;
Tags

perikanan

( 525 )

Pemerintah memprioritaskan Enam Komoditas Perikanan-Kelautan

KT3 04 Nov 2024 Kompas

Pemerintah terus menggencarkan hilirisasi selama 2024-2029. Dari 28 komoditas yang akan diprioritaskan, 6 komoditas di sektor perikanan dan kelautan, yaitu udang, tuna, tongkol, cakalang, rajungan, dan tilapia. Ada pula rumput laut dan potensi dari lahan garam. Wakil Ketua Masyarakat Akuakultur Indonesia Budhy Fantigo, Minggu (3/11) menilai, belum ada peta jalan terkait hilirisasi komoditas strategis perikanan. Selama ini hilirisasi perikanan berjalan alami dan sebagian besar dikelola pada skala industri. Upaya mendorong program hilirisasi perlu keseimbangan aspek hulu-hilir. Penting untuk mengelola perikanan budidaya dan perikanan tangkap agar kompetitif sekaligus mengoptimalkan pengolahan ikan yang ada. ”Utamakan dulu mengembangkan usaha perikanan yang sudah ada agar lebih optimal dan berdaya saing,” katanya.

Hilirisasi komoditas udang saat ini sudah mulai berjalan dalam bentuk produk-produk olahan. Komoditas rajungan umumnya baru diolah setengah jadi dalam bentuk daging rajungan. Komoditas nila sebatas produk irisan daging (fillet) dengan kapasitas 11.000 ton per tahun. Hilirisasi tuna, tongkol, dan cakalang umumnya untuk bahan baku kualitas rendah, yakni untuk diolah menjadi tongkol kaleng dan tuna kaleng. Selama ini tuna kualitas premium lebih banyak diekspor dalam bentuk segar dan utuh karena nilai jual lebih tinggi. Sementara ikan-ikan segar kualitas rendah yang tidak terserap pasar domestik perlu didorong untuk hilirisasi. Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono, mengemukakan, hilirisasi membutuhkan penguatan di sisi hulu agar terjadi keberlanjutan produksi. Dengan demikian, utilitas pabrik pengolahan di sisi hilir bisa meningkat. (Yoga)


Jejaring Bisnis Ikan Anak Menteri

KT1 16 Oct 2024 Tempo
JEJAK Indra Nugroho Trenggono, anak Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono, serta Rino Febrian, menantu Menteri Sekretaris Negara Pratikno, dalam bisnis di sektor perikanan terungkap dalam investigasi bersama Tempo dan Jaring.id. Temuan yang terbit dalam laporan “Bisnis Cupang Anak Menteri” itu bermula ketika kapal dengan nama lambung TMP 51, 52, dan 53 bersandar di Pelabuhan Perikanan Tual, Maluku, saat simulasi program Penangkapan Ikan Terukur pada Ahad, 2 Juni 2024. Menteri Wahyu Trenggono hadir dalam acara tersebut.

Berdasarkan data Direktorat Perkapalan dan Kepelautan Kementerian Perhubungan, PT Trinadi Mina Perkasa tercatat sebagai pemilik kapal dengan kode TMP. Kapal-kapal itu dulunya milik PT Dwikarya Reksa Abadi dengan nama lambung Wogekel. PT Dwikarya pernah mendapat sanksi dari Menteri Kelautan periode 2014-2019, Susi Pudjiastuti, karena sejumlah pelanggaran. Di antaranya pengalihan muatan di tengah laut, penggunaan alat tangkap trawl yang merusak ekosistem, dan penyelundupan satwa.

Di PT Trinadi, peran anak Wahyu Trenggono dan menantu Pratikno dalam bisnis perikanan terlacak. Beberapa entitas, baik individu maupun perseroan, menjadi pemegang saham PT Trinadi. Rino Febrian menjadi direktur perusahaan tanpa memiliki saham. Namun salah satu pemilik saham PT Trinadi adalah PT Global Seafood Indonesia. Dalam akta perusahaan PT Global Seafood, Rino tercatat menguasai 150 lembar saham senilai Rp 150 juta. Sementara itu, Indra Trenggono menjadi pemegang saham PT Indo Mina Lestari. Ia mempunyai 750 lembar saham, ekuivalen dengan nominal Rp 750 juta. Indra berkongsi dengan Rino di PT Indo Mina karena Rino juga menguasai 500 lembar saham senilai Rp 500 juta. Dalam akta bertarikh Oktober 2022, PT Indo Mina pernah mengantongi 250 lembar saham PT Trinadi, pemilik kapal yang bersandar di Pelabuhan Tual. (Yetede)

