapai 344. 000 ton. Pada 2019 target 285, 000 ton tercapai 314.000 ton, kemudian, 2020 target garam sebanyak 290.000 ton, yang tercapai 174. 598 ton.
Kinerja BUMD, Agro Jabar Panen Melon dan Paprika
BANDUNG — BUMD PT Agro Jabar sukses panen melon dan paprika di dalam Smart Greenhouse menggunakan teknologi hidroponik di kebun PT Agro Jabar, Desa Wanajaya, Kecamatan Wanaraja, Garut. Sukses penerapan teknologi ini dalam rangka mendukung program Petani Milenial Juara yang digagas Gubernur Jabar Ridwan Kamil. Direktur Utama PT Agro Jabar Kurnia Fajar mengatakan pihaknya berkolaborasi dengan PT Agrindo Karya Persada dalam kegiatan panen komoditas melon dan paprika ini. "Luas lahan yang digunakan Smart Greenhouse ini berdiri di mencapai 3.000 m2 dengan total populasi tanaman mencapai 6.360 pohon," ujar Kurnia berdasarkan rilis yang diterima, Minggu (30/5/2021).
Menurut dia, keadaan lingkungan dalam Smart Greenhouse lebih terkontrol dengan memperoleh suhu dan kelembapan yang ideal sepanjang waktu, sehingga tanaman berada di dalam kondisi terbaiknya untuk tumbuh dan berproduksi secara maksimal. Kurnia menambahkan, jenis varietas melon yang ditanam di dalam Smart Greenhouse adalah varietas Egnazio, Crown, Linius, dan Dalmatian. Sedangkan varietas paprika adalah Scirocco F1. Sementara, hasil produksi pada edisi panen perdana ini pada tanaman melon berjumlah 805 kilogram. Rinciannya, untuk melon varietas Egnazio berjumlah 190 kilogram, Melon varietas Crown berjumlah 166 kilogram, Melon varietas Linius berjumlah 246 kilogram, Melon varietas Dalmatian berjumlah 203 kilogram. Sedangkan hasil panen paprika varietas Scirocco F1, yaitu jenis paprika merah sebanyak 26 kilogram dan paprika hijau sebanyak 41 kilogram.
(Oleh - HR1)
Komoditas Pertanian, Dorong Kemitraan Petani Jagung
Bisnis, BANDUNG — Pemerintah Kabupaten Bandung
mengembangkan pola kemitraan antara petani, perusahaan, dan
perbankan untuk komoditas
jagung hibrida. Bupati Bandung Dadang
Supriatna mengatakan
para petani di
Desa Cikasungka, Kecamatan
Cikancung, mulai
melirik bentuk sinergitas
ini di atas
lahan garapan seluas
3.000 hektare.
Dengan pola itu,
tutur bupati, semua sudah
dipersiapkan sejak awal. Mulai dari
proses penanaman, pemeliharaan, hingga pihak mana yang akan menampung
hasil panen.Risiko kerugian dari pihak petani dapat diminimalisir, meningkatkan hasil
produksi dan otomatis menambah penghasilan,
sehingga para
petani lebih sejahtera.“Pola kemitraan ini
tidak terbatas pada jagung saja, tapi bisa juga pada kedelai, padi
dan umbi-umbian. Kita akan dukung, kita
kawal dan pantau perkembangannya minimal satu bulan
sekali, bagaimana ke-lanjutan dan
hasil produksinya,” tuturnya.
Kepala Dinas Pertanian
(Kadistan) Kabupaten Bandung A Tisna Umaran menjelaskan
meskipun di luar
musim atau off season, penanaman hari
itu merupakan kesanggupan dari
para petani Cikasungka.“Ada kesanggupan dari
kelompok tani untuk ceboran, sebagai bentuk memulai. Karena
saya dengar ini ada yang
membiayai, juga ada yang menampung.
Pola seperti itu saya
pikir sangat baik
karena intinya pertanian
itu kan bisnis, bukan hanya
kegiatan bercocok tanamnya,” terang
Tisna.
(Oleh - HR1)
Sektor Pertanian Tumbuh Positif Selama Pandemi
Sektor pertanian pada triwulan ke-1 tahun 2021 kembali mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar 2,95%. Capaian ini menurut Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suhanyanto, sangat menggembirakan karena 30% dari tenaga kerja Indonesia bekerja di sektor tersebut.
Selama pandemi Covid-19 tahun 2020, sektor pertanian merupakan satu di antara tujuh sektor yang terus tumbuh positif selama tahun 2020. Bahkan pertumbuhan itu hampir terjadi pada semua subsektor. Subsektor tanaman pangan pada triwulan ke 1 tumbuh 10,32 persen, dua digit.
Hortikultura juga tumbuh 3,02%. Hal ini didukung karena faktor cuaca yang lebih kondusif dibandingkan tahun lalu sehingga mendorong peningkatan produksi buah dan sayur. Tingginya permintaan domestik terutama untuk produksi ayam dan telur serta adanya optimalisasi produksi juga menyebabkan peternakan tumbuh 2,48%.
