Ekspor
( 1055 )Antisipasi Dampak Tarif Trump terhadap Ekspor
Kinerja perdagangan Indonesia menunjukkan tren positif pada awal tahun 2025, tantangan besar sudah menanti, terutama dengan pengumuman yang akan dikeluarkan oleh Pemerintah Amerika Serikat (AS) pada 2 April 2025. AS akan melakukan penyelidikan terhadap negara-negara penyumbang defisit terbesar, termasuk Indonesia, dan dapat menetapkan tarif perdagangan timbal balik (reciprocal) terhadap negara yang memberlakukan hambatan perdagangan terhadap barang-barang AS.
Indonesia, yang mencatat surplus perdagangan terbesar dengan AS pada Januari-Februari 2025 (US$3,13 miliar), perlu menghadapi keputusan yang akan sangat memengaruhi hubungan dagangnya dengan AS. Menteri Perdagangan, Budi Santoso, mengungkapkan bahwa pemerintah Indonesia telah mengantisipasi langkah AS tersebut dengan membuka dialog strategis dan melakukan lobi untuk mencari solusi, seperti melalui pembaruan Indonesia-US Trade and Investment Framework Agreement (TIFA) dan memperkuat kerja sama investasi di sektor strategis.
Selain itu, Indonesia juga mempercepat penyelesaian Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) untuk membuka akses pasar baru dan mengurangi ketergantungan pada pasar AS jika terjadi tarif yang lebih tinggi. Benny Soetrisno, Ketua Umum Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI), menekankan pentingnya diplomasi dagang dengan AS sambil tetap menyelesaikan perundingan dengan Uni Eropa.
Namun, Deni Friawan, peneliti senior Departemen Ekonomi CSIS, mengingatkan adanya potensi risiko yang harus diwaspadai oleh Indonesia dalam menghadapi kebijakan perdagangan AS, yang dapat mempengaruhi sektor-sektor strategis seperti migas, tembaga, emas, dan nikel. Oleh karena itu, meskipun ada peluang baru melalui perjanjian internasional, Indonesia harus tetap waspada terhadap dinamika hubungan dagangnya dengan AS.
Pengusaha Tambang Mendesak Pemerintah Tunda Revisi Aturan Royalti
Pengusaha tambang mineral dan batubara
meminta pemerintah menunda rencana kenaikan tarif royalty yang diatur dalam
peraturan pemerintah. Rencana penyesuaian tarif dinilai akan semakin membebani
industri yang kini tengah dihajar penurunan harga komoditas dan pungutan biaya
lain dari negara. Direktur Eksekutif Indonesia Mining Association (IMA) Hendra
Sinadia mengatakan, meski mereka dilibatkan pada proses pembahasan revisi,
kesempatan yang diberikan sangat terbatas. Contohnya, dalam konsultasi publik
yang diselenggarakan awal Maret, pelaku usaha hanya diundang ke pertemuan
daring selama 1,5 jam dengan peserta ratusan orang. ”Ini sama sekali tidak
memadai. Harusnya diskusinya lebih intens karena dampaknya sangat signifikan,”
ujarnya, Jumat (21/3).
Selain IMA, banyak asosiasi juga menolak
substansi revisi PP yang dianggap memberatkan, terutama terkait perubahan tarif
produksi dari sistem tunggal menjadi progresif, dengan kenaikan persentase pada
produk batubara dan mineral, seperti nikel, tembaga, emas, dan timah. Komoditas
bijih nikel, misalnya, yang sebelumnya berlaku tarif tunggal 10 % menjadi tarif
progresif 14-19 %, menyesuaikan harga mineral acuan (HMA). Sementara pada
feronikel, dari tarif tunggal 2 % diusulkan menjadi tarif progresif 5-7 %,
menyesuaikan HMA. Untuk komoditas batubara, tarif yang berlaku saat ini
bersifat progresif dan menyesuaikan harga batubara acuan (HBA) dengan tarif
PNBP untuk izin usaha pertambangan khusus (IUPK) berkisar 14-28 %.
