;
Tags

Ekspor

( 1055 )

Rayuan Pulau Kelapa Tanpa Kelapa

KT1 09 May 2025 Investor Daily (H)

Ketika Ismail Marzuki menciptakan lagu "Rayuan Pulau Kelapa" pada tahun 1944 sebagai penghormatan bagi para pejuang kemerdekaan, mungkin yang dibayangkan sang komponis  besar negara ini adalah sebuah negeri kepulauan yang tidak saja merdeka, tetapi tampak begitu indah dengan dedauanan pohon kelapa melambai ramah kepada siapapun yang mencintai Indonesia. Bicara tentang pohon kelapa, ini adalah anugrah ciptaan Tuhan yang begitu bermanfaatnya. Akarnya yang berserabut merupakan pengikat tanah sekitarnya dari erosi pantai dan sungai. Batangnya dapat dimanfaatkan untuk membuat jembatan, atau diolah menjadi berbagai furniture dan perabot rumah tangga.  Serabut dari kulit kelapa dapat digunakan sebagai fiber, sementara batok buah kelapa biasa digunakan sebagai arang bakar. Daunnya yang muda-biasa disebut janur- dapat dimanfaatkan untuk membuat ketupat dengan aromanya yang khas. Bandingkan dengan ketupat plastik yang di Negeri Jiran disebut nasi imbit.

Namun, buah kelapa sungguh menawarkan banyak pilihan untuk diolah. Dalam beberapa bulan terakhir, harga kelapa di dalam negeri melonjak tajam. Pada Agustus 2024, harga kelapa untuk kebutuhan industri masih berada dikisaran Rp 3.500 per kg. Namun per April 2025, harga tersebut melonjak drastis menjadi Rp 8.500 per kg. Penyebab kenaikan harga yang begitu drastis itu bukan berasal dari satu faktor saja, melainkan merupakan akumulasi dari dinamika permintaan global yang melonjak. Permintaan global terhadap produk kelapa, terutama dari RRT. Negara tersebut mengalami ledakan konsumsi minuman berbasis kelapa seperti coconut latte, coconut milk, dan produk siap minum seperti coconut juice.  Sementara aturan ekspor di Indonesia khususnya untuk kelapa bulat  sangatlah lemah bahkan tidak jelas sehingga justru memperparah situasi. Negara-negara tetangga seperti Philipina dan Thailand sudah menerapkan berbagai regulasi seperti kuota, pajak ekspor yang tinggi, bahkan larangan ekspor untuk menjaga pasokan domestik dan menolong hilirisasi  (Yetede)

Keijakan Tarif Trump Ancam Persaingan Usaha di Tanah Air

KT1 06 May 2025 Investor Daily (H)
Kebijakan tarif Trump memberikan dampak yang luar biasa terhadap persaingan usaha di tanah Air. Menghadapi tantangan tersebut, KPPU terus mendukung pemerintah lewat beberapa strateginya. Wakil Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Aru Armando mengatakan, setidaknya ada lima dampak yang mempengaruhi persaingan usaha, yaitu penurunan daya saing ekspor Indonesia, oversuplay di pasar domestik, predator priciping dan tekanan harga, pengurangan produksi dan PHK, dan merger & akuisisi meningkat. "Pertama, kami menilai Indonesia akan kalah bersaing pada produk tertentu dibandingkan dengan negara lain yang menggunakan tarif lebih rendah dari pada Indonesia. Misalnya harga minyak sawit  Indoneisia  akan lebih mahal diangingja dari Malaysia karena Malaysia hanya untuk dikenakan tarif sebesar 24%," terang dia. Untuk itu KPPU meminta agar pemerintah mendorong para eksportir untuk mencapai pasar aternatif seperti Eropa, China, Timur Tangah, atau Afrika untuk mengurangi ketergantngan pada AS. "Sehingga pasar persaingan produk Indonesia akan bersifting dari AS yang  ke pasar alternatif yang akan dimasuki oleh para eksportir," kata Aru. 

