perikanan
( 525 )DI Yogyakarta Ekspor Perdana Ikan Hias ke Filipina
Ekspor ikan hias secara langsung dari Daerah Istimewa Yogyakarta diharapkan dapat memaksimalkan potensi serta keuntungan ekonomi pembudidaya setempat. Sebelumnya pembudidaya melakukan ekspor melalui Surabaya dan Jakarta.
Sebanyak 400 ikan guppy dan platy koral senilai 3 juta diekspor ke Filiphina. Dari data lalu lintas karantina ikan, ikan hias Indonesia ini ada juga yang diekspor ke Jerman, Amerika, kawasan Timur Tengah dan Singapura. Dari Singapura biasanya dijual lagi ke negara-negara lain. Hal ini jadi peluang yang bagus untuk Yogyakarta.
Kepala seksi pengawasan, pengendalian dan informasi stasiun karantina ikan dan pengendalian mutu Yogyakarta, Haryanto mengatakan selama ini belum banyak pembudidaya yang melakukan ekspor secara langsung. Mereka lebih memilih menjual hasil budidayanya kepada eksportir. Harapanya, ekspor perdana ini memancing pengusaha ikan hias lain untuk mengurus ekspor secara langsung.
RI Memperluas Pasar Udang
Di tengah kondisi ekspor udang yang tertekan di pasar perdagangan global, perluasan pasar udang mulai digarap. Negara yang dibidik sebagai pasar udang Indonesia antara lain : China, Korea dan wilayah Eropa Timur. Sebagai eksportir udang, China juga mengimpor udang dalam jumlah besar yakni 400.000 ton per tahun. Sementara pasokan udang asal Indonesia ke China sekitar 10% dari impor udang.Peluang untuk menggarap pasar udang di dalam negeri juga terbuka. Akan tetapi pemasaran udang berkualitas tinggi di dalam negeri belum digarap, hanya 1% dari total ekspor yang sebanyak 200.000 ton.
Saat ini ada 5 perusahaan di Surabaya, Banyuwangi, Sidoarjo dan Gresik (Jawa Timur) yang memasarkan udang beku kualitas ekspor ke pasar lokal. Udang yang dijual berukuran 50-60 ekor per kilogram.
Ketua Shrimp Club Indonesia Iwan Sutanto mengatakan petambak udang berupaya mengefisiensikan biaya produksi. Dengan komposisi tambak udang yang didominasi usaha skala kecil, langkah efisiensi harus disesuaikan dengan skala usaha. Ditambak skala intensif, komponen terbesar biaya produksi berupa biaya pakan (50%) dan listrik (30%).
Sistem Data Rantai Pasok Diperbaiki
Kontribusi nelayan kecil untuk menghasilkan produksi tuna bernilai premium semakin meningkat. Pengelolaan perikanan skala kecildiperkuat untuk menembus pasar dunia, antara lain dnegan memperbaiki sistem data dan menggunakan perangkat elektronik modern.
Untuk pertama kalinya Yayasan Masyarakat dan Perikanan Indonesia (MDPI), Anova, dan PT Harta Samudra bekerjasama dengan Bumble Bee Seafoods dan perusahaan asal Jerman SAP, mengimplementasikan sistem ketertelusuran rantai pasok ikan. Sistem ini menghubungkan kapal nelayan pancing ulur tuna sampai ke konsumen. Sistem ketertelusuran rantai pasok ikan itu menggunakan teknologi blockchain untuk menyimpan basis data dari setiap transaksi ikan. Adapun basis data diperoleh melalui aplikasi Trace Tales yang dikembangkan MDPI untuk pengolahan, penyimpanan, pemrosesan makanan laut dan penyimpanan data produk.
Trace Tales dan SAP blockchain dipasang di dua pabrik pengolahan PT Harta Samudra yaitu di Ambon dan Buru (Maluku). Sistem yang sama dipasang di PT Aneka Sumber Tata Bahari Tulehu dan PT Blue Ocean Grace International (BOGI) di Bitung.