Dalam usulan revisi, tarif royalti
akan naik 1 % untuk HBA yang lebih besar atau sama dengan 90 USD per ton,
hingga mencapai tarif maksimum 13,5 %. Dampak perubahan tarif tersebut, akan meluas
dari hulu ke hilir. Beban royalti akan menghambat investasi untuk eksplorasi
yang penting untuk mendukung ketersediaan pasokan dalam jangka panjang.
Operasional perusahaan juga berpotensi terdampak karena beban perusahaan
semakin bertambah. Sementara, industri mineral dan batubara sudah dibebani
biaya lain dari pemerintah. Sejak Januari 2025, mereka terdampak kenaikan biaya
energi karena penggunaan Biosolar B40, aturan devisa hasil ekspor 100 %,
kenaikan PPN 12 %, hingga upah minimum provinsi yang naik ke 6,5 %. ”Jadi,
sebaiknya pemerintah menunda revisi tersebut dan mengkaji kembali dengan mengajak
pelaku usaha untuk berdiskusi secara komprehensif,” kata Hendra. (Yoga)
Ekspor Kelapa Bulat malah Akan Menguntungkan Negara Lain
Pada 2024, produksi kelapa di empat negara produsen kelapa terbesar dunia, yakni Indonesia, Filipina, India, dan Sri Lanka, turun akibat dampak ElNino yang terjadi pada semester II-2023 hingga triwulan I-2024. Kelangkaan bahan baku kelapa industri pengolahan kelapa belum terpecahkan. Himpunan Industri Pengolahan Kelapa Indonesia atau HIPKI khawatir ekspor kelapa bulat justru akan menguntungkan negara-negara lain. Hal itu mengingat produksi kelapa di sejumlah negara penghasil utama kelapa, termasuk Indonesia, turun. Di sisi lain, dalam dua bulan terakhir ini, ekspor kelapa bulat atau butiran Indonesia ke sejumlah negara meningkat. Ketua Bidang Industri Aneka Produk Kelapa HIPKI, Dippos Naloanro Simanjuntak, Jumat (21/3) mengatakan, hingga kini belum ada solusi terhadap kelangkaan bahan baku kelapa untuk industri.
Ekspor kelapa bulat masih terus berjalan kendati HIPKI telah meminta penghentian ekspor sementara selama enam bulan. Padahal, produksi kelapa di Indonesia pada 2024 turun. Produksi kelapa di negara-negara produsen kelapa terbesar dunia lainnya juga anjlok. India dan Sri Lanka bahkan dikabarkan telah membuka keran impor kelapa dari Indonesia. Pada 2023, kedua negara tersebut merupakan penghasil kelapa terbesar ketiga dan keenam dunia. ”Kami khawatir ekspor kelapa bulat justru akan menguntungkan industri kelapa negara-negara lain. Sementara industri dalam negeri justru mengurangi kapasitas produksi, bahkan tutup,” ujarnya. Kementan mencatat produksi kelapa pada 2024 turun 0,5 % secara tahunan atau sebanyak 70,55 juta butir menjadi 14,11 miliar butir. (Yoga)
Ekspor Kelapa Bulat malah Akan Menguntungkan Negara Lain
Pada 2024, produksi kelapa di empat negara produsen kelapa terbesar dunia, yakni Indonesia, Filipina, India, dan Sri Lanka, turun akibat dampak ElNino yang terjadi pada semester II-2023 hingga triwulan I-2024. Kelangkaan bahan baku kelapa industri pengolahan kelapa belum terpecahkan. Himpunan Industri Pengolahan Kelapa Indonesia atau HIPKI khawatir ekspor kelapa bulat justru akan menguntungkan negara-negara lain. Hal itu mengingat produksi kelapa di sejumlah negara penghasil utama kelapa, termasuk Indonesia, turun. Di sisi lain, dalam dua bulan terakhir ini, ekspor kelapa bulat atau butiran Indonesia ke sejumlah negara meningkat. Ketua Bidang Industri Aneka Produk Kelapa HIPKI, Dippos Naloanro Simanjuntak, Jumat (21/3) mengatakan, hingga kini belum ada solusi terhadap kelangkaan bahan baku kelapa untuk industri.