Budidaya Lobster yang Lebih Berkelanjutan

KT3 10 Oct 2024 Kompas

Tarik-menarik kepentingan antara ekspor dan budidaya benih lobster masih terus berlanjut. Benih bening lobster, jika langsung
diekspor, dipandang mendatangkan cuan dalam waktu singkat, sedangkan benih yang dibesarkan atau dibudidayakan mampu menghasilkan nilai tambah meski butuh proses lebih panjang. Kampung Lobster Mandiri, sebuah kawasan di pinggiran pantai di Desa Gangsring, Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, mencoba membuktikan bahwa lobster mampu bernilai
tambah jika dibudidayakan. Kampung Lobster menyajikan aneka masakan lobster yang berasal dari proses budidaya lokal dan hasil tangkapan alam. Berlokasi di pinggir pantai, restoran itu membuka kesempatan pengunjung untuk mengambil sendiri lobster yang dibudidayakan di keramba-keramba dasar laut. Denganbantuan penyelam, pengunjung restoran dapat menyelam untuk mengambil lobster. Kedalaman penyelaman berkisar dari 5-20 meter. Selanjutnya, lobster siap dimasak. Beberapa menu masakan, seperti nasi goreng lobster dan lobster garlic butter, menjadi hidangan favorit, di samping menu ikan laut. Seporsi nasi goreng berisi seekor lobster dibanderol Rp 69.000.

Sementara itu, harga sepiring lobster garlic butter disesuaikan dengan sumber bahan baku. Jika bahan bakunya berupa lobster hidup,
harga seporsi lobster buttergarlic ukuran setengah kilogram isi 2-3 ekor berkisar Rp 349.000, sedangkan jika bahan bakunya lobster beku dibanderol Rp 289.000 per porsi. Seporsi lobster cocok dinikmati bersama untuk 2-3 orang. Minat pasar Pengelola Kampung Lobster Mandiri, Suwardi, mengemukakan, minat masyarakat untuk mengonsumsi lobster terus meningkat meskipun lobster kerap diidentikkan sebagai komoditas premium. Pengunjung yang datang bervariasi, sekitar 70 persen berasal dari luar kota Banyuwangi, 20 persen wisatawan asing, dan 10 persen warga lokal. Kampung Lobster yang dibangun sejak tahun 2021 itu menggarap hulu-hilir lobster hingga disajikan di meja makan. Benih untuk budidaya didapatkan dari nelayan lokal, serta daerah lainnya. Selain itu, restoran juga menampung lobster-lobster hasil tangkapan nelayan dengan ukuran di atas 100 gram. Meski demikian, stok lobster konsumsi, baik dari hasil budidaya maupun tangkapan alam, kerap tidak menentu.

”Kami pernah kehabisan  stok lobster pada musim-musim liburan, saat banyak wisatawan datang,” ujarnya beberapa waktu lalu. Di sisi lain, harga jual lobster konsumsi diketahui memberikan nilai tambah yang lebih tinggi. Sebagai ilustrasi harga lobster hidup jenis pasir berkisar Rp 400.000 per kg isi 6-7 ekor. Namun, jika sudah disajikan di meja makan, harga seporsi isi 3 ekor mencapai Rp 349.000 atau dua kali lipat. Konsumen atau pasar lokal juga tidak terlalu mempermasalahkan bentuk lobster yang dikonsumsi. Lobster yang sudah patah sungut, misalnya, tetap diminati pasar lokal. Ini berbeda dengan pasar ekspor Vietnam yang menuntut lobster konsumsi harus dalam keadaan utuh, tanpa cacat. Berkembangnya minat masyarakat untuk mengonsumsi lobster juga diungkapkan Sherry, pengelola Warung Tropical, Pantai Madasari, Pangandaran, Jawa Barat. Warung yang sudah berjalan selama lebih dari 7 tahun itu menyajikan aneka menu hasil tangkapan laut, termasuk lobster. (Yoga)