Kerja Sama Daerah, Perusahaan AS Jajaki Budi Daya Perikanan
Perusahaan asal Amerika Serikat Forever Oceans memulai langkah awal investasi di Sulawesi Utara untuk mendirikan budi daya perikanan dengan nilai sekitar Rp700miliar. CEO Forever Oceans Jason Heckathorn menerangkan, nilai investasi yang ditanamkan di Sulut mencapai sekitar US$50 juta. Perusahaan tersebut berfokus pada pendirian perusahaan di Indonesia dan perekrutan tenaga kerja. Forever Oceans adalah perusahaan Amerika Serikat yang merupakan spin off dariLockheed Martin yang bergerak di bisnis kedirgantaraan, keamanan dan teknologi global. Perusahaan ini mengaplikasikan teknologi perintah jarak jauh di dunia pertahanan untuk kebutuhan budidaya perikanan. Perusahaan tersebut akan membuat budidaya ikan kue atau amberjack di beberapa titik di perairan Sulut. Budidaya akan dilakukan menggunakan Keramba Jaring Apung (KJA) lepas pantai atau offshore.
Kenaikan Tarif Pukul Usaha
Pemerintah perlu mengambil langkah-langkah strategis untuk meninjau tarif angkutan udara yang dampaknya sudah dirasakan bisnis sektor kelautan. Kenaikan biaya kargo udara dirasakan menghambat pemasaran hasil laut dari sentra perikanan dan kelautan. Biaya logistik udara naik 100% hingga 300% akibatnya pelaku usaha hasil laut di Indonesia bagian timur sulit mengirimkan barang.
Ketua Harian Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia Abdi suhufan menyatakan bahwa kenaikan tarif tersebut membuat beberapa pelaku usaha membatalkan pengiriman hasil laut. Sehingga pengiriman hasil laut dari kawasan Indonesia bagian timur menurun. Mengingat kenaikan biaya logistik dikhawatirkan menganggu upaya pemerintah dalam meningkatkan ekspor hasil laut ke luar negeri. Lebih jauh lagi dapat membuat proses produksi lesu karena pelaku usaha tidak mampu mengirimkan barang ke lokasi pembeli. Maka menurut Abdi, Pemerintah perlu mendorong efisiensi maskapai dan pengelola bandar udara.
Salah satu upaya efisiensi yang dapat ditempuh adalah efisiensi biaya gudang. Tarif gudang perlu ditinjau ulang dan tidak ada lagi pungutan liar yang membebani pelaku usaha. Sekertaris Jenderal Asosiasi Tuna Indonesia Hendra Sugandhi berpendapat persoalan tarif logistik bukan satu-satunya yang menyebabkan sentra kelautan dan perikanan terpadu (SKPT) sulit berkembang. Persoalan utama adalah pengembangan industri perikanan yang masih berskala industri rumahan.
Ikan Patin dari Jatim Tembus Pasar Timteng
Provinsi Jawa Timur berpotensi besar menjadi sentra produksi patin untuk menjawab tantangan pasar ekspor. Produksi ikan yang dihasilkan tidak hanya memiliki kualitas terbaik, tetapi juga mampu memenuhi kriteria pangan internasional.
Komisaris utama PT Adib Global Food Supplies Budi Mulyono selaku eksportir mengatakan, total rencana ekspor patin olahan ke Arab Saudi mencapai 300 ton dari kebutuhan 600 ton lebih. Dari 300 ton patin olahan ekspor ke Arab Saudi, 80% dipasok pembudidaya di Tulungangung. Sisanya dipenuhi dari pembudidaya patin di Sumatera Utara dan Jawa Barat.
Produksi patin di Tulungangung 50-60 ton per hari. Selain di Tulungangung budidaya patin juga akan dikembangkan di Kabupaten Kediri dan Jombang yang memiliki kualitas air bagus.
Produk Patin Olahan Mulai di Ekspor
Produk patin olahan asal Indonesia mulai di ekspor ke Arab Saudi awal pekan ini. Ekspor perdana berupa irisan daging ikan dan stik itu direncanakan sebanyak 540 ton dengan nilai sekitar Rp 22 miliar. Ketua bidang budidaya patin asosiasi pengusaha catfish indonesia (APCI) Imza Hermawan menyatakan ekspor perdana patin olahan dilakukan bertahap oleh Puspa Agro Surabaya. Tahap pertama ekspor patin pada 27 mei 2019 sebanyak 3 kontainer dan tahap berikutnya 5 kontainer dengan berat masing-masing kontainer 21,5 ton.