Ekspor kelapa bulat masih terus berjalan kendati HIPKI telah meminta penghentian ekspor sementara selama enam bulan. Padahal, produksi kelapa di Indonesia pada 2024 turun. Produksi kelapa di negara-negara produsen kelapa terbesar dunia lainnya juga anjlok. India dan Sri Lanka bahkan dikabarkan telah membuka keran impor kelapa dari Indonesia. Pada 2023, kedua negara tersebut merupakan penghasil kelapa terbesar ketiga dan keenam dunia. ”Kami khawatir ekspor kelapa bulat justru akan menguntungkan industri kelapa negara-negara lain. Sementara industri dalam negeri justru mengurangi kapasitas produksi, bahkan tutup,” ujarnya. Kementan mencatat produksi kelapa pada 2024 turun 0,5 % secara tahunan atau sebanyak 70,55 juta butir menjadi 14,11 miliar butir. (Yoga)
Sudan Dibidik RI Sebagai Hub Ekspor Perikanan ke Afrika
Pemerintah RI melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menjajaki kerja sama penjaminan mutu dan ekspor hasil perikanan dengan Pemerintah Sudan. Indonesia ingin membidik Sudan sebagai hub ekspor produk perikanan nasional kepasar Afrika. "Sudan memiliki historis hubungan bilateral yang erat dengan Indonesia. Sudan juga membuka peluang pasar bagi perikanan darat Indonesia seperti catfish, tilapia, gurame dan seterusnya," tutur Kepala Badan Pengawasan dan Pengendalian Mutu Hasil Kelautan dan Perikanan (Badan Mutu KKP) Ishartini, Rabu (19/03/2025). Hal itu didasarkan hasil pertemuan Kepala Badan Mutu KKP, Ishartini dan Dubes Republik Sudan untuk Indonesia, Yassir Mohamed Ali di Jakarta. Selain memiliki potensi pasar untuk produk perikanan air tawar, Sudan tertarik obat dan pakan ikan.
“Tentunya ini peluang yang harus segera kita analisa untuk diversifikasi ekspor dari sektor kelautan dan perikanan," ujar Ishartini. Posisi geografis Sudan sangat strategis sebagai hub bagi negara-negara tetangganya yang tidak memiliki wilayah laut (land-lock countries). Keseluruhan jumlah penduduk Sudan dan land-lock countries sekitarnya lebih dari 200 juta jiwa dan menjadikan Sudan sebagai pintu masuk logistik termasuk produk perikanan. “Pak Dubes sampaikan, Sudan ini seperti lokomotif bagi negara-negara di sekitarnya, peluang pasar perikanan sangat besar hanya saja eksportir perlu inisiatif untuk memulai penetrasi pasar Sudan dan sekitarnya," kata dia. (Yetede)
Surplus Perdagangan dan Risiko di Baliknya
Neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus selama 58 bulan secara beruntun
atau nyaris lima tahun sejak Mei 2020 hingga Februari 2025. Terdapat tiga
komoditas SDA unggulan penopang kinerja ekspor pada Februari 2025, yakni produk
kelapa sawit dan turunannya, batubara, serta besi dan baja. Sayangnya, berlakunya
aturan penempatan 100 % devisa hasil ekspor (DHE) SDA ke dalam sistem keuangan
Indonesia per 1 Maret 2025 berpotensi mengganggu kinerja ekspor Indonesia.
Kebijakan ini membuat pengusaha terpaksa melakukan sejumlah efisiensi untuk
menjaga arus kas perusahaan. BPS melaporkan, neraca perdagangan mengalami
surplus 3,12 miliar USD (Rp 51,13 triliun) pada Februari 2025, dari surplus
sektor nonmigas sebesar 4,84 miliar USD (Rp 73,42 triliun).