Ribuan Rumpon di Indonesia Belum Berizin

KT3 09 Oct 2024 Kompas
Ribuan rumpon ikan yang tersebar di perairan Indonesia masih belum berizin. Pemerintah mendorong penertiban penempatan rumpon di wilayah pengelolaan perikanan RI guna mendukung kebijakan penangkapan ikan terukur. Rumpon merupakan salah satu jenis alat bantu penangkapan ikan yang dipasang di laut, baik laut dangkal maupun laut dalam. Pemasangan rumpon tersebut bertujuan menarik gerombolan ikan agar berkumpul di sekitar rumpon sehingga penangkapan ikan lebih efektif dan efisien. Asisten Khusus Menteri Kelautan dan Perikanan Bidang Publikasi Program Penangkapan Ikan Terukur Mohammad Abdi Suhufan mengemukakan, ribuan rumpon di perairan Indonesia hingga kini belum berizin.

Aturan izin rumpon sudah lama diterbitkan, tetapi masih banyak pelaku usaha tidak mengurus perizinan. ”Ada ribuan rumpon di perairan Indonesia tidak berizin. Ini memprihatinkan,” ujarnya, saat dihubungi pada Selasa (8/10/2024). Pengelolaan rumpon diatur dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 10 Tahun 2021 tentang Standar Kegiatan Usaha dan Produk pada Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko Sektor Kelautan dan Perikanan. Perizinan rumpon berupa surat izin penempatan rumpon (SIPR). Sementara itu, pengajuan lokasi rumpon juga wajib memenuhi persetujuan kesesuaian kegiatan pemanfaatan ruang laut (PKKPRL). Pelaku usaha ataupun nelayan yang ingin memasang rumpon harus memiliki PKKPRL dan SIPR. 

Pemerintah menetapkan 3.443 lokasi penempatan rumpon pada 11 wilayah pengelolaan perikanan  penempatan rumpon pada wilayah perairan 4-12 mil dilakukan gubernur, sedangkan di atas 12 mil merupakan kewenangan Menteri Kelautan dan Perikanan. Abdi mengemukakan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menggelar penertiban rumpon melalui sosialisasi dan gerai perizinan rumpon, antara lain di Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Bitung, Sulawesi Utara. Dari gerai itu, sejumlah 7 SIPR telah terbit, sedangkan 21 permohonan pengajuan titik lokasi rumpon dalam proses penerbitan PKKPRL. (Yoga)

Cuan dari Ikan Gabus

KT3 07 Oct 2024 Kompas
Tiga kolam berdinding kayu, beralas terpal, dengan dinaungi paranet tertata di halaman rumah Nad (64) di Desa Penyengat, Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak, Riau. Samar-samar tampak ratusan ikan gabus (Channa striata) berenang di dasar kolam dengan air berwarna gelap. Di sekeliling rumah Nad, perkebunan kelapa sawit seakan tiada habis. Meski memiliki pohon kelapa sawit, Nad memilih memenuhi kebunnya dengan hamparan tanaman nanas. Sejak awal 2024, kesibukannya bertambah dengan memelihara 2.500 ikan gabus. Siang itu, Rabu (18/9/2024), Nad kedatangan seorang anggota staf PT Alam Siak Lestari bernama Legianto (33). Di PT Alam Siak Lestari, salah satu tugas Legianto adalah mendampingi pembudidaya ikan gabus. Kepada Legianto, Nad menceritakan, seekor ikan baru saja mati, padahal air di ketiga kolam belum lama diganti. Air kolam diambil dari sungai kecil yang mengalir di depan rumah.

Legianto lalu membuka kotak berisi perlengkapan pengukur keasaman (pH) air. Salah satu kolam terindikasi lebih asam dibandingkan dua kolam lain. Ia menduga, itu penyebab ikan mati. Nad lalu diminta menaburkan kapur dolomit ke kolam yang terlalu asam. Sekitar 1,5 jam perjalanan dari tempat Nad, di laboratorium PT Alam Siak Lestari yang terletak di Kecamatan Siak, Rifa’i (30), seorang anggota staf, tengah mengolah puluhan ikan gabus. Ikan gabus segar berbobot 500 gram sampai 800 gram dipisahkan antara daging, isi perut, dan kulitnya. Daging ikan gabus kemudian dipotong dan dikukus selama tiga jam dengan alat khusus. Ketika daging ikan gabus dikukus, terdapat uap air yang kemudian didinginkan menjadi ekstrak atau sari albumin cair.