Strategi Ekspor Jawa Barat Hadapi Gejolak Global

HR1 05 May 2025 Bisnis Indonesia
Kebijakan tarif resiprokal yang diberlakukan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan dampak signifikan terhadap sektor ekspor Indonesia, khususnya kopi asal Jawa Barat. Rani Mayasari, perintis Java Halu Coffee, mengungkapkan bahwa ekspor kopi ke AS tertahan di tengah panen raya, membuat UMKM seperti miliknya kesulitan menyerap hasil panen petani. Penurunan daya beli domestik dan perubahan iklim turut memperburuk situasi, meski Rani tetap berupaya menjalin pasar baru seperti Jepang dan Eropa.

Muslimin Anwar, Deputi Kepala BI Jabar, menyarankan strategi diversifikasi pasar ekspor dan inovasi produk sebagai kunci menghadapi tarif hingga 32%, sementara Nining Yuliastiani dari Disperindag Jabar optimistis bahwa pelaku usaha dapat beradaptasi dengan peluang ekspor baru melalui inovasi, promosi, dan pendampingan.

Di sisi lain, Khairul Mahalli, Ketua Umum GPEI, mendorong peran aktif duta besar dalam memasarkan produk lokal di luar negeri, sementara Iwa Koswara dari APKB menyoroti dampak tarif terhadap industri garmen, yang menyebabkan PHK massal, serta mendesak penguatan infrastruktur logistik di Jawa Barat seperti pelabuhan laut dan Bandara Kertajati. Keseluruhan tanggapan ini mencerminkan urgensi adaptasi menyeluruh dalam menghadapi tekanan perdagangan global.

AS Jadi Pasar Krusial Bagi Produk Ekspor RI

HR1 05 May 2025 Bisnis Indonesia
Pengenaan tarif resiprokal oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebesar 32% ditambah baseline tarif 10% kepada lebih dari 60 negara, termasuk Indonesia, menimbulkan guncangan besar dalam perdagangan internasional, terutama bagi produk ekspor unggulan Indonesia seperti tekstil, furnitur, produk kulit, olahan ikan, karet, dan elektronik yang sebagian besar berbasis industri padat karya.

Indonesia, yang sebelumnya menikmati tarif 0% melalui skema GSP, kini menghadapi tantangan besar karena produk-produk tersebut menjadi tidak kompetitif di pasar AS, yang merupakan pasar ekspor kedua terbesar Indonesia. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan posisi Indonesia dengan menawarkan peningkatan pembelian produk dari AS dan rencana deregulasi, namun belum ada respons konkret dari pihak AS, yang juga mengajukan 26 isu hambatan non-tarif dalam laporan USTR.

Dengan tenggat waktu 60 hari tersisa, Indonesia harus menyusun strategi diplomasi dan negosiasi matang demi kepentingan nasional agar dapat mencapai win-win solution dalam menghadapi tekanan dagang dari AS, sekaligus menjaga stabilitas industri dan politik dalam negeri.

Lebih Serius Menyasar Ekspor ke UE

KT1 03 May 2025 Investor Daily (H)
Keputusan Pemerintah yang menetapkan Uni Eropa (UE) sebagai target pasar strategis berikutnya  dalam mendiversifikasi pasar ekspor, menyusul penerapan tarif impor resiprokal oleh Presdien AS  Donald Trump, dinilai tepat. Kalah dibandingkan negara-negara Asean lain, hingga saat ini Indonesia belum menggarap secara maksimal dan serius pasar ekspor  potensial yang meliputi 27 negara itu. Padahal, Indonesia dan UE memiliki ekonomi yang komplementer. Artinya komoditas yang diproduksi di Indonesia umumnya tidak diproduksi di UE atau sebaliknya. Karenanya, hampir semua produk yang dibuat di Indonesia bisa di ekspor ke UE bila mampu memenuhi persyaratan dagang di kawasan itu. Apalagi, ekspor Indonesia ke UE selama ini juga baru terkonsentrasi di beberapa negara seperti Belanda, Jerman, Spanyol, dan Italia. Sementara di banyak negara UE seperti Perancis, Jerman, Irlandia, Autria dan Swedia, Indonesia masih memiliki defisit perdagangan yang signifikan. Hal tersebut menunjukkan, Indonesia belum memanfaatkan potensi ekspor ke negara-negara tersebut dengan baik. Sejumlah komoditas yang bisa diekspor  ke pasar UE di antaranya produk agrikultur tropis seperti teh kopi, rempah-rempah, karet, dan produk-produk perikanan aquaculture. (Yetede)