Adapun sektor migas mencatatkan defisit senilai 1,72 miliar USD (Rp
28,19 triliun). Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, dalam konferensi
pers, Senin (17/3) menjelaskan, nilai ekspor Indonesia Februari 2025 tercatat
21,98 miliar USD atau meningkat 14,05
% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. ”Kenaikan nilai ekspor pada Februari
2025 secara tahunan didorong peningkatan ekspor nonmigas, terutama lemak dan
minyak hewani/nabati, komoditas logam mulia dan permata, serta komoditas besi
dan baja,” ujar Amalia. Terdapat tiga komoditas unggulan yang kerap jadi
penopang kinerja ekspor Indonesia, yakni CPO dan produk turunannya, batubara,
serta besi dan baja. Amalia menyebut ketiga komoditas tersebut berkontribusi
terhadap 30,48 % dari total ekspor nonmigas Indonesia pada Februari 2025.
Nilai produk ekspor CPO dan turunannya naik 89,54 % secara tahunan.
Sementara ekspor besi dan baja naik 19,52 persen secara tahunan. Baik produk
CPO dan turunannya, batubara, maupun besi dan baja diwajibkan untuk menempatkan
seluruh devisa hasil ekspornya (100 %)
ke dalam sistem keuangan Indonesia selama satu tahun guna memperkuat stabilitas
cadangan devisa negara dan mendukung ketahanan ekonomi sesuai PP No 36 Tahun
2023 tentang Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) yang telah
diperbarui melalui PP No 8/2025. Wakil Ketua Umum DPP Asosiasi Pemasok Energi,
Mineral, dan Batubara Indonesia Fathul Nugroho mengatakan, kebijakan DHE baru
yang diberlakukan pemerintah membuat pelaku usaha melakukan sejumlah penyesuaian
dan efisiensi dalam kegiatan operasional usaha.
”Contohnya hauling (proses pengangkutan) kami biasanya 100.000 per ton
per 100 km, sekarang bisa 100.000 ton per 120 km,” ujarnya. Fathul berharap
fasilitas penempatan DHE SDA ke dalam rekening khusus untuk konversi valas ke
rupiah (FX Swap) sudah matang agar pengusaha dapat menggunakannya untuk
kebutuhan operasional perusahaan. Di samping itu, ia pun menyarankan adanya
insentif PPh nol % atas bunga deposito DHE. ”Dengan adanya kelonggaran
tersebut, pelaku usaha bisa punya ruang untuk memastikan operasionalisasi
bisnis berjalan lancar tanpa hambatan finansial,” ucap Fathul. (Yoga)
Faktor Global Mendongkrak Kinerja Ekspor
Tingkat inflasi dunia yang mulai terkendali dan rata-rata harga komoditas dipasar global yang relatif membaik membawa dampak positif ke kinerja ekspor Indonesia. Nilai ekspor nasional pada Februari 2025 kembali menggeliat hingga mencapai US$ 21,98 miliar, naik 2,58% secara month to month (mtm) dan melonjak 14,05% secara year on year (yoy). Pencapaian secara bulanan tersebut membalikkan kinerja ekspor Januari 2025 maupun Februari 2024 yang sama-sama mengalami penurunan cukup signifikan. Nilai ekspor pada Januari 2025 tercatat US$21,45 miliar, turun 8,56% disbanding Desember 2024. Sedag nilai ekspor Februari 2024 mencapai US$19,31 miliar, turun 5,79% dibanding Januari 2024.