Daging ikan gabus yang telah dikukus kemudian dipisahkan dari tulangnya, lalu dikeringkan dengan alat khusus sampai kadar airnya tinggal 8 persen. Daging ikan yang sudah keringkemudian dihaluskan sampai berbentuk tepung. Tepung ikan gabus yang dihasilkan memiliki kandungan albumin 17-20 persen. Jumlah itu lebih tinggi dari Standar Nasional Indonesia (SNI) sebesar 15 persen. Tepung berisi ekstrak atau sari albumin lalu dimasukkan ke dalam kapsul dan dipasarkan dengan merek Albugo. Aktivitas budidaya ikan gabus yang dilakukan Nad dengan pengolahan ikan gabus oleh PT Alam Siak Lestari terhubung oleh gambut. Ketika terjadi kebakaran lahan pada 2015, Kabupaten Siak menjadi salah satu lokasi di Provinsi Riau yang lahan gambutnya terbakar hebat. Sebanyak 57 persen wilayah Kabupaten Siak merupakan tanah gambut. (Yoga)

Mimpi Indonesia Menjadi Jawara Global dengan Transformasi Sektor Perikanan

KT3 05 Oct 2024 Kompas (H)
Sektor kelautan dan perikanan diproyeksikan bakal menjadi penyumbang utama ketahanan pangan masa depan sejalan dengan kebutuhan pangan dan protein penduduk dunia yang terus meningkat. Dengan dua pertiga wilayahnya berupa lautan, Indonesia berpotensi besar menyediakan kebutuhan protein dan pangan global dari sumber daya perikanan. Kementerian Kelautan dan Perikanan menargetkan perikanan budidaya sebagai andalan pangan di masa depan serta menjadi substitusi atas hasil tangkapan ikan. Perikanan tangkap secara bertahap dikurangi untuk bergeser ke perikanan budidaya. Kesiapan ekosistem budidaya kini masih menjadi pekerjaan rumah, antara lain mencakup ketersediaan benih dan pakan.

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menyampaikan, upaya membangkitkan sektor kelautan dan perikanan perlu memprioritaskan komoditas unggulan dan bisa dikuasai. Namun, keseimbangan antara kebutuhan ekonomi dan ketahanan ekologi perlu dijaga Untuk mengetahui lebih dalam evaluasi dan kinerja Kementerian Kelautan dan Perikanan selama empat tahun terakhir, berikut wawancara khusus Kompas dengan Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono di Jakarta, Senin (23/9/2024). Apa yang menjadi target besar Kementerian Kelautan dan Perikanan? Mimpi kami, pertama, Indonesia memiliki kekuatan dan menjadi jawara di sektor perikanan budidaya, sebagai bagian dari kesejahteraan bangsa.

Perikanan budidaya memiliki ketertelusuran yang baik dalam komposisi dan kandungan serta tidak ada kandungan merkuri dan mikroplastik.Tetapi,terus terang Indonesia masih ketinggalan dalam perikanan budidaya. Kita tidak bisa bandingkan dengan China dan Jepang yang luar biasa. Dengan Vietnam saja kalah. Padahal, pasar perikanan dunia sangat besar dengan nilai lebih dari 280 miliar dollar AS. Kalau kontribusi pasar perikanan budidaya Indonesia hanya 5 miliar-6 miliar dollar AS, ini masih kecil. Ada lima komoditas yang kita desain menjadi unggulan, yakni udang, lobster, tilapia (nila), kepiting, dan rumput laut. Lima komoditas ini punya nilai yang begitu besar di pasar dunia. Di dalam negeri, pasar kita juga cukup kuat, dengan kebutuhan konsumsi lebih kurang 12 juta ton per tahun. Pasar ini harusnya juga kita bisa kelola dengan baik. (Yoga)

Menangkal Lonjakan Harga Ikan dengan Pengendalian Inflasi

HR1 02 Oct 2024 Bisnis Indonesia

Cuaca basah yang menandai awal musim penghujan di Sulawesi Selatan berdampak signifikan terhadap harga ikan dan potensi inflasi. Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulsel, Rizki Ernadi Wimanda, mengakui bahwa cuaca buruk dan gelombang tinggi dapat menghambat nelayan untuk melaut, sehingga menurunkan pasokan ikan dan memicu kenaikan harga yang berpotensi mendorong inflasi di kuartal IV/2024. Meski demikian, Rizki optimistis bahwa inflasi Sulsel tetap terkendali berkat penanganan yang baik dari Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), dengan inflasi year-to-date yang masih rendah di angka 2,3%.