Subsektor perkebunan tumbuh 2,17%. Pertumbuhan pada subsektor ini menurutnya ditopang adanya program Rencana Aksi Nasional Kelapa Sawit Berkelanjutan (RAN-KSB) dan peningkatan harga sawit.
Realisasi Rendah, Kemtan Tagih Importir Segera Menanam Bawang Putih
Kementerian Pertanian (Kemtan) menyatakan hingga kini masih memantau pelaksanaan kebijakan wajib tanam bawang putih bagi para importir bawang putih yang berlaku sejak 2020.
Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 39 Tahun 2019 tentang Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH) menyatakan bahwa importir produk hortikultura strategis seperti bawang putih wajib menanam komoditas yang sama di dalam negeri. Adapun, ketentuan ini paling lambat dilaksanakan setahun setelah penerbitan izin impor.
Menurut Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kemtan Tommy Nugraha, hingga saat ini realisasi wajib tanam bawang putih tahun 2020 pada April 2021 baru mencapai 2.879 hektare (ha) atau 47,68% dari target tanam seluas 6.038 ha. Jumlah ini meningkat dari realisasi pada Januari 2021 lalu yang sekitar 2.077 ha.
Tommy menyebut, dari total target wajib tanam tersebut sudah terdapat beberapa perusahaan yang sudah melunasi wajib tanamnya. "Ada 29 perusahaan yang lunas wajib tanam, 63 perusahaan yang belum lunas wajib tanam, " ujar Tommy kepada KONTAN, Jumat (30/4). Tommy mengatakan, pihaknya terus mengingatkan para importir untuk melaksanakan wajib tanam tersebut. Pasalnya, bila importir tidak melaksanakan kewajiban ini, maka Kemtan tidak akan menerbitkan RIPH selama 1 tahun. Tommy juga menyebutkan bahwa pada 2019 realisasi wajib tanam bawang putih hanya seluas 3.974 ha, yakni 62,67% dari target yang ditetapkan sebanyak 6.341 ha.
Petani Milenial, Agro Jabar Jadi Offtaker
Satu bulan setelah kick off Petani Milenial, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Jawa Barat mulai menjalankan Program Pembudidaya Ikan Milenial (PIM). Budi daya ikan perdana ditandai dengan penebaran benih ikan di 60 kolam bioflok yang khusus dibangun untuk Peserta PIM di PSDKP WS Ciherang – Cianjur dipimpin Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Bupati Cianjur Herman Suherman, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Barat Hermansyah dan Direktur Utama PT Agro Jabar Kurnia Fajar, Selasa (27/4/2021). Pada budi daya ikan perdana ini juga dilakukan penandatangan perjanjian kerja sama kegiatan PIM antara Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Barat, Hermansyah dan Direktur utama PT Agro Jabar Kurnia Fajar dan juga simbolis penyerahan mockup penyaluran KUR BJB kepada perwakilan peserta PIM, yaitu Rendy Triyadi dan Dimas Liggo Niode, disaksikan langsung oleh Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. Kegiatan PIM bertujuan mencetak Pembudidaya Ikan Milenial sebagai agen pemulihan ekonomi di Jawa Barat: Menumbuhkembangkan kewirausahaan muda perikanan di Jawa Barat, Mengubah wajah perikanan menjadi segar, agar generasi milenial tertarik dengan pemanfaatan sain dan teknologi aquaculture, serta menciptakan perikanan lebih maju, mandiri, dan modern.
Direktur PT Agro Jabar Kurnia Fajar mengatakan model bisnis yang dirumuskan DKP Jabar adalah menggandeng pihaknyasebagai off taker sekaligus investor pembangunan capex (capital expenditure) berupa Kolam Bioflok (beserta aerator dan peralatan Pembudidaya Ikan lainnya) dengan mekanisme pemanfaatan Barang Milik Daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. “Kemudian Penyediaan Opex: bibit, pakan, obat-obatan, listrik, dan operasional lainya menggunakan KUR dari BJB,” katanya dalam keterangan resmi. Kurnia juga memastikan bahwa BUMD yang dia pimpin sudah melangkah lebih awal untuk menggenjot usaha di sektor pangan dari mulai melon, jahe hingga rencana peluncuran beras Juara pasca Lebaran mendatang. Dalam program PIM pihaknya akan berdiri di ujung sebagai offtaker.
(Oleh - HR1)
Pilihan Editor
-
Agenda Kebijakan Biden Akan Tersusun di 2022
29 Dec 2021 -
Tujuh Kantor Pajak Besar Penuhi Target Setoran
14 Dec 2021 -
Rencana Riset dan Inovasi 2022 Disiapkan
14 Dec 2021 -
Yuk, Menggali Utang di Negeri Sendiri
14 Dec 2021