BPS melaporkan, peningkatan nilai ekspor Februari 2025, baik secara bulanan maupun tahunan, didorong ekspor nonmigas, utamanya industri pengolahan. Nilai ekspor industri pengolahan Februari 2025 naik 3,17% (mtm) dengan andil peningkatan sebesar 2,53%. Ini terjadi justru ditengah maraknya kasus PHK di Tanah Air. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani menjelaskan, kinerja ekspor pada Februari 2025 membaik karena secara umum permintaan perdagangan global tahun ini lebih baik dari 2024. "Ini berkat makin terkendalinya tingkat inflasi di banyak negara di dunia, termasuk di pasar-pasar tujuan ekspor utama Indonesia," ujar Shinta, Senin (17/03/2025). Selain itu, rata-rata harga komoditas dipasar global pada Februari 2025 relatif meningkat disbanding pada Januari 2025. (Yetede)
Surplus Neraca Dagang Terus Menyusut
Menyempitnya Surplus Neraca Perdagangan
Surplus neraca perdagangan diperkirakan berlanjut Februari 2025, namun menyusut dibanding bulan sebelumnya, karena harga komoditas sedang mengalami moderasi yang mempengaruhi kinerja ekspor Indonesia. Berdasar data BPS, neraca perdagangan surplus US$3,45 miliar pada Januari 2025. BPS akan mengumumkan kinerja neraca perdagangan Februari 2025 pada hari ini, Senin (17/3/2025). Ekonom Bank Danamon, Hosianna Evalita Situmorang memprediksi surplus neraca perdagangan akan menurun menjadi US$ 3,16 miliar, ditopang oleh ekspor yang tumbuh 9,1% secara tahunan (year on year/yoy), terutama dari komoditas minyak kelapa sawit dan batu bara, yang masíh mendapat dukungan harga cukup kuat di pasar global. Impor diperkirakan kontraksi 3,2% (yoy), seiring efisiensi anggaran pemerintah, perlambatan proyek infrastruktur, serta pelemahan harga minyak dunia yang mengurangi beban impor energi.
"Neraca perdagangan diperkirakan tetap surplus US$ 3,16 miliar pada Februari 2025. Hal ini menunjukkan ketahanan perdagangan Indonesia di tengah dinamika ekonomi global,” jelas Hosianna, Minggu (16/7/2025). Dia menilai laju ekspor Indonesia masih cukup tangguh meskipun sedang berhadapan dengan ketidakpastian global. Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede memperkirakan surplus neraca perdagangan pada Febru-ari 2025 akan menyempit, didorong stabilisasi harga komoditas dan perlambatan ekonomi China. Ekspor pada Februari 2025 diperkirakan mengalami kontraksi secara bulanan, namun tetap bertahan. (Yetede)
Ekspor Beras Digenjot Jepang sampai Tahun 2030
Jepang tumbuh dari masyarakat
pertanian. Jepang, terutama wilayah utara di Hokkaido hingga wilayah selatan
Ryukyu atau Okinawa, adalah produsen beras. Tahun ini, Jepang menargetkan
peningkatan ekspor berasnya hampir delapan kali lipat pada 2030. ”Kami berencana
menetapkan target 350.000 ton pada 2030, tujuan yang kemungkinan akan disetujui
kabinet bulan ini,” kata Masakazu Kawaguchi, pejabat di Kementerian Pertanian
Jepang yang bertanggung jawab atas perdagangan beras, Kamis (13/3) di Tokyo.
Nilai yang ditargetkan mencapai lebih dari 92,2 miliar yen.
Target tersebut disampaikan dalam
rapat partai berkuasa, Partai Demokrat Liberal (LDP), dan diharapkan dapat
mendorong peningkatan produksi padi untuk menutup kebutuhan domestik. Jepang
adalah salah satu negara produsen beras terpenting di dunia. Jepang berada di
peringkat 10 besar. Sehubungan dengan rencana strategis jangka panjang,
Pemerintah Jepang mencanangkan hasil produksi domestik memenuhi 45 % kalori
dari kebutuhan asupan harian hingga tahun 2030. Angka tersebut naik dari
besaran 38 % kalori asupan dipasok produk dalam negeri pada tahun fiskal 2022.
Rencana kerja Pemerintah Jepang
soal produksi beras direvisi tiap lima tahun dengan menyoroti perlunya meningkatkan
produktivitas dan menambah jumlah ekspor. Dipertimbangkan pula situasi geopolitik
dan menurunnya produksi di dalam negeri dapat mengganggu produksi pangan dan
pasokan di Jepang. Pemerintah Jepang mengincar peningkatan nilai ekspor produk
agrikultur dan olahan pangan dari 1,5 triliun yen pada 2024 menjadi 5 triliun yen
pada 2030. Pemerintah juga mendorong bertambahnya belanja kuliner wisatawan dalam
negeri dari 1,6 triliun yen menjadi 4,5 triliun yen pada kurun waktu sama. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Alarm Inflasi Mengancam Sektor Retail
11 Oct 2022