Ekonom Universitas Hasanuddin, Hamid Paddu, juga menyebutkan bahwa meskipun harga ikan diprediksi naik, masyarakat Sulsel sudah terbiasa mengubah pola konsumsi ke daging, ayam, dan telur sebagai pengganti. Hamid menekankan pentingnya menjaga distribusi bahan pangan alternatif ini agar inflasi tidak melonjak terlalu tinggi. Kepala BPS Sulsel, Aryanto, menambahkan bahwa komoditas emas perhiasan dan rokok sigaret kretek mesin menjadi penyumbang utama inflasi Sulsel pada September 2024, dengan andil inflasi tertinggi masing-masing 0,35% dan 0,19%.

Penambangan Pasir Laut, Berdampak Buruk Bagi Kelautan

KT1 01 Oct 2024 Tempo
KEMENTERIAN Kelautan dan Perikanan tidak kendur dalam melanjutkan rencana membuka keran ekspor pasir laut melalui kebijakan pengelolaan sedimentasi laut. Kebijakan ini menuai kritik publik karena dapat merusak lingkungan. Bahkan kebijakan ekspor pasir laut dinilai bakal melenyapkan potensi karbon biru yang tersimpan dalam ekosistem pesisir dan laut. Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies Bhima Yudhistira menjelaskan, laut Indonesia berpotensi menyumbang 17 persen dari total cadangan karbon biru yang ada di bumi. “Artinya, kalau ada eksploitasi pasir laut, potensi karbon biru itu pasti berkurang. Penambangan pasir laut pasti berdampak pada ekosistem pesisir dan mangrove,” kata Bhima ketika dihubungi pada Senin, 30 September 2024.

Bhima lantas mengingatkan bahwa pemerintah memiliki target ambisius mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) nasional. Merujuk pada dokumen Nationally Determined Contributions (NDC), Indonesia menetapkan target pengurangan emisi sebesar 32 persen atau 912 juta ton setara dengan karbon dioksida (CO2e) dengan kemampuan sendiri pada 2030. Dokumen ini dibarengi peta jalan emisi nol bersih (net zero emission) yang akan dicapai pada 2060. NDC merupakan komponen utama Perjanjian Paris 2015 yang mensyaratkan negara-negara, tak terkecuali Indonesia, menahan peningkatan suhu rata-rata global di bawah 2 derajat Celsius. Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) mewajibkan Indonesia menyampaikan dokumen Second NDC paling lambat pada Maret 2025. (Yetede)
  

Menggarap Pasar Ekspor Ikan Hidup Premium yang Sedang Tren

KT3 09 Sep 2024 Kompas

Pasar ekspor ikan hidup terbuka seiring tren permintaan dunia terhadap komoditas ikan premium. Produk ikan air laut ataupun air tawar hidup kian digemari dan bernilai tinggi. Indonesia punya potensi menggarap segmen tersebut meski tak semudah membalik telapak tangan. Pendiri dan Direktur PT Mina Jaya Wysia, Udin, mengungkapkan, selama 24 tahun menjalankan bisnis pemasaran ikan, muncul tren konsumsi ikan hidup di pasar luar negeri. Tren ini terus meningkat. Pengiriman ekspor ikan hidup sempat tertahan selama masa pandemi Covid-19, tapi saat ini berangsur pulih. Ekspor komoditas ikan hidup itu didominasi lobster konsumsi 70 %, 20 % berupa ikan jenis lainnya, dan 10 % berupa kerang-kerangan.

Setiap hari, pihaknya mengirim ikan hidup ke luar negeri rata-rata 1-2 ton dengan tujuan utama pasar China, Hong Kong, dan Korsel. Komoditas ikan hidup yang mendominasi pasar ekspor, di antaranya, kerapu, udang ronggeng, kerang, sidat, dan lobster. Semua komoditas itu merupakan hasil tangkapan alam. ”Pasar luar negeri lebih suka ikan hasil tangkapan alam karena tekstur lebih kenyal dan cita rasanya lebih enak. Berapa pun (ikan hidup) yang ada kami kirim. Permintaan ekspor bahkan mengikuti stok karena kekurangan pasokan ikan hidup,” ujar Udin, akhir Agustus 2024. Guna memenuhi permintaan pasar ekspor ikan hidup itu, ia bermitra dengan 160 pengepul ikan dan nelayan dari sejumlah daerah.