Baja Lapis Seng Diekspor ke Pasar Amerika

KT3 02 May 2025 Kompas

Para pegawai PT Arcelor Mittal Nippon Steel (AM/NS) Indonesia, terlihat tengah mengecek produk baja lapis seng (galvanize) sebelum diekspor ke pasar Amerika Serikat, di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, pada hari Rabu (30/4/2025). PT AM/NS Indonesia mengekspor 10.000 ton galvanize senilai 10 juta dollar AS. Pabrik baja dengan kapasitas produksi yang dapat mencapai 400.000 ton per tahun ini menargetkan setiap bulan dapat secara teratur mengekspor 6.000 ton galvanize ke Amerika Serikat sebagai pasar terbesar untuk prduk mereka. (Yoga)

Ekonomi Indonesia 2025: Berlayar Ditengah Lautan

KT1 02 May 2025 Investor Daily (H)
Pemerintah Indonesia menargetkan bahwa Indonesia akan mencapai negara berpendapatan tinggi/high income pada 2045.  Untuk mencapai target tersebut, Mckinsey Global Institut (MGI) melalui analisanya menyim[ulkan bahwa Indonesia perlu meningkatkan produk dometik bruto (PDB) lebih dari 5% per tahun. Managing Partner and Senior Partner Mckinsey & Company Indonesia Khoon Tee Tan menerangkan, untuk mencapai pendapatan US$ 14.000 pr orang, berarti mempercepat pertumbuhan PDB dari rata-rata 4,9% per tahun. "Sejak 2000 menjadi CAGR sebesar 5,4% secara riil antara sekarang dan 2045," kata dia. Dalam penelitian MGI, ada empat negara yaitu Chili, China, Polandia, dan Korea Selatan, yang mampu mencapai tingkat pertumbuhan PDB riil sebesar 4-10% selama dua dekade. Korea Selatan mencapai status negara berpendapatan tinggi paling cepat dibandingkan negara-negara lainnya dengan pertumbuhan PDB lebih dari 9% selama 14 tahun. "Pengalaman negara-negara tersebut hanya  mungkin terjadi dengan peningkatan pertumbuhan produktivitas sebanyak 1,6 kali lipat, yang akan membutuhkan penciptaan lebih banyak perusahaan menengah (UMKM) dan besar, mendorong kewirausahaan, dan mengalihkan lapangan kerja dari sektor informal dengan produktivitas rendah ke pekerjaan dengan gaji lebih tinggi. (Yetede) 