Bahan baku untuk ekspor patin ke Arab Saudi berasal dari Jawa Timur seperti Tulungagung. Harga produk ekspor ikan patin olahan ke Arab saudi berkisar 2,7-3 dollar AS per kg. Pemerintah juga tengah menjajaki pemasaran patin olahan ke negara lain seperti : Uni emirat Arab dan Turki.
Potensi Budi Daya Udang
Udang menjadi salah satu komoditas unggulan Indonesia. Namun, produksi udang dari beberapa negara seperti India, Vietnam, dan Ekuador mengalami kenaikan signifikan. India mencatatkan penginkatan produksi hingga lebih dari 60% dalam kurun waktu 2012-2017. Namun, Indonesia masih memiliki potensi besar untuk meningkatkan produksi udang. Beberapa lokasi pengembangan tambak budi daya udang diantaranya, Sulawesi Barat (Pasang Kayu, mamuju) dengan luas lahan 1.300 ha produksi 20.800 ton/tahun, Sulawesi Tengah (Parigi Montong, Banggai) dengan luas lahan 900 ha produksi 14.400 ton/tahun, Jawa Barat (Karwang) dengan luas lahan 250 ha produksi 4.000 ton/tahun, Lampung (Tulang Bawang, Lampung Timur, Lampung Selatan, dan Pesisir Barat) dengan luas lahan 1.450 ha produksi 23.200 ton/tahun, dan Sulawesi Selatan (Barru, Maros, Pangkep, dan Bulukumba) dengan luas lahan 475 ha produksi 7.600 ton/tahun. Negara tujuan ekspor udang Indonesia pada 2018 didominasi ke AS dengan jumlah 129,9 ribu ton, kedua Jepang 31,2 ribu ton, dan wilayah Asean 11,6 ribu ton.
Mayoritas Rumpon Dinilai Ilegal
Kementerian Kelautan dan perikanan memperkirakan setidaknya 125.000 rumpon tersebar diperairan Indonesia. Mayoritas diantaranya dinilai ilegal karena tanpa izin. Pemerintah kini masih mendata status dan kepemilikan rumpon serta memprioritaskan target dan lokasi penertiban. Prioritas utamanya adalah di sekitar perairan perbatasan dan rumpon (milik) asing.
Koordinator nasional destrictive fishing watch Indonesia Mohammad Abdi Suhufan menyatakan merebaknya rumpon di dalam negeri antara lain dipicu oleh pemerintah yang cenderung membiarkan maraknya rumpon tanpa pengawasan. Pemerintah dinilai perlu jemput bola meminta pemilik rumpon aktif melaporkan rumponya.
Penenggalaman Kapal Ikan, Ekspor Perikanan & Nilai Tukar Nelayan Naik
Menteri KKP Susi Pudjiastuti menyebutkan bahwa penenggelaman kapal ikan yang dilakukan selama ini memberikan keuntungan besar bagi negara jika dihitung secara sumber daya maupun bisnis perikanan. Dari sisi sumber daya, tercatat bahwa biomassa laut Indonesia meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Biomassa laut tumbuh 300% dibandingkan sebelumnya, jadi lebih subur, lebih banyak ikan dan lebih besar ukurannya. Dari segi bisnis, terjadi peningkatan nilai ekspor dan nilai tukar nelayan (NTN) selama 4 tahun terakhir. Menurut Susi, tuna Indonesia menjadi nomor satu dunia. Produksi ekspor Indonesia ini nomor dua yang masuk ke Eropa. Jika dinilai dengan uang pun nilainya bisa mencapai miliaran dolar AS.
Pilihan Editor
-
Aset Kripto, Beda Aturan Pajak AS dan Indonesia
03 Aug 2021 -
Pengembangan StartUp, Wealthtech Siap Melejit
02 Aug 2021 -
KKP Finalisasi Aturan PNBP Pascaproduksi
03 Aug 2021