Sebagian ekspor ikan-ikan hidup langsung mengisi kebutuhan hotel, restoran, hingga katering. Kegemaran orang menyantap masakan segar mendorong kebutuhan penyediaan ikan hidup. Pasokannya yang terbatas mendongkrak harga, contohnya, harga ekspor udang ronggeng hidup Rp 800.000-Rp 1 juta per kg. Padahal, bobot tiap ekor udang ronggeng 100 gram atau maksimal 10 ekor per kg. Harga bawal, mencapai Rp 400.000 per kg atau lima kali lipat dibanding harga ikan bawal beku berkisar Rp 60.000-Rp 80.000 per kg. Permintaan lobster pasir hidup ukuran konsumsi ke pasar China juga terus mengalir dengan harga sekitar Rp 400.000 per kg atau dua kali lipat harga lobster segar Rp 200.000 per kg.

Berbeda dengan ikan hidup, ikan segar adalah ikan yang mati tidak lama setelah dipanen, tetapi belum mengalami pembekuan. Ikan hanya bertahan dalam waktu singkat. Terkait pengemasan dan pengiriman ikan hidup disesuaikan dengan jenis ikan dan daya tahan hidup selama waktu pengiriman. Contoh, ikan sidat yang dikemas dengan kantong berisi air dan oksigen mampu bertahan hidup 25-30 jam dalam perjalanan. Sementara, lobster konsumsi yang dikemas tanpa air dalam kondisi tubuh lemas atau ”pingsan” hanya mampu bertahan maksimal 20 jam perjalanan. Sementara udang ronggeng yang dikemas pada wadah kering beroksigen hanya bertahan hidup 18-20 jam. Meski demikian, tidak semua ikan hidup untuk konsumsi bebas ditangkap di alam. (Yoga)


Budidaya Lobster

KT3 19 Aug 2024 Kompas

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengembangkan budidaya kerang coklat untuk bahan baku pakan lobster. Dirjen Perikanan Budidaya KKP, Tb Haeru Rahayu mengemukakan, salah satu tantangan dalam budidaya lobster adalah ketersediaan dan rantai pasok pakan. Inovasi terus dilakukan untuk penyediaan pakan lobster yang cukup dari aspek jumlah dan kualitas guna mendukung produksi yang maksimal. Kerang coklat (Mytilopsis adamsi) memiliki kandungan gizi yang sesuai dengan kebutuhan nutrisi dan menunjang tumbuh kembang lobster sehingga produksi budidaya lobster diharapkan meningkat.

Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Lombok dinilai telah berhasil menguasai teknologi pembenihan dan pembesaran kerang coklat. ”Pakan dari kerang coklat terbukti meningkatkan laju pertumbuhan dan produksi dalam budidaya  lobster,” katanya, dalam keterangan tertulis, Sabtu (17/8). Inovasi teknologi BPBL Lombok, yaitu budidaya kerang coklat sebagai pakan lobster, diharapkan berkontribusi dalam peningkatan produktivitas lobster sehingga Indonesia menjadi produsen lobster dunia. Keunggulan kerang coklat adalah pertumbuhannya cepat dan mudah dibudidayakan. Merujuk beberapa referensi, kerang coklat sangat toleran terhadap salinitas hingga 15-25 bagian per seribu (ppt) atau perairan payau.

Selain itu, kerang coklat tidak dikonsumsi manusia sehingga pengembangannya bisa fokus untuk pakan lobster. Pengembangan kerang coklat akan diarahkan ke wilayah yang dekat dengan sentra budidaya lobster. Pertumbuhan kerang coklat yang sangat cepat harus dikendalikan dengan memanen kerang coklat tersebut untuk pakan lobster. ”Sangat berharga sekali jika 1 ekor benih bisa menjadi lobster dewasa berkualitas. Oleh karena itu, kami berharap teknologi budidaya kerang coklat di BPBL Lombok dapat diaplikasikan di sentra-sentra budidaya lobster, mulai dari pembenihan, pendederan, hingga pembesaran lobster,” kata Tb Haeru. (Yoga)