RI Diperkirakan Bukan Lagi Pasar Bagi Eksportir Beras Dunia

KT1 28 Apr 2025 Investor Daily
Indonesia saat ini diperkirakan bukan lagi negara tujan ekspor beras dunia, sebaliknya malah berpeluang menjadi pemasok global. Usaha luar biasa (extraordinary effort) Indonesia yang dibarengi cuaca kondusif telah memacu produksi beras nasional tahun ini, Pemerintah RI menargetkan produksi beras 2025 mencapai 32 juta ton, namun perkiraan Departeman Pertanian Amerika Serikat (United State Departemen of Agriculture/USDA) justru sebesar 34,6 juta ton. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memunjukkan impor beras Indonesia di 2024 mencapai 4,52 juta ton, dengan 1,36 juta ton, dengan 1,36 juta ton (30,19%) di antaranya dipasok dari Thailand, lalu Vietnam 1,25 juta ton (27,62%), Myanmar 831.380 ton (18,4%), Pakistan 803.840 ton (17,79%), India 246.590 ton (5,46%), dan lainnya 23.130 (0,56%). Artinya, Indonesia pada 2024 masih menjadi tujuan ekspor  bagi negara produsen beras dunia. Bahkan, USDA dalan Rice Outlook; January 2025  memasukkan Indonesia sebagai salah satu negara importir beras di 2025 itu berkurang karena penumpukan stok dari 2023/2024 akibat rekor pengadaan luar negeri. (Yetede)

Emiten Minerba Gencar Mengencangkan Ikat Pinggang

KT1 28 Apr 2025 Investor Daily (H)
Emiten mineral dan batu bara (minerba) gencar mengencangkan ikat pinggang meski amandemen tarif royalti sedikit memberikan ruang bagi mereka yang memegang izin usaha  penambangan khusus (IUPK). Namun, dengan atau tanpa amandemen tarif,  emiten minerba sebetulnya tengah megap-megap. Tantangan global seperti fluktuasi harga komoditas yang masih kencang, menandai ketidakpastian di sektor pertambangan masih cukup tinggi. Menilik pergerakan harga komoditas di Tranding Economics pada Minggu (27/4/2025), harga komoditas mineral seperti emas, nikel, perak, dan tembaga, kompak drop. Koreksi terbesar menimpa emas yang minus US$ 28,8 (0,86%) ke posisi US$ 3.319 per troy ounce setelah sempat menyentuh US$ 3.500 per troy ounce. Nikel juga masih belum bangkit dengan kontraksi sebesar US$ 390 (2,46%) sampai menuju level US$ 15.490 per ton. Begitupun perak dan tembaga yang masing-masing melemah US$ 055 (-1,63%) dan US$ 0,04 (0,73%). Bahkan, harga batu bara yang kini teraspirasi 0,63% sejatinya belum kembali pada performa terbaiknya. Pasalnya, sejak awal tahun atau year-to-date, harga batu bara telah terkoreksi 23% ke posisi US$ 95 per ton. (Yetede)

Emiten Minerba Gencar Mengencangkan Ikat Pinggang

KT1 28 Apr 2025 Investor Daily (H)
Emiten mineral dan batu bara (minerba) gencar mengencangkan ikat pinggang meski amandemen tarif royalti sedikit memberikan ruang bagi mereka yang memegang izin usaha  penambangan khusus (IUPK). Namun, dengan atau tanpa amandemen tarif,  emiten minerba sebetulnya tengah megap-megap. Tantangan global seperti fluktuasi harga komoditas yang masih kencang, menandai ketidakpastian di sektor pertambangan masih cukup tinggi. Menilik pergerakan harga komoditas di Tranding Economics pada Minggu (27/4/2025), harga komoditas mineral seperti emas, nikel, perak, dan tembaga, kompak drop. Koreksi terbesar menimpa emas yang minus US$ 28,8 (0,86%) ke posisi US$ 3.319 per troy ounce setelah sempat menyentuh US$ 3.500 per troy ounce. Nikel juga masih belum bangkit dengan kontraksi sebesar US$ 390 (2,46%) sampai menuju level US$ 15.490 per ton. Begitupun perak dan tembaga yang masing-masing melemah US$ 055 (-1,63%) dan US$ 0,04 (0,73%). Bahkan, harga batu bara yang kini teraspirasi 0,63% sejatinya belum kembali pada performa terbaiknya. Pasalnya, sejak awal tahun atau year-to-date, harga batu bara telah terkoreksi 23% ke posisi US$ 95 per ton. (Yetede)